SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~

SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~
FAHIRA


__ADS_3

Setelah memastikan Adam kembali terlelap, Farrel keluar kamar dan berjalan menuju dapur. Dia berniat untuk memasak, dia juga tahu kalau Fahira belum makan dari tadi siang.


Farrel membuka lemari es dan melihat apa ada bahan yang bisa dimasaknya. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dan memberi salam dari luar rumah.


Farrel pun menutup kembali lemari es itu dan berjalan menuju pintu untuk mengetahui siapa yang datang.


"Waalaikumsalam, Uwa?"


Farrel membuka pintu dan terkejut melihat Uwa berdiri di depannya. Farrel mencium tangan Uwanya sebagai bentuk hormat kemudian mempersilahkan Uwa untuk masuk.


"Uwa kok gak bilang mau ke sini? Kalau tahu 'kan bisa aku jemput." Farrel berkata setelah mereka berdua duduk di atas sofa.


Uwa tersenyum dan menggenggam tangan Farrel lembut, "Uwa mau ngasih kejutan, oh iya Uwa bawa makanan kesukaan kamu loh. Banyak."


Uwa memperlihatkan tempat makanan yang dibawanya dari ukurannya yang besar Farrel tahu isinya akan sebanyak apa. Tetapi dengan begini Farrel tidak harus memasak hari ini.


"Terimakasih Wa."


Farrel memeluk Uwanya, memang dia secinta itu pada Uwa yang telah membesarkannya.


"Fahira dan bayinya mana?" tanya Uwa.


Farrel melepas pelukannya dan berkata, "sebentar aku panggil Fahira, kalau Adam baru aja tidur."


Farrel pun masuk ke dalam kamar dan mendapati Fahira tengah terduduk di tepian kasur.


"Ada Uwa di luar, aku harap kamu jangan membuatnya khawatir. Temui Uwa dan tersenyum!" Farrel berjalan kembali keluar kamar tanpa menunggu Fahira berbicara.


Fahira pun bangkit dan mengusap wajahnya yang nampak kacau dia menguncir rambutnya dan keluar kamar.


"Eh Uwa." Fahira berjalan menghampiri Uwa dengan senyum sumringah seolah tidak ada yang terjadi. Uwa dan Fahira saling berpelukan mereka berdua akhirnya duduk dan berbincang.


Beberapa saat kemudian, Farrel mengajak mereka berdua untuk makan bersama.


Setelah makan, Uwa masuk ke kamar untuk melihat Adam. Uwa memangkunya ketika bayi itu terbangun.

__ADS_1


"Uwa nginep 'kan di sini? Soalnya besok pagi aku berangkat ke Jogja." Farrel berkata seraya menghampiri Uwanya yang masih di dalam kamar.


"Kok buru-buru berangkat sih Rel? Fahira emang gak apa-apa ditinggal?" Uwa menatap Fahira yang berdiri di dekat pintu.


Farrel kini melayangkan pandangannya ke arah Fahira, tentu saja Fahira segera mendekati Uwa seraya berkata, "aku gak apa-apa, Wa. Sesekali aku bisa nginep di rumah Papa."


Uwa tersenyum mendengar penuturan Fahira, Uwa pun akhirnya memutuskan untuk menginap di rumah Farrel. Semalaman suntuk Farrel dan Uwa saling mengobrol, seakan-akan mereka sedang mengumpulkan lebih banyak kebersamaan.


Jam sudah menunjukkan angka sebelas malam, Fahira berniat ke dapur untuk mengambil minum karena tenggorokkannya terasa kering.


Fahira masih dapat mendengar Uwa dan Farrel mengobrol meski suara mereka kini lebih pelan dari sebelumnya.


"Uwa seneng kamu memperlakukan Fahira dengan baik selayaknya seorang istri."


Farrel terdengar mendengus pelan lalu berkata, "Uwa jangan mulai deh! Jangan mancing-mancing air mataku rembes lagi!"


Uwa terkekeh mendengar penuturan Farrel, sementara Fahira berdiri di balik lemari karena merasa tertarik dengan apa yang mereka obrolkan.


"Wa ...." Terdengar Farrel menjeda bicaranya.


"Kenapa?" tanya Uwa.


Fahira meremas gelas kaca yang dipegangnya, entah mengapa dia menjadi gugup karena menjadi bahan obrolan.


"Mau sampai kapan kamu terus-terusan berbicara seolah Sofia masih ada? Rel, kamu itu harus tetap menata masa depan. Jadikan Sofia bagian dari masa lalumu yang indah untuk dikenang."


"Justru itu Wa, Sofia terlalu indah untuk dikenang. Sudah dua tahun Sofia pergi tapi aku seperti tidak mau pergi meninggalkan semua kenangan itu." Suara Farrel terdengar sendu membuat Fahira terenyuh.


"Waktu yang akan menjawabnya," kata Uwa.


Fahira tidak ingin terlalu lama mendengar obrolan itu, dia urungkan niatnya untuk mengambil minum ke dapur. Fahira kembali ke kamarnya dia merenung sebenarnya pria seperti apa yang sudah menikahinya itu.


*


Keesokan harinya setelah Farrel berangkat ke Jogja dan Uwa pulang, Fahira segera pergi ke rumah Pak Subagyo tanpa Adam yang dia tinggalkan bersama Sus Erni.

__ADS_1


Fahira dibukakan pintu oleh pelayan, Fahira menatap sekeliling rumah yang terlihat sepi. Fahira berjalan menuju ke kamarnya, sebelum memasuki kamarnya, sayup-sayup dia mendengar orang yang sedang mengobrol di ruangan dekat balkon lantai dua rumah itu. Fahira berjalan menuju ke sana, ternyata Hanun sedang bersama dua orang wanita di ruangan itu.


Nampak Hanun dengan serius membaca buku di sana sambil sesekali bertanya pada wanita yang berkacamata.


Fahira tersenyum melihatnya, ketika itu Hanun juga tidak sengaja melihat Fahira. Hanun menjadi sungkan dia mengangguk sambil tersenyum kikuk.


Membuat Dita dan wanita berkacamata menoleh ke arah Fahira.


"Ya ampun Ra." Wanita berkacamata berdiri dan berjalan menghampiri Fahira detik berikutnya dia memeluk Fahira.


Ya, wanita itu adalah teman Fahira yang saat ini menjadi dosen muda di salah satu universitas yang ada di kota itu. Mereka berteman sejak bangku sekolah menengah hingga kuliah. Namun ketika Fahira dekat dengan Ammar, hubungan Fahira dan temannya itu menjadi renggang.


Temannya itu hanya tahu musibah yang menimpa Fahira dari orang lain tanpa bisa bertemu langsung dengan Fahira. Beberapa hari yang lalu, Pak Subagyo secara pribadi datang kepadanya. Pak Subagyo meminta agar teman Fahira itu dapat menjadi guru private bagi Hanun.


Tanpa fikir panjang, wanita berkacamata itu menerima tawaran Pak Subagyo karena sejujurnya dia rindu pada Fahira. Bahkan ketika dirinya bertemu Hanun dia memeluknya bahkan mencubit kedua pipi Hanun gemas karena mengira Hanun itu adalah Fahira.


Tentu saja setelah teman Fahira mengetahui yang sebenarnya dia terkejut dan meminta maaf pada Hanun saat itu.


Kini, Fahira benar-benar ada di depan matanya bahkan dalam pelukannya. Ah dia rindu sekali.


"Kasih, apa kabar?" tanya Fahira kepada temannya ysng masih belum melepas pelukannya meski sudah beberapa menit berlalu.


"Aku baik-baik saja, yang seharusnya bertanya kabar itu aku. Kok malah kamu duluan sih curang." Kasih melepas pelukannya dan melipat tangannya di atas perut.


Fahira terkekeh melihat tingkah temannya yang tidak berubah dari dulu. "Kamu lihat aku!" Fahira memutar badannya guna menunjukkan dirinya baik-baik saja.


Kasih mangut-mangut dan kembali berhambur memeluknya. "Karena laki-laki itu kamu jadi menjauh dari aku."


Fahira mengangguk membenarkan. "Udah ah gerah pelukan mulu, gimana perkembangan Jahira Bu Dosen?"


Kali ini Fahira melepas pelukan erat Kasih dan menghampiri Hanun yang masih kikuk di tempatnya.


"Oh iya, sumpah aku gak tahu kamu punya kembaran. Kamu gak pernah cerita sih?" protes Kasih.


Fahira tersenyum kemudian duduk di samping Hanun, dia takjub melihat Hanun yang kini jadi lebih cantik.

__ADS_1


.


.


__ADS_2