
Arsen dan Farrel kini berada di kantin klinik, mereka memesan dua porsi bubur ayam untuk sarapan.
"Kapan pulang kampung?" tanya Arsen.
Farrel menghentikan gerakannya yang sedang mengaduk bubur ayam kemudian menatap Arsen sembari menjawab pertanyaan dari temannya itu. "Masih belum tahu, memangnya kenapa?"
"Loh, masa lupa? Aku 'kan mau liburan ke sana."
Mata Farrel memicing curiga. "Liburan apa liburan? Bilang aja ingin bertemu Hanun."
Dokter Arseno menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, apakah kentara sekali kalau dia ingin bertemu gadis itu?
"Katanya sebulan yang lalu kamu bilang ajuin cutinya dua bulan lagi? Tapi ini 'kan baru sebulan lebih. Masih lama."
"Masih lama apanya, satu minggu lagi aku cuti. Makanya nanya kamu kapan pulang." Arsen memasukkan bubur ayam tidak diaduk ke dalam mulutnya.
"Benarkah? Kenapa waktu tidak terasa ya? Padahal dulu rasanya lambat banget."
"Jadi mending kamu pulang seminggu lagi aja, biar bisa bareng." Arsen begitu semangat mempengaruhi Farrel agar mau pulang.
Farrel sedikit berfikir, mungkin ada baiknya jika dia pulang lebih cepat guna melihat kondisi Adam. Farrel selalu teringat pada anak sambungnya itu, terlebih ketika dia mengetahui bahwa Adam sudah bisa tengkurap. Ah pasti lucu sekali anak itu.
"Kok malah melamun? Ayolah pulang!" Arsen terlihat seperti anak kecil yang sedang meminta mainan kepada orang tuanya.
Farrel menahan tawanya di ujung kerongkongan, apakah benar itu Dokter Arseno?
"Nanti aku kabari lagi ya, soalnya bengkel lagi rame. Aku gak bisa seenaknya pergi."
Dokter Arseno mengangguk dia mengerti akan kesibukkan Farrel.
*
Seperti janjinya pada Farrel, pagi ini Uwa datang ditemani Siti ke rumah Farrel.
Fahira menyambut baik kedatangan Uwa, bahkan dia sudah berbelanja pagi tadi di tukang sayur yang lewat ke depan rumahnya.
Uwa menggendong Adam yang sedari tadi dibiarkan Fahira tengkurap di kasur.
"Udah hebat nih cucu Uwa, udah tengkurap aja padahal belum genap tiga bulan ya Ra?"
"Eh iya Wa."
Mereka akhirnya duduk di sofa, Fahira menatap canggung Uwa yang asik bermain dengan Adam.
"Ra, ini bahan makanan mau kamu masak?" Tiba-tiba dari arah dapur, Siti membawa kresek belanjaan yang tadi disimpan asal oleh Fahira.
"Ehm itu ... I-iya. Aku bingung mau masak apa, lebih tepatnya takut Uwa tidak suka masakanku." Fahira sedikit menunduk malu.
__ADS_1
Uwa tersenyum, sembari memegang tangan Fahira yang kebetulan duduk di sebelahnya.
"Uwa pemakan segala, tanya aja Kak Siti!" ucap Uwa sedikit berbisik.
Fahira dan Siti saling bertatapan kemudian saling berbalas senyuman. Siti memang tidak mengenal Fahira tetapi dia yakin Fahira bisa menggantikan posisi sahabatnya dahulu.
"Kok malah melamun Sit? Bantu Fahira masak sana nanti keburu Ahmad jemput kamu lagi."
Suara Uwa mengagetkan Siti yang sedikit melamun, setelah itu dia bergegas menyusul Fahira ke dapur. Siti tidak menyadari bahwa Fahira sudah berada di dapur.
Ah padahal dia melamun hanya sebentar.
*
Satria berada di kursi kebesarannya, saat ini dia tengah berfikir keras untuk kembali menjatuhkan Pak Subagyo.
Padahal tinggal sedikit lagi aku berhasil melengserkan tua bangka itu. Sial!
Satria terus memutar otaknya agar berjalan dan menemukan ide terbaik, tiba-tiba saja akal bulusnya bekerja. Dia mengambil ponsel yang berada di atas meja. Setelah mendapat kontak telepon yang dia cari, Satria bergegas menelepon kontak tersebut.
"Hallo keponakan Om yang ganteng."
"Ada apa Om? Tumben nelepon." Seseorang di seberang telepon itu nampak malas menghadapi seseorang yang mengaku Omnya tersebut.
"Om butuh bantuan kamu sekali lagi," ujar Satria.
Satria tertawa renyah menanggapi perkataan keponakannya itu.
"Buktinya kamu aman-aman saja 'kan?"
Hanya helaan nafas yang terdengar diseberang sana.
"Lakukan lagi untuk Om!"
"Maksud Om?"
"Hancurkan Subagyo sekali lagi!" Satria mengepalkan tangannya kala menyebut nama seseorang yang selama ini ingin dihancurkannya.
"Jadi Pak Subagyo belum bisa Om kalahkan?" Terdengar tawa mengejek di seberang sana, membuat Satria menggeram kesal.
"Untuk itu kamu bantu Om sekali lagi!"
"Ok, asal bayarannya sesuai aja. Aku harus apa?"
Satria tersenyum sinis, dia yakin keponakannya dapat diandalkan.
"Dekati anaknya! Hancurkan dia! Dengan begitu Subagyo pasti hancur."
__ADS_1
"Apa yang harus dihancurkan? Fahira udah hancur Om."
"Bukan dia! Tapi saudaranya."
Seseorang di seberang telepon itu terdiam sejenak, mencoba merangkai teka-teki yang diberikan Omnya.
"Fahira punya saudara kembar, tugas kamu dekati dia dan hancurkan dia sebagaimana kamu menghancurkan Fahira." Satria memberi penjelasan karena keponakannya tak kunjung bicara.
"Fahira kembar?"
"Ya, info lainnya akan Om berikan lewat pesan. Lakukan dengan baik, soal uang nanti Om transfer."
Satria memutuskan sambungan teleponnya dan tersenyum jahat kala membayangkan Pak Subagyo yang harus menanggung malu untuk kedua kalinya.
*
Di sebuah kubikel ruangan pemasaran, Hanun menatap ponselnya sambil tersenyum-senyum. Dia membaca pesan dari Arsen yang memang selalu sukses membuat bibirnya menyunggingkan senyuman.
Senyuman itu sirna seketika saat tumpukan kertas diletakkan dengan sedikit dijatuhkan sehingga membuat Hanun terkejut bukan kepalang.
"Kerjakan ulang semua tugas ini!" Seorang wanita yang meletakkan kertas-kertas itu menatap sinis ke arah Hanun.
"Apa ada yang salah?" tanya Hanun.
"Salah semua. Pak Satria memintaku untuk memberikannya padamu, selesaikan hari ini juga!" Wanita yang merupakan sekretaris Satria itu melenggang pergi meninggalkan tempat Hanun begitu saja.
Hanun menatap tumpukkan kertas di depannya kemudian menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
"Nona tenang saja, biar nanti saya bantu." Dita berdiri dan mendongak ke arah Hanun.
Hanun tersenyum membalas perkataan Dita kemudian berkata, "tidak usah Dit, biar aku lembur sendirian. Kamu sudah cukup membantu sejauh ini untuk itu biarkan aku belajar mandiri."
"Tapi?"
Hanun menggeleng cepat tanda tidak ingin dibantah. Dita terpaksa duduk kembali dikursinya, dia berencana melaporkan hal ini kepada Pak Subagyo.
Saat tiba waktunya pulang, Hanun masih berkutat dengan kertas-kertas yang ada di depannya. Dita masih setia menemani, dia merasa tidak tega meninggalkan Hanun bekerja seorang diri.
"Kamu pulang gih! Sebentar lagi aku juga selesai." Hanun menoleh ke arah Dita yang sedari tadi mencoba membantunya namun dia terus menolak.
"Bagaimana mungkin aku pulang sementara Nona masih bekerja? Apa yang harus aku katakan pada Pak Subagyo?"
Hanun tersenyum mendengar penuturan Dita kemudian berkata, "kamu jangan khawatir, Papa sudah tahu aku lembur. Dia mengirim supir untuk menjemputku nanti. Jadi pergilah!"
Awalnya Dita tidak ingin pulang tetapi Hanun terus memaksanya, dengan berat hati Dita pun pulang meninggalkan Hanun di ruangan kerja yang sebagian lampunya telah dipadamkan.
.
__ADS_1
.