SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~

SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~
ADIK KAKAK


__ADS_3

Kartino dan Suryo saling menatap dan sesekali melirik pada Hanun yang masih duduk di kursi tepat di hadapan mereka.


"Enaknya kita apain?"


Kartino menatap Hanun yang seketika melotot ke arahnya.


Suryo menghela napas, berusaha mencari solusi yang tepat untuk tugasnya ini. Suryo berdiri dan mengitari Hanun yang sedang duduk bak seorang pesakitan yang sedang diadili.


"Biarkan saya pulang! Saya tidak mencuri di sini." Sekali lagi Hanun mencoba mencari celah agar terbebas dari tempat itu.


"Tapi sayangnya Pak Farrel menyuruh kita untuk membereskan kamu."


Oh nama orang itu Farrel.


"Ok deh, begini saja ... kami tidak akan melaporkan kamu ke polisi, tapi ...."


Suryo menjeda ucapannya dan berbisik pada Kartino, hal tersebut tidak luput dari perhatian Hanun.


Kartino terlihat mengangguk tanda setuju.


Nah loh Hanun mau diapain tuh.


"Tapi apa?"


Hanun sungguh tidak sabar apalagi melihat bisik-bisik tetangga di hadapannya.


"Selama sebulan kamu wajib kerja di sini tanpa dibayar."


Hanun seketika memekik tidak setuju.


"Saya tidak bisa."


"Itu solusi yang saling menguntungkan. Kamu tidak dilaporkan, sementara Pak Farrel dapat pertanggungjawaban dari kamu."


"Saya juga bekerja. Bagaimana mungkin saya bekerja di dua tempat sekaligus."


Suryo dan Kartino kembali berdiskusi.


"Kamu kerja sampai pukul berapa?"


"Sampai sore lah."


Hanun membuang muka jengah, kenapa bisa dia berada di sini? Padahal dia juga sedang menghindari sesuatu.


"Yasudah habis magrib kamu ke sini. Soalnya kita buka sampai pukul sepuluh malam."


"Tapi saya kerja apa di sini?"


Hanun mengelilingi bengkel dengan matanya, truck-truck besar itu sangat menakutkan untuknya.


"Apa saja. Deal pokoknya!"


Suryo mengulurkan tangannya ke hadapan Hanun berniat untuk bersalaman. Tangan itu tidak langsung disambut oleh Hanun yang masih berpikir.

__ADS_1


Ah apakah ini cara untuk menebus kesalahannya?


Akhirnya Hanun menyambut tangan itu dan terjadilah kesepakatan diantara mereka.


***


Setelah disidang, Hanun pergi dari bengkel sambil berjalan kaki. Tidak ada uang disakunya hanya untuk dipakai naik angkutan umum.


Sial banget aku hari ini. Kenapa juga Bang Dodo lihat aku tadi?


Terus kenapa harus ketemu lagi sama orang yang aku jambret? Ugh ....


Hanun menggerutu dalam hati.


Hanun adalah seorang gadis biasa yang hidup seorang diri tanpa sanak saudara. Entah bagaimana ceritanya, dulu Hanun bisa bertemu dengan preman bernama Dodo.


Hanun tumbuh besar bersama preman itu, tanpa kasih sayang layaknya anak-anak sebayanya. Hanun tidak ingat apapun tentang masa lalunya. Hanun hanya ingat bagaimana dulu dia dipaksa untuk mengemis di jalanan. Kemudian setelah dewasa Dodo juga memaksanya untuk menjadi seorang penjambret.


Hanya satu yang disyukuri Hanun yakni Dodo tidak menjualnya sebagai seorang wanita. Dodo hanya memeras uang Hanun dan memaksanya untuk jadi seorang kriminal.


Sejak kejadian malam itu, dimana Hanun tertangkap tangan menjambret oleh Farrel. Entah mengapa dirinya merasa sangat malu. Hanun merasa sangat kotor sebagai seorang perempuan. Maka dari itu, keesokan harinya Hanun bertekad untuk merubah hidupnya.


Kebetulan waktu itu Hanun melihat ada lowongan di sebuah toko buku. Walau dengan rasa sungkan yang teramat dalam, Hanun memberanikan diri untuk melamar pekerjaan di sana.


Ajaibnya, Hanun diterima tanpa syarat oleh si pemilik toko yang sedang hamil tua dan membutuhkan pejerja untuk membantunya.


Lalu sekarang apa? Baru setengah hari bekerja Hanun sudah kabur tanpa berpamitan. Apa yang akan dipikirkan wanita hamil itu tentang dirinya?


Ah mana mungkin sekarang Hanun pulang ke rumah. Jadi, Hanun melangkahkan kakinya berjalan menuju toko buku tempatnya bekerja.


Hanun mempercepat langkah kakinya walaupun napas kian memburu dan basah keringat membasahi sekujur tubuhnya. Hanun terus berjalan.


***


Beberapa menit yang menguras energi, akhirnya Hanun tiba di toko buku itu. Hanun masuk tergesa-gesa ke dalam sana. Pembeli yang sudah berkurang membuat keadaan di toko buku itu lumayan sepi. Hanun berjalan masuk demi mencari sang pemilik toko.


Ketika dilihatnya sosok perempuan dengan perut membuncit sedang memilah-milah buku di depan sebuah rak, Hanun berjalan cepat menghampirinya.


"Mbak ...."


Sang pemilik toko menoleh dan tersenyum mendapati Hanun menghampirinya.


"Mbak, maafkan saya ... tadi itu ... tadi itu ...."


"Bantu aku pisahin judul buku ini dong Nun!"


Eh?


Alih-alih bertanya atau marah, sang pemilik toko malah bersikap biasa saja seolah tidak ada yang terjadi.


Meskipun begitu, Hanun harus tetap menjelaskan apa yang terjadi. Hanun ingin menjadi orang baik, sekali ini saja.


"Mbak, maaf saya pergi tanpa izin."

__ADS_1


Meletakkan buku yang dipegangnya, wanita hamil itu kembali tersenyum. "Kamu pasti tidak sengaja 'kan?"


Hanun mengangguk cepat wajahnya penuh penyesalan memberanikan diri menatap majikannya.


"Tadi ada yang terjadi, jadi saya ...."


"Saya mengerti, bantu saya selesaikan ini cepat. Setelah itu kita tutup, suami saya sebentar lagi jemput."


"Baik Mbak."


Hanun segera bekerja dan berusaha keras untuk tidak membuat kesalahan. Mempunyai majikan yang baik mungkin bonus dari Sang Pencipta untuknya yang selama ini tidak pernah dia dapatkan.


***


Setelah pemilik toko pulang, Hanun pun meninggalkan toko buku itu. Kembali Hanun berjalan kaki menuju tempat tinggalnya.


Ah Hanun malas sekali, pasti setibanya di rumah Dodo akan memarahinya atau lebih dari itu.


Hembusan napas berat mengiringi setiap langkah Hanun menuju ke rumah.


Takut dan was-was harus dia hadapi. Bukankah dia sudah terbiasa ketakutan sejak kecil?


***


Tiba di sebuah rumah usang, lebih tepatnya sebuah gubuk yang setiap dindingnya tertempeli potongan kardus untuk menghalau angin yang menusuk kulit.


Hanun membuka pintu dari bambu itu dengan hati-hati. Hanun mengedarkan pandangannya ke dalam rumah yang hanya terdapat satu ruangan itu.


Dimana Dodo?


Hanun tidak mendapati sang preman di dalam rumah itu. Hanun pun melenggang masuk ke dalam kemudian duduk di atas sebuah koran yang tergelar di atas lantai tanah itu.


Hanun menyeka keringatnya sembari mengipasi tubuhnya dengan topi yang tadi dikenakannya. Tidak lama kemudian, pintu terbuka menampilkan seorang pria bertato di lengan kiri. Pria itu adalah Dodo, dia terkejut melihat Hanun ada di rumah.


"Kemana saja kamu?"


Rambut panjang milik Hanun ditarik ke belakang oleh Dodo membuat Hanun meringis ketakutan.


"A-aku kerja Bang."


Dodo tertawa nyaring tanpa melepaskan rambut Hanun. "Mana setoran hari ini?"


Hanun memekik kesakitan karena Dodo menguatkan cengkraman pada rambutnya.


"Seminggu lagi, seminggu lagi aku gajian Bang."


Dodo mendorong kepala Hanun keras hingga Hanun tersungkur mencium lantai.


"Bodoh! Ceritanya ada yang taubat di sini."


Hanun menunduk tidak berani menjawab, biar bagaimanapun Dodo sudah memberinya kehidupan, memberinya tempat tinggal walaupun dengan cara yang salah.


Ya, Dodo seorang preman yang sedikit memiliki hati ketika dulu dia bertemu dengan gadis kecil yang menangis di lampu merah. Dodo tergerak hatinya untuk menolong gadis itu namun keadaan juga membuatnya harus memanfaatkan gadis itu untuk menyambung hidupnya. Gadis itu ialah Hanun yang kala itu berusia lima tahun dan Dodo yang masa itu sudah beranjak remaja. Mereka ditakdirkan untuk menjadi adik kakak walau bukan dengan cara yang indah.

__ADS_1


.


.


__ADS_2