
Di tengah teriknya matahari, Hanun masih mencoba bertanya pada orang-orang yang berada di sekitar mesjid tentang alamat Inda. Hasilnya masih nihil, orang-orang itu tidak tahu.
Rasanya Hanun akan menyerah, pikirannya mulai berkecamuk. Untuk apa dia mencari Inda?
Bagaimana kalau Inda sengaja menghindar?
Hanun meniup poninya untuk menghibur diri, bibir bawahnya lihai dia gunakan untuk membuat angin meluncur ke atas. Kebiasaan jika Hanun merasa tidak tahu harus berbuat apa.
Hanun duduk di sebuah pos ronda, Hanun menatap mesjid di seberang jalan itu. Lama Hanun menatap mesjid, hingga tiba-tiba lampu terang muncung di atas kepalanya.
Ah kenapa gak nanya orang-orang yang ke mesjid itu ya? Inda 'kan orang baik, mana mungkin gaulnya sama orang lewat apalagi kang soto.
Hanun menoyor sedikit kepalanya karena meras bodoh. Kemudian Hanun berjalan menuju mesjid itu. Sebelum memasuki gerbang, langkahnya terhenti. Suara adzan membuatnya jadi patung hingga mengurungkan niatnya untuk memasuki area mesjid.
Hanun memilih mundur dan kembali ke pos ronda yang tadi ditempatinya.
Seiring dengan orang-orang yang memasuki area mesjid, di gang yang berdekatan dengan pos ronda muncullah beberapa pria yang tertawa sambil bernyanyi-nyanyi.
"Woi beneran dia gak keliatan ya?"
Hanun mendengar mereka berbicara.
"Si kampret serakah sih, loe habisin ya malam itu?"
Tidak ada lagi percakapan yang dapat didengar Hanun. Entah karena asik melamun atau karena lelah mencari Inda, Hanun tidak menyadari segerombolan pria itu sudah berada di depannya. Mereka nampak menyelidik dan saling menatap satu sama lain.
Salah seorang dari mereka berinisiatif membunyikan gitar yang dibawanya. Hal tersebut ternyata mampu membuat Hanun tersentak dan kaget ketika melihat pria-pria itu berada di depannya.
"Siapa loe?" sentak salah seorang dari mereka.
Hanun terkesiap menatap satu persatu pria di depannya. Lalu tanpa menjawab Hanun berdiri dan langkahnya terayun memasuki gang.
Setelah beberapa langkah terdengar suara gitar dan nyanyian nyaring. Hanun yakin pria-pria tidak jelas itu mengacuhkannya. Ah syukurlah.
Ada gunanya juga punya wajah pas-pasan kikikik.
Hanun terkikik geli dalam hati. Kenapa dia percaya diri seperti itu?
Eh tapi?
Setelah memasuki gang langkah Hanun terhenti, dia baru sadar kenapa dia berjalan ke sana?
Duh, lagi-lagi Hanun merasa bodoh. Saat hendak berbalik, Hanun kaget bukan main. Ternyata dua pria yang tadi di pos ronda tepat berada di belakangnya mereka mengikuti Hanun.
Akhirnya Hanun memilih melanjutkan langkahnya dia berjalan cepat berharap dua pria itu berhenti mengikutinya.
"Wah dia lari," ujar salah seorang dari pria itu.
Seorang pria berlari dan menghadang Hanun di depan sementara yang satu lagi berada di belakang.
"Minggir!" Hanun mulai merasa tidak nyaman.
"Siapa kamu? Ini daerah kita ya. Kamu orang asing, mau kemana?" tanya seorang pria.
"Bukan urusan kalian." Hanun tidak takut sama sekali.
"Nyolot dia ... tapi lumayan juga nih buat makan siang, kucel dikit doang."
__ADS_1
Gelak tawa keluar dari mulut kedua pria itu. Hanun berdecih, dia paling tidak suka dengan laki-laki yang bermulut kotor dan juga mesum.
Saat satu pria mencoba meraih tangannya, Hanu spontan menepis. Hanun memelintir lengan nakal itu, memutarnya seperti baling-baling kemudian mendorong tubuh jangkung pria itu hingga menimpa temannya.
Terjadi jeda beberapa saat kemudian Hanun berlari kencang, meninggalkan dua pria yang masih saling tindih itu.
Hanun terus berlari, namun ternyata dua pria itu mengejarnya. Hanun mencari akal agar bisa lolos dari pria-pria itu.
Hadeuh padahal tadi udah dikasih jurus angsa nyungseb tapi mereka belum nyerah juga.
Tiba di pertigaan jalan, Hanun memilih untuk berbelok ke kiri dan menemukan sebuah tong sampah besar, Hanun masuk ke dalamnya tanpa merasa jijik sama sekali yang ada dibenaknya hanya bagaimana caranya bisa terbebas dari pria-pria itu.
Meski tidak merasa jijik, Hanun tetap menutup hidungnya karena menghirup aroma-aroma yang tidak mengenakkan di dalam tong itu.
Sepuluh menit berlalu, Hanun merasa keadaan sudah aman. Akhirnya Hanun memilih berdiri. Bersamaan dengan itu teriakan terdengar.
Hanun terkejut dan melompat keluar dari tong.
"Ha-Hanun?"
Suara lembut itu?
Hanun menoleh ke sumber suara. Matanya takjub tidak menyangka Inda ada di depannya.
"Kamu ngapain? Ada di tong sampah."
Pertanyaan Inda menghentikan rasa takjub Hanun.
"Ini ... itu ... mmm ...."
"Ya sudah cerita di dalam saja."
"Ayo!"
"Bentar! Kayak ada yang gerayang-gerayangan di punggung."
Hanun memasukkan tangannya ke dalam baju. Benar saja, seekor kecoa berhasil ditangkapnya.
"Huh dasar kecoa mesum! Pasti cowok nih kecoanya."
Inda bergidik ngeri, entahlah manusia aneh seperti apa Hanun ini. Tetapi Inda juga merasa terhibur karenanya.
Baru saja Inda tersenyum karena kelakuan Hanun, padahal beberapa saat yang lalu dia masih meratapi nasib malang yang dialaminya.
*
Setelah Hanun berada di kamar Inda, dia dipaksa mandi walau sebenarnya tidak mau. Hanun banyak beralasan takut direkam cctv dan semacamnya. Inda tidak hentinya tertawa karena perkataan-perkataan polos yang Hanun ucapkan.
Sepertinya Alloh SWT mengirimkan Hanun sebagai malaikat penghibur bagi Inda.
Selesai mandi, Hanun mengenakkan gamis milik Inda, gamis itu terlihat pas di badan Hanun karena sepertinya ukuran baju mereka sama.
Meski tidak nyaman, Hanun menuruti semua perintah Inda. Hanun tahu diri mungkin Inda kebauan karenanya.
Inda menyuguhkan air sirup pada Hanun.
"Wah sirop."
__ADS_1
Mata Hanun berbinar dan menenggak habis sirup miliknya.
Inda menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Haus banget ya?"
Hanun mengangguk. "Haus banget gila! Mereka siapa sih?"
"Mereka siapa?"
Hanun menyimpan gelas miliknya ke atas meja.
"Cowok-cowok berandalan di sekitar sini? Jangan bilang mereka RT atau sesepuh daerah sini ya! Karena aku gak bakal percaya."
Inda kembali menahan geli karena perkataan Hanun.
"Mereka ngapain?"
"Ah kurang ajar deh pokoknya, kok kamu betah sih di lingkungan kayak gini? Emang sih bersih dan elite juga, cuma aku pikir mending di daerahku lah. Aman sentosa biarpun kumuh."
Hanun tertawa. Namun ketika melihat perubahan raut wajah Inda, Hanun berhenti tertawa.
Hanun bahkan baru sadar kalau wajah Inda penuh goresan luka.
"Kamu kenapa In?"
Inda menggeleng samar, dia tidak ingin menceritakan apapun kepada siapapun. Untuk itu dia memilih mengalihkan pembicaraan.
"Di tempat kamu ada kost-kostan gak?"
Hah?
"Jangan bilang kamu mau pindah?"
Inda mengangguk antusias.
"Di sana gak cocok buat kamu."
"Kapan-kapan aku main ke sana." Inda tersenyum manis.
"Eh iya, kenapa kamu bisa sampai di sini?"
.
.
.
.
.
.
Hai semua!😂
Aku datang lagi, ada yang kangen gaaaaaak?
Maaf yaa aku hiatusnya lama, ada satu dan lain hal. Aku gak yakin sih masih ada yang nyimpen cerita ini di rak bukunya. Tapi kalau ada AKU PADAMU pokoknya.
__ADS_1
Doakan aku supaya konsisten ya teman-teman. Salam rindu dari aku yang tak dirindukan kikikik copas ya.😁 See you next part.