
Hanun terus saja memukul-mukul kepalanya ketika sampai di toko buku dan turun dari motornya. Hanun meratapi kebodohannya tadi, kenapa dia lari?
Uh.
Sebelum memasuki toko Hanun menghela nafas dalam, dia memegangi dada sebelah kirinya. Jantungnya melompat-lompat di sana. Apakah benar ini cinta?
Hanun tersenyum fikirannya kembali melayang pada kejadian tadi. Seketika senyumannya sirna ketika dia kembali sadar apa yang dilakukannya.
Bukannya menyapa dia malah lari, sekali lagi Hanun memukul kepalanya. Hal tersebut diperhatikan oleh pemilik toko buku yang kebetulan berada di dalam toko.
Hanun berjalan membuka pintu toko dan terkejut karena pemilik toko tersebut sudah ada di hadapannya.
"Ya ampun Mbak ngagetin." Hanun mengusap dadanya.
Pemilik toko menyelidik Hanun, matanya tertuju pada tangan Hanun yang terus saja mengusap dadanya. "Dada kamu sakit Nun?"
Hanun menatap pemilik toko kemudian mengibaskan kedua tangannya ke udara, "engga Mbak. Enggak."
"Tapi saya lihat dari tadi kamu pegangin terus." Pemilik toko itu semakin curiga karena Hanun mulai salah tingkah.
Hanun sangat malu, tanpa menjawab majikannya Hanun berpamitan untuk membereskan buku. Hari apa ini kenapa Hanun jadi serba salah begini.
Disela kegiatannya memilah buku, Hanun terus saja memikirkan Farrel. Aduh bagaimana ini?
*Farrel ....
Farrel ....
Eh*.
Hanun tiba-tiba teringat jika Farrel sudah memiliki istri, ah salah sekali perasaannya berlabuh. Hanun mendadak murung.
Beberapa detik kemudian, seseorang datang ke toko. Seorang gadis berkerudung coklat menjadi pelanggan pertama di pagi itu.
Dialah Inda yang selalu datang pagi-pagi ke toko itu hanya untuk bisa mengobrol dengan Hanun.
Inda mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Hanun. Setelah menemukannya Inda segera berjalan menghampiri.
"Silahkan! Buku apa yang Anda cari?" Hanun berkata spontan karena ada yang menepuk pundaknya dari belakang.
Inda tertawa geli mendengarnya membuat Hanun berbalik dan mendapati Inda sedang menertawakannya.
"Wah ramah sekali Anda." Kembali Inda tertawa dan menggoda Hanun.
__ADS_1
Hanun berdecih, "kamu ih Nda. Aku kira kamu orang lain."
"Abisnya kamu ngelamun di pojokan yaudah aku samperin." Tawa Inda mulai mereda karena melihat wajah Hanun yang ditekuk.
"Maaf ya Nun, aku gak niat jailin kamu." Inda mengusap pundak Hanun pelan.
"Gak apa-apa kok," jawab Hanun lemas.
"Kamu kenapa? Apa ada masalah?" Inda menangkap jelas kemurungan Hanun. Sementara Hanun hanya menggeleng lemah tidak ingin berbagi cerita dulu untuk saat ini.
☆
Siang harinya Hanun keluar untuk beristirahat, dia memilih mencari makanan di pinggir jalan. Ketika sedang mengantri untuk membeli pentol goreng tiba-tiba seseorang menyapanya.
"Suka pentol goreng juga?"
Hanun menoleh ke arah suara, ternyata itu adalah Kartino. "Eh Mas Kartino, iya suka banget. Mas ngapain di sini?"
"Ya sama, mau beli juga. Si Bos pesen pentol goreng kebetulan aku lagi belanja suku cadang di sini. Sekalian aja," jawab Kartino.
Hanun mengangguk-angguk.
"Eh Nun, tadi itu kamu janjian ya sama si Bos." Kartino sungguh penasaran.
Hanun sedikit tercengang karena ulahnya pasti Farrel mendapat sedikit masalah kecil. "Bukan Mas, saya kebetulan lewat. Tadinya mau menyapa tapi saya sudah kesiangan." Hanun menggaruk tengkuknya kemudian tersenyum canggung yang memperlihatkan deretan gigi putihnya.
"Farrel lajang? Bukannya punya istri ya?" tanya Hanun heran.
"Istrinya si Bos meninggal dunia."
Hanun terkejut mendengar penjelasan Kartino, entah dia harus bersedih atau gembira. Jika Farrel tidak memiliki istri itu berarti Hanun tidak berdosa bila menyukainya.
Hanun tersenyum samar, beberapa menit kemudian pentol yang dipesannya telah jadi. Setelah berpamitan pada Kartino, Hanun kembali ke toko buku sambil bersenandung ria dalam hati dia berteriak.
Farrel tidak punya istri.
*
Sore ini Inda mengunjungi panti asuhan karena tadi Riri meneleponnya. Riri mengabarkan ada donatur baru akan datang. Inda sudah dianggap sebagai anggota keluarga di panti tersebut oleh sebab itu dia pun selalu menghadiri acara-acara penting di panti asuhan itu.
Seperti biasa anak-anak selalu menyambutnya dengan gembira, mereka memeluk Inda dengan hangat. Meluapkan rindu padahal baru tiga hari yang lalu bertemu.
Riri saja sampai tidak habis pikir melihat anak-anak sangat menyayangi Inda dibanding dirinya yang selama ini berada di panti mengurus mereka. Namun hal itu membuat Riri bahagia karena anak-anak itu tidak kekurangan kasih sayang walaupun kasih sayang itu bukan hadir dari orang tua.
__ADS_1
"Sudah anak-anak, Kakak pinjam Kak Inda nya ya." Riri berseru sembari menarik tangan Inda supaya menjauh dari anak-anak.
"Ih kenapa sih Ri? Tumben tarik-tarik, biasanya 'kan ...." Inda menahan tawanya.
Riri mengendurkan sedikit cekalan tangannya dan memasang bibir manyun lengkap dengan perkataan sinisnya, "biasanya apa?"
"Enggak ada ... eh biasanya gusur 'kan." Inda tertawa lepas.
Riri berdecih. Inda memang sedikit berbeda entah apa yang membuatnya jadi tidak terlalu kaku seperti dulu. Hal itu membuat Riri senang sekaligus penasaran.
"Inda tahu gak ada siapa di dalam rumah sama Ibu Tiwi," bisik Riri.
"Pasti donatur baru itu 'kan." Inda menjawab sekenanya.
Riri berhenti sejenak kemudian tersenyum nakal, hal itu membuat Inda merinding.
"Donaturnya cowok masih muda terus ... nah itu dia." Riri tiba-tiba menunjuk seorang pria yang sedang berdiri di depan rumah bersama Ibu Tiwi.
Inda mengikuti arah telunjuk Riri dan menemukan sosok yang pernah dikenalnya.
Farrel?
Riri kembali berjalan sembari menggandeng Inda, dia membawa Inda ke tempat Farrel berdiri sekarang.
"Begitulah Nak, di sini anak-anak tidak terlalu berminat untuk membaca," kata Ibu Tiwi kepada Farrel.
"Kalau begitu saya akan memberikan beberapa buku bacaan untuk mengisi perpustakaan yang kosong di sini. Mungkin harus dibanyakin buku cerita ya Bu, biasanya anak-anak suka buku cerita. Pasti anak-anak akan senang membaca nantinya."
BuTiwi tersenyum, "benar juga Nak. Ada satu donatur kami juga yang suka mengajak anak membaca dan berdongeng. Oh itu dia, panjang umur."
Inda dan Riri baru saja sampai, mereka kebingungan karena Bu Tiwi dan Farrel sedang menatap mereka.
Farrel selalu melihat sosok Sofia ketika melihat Inda, didetik itu juga dia terpaku menatap Inda. Seolah Sofia sedang berada di sana dia tidak berkedip sedikitpun.
Sejurus kemudian hatinya beristighfar memohon ampunan sesungguhnya dia manusia lemah yang mudah terjerumus.
Secepat kilat Farrel menyembunyikan keterpakuannya dan tersenyum ramah kemudian menyapa Inda dan juga Riri.
.
.
.
__ADS_1
.
.