SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~

SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~
BUKAN KEBETULAN


__ADS_3

Di sebuah gedung berlantai sembilan Pak Subagyo berada. Siang ini dia mengadakan rapat yang dihadiri petinggi perusahaan tempatnya memimpin.


Pak Subagyo bersama asisten pribadinya bergerak masuk ke ruangan tempat diadakannya rapat. Di sana sudah ada enam orang yang menunggu, masing-masing dari mereka memiliki jabatan penting di perusahaan itu.


Tidak lama rapat pun dimulai, awalnya rapat berjalan dengan lancar bahasan pun tidak jauh dari rencana-rencana tentang perkembangan perusahaan. Namun tiba-tiba salah seorang anggota rapat tunjuk tangan dan mulai berbicara, "mohon waktunya sebentar!"


Seketika semua mata tertuju pada orang itu tidak terkecuali Pak Subagyo.


"Ada hal yang ingin saya utarakan di sini, boleh Pak?" Orang itu meminta izin kepada Pak Subagyo.


Pak Subagyo mengangguk untuk mengiyakan, entah mengapa perasaannya menjadi tidak enak.


"Hal ini sangat penting bagi perusahaan, saya mendengar isu tentang keluarga Bapak."


Deg.


Hal yang ditakutkan Pak Subagyo nampaknya akan benar-benar terjadi.


Orang itu menunjuk ke arah Pak Subagyo dan mengalihkan perhatian semua orang yang ada di sana.


"Apa yang Anda lakukan? Tidak seharusnya Anda mencampur adukkan masalah pribadi dengan masalah pekerjaan!" Asisten pribadi Pak Subagyo berusaha menyela pembicaraan karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Pak Subagyo menahan tangan asisten pribadinya dan memberi kode agar diam kemudian berkata, "lanjutkan Pak Satria!"


Orang yang dipanggil Pak Satria itu tersenyum mengejek lalu melanjutkan perkataannya.


"Kamu tidak tahu apa-apa, sebaiknya diamlah dan dengar!"


"Ada isu yang saya dengar kalau putri Anda hamil diluar nikah."


Seketika wajah Pak Subagyo memerah menahan gejolak diri, belum lagi tatapan para bawahannya yang mengarah padanya.


"Hal yang saya takutkan adalah ... reputasi baik yang selama ini tersemat pada Anda akan hancur. Sebab apa? Sebuah perusahaan yang besar akan mudah sekali hancur jika pemimpinnya tidak lagi memiliki reputasi yang baik. Tahun depan, laboratorium milik BPOM sudah mengajukan kontrak untuk pembelian glassware di perusahaan kita. Bisa saja mereka membatalkannya karena masalah ini. Apalagi jika para pemilik saham tahu mengenai hal ini, sudah bisa Anda tebak bukan yang akan terjadi?"


Suasana menjadi hening, semua kepala nampaknya sedang berfikir dengan pemikiran masing-masing.


"Anda sudah selesai?" Pertanyaan sarkas Pak Subagyo membelah keheningan itu.


"Pak Satria, perlu Anda ketahui bahwa saya tidak peduli dengan yang namanya reputasi. Saya akan pastikan perusahaan ini akan tetap menjadi perusahaan pemasok alat medis yang utama di negeri ini. Anda jangan takut! Saya akan selesaikan urusan keluarga saya sebelum itu bocor ke publik. Rapat ini kita akhiri! Selamat siang, semoga hari kita semua menyenangkan."

__ADS_1


Pak Subagyo bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan rapat diikuti asisten pribadinya. Pak Subagyo berjalan menuju lobi kantor kemudian menyuruh asisten pribadinya kembali sementara dia pergi menggunakan mobil hitamnya.


Pak Subagyo menjalankan mobilnya dengan perasaan kalut. Sebenarnya dia juga resah dengan keadaan ini. Pak Subagyo tahu akan banyak orang-orang yang memanfaatkan situasi ini untuk melengserkannya dari jabatan pemimpin. Tangannya mencengkram erat stir kemudi, matanya terpejam sesaat.


Bukan sekedar jabatan yang difikirkan melainkan juga kegagalannya melindungi sang putri.


Saat lampu merah, Pak Subagyo menghentikan mobilnya. Seorang pengamen yang nampaknya sedang mabuk menggedor kaca mobilnya. Pak Subagyo yang kaget kemudian membuka kaca mobil.


"Bagi duit!" ujar pengamen itu.


Pak Subagyo mengambil dompetnya, belum sempat membuka dompet tiba-tiba saja pengamen itu merampasnya. Pak Subagyo terpaksa harus merelakan dompet beserta isinya kepada preman itu karena suara klakson kendaraan lain mengurungkannya untuk mengejar sang perampas.


Untung saja surat-surat berharga tidak pernah disimpannya di dalam dompet.


Hanya uang cash, kartu kredit dan ATM juga selembar foto sang putri yang selalu dibawanya di dalam dompet.


*


Pak Subagyo melajukan kendaraannya kemudian memutuskan untuk mengisi bensin di tempat pengisian bahan bakar. Setelah bensin terisi penuh, Pak Subagyo baru sadar bahwa dia tidak punya uang cash. Sementara kendaraan lain sudah mengantri di belakangnya.


"Mobil saja bagus uang gak punya," cemooh sang pengisi bensin.


"Biar saya yang bayar!" Tanpa disangka Farrel datang.


*


Setelah urusan bensin selesai, Pak Subagyo mengajak Farrel makan siang di sebuah restoran yang tidak jauh dari tempat itu.


Kini mereka duduk saling berhadapan di sebuah meja, dihadapan mereka sudah tersaji makanan yang mereka pesan.


"Sekali lagi dan lagi saya ucapkan terimakasih Nak Farrel." Pak Subagyo memulai pembicaraan.


Farrel tersenyum tulus, "tidak perlu berlebihan Pak, tadi saya kebetulan melihat Bapak sedang berdebat di POM itu. Kebetulan juga saya sedang berjalan-jalan menikmati waktu maklum pengangguran."


Mereka tertawa bersama. "Lebih baik jadi pengangguran tidak ngurusin kerjaan yang kadang bikin pusing."


"Ada gak enaknya juga Pak, gak punya uang." Farrel memelankan suaranya sedikit berbisik. Hal itu kembali membuat Pak Subagyo tertawa. Sedetik kemudian Pak Subagyo kembali murung.


"Bapak baik-baik saja?" tanya Farrel.

__ADS_1


Pak Subagyo mengangguk. "Saya baik-baik saja saat ini saya sedang dalam kemalangan."


Farrel mengernyit tidak mengerti, "maksud Bapak?"


"Bisa dibilang ini aib." Pak Subagyo menunduk dalam mencoba menguatkan diri.


"Jika berkenan Bapak bisa bercerita pada saya, jika dapat membantu saya bantu. Ada apa Pak?" Farrel merasa Pak Subagyo sedang butuh teman cerita.


"Anak saya ... anak saya hamil," ujar Pak Subagyo terbata.


"Itu kabar gembira 'kan, terus kenapa Bapak terlihat sedih?" tanya Farrel.


"Bagaimana saya tidak sedih? Anak saya hamil tanpa suami, dia hamil diluar nikah."


Seketika itu Farrel mengerti perasaan Pak Subagyo.


"Anak yang saya harapkan mempunyai masa depan yang cerah dan sukses kini hancur berantakan. Saya gagal mendidiknya hingga dia terjerumus dalam dosa besar." Pak Subagyo menyeka air matanya.


Farrel terkejut mendengar kisah Pak Subagyo kini dia mengerti mengapa Pak Subagyo terlihat sangat terpuruk.


"Saya patah hati untuk kedua kalinya Nak. Sebenarnya saya mempunyai dua putri, mereka kembar. Namun salah satu dari mereka hilang ketika umurnya baru lima tahun. Entah bagaimana nasibnya kini, seandainya masih ada di dunia ini semoga mendapatkan kehidupan yang layak." Pak Subagyo tidak dapat lagi menahan air matanya. Mata yang kuyu itu akhirnya mengeluarkan air mata sebanyak-banyaknya.


"Sementara di sini saya gagal menjaga saudaranya." Pak Subagyo menangkup wajahnya.


Farrel berdiri dan berpindah kebelakang Pak Subagyo, dia mengusap-usap punggung Pak Subagyo untuk menenangkannya.


Setelah cukup tenang, Farrel kembali ke tempatnya.


"Bapak yang sabar ya, semua pasti ada hikmahnya." Farrel mencoba menguatkan.


"Iya Nak, saya tahu. Saya juga merasa pertemuan kita bukan suatu kebetulan."


Farrel mengernyitkan keningnya mendengar perkataan Pak Subagyo.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2