
Fahira kemudian menatap Farrel, dia tidak yakin Farrel akan membawanya ke tempat yang layak.
Sementara Farrel berpura-pura tidak melihatnya, dia sibuk memakan makanan yang ada di depannya.
"Tapi Pa ...." Fahira masih mengiba, berharap ayahnya akan berubah pikiran.
"Apa lagi? Kamu itu sudah seharusnya ikut suamimu. Lagipula di sini sudah ada Jahira. Papa tidak akan kesepian."
Fahira beralih menatap Hanun yang kini sudah tidak enak untuk duduk. Dia merasa kehadirannya salah dikeluarga ini.
"Baiklah, baiklah kalau itu karena Jahira. Aku mengalah." Fahira kemudian berdiri dan berjalan menuju ke kamarnya.
Sepeninggal Fahira, Hanun menatap Pak Subagyo bermaksud untuk memberikan protes atas keputusan ayahnya.
"Pa, kenapa Papa mengusir Fahira? Apa gara-gara aku? Kalau begitu lebih baik aku pergi lagi ke Jogja."
Pak Subagyo membalas tatapan Hanun kemudian tersenyum lembut.
"Bukan karena kamu, sebenarnya Papa tidak mengusirnya. Papa hanya mengabulkan permintaan Farrel untuk membawa Fahira pergi."
Hanun kemudian menatap Farrel, oh karena itu.
Farrel benar-benar terlihat seperti lelaki yang bertanggung jawab.
Seharusnya aku, Rel. Aku yang harusnya diposisi itu bukan Fahira!
Hanun merasa iri, kenapa Farrel menikahi Fahira? Sementara wajah mereka mirip.
Hanun masih belum bisa menerima ini semua.
Tiba-tiba saja tangisan bayi menggema di seisi rumah. Hanun terkejut mendengarnya, apa ada bayi di sini?
"Aduh Rel, Papa melupakan cucu Papa." Pak Subagyo berdiri kemudian berjalan memasuki sebuah kamar.
"Itu bayi siapa?" Hanun bertanya kepada Farrel sambil berbisik.
"Bayinya Fahira," jawab Farrel.
Hanun tidak bisa menahan rasa terkejutnya, dia memelototkan kedua matanya tidak percaya.
"Jadi ... Kamu udah punya anak?"
Oh patah lagi hati Hanun kali ini.
Tetapi Farrel menggelengkan kepalanya membuat Hanun mengerutkan keningnya.
Apa maksudnya dengan Farrel menggelengkan kepalanya?
__ADS_1
"Bayi itu bayi Fahira dan sekarang menjadi bayiku juga."
Apa sih maksudnya? Hanun menjadi bingung.
Tidak lama kemudian Pak Subagyo keluar dari kamar sambil menggendong bayi yang kini sedang minum susu itu ditangannya.
"Hai jagoan." Farrel menghampiri bayi kecil itu dan menciumnya. Sementara Hanun mematung di tempatnya.
Kemudian Pak Subagyo membawa bayi itu mendekati Hanun. "Lihat ini! Ini tante kamu, nanti panggil tante dengan sebutan Ateu Enun ya."
Hah?
Seenaknya saja Pak Subagyo mengganti namanya, Hanun tidak terima!
"Jelak banget Pa, masa Ateu Enun?"
Farrel dan Pak Subagyo terkekeh mendengar protes dari Hanun.
"Itu bagus kok," kata Pak Subagyo. "Oh iya, ini ponakan kamu. Dia anak Fahira."
Hanun mengangguk sambil melihat wajah rupawan bayi itu.
"Ganteng ya, mirip Farrel."
Eh?
"Wah yang bener kamu, jadi beneran dong bayi ini berjodoh dengan Farrel." Pak Subagyo tertawa.
Hanun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ternyata berada di lingkungan asing bisa membuatnya kikuk begini.
"Sudah ada namanya belum Pa?" tanya Farrel.
"Belum." Suara Pak Subagyo terdengar melemah sambil menatap cucunya iba.
Farrel juga menatap bayi mungil yang kini menjadi anaknya itu. Ingin sekali dia ikut memberi nama bayi itu tetapi Farrel tahu posisinya.
"Bagaimana kalau kita panggil dia Adam?" Tiba-tiba Pak Subagyo menyematkan sebuah nama untuk bayi itu. Fahira yang kebetulan sedang berjalan menuruni tangga mendengar itu. Dia menghentikan langkahnya, dia tidak ingin melihat bayi itu saat ini.
Fahira kemudian melanjutkan langkahnya, dia menenteng tas di tangannya.
Semua orang menatap kedatangan Fahira yang sudah bersiap pergi.
"Ayo!" Fahira menatap Farrel dan mengajaknya untuk segera pergi dari rumah tempat dirinya dibesarkan.
"Eh, barang-barang Adam bagaimana?" tanya Farrel.
"Apa bayi itu akan ikut juga?" Fahira menunjuk bayi Adam tanpa menatapnya.
__ADS_1
"Tentu saja, kamu pikir siapa yang mau mengurusnya di sini?" Pak Subagyo menjawab pertanyaan Fahira dengan sarkas. Hal itu membuat Fahira bungkam seketika, dia sungguh tidak ingin melihat bayi itu dia sangat membencinya.
Pak Subagyo memberikan bayi Adam kepada pengasuhnya yang kebetulan berada tidak jauh darinya kemudian Pak Subagyo berjalan menghampiri Fahira dan tiba-tiba memeluknya, meskipun dia mencoba untuk tegas pada Fahira tetap saja pertahanannya runtuh. Fahira tetap menjadi anak tersayangnya.
"Baik-baik di sana ya, Nak."
Fahira tidak menjawab ataupun mengangguk, dia menerima ini sebagai hukuman atas kesalahan yang telah diperbuatnya.
*
Hari itu juga Farrel memboyong Fahira dan bayi Adam pulang ke rumahnya. Farrel tidak menyertakan pengasuh Adam karena Farrel ingin Fahira mengurus bayinya sendiri.
Tentu saja tadi terjadi perdebatan yang sengit antara Fahira dan Farrel dan akhirnya sampai pada keputusan bahwa pengasuhnya akan datang setiap siang hari dan pulang pada malam hari. Fahira yang merasa terpojok akhirnya mengiyakan meski dengan berat hati.
*
Di dalam mobil, Fahira sibuk dengan ponselnya dan Farrel fokus mengemudi. Sang bayi kecil yang berada dalam keranjang *p*ortable terbangun dan menangis di belakang, Farrel menepikan mobilnya.
"Adam nangis." Farrel menoleh ke arah Fahira yang tak acuh.
"Terus?" Fahira bertanya tetapi matanya tertuju pada ponsel, seolah tidak ada hal penting lain yang bisa mengalihkannya dari ponsel kesayangannya.
Farrel tidak berkata lagi, dia keluar dari mobil dan membuka pintu belakang mobilnya. Dia mengambil Adam yang masih setia menjerit-jerit. Farrel mengambil botol susunya kemudian menggendong Adam.
Farrel mengetuk pintu mobil dimana Fahira sedang asik duduk. Fahira mencebik kemudian membuka pintu mobil itu.
"Sebaiknya Adam dipangku, dia kebangun mungkin karena terguncang-guncang." Farrel memberikan Adam kepada Fahira yang tidak bisa berkutik.
Fahira dengan kaku memangku Adam, jujur baru kali ini dia melakukan itu. "Kalau tadi bawa pengasuhnya aku gak bakal repot." Fahira kesal kepada Farrel yang dengan santainya tersenyum melihat Adam berhenti menangis walau tanpa minum susu. Sepertinya bayi kecil itu tahu bahwa saat ini dia berada dalam dekapan sang ibu.
"Benerin tuh topinya, kasihan matanya ketutup!"
Eh?
Fahira dengan terpaksa melihat wajah bayinya untuk pertama kalinya, benar saja topi yang berupa kupluk rajut itu kini menutupi sebagian mata Adam.
Fahira terpaku menatap wajah Adam yang teduh, tiba-tiba saja perasaan bersalah menyeruak meski sekuat tenaga dia tangkis. Wajah bayinya yang sempurna dengan hidung mancung dan bibir yang merah membuat Fahira terpesona.
Inikah yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama?
Fahira tidak menyadari dia menatapi wajah bayinya tanpa menoleh kemanapun hingga akhirnya mereka tiba di rumah Farrel yang sudah banyak berubah setelah direnovasi.
Farrel menghentikan mobilnya dan membuka pagar yang kini terlihat lebih kokoh dari sebelumnya. Farrel benar-benar menghilangkan jejak masa lalu tetapi tidak bisa melupakan orang dari masa lalu itu.
.
.
__ADS_1