SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~

SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~
HATI


__ADS_3

"Eh iya, kenapa kamu bisa sampai di sini?"


Inda menatap Hanun yang terlihat sedikit kecewa karena topik pembicaraan beralih.


Hanun menghela napas dalam, sesungguhnya dia tahu ada sesuatu yang telah terjadi pada Inda tetapi Hanun juga mengerti jika Inda belum bisa terbuka terhadapnya.


Siapalah dia? Inda tidak malu berteman dengannya saja sudah merupakan keberuntungan.


"Hei! Malah bengong."


Hanun mengerjap dan tersadar dari lamunan, ah untung saja Inda baik hati coba kalau tidak sudah habis diguyur air sirup tuh si Hanun.


"Hem iya kenapa?"


Inda menggelengkan kepalanya, Hanun itu polos atau apa sih. Ajaib.


"Aku nanya kamu kenapa ada di sini? Di tong sampah lagi."


Sebelum menjawab Hanun menyengir ala kuda, dia bingung harus mulai bercerita dari mana. Masa bilang kangen?


"Jadi, aku itu nyari alamat kamu In."


Inda mengangguk-angguk, "Tapi kok kamu tahu aku di sini? Perasaan aku belum bilang deh."


"Nah itu dia, inisiatif aja nyari deket mesjid itu. Eh gak sengaja ketemu berandalan-berandalaan itu di depan sana. Aku gak tahu kenapa kakiku malah jalan ke sini. Mungkin feeling kali ya?" Kembali Hanun tersenyum menampakkan deretan giginya.


"MashaAlloh itu bukan sekedar feeling Nun, tapi Alloh sudah memberikan petunjuk buat kamu untuk menemukan aku. Beruntungnya kamu." Mata Inda berbinar.


"Apa sih? Gak ngerti."


Inda tersenyum. "Dalam al-quran, banyak ayat-ayat tentang Alloh Maha Pemberi Petunjuk bagi orang beriman."


"Iman? Tapi In, emangnya quran bukan sekedar alip-alipan ya? Ada artinya juga?"


"Bukan cuma arti, tapi juga ilmu. Mulai sekarang kita belajar bersama-sama yuk!"


Hari itu mereka habiskan dengan belajar hal-hal dasar tentang agama islam. Selama hidupnya belum pernah Hanun merasa sedamai ini, seketika beban hidup terasa hilang bahkan Hanun lupa kalau di rumah berasnya habis.


*


Menjelang sore hari, Hanun dan Inda menyudahi kegiatan mereka. Ketika Inda mengajak Hanun untuk sholat ashar, Hanun sangat bersemangat.


Hanun ingin belajar sungguh-sungguh ingin belajar.


"Sebelum sholat, aku boleh minta pembalut gak In. Dari tadi gak enak nih, udah penuh kayaknya."

__ADS_1


Inda menyimpan kembali sajadah yang sudah diambilnya dari lemari, Inda berbalik menatap Hanun yang tepat berada di belakangnya.


"Kamu lagi dapet tamu?"


Hanun mengangguk.


"Untuk kali ini kamu jangan sholat dulu ya."


Hanun kaget mendengar ucapan Inda, bukannya tadi Inda mengajaknya?


Apakah Inda berubah pikiran untuk mengajarinya? Atau Inda malas?


"Kenapa In? Padahal aku udah siap nih." Kentara dari suaranya, Hanun sangat kecewa. Inda mengerti hal itu. Oleh karena itu setelah memberikan apa yang dibutuhkan Hanun, Inda juga memberikan sebuah buku untuk dibaca oleh Hanun.


"Wanita yang sedang datang bulan dilarang untuk sholat. Ada hadistnya dari Bukhori dan Muslim, Apabila haid datang, tinggalkanlah sholat. Untuk lebih jelasnya kamu baca-baca dulu ya sembari nunggu aku sholat."


Inda pun menunaikan kewajibannya, sementara Hanun masih tertegun di tempatnya. Betapa Hanun merasa sangat merugi tidak tahu apa-apa selain bagaimana caranya mendapatkan uang.


Ternyata aturan yang benar itu nyata supaya hidup tertata. Hanun mengusap setitik air bening di sudut matanya. Hanun bertekad akan belajar dengan sungguh-sungguh. Setelah dia paham, Hanun ingin mengajak Dodo untuk belajar bersamanya.


Hanun menyadari abangnya itu sama seperti dirinya, hidup dalam kegelapan tidak ada cahaya untuk mencari jalan yang benar.


*


Ketika sore itu Hanun berpamitan, Inda melarang Hanun untuk memakai pakaian yang dipakainya sewaktu datang ke kostannya. Selain kotor, Inda juga takut Rulli dan teman-temannya masih mencari Hanun dan mencelakainya.


Inda membantu memakaikan penutup kepala itu pada Hanun.


Inda sangat takjub melihat wajah Hanun yang dibalut kerudung berwarna ungu itu. Aura wajah Hanun sangat terpancar dan membuat Inda terpesona.


"In ... hei! Jangan gitu liatinnya, aku takut." Hanun berbicara dengan sedikit berbisik pada akhir kalimatnya.


Inda tertawa lepas, apa yang dipikirkan Hanun?


"Takut apaan? Kamu cantik Nun. Sangat cantik, pasti ibu kamu juga cantik nih kalau anaknya kayak gini."


Seketika hati Hanun bak teriris silet, ibu?


Hanun ingin seorang ibu.


Hanun tidak ingin memperlihatkan kepedihan hatinya kepada Inda untuk itu dia mengiyakan ucapan Inda.


Hanun sudah lupa wajah ibunya, yang selalu dia ingat hanya truck besar berwarna hijau dan dua orang yang memakai jas itu, tetapi siapa mereka Hanun tidak tahu.


Setelah berpamitan, Hanun berjalan menyusuri jalanan sambil mencoba mengingat kembali masa lalunya. Namun nihil, Hanun tidak menemukan jawaban.

__ADS_1


Ah berpikir tentang masa lalunya selalu membuat Hanun sakit kepala. Hanun memutuskan untuk berjalan cepat meninggalkan lingkungan tempat tinggal Inda.


Ah dia baru sadar beras di rumah habis, untung saja Inda memberikannya makan tadi jadi dia tidak merasa lapar. Setidaknya sampai besok.


*


Farrel mengumpulkan semua pegawainya, dia berpamitan untuk pulang. Farrel baru saja menerima kabar dari Ahmad bahwa Uwa tersayang sedang berada di rumah sakit.


"Kapan bos balik lagi?" tanya Suryo.


Farrel menghela napas, sebenarnya dia tidak berencana untuk pulang dalam waktu dekat tetapi jika berhubungan dengan sang Uwa tentu dia mengalah.


"Belum tahu, kamu handle aja semua kerjaan. Aku percaya sama kalian orang baik."


"Terus gimana sama si Hanun?"


Ah iya Farrel hampir lupa gadis pencuri yang manis itu. Setelah berpikir sejenak Farrel pun memutuskan untuk membiarkan Hanun bekerja di sana menghabiskan masa hukuman yang mereka sepakati bersama.


Malam ini juga Farrel pergi ke stasiun kereta api setelah tadi memesan tiket secara online. Farrel ingin cepat sampai dan bertemu dengan Uwa.


Farrel duduk dengan nyaman di dalam kereta, dia membuka ponselnya untuk bertanya tentang keadaan Uwa.


Setelah selesai menelpon, dia menatap layar ponselnya yang terpampang wajah bidadari di sana. Potret Sofia yang dia dapat dari Nimas.


Sangat anggun dan juga cantik, Farrel mengusap wajah itu. Penyesalan datang kembali.


Mengapa dia menyia-nyiakan Sofia?


Mengapa rasa cinta ini datang terlambat? Disaat raga tidak mungkin lagi bertemu, Farrel sangat membenci dirinya hingga tanpa sadar dia meremas ponsel miliknya dengan sangat kuat.


Kembali bayang-bayang Sofia muncul. Oh ayolah! Farrel harus bisa kembali melangkah dan hidup dengan bahagia.


Ayo Rel kamu bisa. Nyatanya perkataan itu hanya bentuk penyemangat saja. Farrel masih belum memaafkan dirinya walau sudah beberapa tahun berlalu.


Cinta ini, makin besar dan bertambah setiap harinya. Akankah ada seseorang yang mampu menggeser Sofia di hati seorang Farrel?


Mungkinkah?


Setelah kau pergi, aku semakin mencintamu. Sofi.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2