
Berharap semua mimpi, namun nyatanya subuh ini Inda merasa perih di seluruh wajahnya. Bahkan ketika air whudu mengalir, rasa terbakar menjalar di wajahnya. Inda menggigit bibirnya yang juga perih. Subuh ini Inda tidak sanggup pergi ke mesjid dengan keadaannya yang seperti ini.
Inda terpekur sendirian menghadap Tuhannya, membaca ayat-ayat yang dapat menenangkan jiwanya.
Inda membaca surat Ar-Rum ayat sembilan, yang mana isinya menjelaskan tentang larangan menyakiti diri sendiri. Inda merasa tersentil kemudian memegang pipinya pelan.
Air mata perih mengalir kini, bukankah bukan salah wajahnya kejadian semalam terjadi?
Lalu kenapa dia melukai dirinya seperti itu?
Air mata makin deras menuruni telaga bening itu. Oh betapa dirinya telah dzalim. Inda bersujud meminta ampun.
***
Pagi ini Hanun nampak ceria, bangun tidur bersenandung ria bahkan ketika mandi pun dia bernyanyi-nyanyi menikmati guyuran air yang membasahi sekujur tubuhnya.
Tidak lama kemudian ....
"Woi ... di dalam ada siapa woi? Cepetan lama amat ditungguin dari tadi."
Seseorang menggedor-gedor pintu MCK tempat Hanun menikmati paginya.
Berhenti sejenak, Hanun melanjutkan rutinitasnya tanpa terbebani suara gedoran yang semakin keras itu.
Melantunkan hampir lima lagu, akhirnya Hanun selesai mandi. Wangi dan segar Hanun membuka pintu MCK.
Betapa kagetnya dia, ketika melihat seorang ibu yang berwajah pucat melotot ke arahnya sembari memegangi perutnya.
"Akhirnya keluar juga, lama bener si ah."
Ibu itu menerobos masuk sembari menggerutu tidak jelas. Suara dari dalam yang masih dapat didengar oleh Hanun menandakan bahwa ibu tadi sedang mengeluarkan hajatnya yang tertahan karena menunggu Hanun mandi.
Hanun menahan tawanya sembari menggelengkan kepala kemudian berjalan menuju rumah bututnya.
Hanun siap menyongsong hari ini, hari yang sebenarnya mendung tetapi terasa cerah di mata Hanun. Awan gelap yang menggelayut dipagi hari bagai hiasan keabuan di mata Hanun.
Hanun menguncir rambut hitamnya menyerupai buntut kuda. Sepatu butut miliknya tak lupa dia pakai, untunglah Retno memberi Hanun kaos seragam jadi untuk bekerja di toko buku dia tidak berpenampilan lusuh.
Hanun tersenyum menatap cermin retak di sudut rumahnya. Hanun tidak sabar menjalani rutinitasnya hari ini. Hanun tidak sabar bertemu Retno, Inda, dan ... ah Farrel.
Senyuman tersungging makin lebar, tetapi perlahan senyuman itu sirna tatkala mata Hanun menangkap sebuah topi yang tergantung di dekat pintu. Ya, topi itu milik Dodo.
Hanun rindu Dodo, Hanun rindu abangnya.
Kesibukannya memang mengalihkan sementara pikirannya tentang Dodo, tetapi bukan berarti Hanun benar-benar melupakannya.
__ADS_1
"Semoga Abang baik-baik saja di sana."
Gumaman kecil mengiringi langkahnya keluar dari rumah.
***
Sementara pagi ini di rumah yang ditempati Farrel, sang penghuni nampak menyesap kopi yang baru diseduhnya. Duduk bersandar pada sandaran kursi sembari memeriksa ponsel miliknya.
Farrel tersenyum kala melihat story whatapp dari Nimas, nampak dalam story itu Ustadz Zamzam terlihat menjadi kuda yang ditunggangi kedua putrinya. Farrel ikut bahagia melihat kebahagiaan keluarga kecil yang dulu hampir dia hancurkan. Ya, sebelum Sofia masuk ke dalam hidupnya dan menjungkir balikkan hatinya.
Penyesalan yang selalu menyerang dan jodoh yang terlalu pendek membuat Farrel menyerah.
Farrel menyimpan cangkir di tangannya ke atas meja. Kemudian bersiap untuk pergi ke bengkel.
Kerja dan kerja yang mampu mengalihkan pikirannya, entah sampai kapan Farrel seperti itu yang jelas kini dia mengeluarkan motor yang biasa dia pakai ke bengkel untuk menghemat waktu.
Farrel menjalankan motornya dengan do'a.
Baru setengah jalan, Farrel melihat seseorang yang beberapa hati ini muncul di hidupnya seperti bintang tamu yang tidak diundang. Gadis sederhana berambut legam.
Hanun.
Ya, Hanun nampak berjalan kaki sembari bersenandung. Tidak terhitung berapa album yang Hanun nyanyikan pagi ini yang jelas hatinya merasa bahagia.
Duh perasaan ini udah di pinggir banget. Kenapa itu klakson tatetot aja ih.
Hanun yang kesal kemudian berbalik arah, menatap seseorang di balik helm merah itu. Hanun bersiap mengeluarkan taringnya kali ini.
Farrel berhenti sambil tersenyum kecil merasa lucu melihat wajah Hanun yang menahan amarah seperti itu.
"Turun loe!"
Wajah sangar Hanun tampilkan sebagai senjata.
Farrel turun dari motornya, untunglah jalanan itu berupa jalanan yang sepi sehingga apa yang dilakukan Farrel tidak berpengaruh pada pengendara lain.
Farrel membuka helm merahnya kemudian dengan kalemnya menatap Hanun yang sedikit terkesiap.
"Maksudnya apa bunyiin klakson? Berisik tahu gak?"
Meskipun sedikit kaget Hanun mencoba tetap garang di hadapan Farrel. Sejak kemarin, Hanun memutuskan untuk memangkas rasa yang ada di hati. Hanun buang jauh, dia akan bersikap sewajarnya.
Siapalah dia? Sama sekali tidak pantas merasa sebagai manusia.
"Saya hanya merasa kenal ketika melihat Anda berjalan, eh menang saya kenal rupanya. Nona pencuri."
__ADS_1
Kalimat itu meluncur sendiri tanpa bisa dikontrol oleh Farrel. Inikah yang dinanakan lidah tidak bertulang?
Hanun menggeram kesal. Ok kemarin dia memang diam tetapi kali ini, tidak akan.
"Silahkan lanjutkan perjalanan Anda! Oh iya satu lagi, jadi bos bengkel jangan songong deh! Baru juga bos bengkel, belum jadi pejabat."
Hanun mendelik sebelum akhirnya berbalik badan dan berjalan menjauhi Farrel yang masih berdiri di tempatnya.
Farrel tersenyum geli melihat kemarahan Hanun. Eh sejak kapan Farrel suka menggoda Hanun?
Farrel pun menaiki kembali motornya dan melanjutkan perjalanan. Saat melewati Hanun yang masih berjalan Farrel menggas motornya hingga mengagetkan Hanun.
Umpatan-umpatan kasar keluar dari mulut Hanun. Untung saja dia berhenti mengagumi Farrel, coba jika masih mengagumi mungkin Hanun akan tetap klepek-klepek dengan kelakuan Farrel yang seperti itu.
Hanun mengurut dada.
Semoga Inda segera sadar, enggak senyum-senyum lagi kalau lihat dia huh.
Hanun lupa dirinya pun pernah seperti itu.
***
Inda memutuskan untuk berdiam diri di rumah, baginya masih ada rasa trauma setelah kejadian tadi malam. Sesekali mengintip ke luar jendela guna melihat keadaan sekitar. Takut, Inda sangat takut.
Manusia-manusia bejat itu membuatnya ketakutan dan tidak ingin keluar lagi. Tiba-tiba Inda teringat akan Hanun. Ah seandainya dia tidak sedang dalam keadaan seperti ini, Inda akan membawa Hanun ke kostannya.
Inda sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mengajari Hanun tentang agama yang dianutnya. Agama yang indah dan benar.
Inda yakin Hanun memiliki keinginan, mungkin saja Alloh mengirimnya untuk membimbing Hanun. Hidayah datang melalui dirinya.
Untuk itu, Inda bangkit menuju tumpukkan buku di dalam karton yang sengaja disimpannya di bawah kolong tempat tidur. Hanun mencari buku yang bisa berguna untuk Hanun.
Sungguh Hanun akan sangat beruntung karena mengenal Inda.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1