
Setelah merasa lebih baik, Hanun berpamitan pulang terlebih dahulu. Meski Inda melarangnya Hanun bersikeras pergi karena masih jam kerja. Dia tidak bisa berlama-lama di panti karena Hanun masih harus menjaga toko.
Untung saja kepalanya sudah tidak sakit sekarang, jadi dia bisa menjalankan motornya dengan baik. Setelah setengah jam lebih akhirnya dia sampai di toko.
Hanun turun dari motornya dan masuk ke dalam toko dengan langkah gontai. Di dalam toko, Retno terlihat kewalahan melayani pembeli. Retno tersenyum lega melihat kedatangan Hanun, dia memberi kode kepada Hanun untuk segera membantunya. Hanun pun sigap karena sudah terbiasa setidaknya dengan bekerja Hanun sedikit lupa dengan kegalauannya.
*
Sore menjelang, Hanun bersiap untuk pulang dia merapikan tasnya dan berpamitan kepada Retno. "Mbak saya duluan."
"Eh tunggu Nun, tadi yang ke sini bareng Mbak Inda siapa namanya?" tanya Retno.
"Namanya Farrel Mbak, kenapa?"
"Kamu tahu alamatnya gak? Atau kamu tanya Inda kalau gak tahu, soalnya tadi kembaliannya kurang. Kamu tolong berikan sisa kembaliannya ya, bilangin juga maaf soalnya aku keder Nun. Baru kali ini ada yang borong buku sebanyak itu." Retno sedikit tertawa.
"Baik Mbak, tapi kayaknya besok pagi deh aku kasih. Gak apa-apa 'kan?"
"Ya terserah kamu, terimakasih ya Nun untuk hari ini. Yaudah kamu pulang gih! Biar saya yang tutup tokonya." Retno memberikan sejumlah uang kepada Hanun untuk Farrel.
Setelah itu Hanun pergi mengendarai motornya. Uh sungguh hari ini dia lelah sekali.
*
Keesokan paginya Hanun berangkat dengan tujuan bengkel Farrel karena dia akan memberikan kembalian yang kemarin kurang. Sesampainya di bengkel Hanun sudah disuguhi kesibukkan yang tidak biasa. Bengkel Farrel sudah buka dan para pegawainya terlihat sibuk bekerja.
Sedikit ragu-ragu Hanun mendekat, dia menghampiri Kartino yang sedang sibuk memukul per baja. Tangannya kekar dan berkeringat tidak ketinggalan oli hitam melekat hampir disekujur tubuhnya.
"Permisi Mas, Farrelnya ada?"
"Eh Hanun, Bos ada di dalam. Lagi ada tamu tapi kamu masuk aja, tamunya cuma sebentar ko cuma mau ngambil truk." Kartino menatap Hanun sekilas kemudian kembali fokus pada pekerjaannya.
Hanun berdiri dan berjalan masuk ke dalam bengkel. Dia melewati beberapa truk besar yang membuatnya harus menahan nafas karena gelisah. Trauma masa kecil membuatnya takut dengan truk-truk itu. Bahkan selama menerima hukuman bekerja di bengkel ini hampir setiap hari Hanun menangis ketakutan ketika sampai di rumah. Dia selalu menguatkan dirinya tetapi kenyataannya dia memang takut pada truk-truk itu.
__ADS_1
Samar-samar terdengar percakapan di dalam sana, sepertinya Farrel tengah berbincang dengan tamunya.
"Beberapa bulan yang lalu saya dioper ke luar daerah, jadi belum sempat ambil truk di sini. Dasarnya aja si Bos harus saya yang ambil bikin repot aja." Sang tamu terdengar tertawa.
"Memangnya supir truk yang biasa kemana?" tanya Farrel.
"Meninggal mendadak, umur gak ada yang tahu ya. Hm saya jadi takut, jadi inget dosa paling besar yang pernah saya lakukan." Sang tamu terdengar menghela nafas dalam.
"Semua yang bernyawa pasti akan meninggal, ya sudah ini bonnya. Terimakasih sudah menjadi langganan bengkel kami." Farrel memberikan secarik kertas kepada tamu itu.
Setelah itu sang tamu berpamitan dan berbalik badan tidak lama kemudian Hanun datang di balik sebuah truk dia berjalan perlahan dengan senyuman kaku.
Ketika mata Hanun menemui tamu yang bersama Farrel, tiba-tiba tubuhnya gemetar, keringat dingin bermunculan, matanya melotot seakan menerima keterkejutan yang tiada tara.
Badannya kaku untuk digerakan, Hanun terpaku menatap pria yang mulai bermain diingatannya.
Nona pindah duduknya ke depan ya, Om mau tiduran di belakang.
Kalimat itu mulai berdengung hebat di telinga Hanun, air mata yang entah datangnya darimana tiba-tiba mengucur deras. Hanun menutup telinganya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sakit kepala yang hebat muncul lagi Hanun tidak kuat, Hanun berteriak lalu pingsan.
Para pegawai pun menghentikan pekerjaannya dan bertanya-tanya. Tidak terkecuali tamu yang tadi tepat berada di depan Hanun, dia melihat dengan jelas ekspresi Hanun saat melihatnya. Pria paruh baya itu melihat ketakutan dimata Hanun.
Siapa gadis itu? Apa dia mengenalku?
Berapa kali mengingat, sang tamu tidak bisa menemukan jawaban. Tidak lama kemudian dia memutuskan untuk pergi dari bengkel karena urusannya telah usai.
*
Sementara di klinik, Farrel nampak menunggu Hanun tersadar dia duduk di kursi tepat di samping Hanun. Farrel merasa ada yang tidak beres dengan keadaan Hanun.
Kemudian Farrel bertanya-tanya haruskah dia ikut campur?
Farrel tidak mengenal Hanun sama sekali tetapi mengapa keadaannya selalu kebetulan ada fi hadapannya. Apakah ini petunjuk bahwa Farrel harus membantu Hanun?
__ADS_1
Farrel memijat pelipisnya kemudian menggeleng samar.
Memangnya aku peramal bisa tahu dia ada masalah. Gadis tengil.
Farrel kemudian tersadar dari lamunannya ketika melihat Hanun bergerak. Hanun memegangi kepalanya rasa nyeri masih terasa di sana dia meringis dan berniat bangun sebelum tiba-tiba ada tangan membantunya untuk duduk. Tangan itu membantunya bersandar dan duduk dengan nyaman. Hanun menatap sang pemilik tangan yang ternyata Farrel.
Hanun terpaku kemudian membuang wajahnya. "Terimakasih."
"Bisa gak sih kamu jangan merepotkan saya. Sudah dua kali saya melihat kamu pingsan, kalau lagi tidak sehat, istirahat! Bukannya berkeliaran kayak kucing liar begini."
Entah mengapa omelan Farrel terdengar seperti hembusan angin ditengah padang pasir. Hanun merasa sejuk dan terpana, Farrel orang kedua yang memperhatikannya selain Inda.
Oh saat ini sakit kepala Hanun mendadak hilang tergantikan dengan rasa menggelitik di dada yang membuatnya tersenyum.
Farrel yang melihat Hanun tersenyum merasa heran, "malah cengengesan. Kata Dokter kamu perlu istirahat yang banyak, jangan maksain diri Nun. Kasian badan kamu."
Hanun kembali tersenyum rasa bahagia tiba-tiba menyeruak begitu saja. Hanun mulai merasa bahwa Farrel juga menyukainya, jadi tidak apa jika harus bersaing dengan Inda tanpa bermusuhan. Hanun akan menunggu siapa yang akhirnya dipilih oleh Farrel.
Sementara Hanun tengah berbahagia Farrel mengerutkan keningnya dia menjadi cemas.
Waduh kok dia cengar-cengir dari tadi, apa ada kabelnya yang putus ya?
Sementara Hanun dan Farrel sibuk dengan pikirannya masing-masing tiba-tiba seorang pria berpakaian rapi serba putih masuk ke ruangan itu. Dia adalah dokter yang menangani Hanun.
"Oh sudah sadar ya?"
Farrel dan Hanun menoleh bersamaan ke arah dokter itu.
Dokter itu masuk dan mendekati Hanun, dia mulai mengecek denyut nadi Hanun.
.
.
__ADS_1
.
.