
Farrel melihat guratan kesedihan yang mendalam pada wajah Pak Subagyo. Apakah pilihannya untuk mengatakan hal yang dia ketahui adalah pilihan yang tepat?
Bagaimana jika ini hanya akan membuat harapan palsu bagi Pak Subagyo?
Farrel sangat bingung.
"Kenapa tiba-tiba kamu bertanya tentang saudara Fahira, Rel?"
Farrel dibuat gelagapan dia menjadi gugup dibuatnya kebimbangannya kemudian menuntunnya untuk menatap Pak Subagyo yakin.
"Saya pernah melihat orang yang begitu mirip dengan Fahira, bukan melihat! Saya bahkan mengenalnya."
Pak Subagyo menatap Farrel penuh tanya.
"Maaf bila saya lancang, tapi ketika saya melihat Fahira. Saya benar-benar seperti melihat dia."
"Dimana Nak? Dimana kamu bertemu dengan Jahira?" Pak Subagyo kini memegang tangan Farrel penuh harap.
"Jahira?" tanya Farrel.
Pak Subagyo mengangguk matanya memancarkan harapan yang puluhan tahun ini terpaksa dia pendam.
Farrel kembali merasa gamang. "Tapi namanya Hanun."
Pak Subagyo semakin mengangkat kepalanya dia menuntut kejelasan yang lebih banyak lagi.
"Apa maksud kamu Raihanun?"
Farrel menatap Pak Subagyo, "iya ... Yang saya tahu namanya memang Raihanun."
Pak Subagyo mencengkeram lengan Farrel, perasaannya saat ini antara bahagia dan juga penasaran.
"Raihanun Jahira, istri Papa yang memberi nama unik itu. Sedangkan Papa menamai yang satunya dengan nama Rihanna Fahira. Saat itu Papa harus memutar otak untuk mencari nama yang mirip dengan pemberian ibu mereka."
"Dimana Nak? Beritahu Papa! Dimana Jahira berada?" Pak Subagyo mulai mendesak hasratnya mulai tidak terkendali. Dia ingin segera memastikannya sendiri bahwa itu benar-benar anaknya.
"Dia ada di Jogja."
"Sejauh itu ... Jahira pergi sejauh itu?" Pak Subagyo kembali hanyut dalam kesedihan dia tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan putri kecilnya itu seorang diri.
"Antar Papa Nak! Antar Papa menemui Jahira!" Pak Subagyo bangkit dan mendesak Farrel untuk menemaninya. Farrel pun mengiyakan mungkin ini cara terbaik untuk memastikan kebenarannya.
__ADS_1
Farrel tidak memperdulikan kondisi badannya yang sangat lelah. Farrel hanya ingin mengetahui kebenarannya. Jika memang benar, berarti Tuhan memang sudah mentakdirkannya. Qada dan qadar yang tidak bisa dihindari setiap manusia yang ada di bumi.
*
Malam itu juga Pak Subagyo dan Farrel ditemani asisten pribadi Pak Subagyo pergi ke Jogja. Mereka memilih untuk menggunakan jalur udara agar lebih cepat sampai ke Jogja.
Di dalam pesawat, Pak Subagyo berharap-harap cemas tentang apa yang akan dihadapinya. Dia merasa sangat bahagia jika benar itu anaknya.
Sementara Farrel yang duduk di sebelahnya sejak tadi merasa kedinginan, seluruh badannya terasa remuk. Sepertinya tubuh Farrel mulai melemah karena diforsir sejak beberapa minggu kebelakang.
Selama di Jogja dia disibukkan dengan pekerjaan dan sekarang dia harus bolak-balik keluar daerah dua hari berturut-turut.
*
Sekitar satu jam dua belas menit berlalu, pesawat mendarat di Bandara Internasional Adisudjipto. Farrel, Pak Subagyo dan asistennya yang bernama Yunus bergegas mencari taxi.
Mereka menaiki moda transportasi beroda empat itu menuju ke rumah Hanun.
"Kamu yakin Jahira ada di rumah, Nak?" tanya Pak Subagyo.
"Sepertinya ada, Pa. Dia bekerja di toko buku hanya sampai pukul lima sore." Farrel menjawab dengan fakta yang dia tahu.
"Nah itu dia Hanun," tunjuk Farrel. Ketika taxi berhenti tidak jauh dari rumah kontrakan Hanun, Farrel melihat Hanun sedang menjemur pakaian disinari lampu temaram.
Pak Subagyo memicingkan pandangannya, Pak Subagyo tidak sabar untuk melihat anaknya. Hati Pak Subagyo seperti teriris sembilu ketika melihat anaknya menjemur pakaian sendiri dalam kegelapan malam.
Benar itu anaknya, Pak Subagyo sangat yakin. Anaknya merupakan kembar identik yang memiliki kemiripan hampir seratus persen. Mereka hampir tidak bisa dibedakan, tetapi Pak Subagyo memiliki cara tersendiri untuk membedakannya. Apalagi kini, Fahira dan Hanun sudah terpisah sangat lama sehingga perbedaan diantara mereka bisa terlihat.
Meski wajah mereka sama tetapi kini kulit Hanun lebih gelap dibandingkan Fahira yang rajin melakukan perawatan.
Pak Subagyo sangat memanjakan Fahira sampai-sampai Fahira tidak tahu caranya mengikat tali sepatu. Namun berbeda dengan Jahira yang hidup sendiri tanpa jaminan dari ayahnya. Pak Subagyo seketika menangis pilu betapa hatinya hancur melihat pemandangan ini.
"Ini salahku, Jahira harus hidup seperti ini karena aku ayah yang tidak berguna."
Farrel tidak tega melihat kesedihan yang mendalam di wajah mertuanya. Farrel memutuskan untuk tidak menceritakan kehidupan Hanun yang dulu pernah tinggal disebuah gubuk reyot.
*
Farrel turun dari taxi terlebih dahulu diikuti Pak Subagyo dan asistennya.
Hanun yang masih sibuk menjemur pakaian tidak menyadari kedatangan Farrel.
__ADS_1
"Assalamualaikum."
Hanun menghentikan gerakannya dan menoleh ke belakang. Wajahnya mendadak sumringah melihat Farrel datang, dengan secepat kilat dia membalikkan badan. Senyumnya sedikit memudar ketika melihat dua orang yang tidak dikenal datang bersama Farrel.
Hanun tidak berhasil menerka-nerka siapa mereka itu, apalagi ketika matanya beradu pandang dengan Pak Subagyo yang sejak tadi melihatnya dengan kerinduan.
"Boleh kita masuk?" tanya Farrel.
Eh? Hanun tersadar dari keterpakuannya dan dengan gugup mempersilahkan ketiga tamunya untuk masuk.
Apa mereka mau nagih hutang? Tapi aku gak punya hutang.
Batin Hanun masih saja menerka meski mereka kini sudah duduk di dalam rumah. Karpet plastik menjadi alas mereka duduk. Pak Subagyo melihat sekeliling ruangan, dia sungguh merasa gagal menjadi seorang ayah. Benar-benar gagal!
Ingin sekali rasanya Pak Subagyo memeluk Hanun untuk menumpahkan segala kerinduan yang sudah menggunung. Namun Pak Subagyo masih menahannya karena tidak ingin Hanun terkejut.
Hanunnya masih seperti dulu, kebiasaannya menepuk-nepuk punggung tangan pelan dia lakukan tanpa sadar. Pak Subagyo ingat betul kebiasaan itu.
"Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan ...." Farrel menoleh ke arah Pak Subagyo yang sedari tadi menatap Hanun tanpa berkedip seakan-akan sedang mengobati kerinduannya yang puluhan tahun ini terpendam.
"Beyliau ini Pak Subagyo, kemungkinan besar beliau adalah ayah kamu Nun."
Hanun tersentak, pasti ini mimpi! Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba saja ada orang yang mengaku sebagai ayahnya. Ini lucu sekali.
Hanun tertawa walau tidak ingin tertawa. "Leluconnya lucu, Rel."
"Ini bukan lelucon, Nak. Papa memang benar ayahmu." Kali ini Pak Subagyo sudah tidak bisa menahan diri lagi dia ingin segera mengatakannya pada Hanun.
Hanun menatap Pak Subagyo yang terlihat berkaca-kaca.
"Apa sih? Farrel jelasin sama aku ada apa ini?" Hati Hanun mulai merasa tidak enak apalagi ketika Pak Subagyo seperti bersungguh-sungguh mengatakannya.
"Sebenarnya ini terjadi begitu saja, aku menemukan fakta bahwa kamu anak Pak Subagyo."
"Atas dasar apa kamu begitu yakin?" tanya Hanun.
"Karena sebenarnya kamu memiliki saudara kembar. Hal itu tidak terbantahkan karena kamu memang serupa dengan anak yang ada bersama Pak Subagyo." Farrel berkata dengan tegas, entah harus bagaimana menjelaskan situasi ini kepada Hanun.
.
.
__ADS_1