
Hanun merenggangkan badan ketika pekerjaannya baru saja selesai, dia menggeliat sambil sesekali menguap. Ya, jam menunjukkan angka sepuluh malam dan Hanun sangat lelah.
Mungkin bagi orang yang telah lihai memainkan jemarinya di atas keyboard pekerjaan itu tidak akan memakan waktu yang lama. Namun bagi Hanun yang masih meraba-raba dimana letak-letak huruf di atas keyboard pekerjaan itu sangat sulit. Beruntung Hanun cepat tanggap dalam menangkap ilmu yang didapatnya secara singkat meskipun masih butuh penyesuaian.
Hanun menatap sekeliling, gelap dan remang. Mendadak Hanun merinding ternyata keadaan kantor dimalam hari sangat menyeramkan. Bergegas dia merapikan barang-barangnya dan mulai berjalan meninggalkan ruangan tempatnya bekerja.
Suara sepatu yang beradu dengan lantai nyaring terdengar ditengah kesunyian. Hanun mempercepat langkahnya untuk segera sampai di lobi, setidaknya di sana akan ada security yang berjaga.
Benar saja, sesampainya di lobi Hanun melihat sopir pribadi Pak Subagyo sedang bercengkerama dengan security yang bertugas malam itu.
"Eh Nona, sudah selesai?"
Hanun mengangguk seraya berkata, "sejak kapan Bapak berada di sini?"
"Dari jam delapan Non, Pak Subagyo khawatir membiarkan Nona sendirian di sini."
Hanun membuang nafas kasar, dia berfikir seharusnya Pak Subagyo tidak berlebihan seperti itu. Pak Subagyo mungkin lupa kalau Hanun sudah ditempa dengan kesulitan dari kecil.
Kalau masalah pulang malam tentu itu bukan hal yang aneh bagi Hanun.
"Ya sudah yuk, Pak!" Hanun mendahului supir itu untuk keluar dari kantor setelah sebelumnya memberikan senyuman ramah pada security di samping supirnya.
Setelah berada di dalam mobil, sang supir mulai menyalakan mesin mobilnya. Namun mobil itu melaju tersendat-sendat membuat Hanun keheranan.
"Kenapa ini, Pak?"
"Saya juga tidak tahu, Non. Sebentar saya cek dulu keluar."
Sang supir turun guna mengecek ada apa dengan mobil itu. Hanun tidak bisa berdiam diri begitu saja, dia pun ikut turun.
"Gimana Pak?" tanya Hanun.
"Aneh! Kenapa ban mobil bisa kempes tiga begini ya?" Sang supir merasa keheranan, seingatnya tadi ban mobil itu baik-baik saja.
"Terus bagaimana, Pak?"
"Di mobil hanya ada satu ban, bengkel jam segini pasti udah pada tutup. Bagaimana ya ini?" Supir itu merasa kebingungan.
Hanun segera membuka ponselnya dan mencoba memesan taxi online dari aplikasi berwarna hijau yang baru beberapa hari diunduhnya.
Ah, Hanun tidak mengerti sama sekali menggunakannya.
__ADS_1
"Ehm, Bapak tahu cara pesan taxi online?" tanya Hanun.
"Waduh, saya tidak bisa Non. Coba saya hubungi Pak Subagyo saja ya."
"Eh jangan! Kasihan Papa, ini sudah malam beliau pasti sudah tidur." Hanun segera mencegah supir itu untuk menghubungi ayahnya.
Hanun bisa saja meminta bantuan kepada Dita, tetapi di malam yang sudah mulai larut ini Hanun tahu semua orang sedang beristirahat termasuk Dita.
Hanun membuang nafasnya kasar, di sisi lain Hanun juga kasihan kepada supirnya yang kebingungan.
"Begini saja, Pak. Saya coba cari kendaraan umum di pinggir jalan, kalau Bapak mau ikut ayok!" Akhirnya Hanun mengambil solusi terakhir.
"Iya, itu lebih baik. Sebentar Non saya temui security dulu, siapa tahu bisa membantu." Setelah mendapat persetujuan dari Hanun, supir itu bergegas meninggalkan parkiran dan mencari security yang tadi mengobrol dengannya.
Sementara Hanun, dia berjalan ke pinggir jalan raya guna melihat apakah masih ada kendaraan umum yang melintas. Tiba-tiba saja mobil berwarna putih berhenti tepat di samping Hanun.
Kaca mobil perlahan terbuka menampilkan sesosok pria dengan tindik di telinganya.
"Kamu ngapain malam-malam di sini, Fahira?"
Hanun mengernyit dan mengira bahwa orang itu adalah temannya Fahira.
"Oh maaf, saya bukan Fahira." Hanun tersenyum ramah. Pria di dalam mobil itu tersenyum miring, merasa jebakannya tepat sasaran. Kemudian pria itu turun dari mobilnya.
"Kamu jangan bercanda, Ra. Jelas-jelas ini kamu." Pria itu berjalan mendekati Hanun yang tadi sempat menjauh mencari kendaraan umum yang mungkin lewat.
"Saya saudaranya."
Pria itu berhenti dan memperhatikan Hanun dari atas sampai bawah. Pria itu tersenyum penuh arti.
Hanun merasa tidak suka jika ada orang yang memperhatikannya seperti yang pria itu lakukan.
Melihat Hanun yang nampak tidak nyaman, pria itu akhirnya menyodorkan tangannya mengajak Hanun bersalaman.
"Aku tidak tahu Fahira itu punya saudara yang mirip sekali dengannya. Kenalkan aku Ammar, temannya Fahira."
Sebelum Hanun membalas jabatan tangan Ammar, tiba-tiba saja supir Pak Subagyo berlari ke arahnya.
"Non ... Mari kita pulang! Masalah ban sudah beres."
Supir itu seakan tahu bahaya yang tengah mengintai anak majikannya itu. Setelah Hanun melewati Ammar, dia pun mengikuti dari belakang sambil melayangkan tatapan tajam ke arah Ammar.
__ADS_1
Sesampainya di dalam mobil, sesegera mungkin supir itu melajukan mobilnya.
"Alhamdulillah bannya sudah gak kempes ya, Pak."
"Iya Non, untung saja security membantu saya memompa ban ini."
Hanun hanya mengangguk, sang supir memperhatikan dari kaca spion kemudian berkata, "Non, saya harap Anda lebih berhati-hati. Jangan membiarkan orang tadi mendekati Nona!"
"Maksud Bapak?" tanya Hanun tidak mengerti.
"Eh, saya tidak mau lancang. Tetapi Nona harus lebih berhati-hati ke depannya. Kasihan Pak Subagyo."
Walau tidak mengerti dengan maksud dari ucapan sang supir, Hanun mengiyakannya karena dia tahu berhati-hati itu perlu.
*
Sesampainya di rumah, keadaan sudah sepi. Hanun yakin semua penghuni termasuk pelayan sudah tertidur.
Hanun berjalan pelan agar tidak membuat kegaduhan yang dapat membuat orang terbangun. Dia membuka pintu kamarnya dan menyalakan lampu.
Ah kasur itu terlihat melambai-lambai meminta Hanun segera datang menaikinya. Hanun pun bergegas melepas seluruh benda yang melekat pada dirinya tanpa membersihkan badan terlebih dahulu. Sungguh dia lelah, setelah berganti pakaian dia langsung merebahkan diri di atas kasur yang empuk itu.
Walaupun saat ini dia sangat lapar, Hanun memilih untuk memejamkan matanya. Karena tidak sanggup lagi berjalan menuruni anak tangga.
*
Sebuah nada dering terdengar mengalun mengiringi Hanun yang masih tertidur. Tirai kamar sudah dibuka oleh seorang pelayan yang datang ke kamar sekedar mengambil pakaian kotor milik Hanun.
Hanun perlahan membuka mata dan menyipitkannya karena cahaya yang terpendar di balik kaca jendela.
Hanun seketika melotot mengetahui hari sudah siang.
Ah sial terlambat.
Hanun terburu-buru menuju kamar mandi dan membasuh wajah bantalnya. Dia tidak berniat untuk mandi pagi ini karena dia tahu akan terlambat masuk kantor.
Setelah memakai pakaian ala kantoran, dia bergegas keluar dan menuruni anak tangga. Langkahnya sedikit memelan kala melihat ayahnya masih menggunakan kaos dan hanya memakai sarung.
Pak Subagyo asik menyesap kopinya sambil membaca koran. Kemudian matanya beradu dengan Hanun yang berdiri kikuk.
Hanun baru sadar jika hari ini adalah akhir pekan. Kantor libur.
__ADS_1
.
.