SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~

SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~
MEMBAWA PERGI


__ADS_3

Inda beberapa kali menyeka air matanya yang jatuh tak tertahan. Inda sudah menganggap Hanun sebagai saudaranya sendiri, kali ini dia benar-benar akan sendirian di kota yang luas ini. Dia masih harus menyelesaikan pendidikannya di kota Jogja.


"Jangan lupain aku ya, Nun!"


Hanun yang sedang memasukkan pakaian lamanya ke dalam kardus seketika terdiam, dia menatap Inda kemudian memeluknya.


"Mana mungkin bisa aku lupain kamu dan semua kebaikanmu. In ... Nanti kirimi aku surat ya."


Inda melepas pelukan Hanun dan berkata, "ribet Nun, kamu beli handphone aja."


Hanun selalu berhasil membuatnya tersenyum walaupun sedang bersedih.


Hanun berpikir sejenak kemudian mengangguk dia baru ingat kalau sekarang zamannya sudah canggih. Hanya dia yang tidak canggih alias tertinggal.


"Kok baju kamu dikardusin?" tanya Inda.


Hanun menghela nafas kemudian berkata, "kata Papa di rumahnya banyak baju Fahira jadi aku gak usah bawa baju. Ah sebenernya sayang banget In, apalagi ini ... nih liat!"


Hanun memperlihatkan sebuah baju pantai yang dibelinya waktu ke pantai Drini. "Ini baju aku beli waktu kita ke pantai, meskipun harganya dua puluh ribu sayang aja kalau dibuang." Hanun memeluk kaos bertuliskan pantai Drini itu.


"Hm ... Kalau aku minta, boleh?" tanya Inda.


Hanun mengangguk antusias kemudian memberikan baju itu kepada Inda, setidaknya kalau Inda yang memilikinya baju itu tidak akan teronggok jadi sampah.


"In ... Apa kamu gak mau pindah ke sini? Di sini lebih aman gak ada berandalan-berandalan seperti di tempatmu. Aku khawatir sama kamu." Hanun menatap Inda dan bersungguh-sungguh dengan ucapannya.


Inda menggeleng, "enggak Nun. Lagian mereka udah beberapa minggu ini gak kelihatan nongkrong. Seperti menghilang begitu saja."


Hanun tidak bisa memaksa dia hanya bisa berdoa semoga Inda baik-baik saja.


Tibalah waktunya mereka berpisah, Satu pelukan terakhir yang diberikan Inda untuk Hanun. Walau berat, Inda melepas Hanun pergi. Dia berharap Hanun bahagia bersama keluarganya.


*


Sekitar jam satu siang, Pak Subagyo bersama anak-anaknya dan juga Farrel terbang dari Bandara Adisutjipto menuju kota kelahiran Hanun dan Fahira.


Pak Subagyo duduk di samping Farrel sementara Hanun dengan Fahira.

__ADS_1


Hanun merasa canggung karena sedari tadi Fahira hanya diam tidak seperti biasanya. Seharusnya disini yang diam itu Hanun tapi kenapa Fahira tidak membuka mulutnya sama sekali. Hanun bingung terlebih ini pertama kalinya dia naik pesawat, dia ragu dan canggung bertanya-tanya kepada Fahira. Akhirnya Hanun memilih tidur dan menyiapkan diri untuk menyambut hidupnya yang baru.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya kini Hanun berdiri di depan sebuah rumah yang menurutnya tak kalah megah dengan rumah Dokter Arseno.


Hanun melangkah ragu-ragu di belakang Fahira yang masih belum membuka mulutnya. Setelah sampai di ruang tamu Hanun dibuat takjub dengan apa yang dilihatnya.


"Ayo Nun." Fahira menggandeng Hanun menuju kamarnya. Pelayan yang melihatnya merasa heran serta aneh kenapa tiba-tiba Fahira ada dua.


Tidak sedikit dari mereka yang langsung bergosip di dapur, tetapi tidak dengan Ratmi. Ratmi adalah pelayan senior, dia sudah mengabdi dan bekerja dengan Pak Subagyo sejak Pak Subgyo menikah dan memiliki anak. Jadi dia sudah tahu tentang Fahira yang memiliki kembaran.


Ratmi berjalan terburu-buru menuju kamar Fahira, dia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Jahira telah kembali.


Ketika sampai diambang pintu yang terbuka, Ratmi membekap mulutnya menahan keterkejutannya.


"Non ...."


Fahira dan Hanun yang berada dalam seketika menoleh ke arah Ratmi yang mematung di dekat pintu.


"Bi Ratmi sini masuk!" Fahira menggandeng Ratmi untuk mendekati Hanun.


"Kenalkan ini Jahira, dia saudaraku."


*


Sementara itu Farrel masih bersama Pak Subagyo di ruang tamu. Mereka melepas lelah dengan dua cangkir teh lemon hangat yang dibuatkan pelayan.


"Pa, ada yang ingin aku sampaikan," kata Farrel tiba-tiba.


Pak Subagyo yang baru saja menyesap tehnya mengangangguk seraya berkata, "apa Nak?"


Farrel menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan, dia seolah sedang mengumpulakan kekuatan untuk berkata.


"Aku akan membawa Fahira dan bayinya tinggal di rumahku, beberapa bulan yang lalu rumah itu baru direnovasi. Sayang sekali jika tidak ditempati."


Pak Subagyo berfikir sejenak, sejujurnya dia belum siap jika harus berpisah dengan Fahira. Anaknya itu terlalu spesial untuk dia biarkan hidup mandiri. Dia takut Fahira menderita.


"Tapi Fahira terbiasa dengan kemewahan ini, Papa khawatir dia akan menyusahkanmu."

__ADS_1


Farrel tersenyum. "Papa tidak perlu khawatir lagipula jarak dari sini ke rumahku tidak terlalu jauh. Fahira bisa kapan saja datang kemari. Satu lagi, aku akan memastikan seluruh kebutuhan Fahira dan bayinya akan tercukupi."


Farrel mengerti akan ketakutan mertuanya, dia tahu Pak Subagyo takut Fahira kelaparan jika harus keluar dari rumsh mewah ini.


Pak Subagyo kemudian mengiyakan dengan ragu.


"Tapi Papa yakin Fahira pasti menolak, untuk itu mari kita susun skenario seolah-olah Papa yang mengusirnya."


Farrel tercengang dengan apa yang baru saja dikatakan mertuanya dia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti saran Pak Subagyo walaupun mungkin hal itu akan membuat Fahira terluka.


*


Tibalah saatnya makan bersama, sore itu anggota keluarga bertambah meja makan yang biasanya sepi kini ramai dengan obrolah serta denting alat makan yang beradu.


Hanun yang masih canggung tidak bisa makan dengan benar, apalagi dia melihat Farrel di dekatnya. Oh sanggupkah dia berada sedekat ini dengan orang yang membuat hatinya patah.


Apalagi setiap Hanun tidak sengaja menatapnya, Farrel selalu saja peka dan balik menatap sambil memberikan seulas senyum. Hal itu tentu saja masih memberikan debaran yang tidak menentu di hati Hanun.


Ah bisa-bisanya Farrel berwajah tanpa dosa begitu.


"Fahira, kamar kamu akan ditempati oleh Jahira. Jadi sebaiknya kamu pergi dari rumah ini."


Fahira terbatuk-batuk mendengar ayahnya berkata seperti itu. Apa dia tidak salah dengar?


"Papa mengusirku?"


Pak Subagyo terdiam, Hanun menjatuhkan sendok yang dipegangnya ke atas piring.


Apa ini?


Kenapa ayahnya malah mengusir Fahira, Hanun jadi tidak enak hati. Apa ini semua gara-gara kehadirannya.


"Kalau tidak tinggal di sini ... Aku mau tinggal dimana Pa?" Fahira tidak menyangka ini semua akan terjadi. Dia tidak tahu hatus bagaimana sekarang selain mengemis belas kasihan.


"Kamu lupa sudah punya suami? Tanya sama suamimu kalian akan pindah kemana?" Bisa-bisanya Pak Subagyo berkata dengan santainya sementara Fahira sedang dilanda kekalutan.


Fahira kemudian menatap Farrel, dia tidak yakin Farrel akan membawanya ke tempat yang layak.

__ADS_1


.


__ADS_2