SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~

SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~
SANDAL


__ADS_3

Siang itu adalah pengalaman yang tidak akan mudah dilupakan oleh Farrel, dia mengakui bahwa Sang Pencipta selalu melindungi dirinya dari marabahaya. Farrel dan pria paruh baya itu akhirnya akan berpisah.


"Sekali lagi saya minta maaf Nak, kalau saja tadi kamu tertabrak bertambahlah bebanku."


Farrel menggelengkan kepalanya, Farrel merasa pria yang sedang bersamanya ini mengalami tekanan yang berat. Apa itu?


Ah entahlah, Farrel hanya berharap semoga permasalahan yang dihadapi pria itu segera selesai.


"Bapak beneran tidak mau saya antar?" tanya Farrel sekali lagi setelah pria itu menaiki mobilnya kembali.


"Terimakasih banyak Nak, tapi saya masih kuat. Inshaalloh saya tidak melamun lagi."


Farrel hanya tertawa kecil mendengarnya dan membiarkan pria itu pergi lebih dulu. Untung saja benturan yang ditimbulkan akibat menabrak pembatas jalan tidak mempengaruhi kondisi mobil pria yang perlahan hilang dari pandangan Farrel.


Farrel menyeka tetesan air hujan yang sedikit membasahi dahinya. Dia bergegas mengandarai motornya yang sejak tadi setia menunggunya di pinggir jalan.


*


Saat waktunya makan malam, untuk pertama kalinya keluarga Farrel sangat hangat tidak seperti biasanya yang hanya terdengar dentingan sendok beradu dengan piring. Kini, hanya karena bertambah satu orang mengisi kursi yang kosong suasana jadi berbeda.


"Om, kapan berangkat ke Jogja lagi? Aku mau ikut," celetuk Rishad putra dari Ahmad.


"Mau ngapain kamu di sana?" tanya Ahmad.


"Mau tahu apasih kerjaan Omku."


Farrel menatap anak laki-laki kelas tiga sekolah dasar itu dengan senyuman, "Om masih betah di sini nemenin Nenek, terus Om juga kangen sama kamu. Gimana sih malah ngusir Om?"


Rishad mengibas-ngibaskan kedua tangannya mendengar jawaban Farrel. "Bukan ngusir Om, aku cuma nanya terus pengen ikut. Liburan juga he."


"Itu mah modus namanya," celetuk Ahmad.


Semua orang tertawa geli.


Sementara anak laki-laki itu memberengut tidak suka dengan perkataan ayahnya.


"Jadi kamu bakal lama di sini Rel?" Kini Uwa yang bertanya.


"Belum tahu Wa, kalau sekarang aku nunggu Uwa pulih seratus persen dulu baru aku berangkat." Farrel tersenyum tulus.


"Malam ini aku mau tidur di rumahku Wa."


Suasana seketika hening, semua orang menatap Farrel.


"Kenapa tidak besok saja Nak?" tanya Uwa.


"Iya Om, katanya kangen sama aku. Ko malah nginep di sana," kata Rishad.


Farrel meminum air putih di gelasnya kemudian berkata, " Om kangen aja rumah Om. Boleh 'kan Wa?"

__ADS_1


Uwa menghela napas sebenarnya Uwa ingin Farrel tetap di rumahnya namun apa daya itu keinginan keponakannya. Akhirnya Uwa pun mengiyakan.


*


Di sinilah Farrel sekarang, di rumah yang sunyi. Farrel melihat barang-barang yang sudah berdebu, pintu yang sebagian dimakan rayap.


Sepertinya benar, rumah ini harus segera ada penghuninya.


Batin Farrel menggeliat gelisah melihat keadaan rumah yang tidak terurus. Detik itu juga Farrel menelpon Ahmad guna meminta bantuan untuk mencarikan tukang bangunan. Farrel ingin merenovasi rumahnya, setidaknya rumah itu akan layak huni jika kelak ada penghuni yang baru.


Wajah Farrel seketika berubah tatkala melihat sebuah kotak besar berisikan barang-barang milik mendiang Sofia. Apa yang harus Farrel lakukan dengan semua barang itu?


Farrel membuka kotak itu alat-alat kaligrafi di sana, alat tulis, dan semacamnya. Satu barang yang menggelitik tangannya minta disentuh adalah secarik kertas dengan tulisan indah terselip diantara banyaknya buku. Kenapa Farrel baru menemukannya?


Selama ini Farrel hanya sibuk meratapi kepergian Sofia jadi sesuatu yang kecil seperti itu tidak nampak olehnya. Berbeda kali ini dia mengambil kertas itu dan membacanya.


Aku ingin bermanfaat untuk orang lain.


Farrel sedikit berfikir kemudian dia menyunggingkan senyum indahnya.


"Jadi, kamu ingin aku menyumbangkan barang-barangmu ya sayang." Farrel menggelengkan kepalanya menyadari betapa terlambatnya dia menyadari keinginan mendiang istrinya.


Lalu dengan bersemangat Farrel merapikan barang-barang itu. Memang tidak mudah mengelus hati yang tergores sembilu tiap memegang barang itu. Namun Farrel harus melakukannya dengan begini Sofia akan senang memiliki suami sepertinya begitulah fikirnya.


*


Setelah dua minggu ini mengurus renovasi rumah dan sesekali memantau bengkelnya yang ada di Jogja kini saatnya Farrel refreshing.


Seorang mubaligh terkenal menjadi penceramah kala itu. Farrel beserta para jemaah lain khusyuk mendengarkan bahkan sesekali ada yang bertanya.


Tidak terasa dua jam berlalu acara pun selesai. Farrel beserta jemaah lain mulai keluar dari ruangan. Ketika sampai di tempat penyimpanan sandal, Farrel bingung ada dua sandal yang sama dihadapannya.


"Sandalku yang mana ini?" gumam Farrel.


Sementara para jemaah lain sudah mulai berkurang karena sebagian telah pulang, Farrel masih kebingungan menunggu sang pemilik sandal yang sama dengannya.


Siti dan Ahmad menghampirinya, "Ayok pulang!"


"Mad, sandalku yang mana Mad?" tanya Farrel.


Ahmad mengernyit kemudian menunduk untuk melihat sandal yang ditunjuk Farrel.


"Merknya, bentuknya, nomornya sama semua aku bingung."


"Pake yang mana aja orang sama ini." Ahmad berkata dengan gampangnya.


Farrel mendelik tajam, "ish kamu ini ... aku gak mau ya gara-gara sandal nanti disiksa di dalam kubur."


Ahmad dengan tidak sabaran langsung menyambar, "terus mau kamu apa? Umumin pake TOA mesjid gitu?"

__ADS_1


"Ide bagus, Mad."


Ahmad melotot tidak percaya, niat hati hanya bercanda malah dianggap serius oleh Farrel.


"Jangan gila kamu!"


"Kalian pulang duluan saja kalau gak sabaran aku masih tetap di sini," ujar Farrel akhirnya.


Ahmad lalu mengajak Siti pergi membiarkan sepupunya itu termangu sendiri dihadapan dua pasang sandal.


Beberapa menit kemudian, seorang pria paruh baya keluar dari dalam ruangan dia mendekati Farrel. Ternyata sandal yang sedang dipandangi Farrel salah satunya adalah milik pria itu.


"Permisi."


Farrel menoleh dan pandangan mereka bertemu. Keduanya saling menerka dan berjabat tangan.


"Bapak yang waktu itu?" tanya Farrel.


"Anak muda yang waktu itu?" Pria itu balas bertanya.


Mereka akhirnya saling tertawa.


"Senang bisa bertemu dengan kamu lagi Nak. Supaya lebih enak mari kita berkenalan saya Subagyo."


"Saya Farrel, Pak"


"Nak Farrel habis ikut kajian juga?"


Pertanyaan itu Farrel balas dengan anggukan.


"Kenapa belum pulang?" tanya Pak Subagyo lagi.


Farrel menggaruk tengkuknya, "sebenarnya saya sedang menunggu pemilik sandal ini."


Pak Subagyo menatap sandal miliknya dan juga milik Farrel itu. "Oh ini punya saya Nak. Tapi kok dua ya? Punya saya yang mana ya?"


"Karena itulah saya masih di sini, saya tidak mau salah pakai sandal."


Pak Subagyo menatap Farrel dengan takjub, sungguh ajaib sekali pemikiran anak itu fikirnya.


"Begini saja Nak, mari kita saling mengikhlaskan. Kita pakai saja masing-masing sepasang. Yang salah itu kita pakai bukan pasangannya." Solusi itulah yang akhirnya dipakai Farrel dia memakai sandalnya begitu pun Pak Subagyo.


Farrel berpamitan pulang lebih dahulu sementara Pak Subagyo masih menatap punggung anak muda yang dirasanya sangat berbeda itu.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2