SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~

SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~
FARREL MARAH


__ADS_3

Kali ini Fahira melepas pelukan erat Kasih dan menghampiri Hanun yang masih kikuk di tempatnya.


"Oh iya, sumpah aku gak tahu kamu punya kembaran. Kamu gak pernah cerita sih?" protes Kasih.


Fahira tersenyum kemudian duduk di samping Hanun, dia takjub melihat Hanun yang kini jadi lebih cantik.


"Ceritanya panjang, nanti sehabis kamu ngajar Jahira, bagaimana kalau kita pergi makan di luar?"


"Boleh, kita nonton juga yuk!" Kasih mendadak bersemangat karena sudah lama sekali dia tidak bermain bersama Fahira.


"Kalian juga ikut ya!" Fahira mengajak Hanun dan Dita yang dari tadi diam mendengarkan dua orang sahabat itu mengobrol.


Meski ragu, Hanun mengiyakan karena merasa tidak enak jika harus menolak. Setelah itu, Fahira mendampingi Hanun yang kembali belajar dibawah bimbingan Kasih.


Sedari tadi Fahira tidak beralih memandangi Hanun, dia mengingat masa lalu dimana mereka sangat akrab. Namun kini sepertinya semua harus dimulai dari awal. Karena jarak pertemuan yang membentang lama membuat keduanya canggung. Fahira sesekali tersenyum karena Hanun tidak sulit untuk diajari.


*


Seperti rencana awal, siang ini Hanun ikut bersama Fahira dan Kasih untuk menghabiskan waktu bersama, tentu saja Dita juga ikut. Di dalam mobil Fahira dan Kasih duduk di depan sementara Hanun dan Dita saling diam di belakang.


Hanun hanya mendengar dan memperhatikan obrolan Fahira dan Kasih yang terlihat sangat dekat. Mereka bercanda bersama tertawa bahkan sesekali meringis ketika bercerita tentang hal-hal yang mengerikan.


Ah Hanun jadi teringat Inda. Sedang apa Inda di sana? Apa dia baik-baik saja?


Tiba-tiba rasa rindunya kepada Inda hadir begitu saja. Karena hanya Inda lah yang mau menjadi temannya.


Oh iya, aku 'kan udah pegang ponsel. Tapi gak tahu cara gunainnya, ah nanti aku minta bantuan Dita deh.


Hanun melirik Dita yang terlihat sedang memainkan ponselnya.


*


Setelah setengah jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di sebuah mall. Mereka memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu setelah itu mereka mendatangi bioskop yang ada di tempat itu.


Dita dan Hanun terlebih dulu masuk sementara Fahira bersama Kasih akan mencari makanan terlebih dahulu.


Saat sedang membeli makanan untuk di bawa ke dalam bioskop tiba-tiba saja Kasih menyenggol lengan Fahira dengan sengaja. Hal itu membuat Fahira menoleh ke arahnya, Kasih menggunakan dagunya untuk menunjuk sesuatu. Fahira mengerti dengan kode itu dia pun melihat sesuatu yang ditunjuk Kasih.

__ADS_1


Fahira membuang nafas berat, sungguh dia merasa kesal mengapa dia baru tahu segala hal tentang masa lalunya setelah semuanya berlalu.


Jika saja semuanya dia ketahui sejak awal pasti kehidupannya akan baik-baik saja.


Eh, jika tidak begitu mungkin sampai kapan pun dia tidak akan bertemu dengan Jahira. Fahira tersenyum menyadari hikmah yang terjadi dari musibah yang menimpanya.


Duh tiba-tiba Fahira teringat Farrel, apa dia sudah sampai Jogja sekarang. Fahira menggelengkan kepalanya membuang jauh sebersit ingatan tentang suaminya itu.


Ya, dia melihat Ammar bersama seorang wanita di sana bergandengan mesra. Namun wanita ini berbeda dengan wanita yang waktu itu bersama Ammar di toko kosmetik.


"Hei! Relakan dia, Ammar bukan laki-laki yang baik." Kasih menyadarkan Fahira yang terlihat melamun dia mengira Fahira sedih karena melihat Ammar dengan wanita lain.


Fahira hanya mengangguk membenarkan, setelah mendapat makanan mereka masuk ke dalam bioskop menyusul Hanun dan juga Dita.


*


Setelah seharian menghabiskan waktu bersama, sore itu Fahira pulang ke rumah Farrel. Dia mendapati bayinya ditempeli plester anti demam di dahinya. Sus Erni menggendong Adam dan tersenyum melihat Fahira pulang.


"Kenapa dia?" tanya Fahira tanpa melihat ke arah Adam.


"Demam dari pagi, Bu. Saya sudah menghubungi Ibu beberapa kali namun tidak diangkat. Saya terpaksa menelepon Pak Farrel karena tidak tahu harus berbuat apa? Takut salah."


Fahira lupa tidak membawa ponselnya karena tadi pagi dia kehabisan batrei dan mengisi daya ponselnya. Fahira mengambil ponsel yang masih dicarger itu dan membukanya.


Terlihat beberapa panggilan tak terjawab dari nomor Sus Erni dan juga nomor tidak dikenal. Dia yakin nomor itu milik Farrel.


Fahira berniat menyimpan kembali ponselnya, namun tiba-tiba ponselnya berdering panggilan masuk dari nomor yang belum dia simpan.


Fahira menghela nafas malas, terpaksa dia menerima panggilan itu.


"Assalamualaikum, dari mana saja kamu?"


Fahira menjauhkan sedikit ponselnya dan menatap layar dengan kesal.


"Habis jalan-jalan."


"Bisa-bisanya jalan-jalan sementara Adam sakit."

__ADS_1


"Hei, ini bukan urusan kamu ya. Adam itu anakku jangan berlagak seperti kamu ayahnya. Lagian ada Sus Erni juga yang jaga."


Fahira kembali menatap ponselnya dan membuat gerakan tinju ke arah ponselnya.


"Lain kali kalau mau berpergian atau mau melakukan apa pun kamu harus izin dulu sama aku!"


Fahira mengernyit, apa-apaan ini?


"Aturan dari mana itu Pak? Enggak mau! Ini hidupku, kamu jangan ikut campur!"


"Aku suamimu dan berhak atas dirimu. Jadi jangan membantah!"


Fahira mendengus kesal, baru beberapa minggu menikah Farrel sudah mulai mengatur hidupnya. Fahira tidak akan membuat hal itu terjadi.


"Sejak kapan kamu berhak atas hidupku? Kita hanya dua orang asing yang terpaksa hidup bersama. Kamu jangan berharap lebih dari sekedar status!"


"Kamu sungguh berbeda dengan Sofia, dia sangat penurut walaupun itu tidak adil baginya."


Fahira semakin marah apalagi Farrel secara terang-terangan membandingkannya dengan orang lain, hatinya terasa teremas dan sakit.


Tanpa berkata lagi dis menutup sambungan telepon sepihak.


Fahira melempar ponselnya ke atas meja begitu saja. Fahira sakit hati dengan perkataan Farrel barusan.


Semua ini gara-gara bayi itu, semua orang sekarang memojokkanku.


Fahira bergelut dengan batinnya dan menutup telinga ketika mendengar Adam menangis. Sungguh dia benci bayi itu.


*


Sementara Farrel yang duduk di sofa menghela nafasnya kasar, dia sadar ucapannya pasti menyakiti Fahira. Farrel tidak bisa mengendalikan dirinya apalagi setelah mendengar kabar Adam sakit sementara Fahira pergi dari pagi sampai sore.


Sus Erni menghubungi Farrel sesaat setelah Farrel baru saja tiba di rumahnya yang ada di Jogja. Farrel yang masih lelah terbawa emosi mengetahui Fahira tidak memperdulikan anaknya.


Untuk itu dia menelepon Fahira namun amarah yang membumbung itu semakin tidak terkendali karena pembelaan-pembelaan yang diberikan Fahira.


Farrel mengusap wajahnya dia beristighfar berkali-kali. Ah sungguh pernikahan ini akan sulit. Farrel memijit pangkal hidungnya memikirkan apa yang sebaiknya dia lakukan kedepannya setelah kejadian ini.

__ADS_1


.


.


__ADS_2