SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~

SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~
KUE BOLU


__ADS_3

Pak Subagyo memeluk ponselnya, dia lega karena Farrel tidak ingkar janji. Pak Subagyo hendak memejamkan mata tetapi diurungkan karena mendengar kegaduhan di luar lebih tepatnya di kamar Fahira.


"Bawa anak ini keluar!" Fahira berteriak diiringi suara tangisan bayi yang menggema. Fahira menutup telinganya dan menjerit histeris.


"Ada apa ini?" Pak Subagyo datang ke kamar Fahira yang pintunya memang sedang terbuka.


"I-ini Tu-an dede bayi sangat kehausan, dikasih susu gak mau. Tadinya saya ingin memberikannya pada Nona Fahira supaya diberi asi." Seorang babysitter gemetar ketakutan karena sikap Fahira, ditangannya ada bayi mungil yang terus saja menangis minta diperhatikan.


"Usir dia Papa! Usir dia ...!" Fahira tidak hentinya menangis sembari berteriak-teriak meminta agar bayinya dibawa pergi.


Pak Subagyo menatap putrinya dengan iba kemudian menatap cucunya tidak tega. Fahira kemungkinan mengalami babyblues, Pak Subagyo tidak bisa menyalahkannya. Akhirnya Pak Subagyo menyuruh pengasuh bayi untuk menenangkan cucunya dengan cara lain.


Setelah bayinya dibawa keluar kamar, barulah Fahira berangsur-angsur tenang. Dia menghapus jejak-jejak air mata yang masih tersisa di pipinya.


Pak Subagyo mendekati Fahira dan mengusap kepalanya kemudian berkata, "Papa ngerti perasaanmu,Nak. Bersabarlah semua ini akan cepat berlalu, dengarlah tangisan bayimu itu. Dia butuh kamu dia butuh ibunya."


Tangisan bayi Fahira masih terdengar samar ke kamar itu.


"Tapi aku gak butuh dia! Dia bawa sial." Fahira kembali terisak.


Pak Subagyo tidak bisa berbuat apa-apa dia hanya bisa pasrah dan menunggu keajaiban akan datang untuk membawa Fahira kembali ceria seperti dulu. Kini harapannya ada pada Farrel, Pak Subagyo yakin bahwa Farrel akan mengembalikan senyuman Fahira yang sirna karena kejadian yang menimpanya.


"Besok, keluarga calon suamimu akan datang kemari. Papa harap kamu bisa bekerja sama."


Fahira mendelik ke arah ayahnya, dia tidak habis fikir ayahnya akan menihkahkannya dengan orang yang sama sekali tidak dikenal.


"Aku merasa hina saat ini, aku seperti wanita murahan yang meminta belas kasihan. Aku yakin orang yang akan menikahiku hanya mengincar harta Papa saja. Miris Pa." Fahira tersenyum tetapi matanya mengeluarkan air mata. Saat ini dia benar-benar merasa tidak punya harga diri.


Dia berjanji dalam hati akan membuat orang yang menikahinya menyesal dengan keputusannya. Dia akan membuat orang itu pergi dari kehidupannya.

__ADS_1


*


Keesokkan paginya, rumah Pak Subagyo mendadak ramai dengan aktivitas. Pak Subagyo ingin menyambut keluarga Farrel dengan sempurna. Para pelayan sibuk berbenah, bahkan dari subuh aktivitas di dapur sudah padat. Pak Subagyo menunggu di teras rumahnya yang luas kedatangan keluarga Farrel.


Beberapa saat kemudian sebuah mobil berwarna putih nampak berhenti di depan rumahnya. Pak Subagyo yakin itu keluarga Farrel, dengan tergesa-gesa Pak Subagyo berjalan menuju pintu pagar gerbang hanya untuk menyambutnya padahal di sana sudah ada dua orang satpam yang membuka pagar.


Pak Subagyo tersenyum hangat ketika Ahmad tersenyum dan membuka kaca mobilnya dengan lebar.


Pak Subagyo segera menghampiri ketika Uwa dan Ahmad turun bersamaan.


"Selamat datang." Pak Subagyo menjabat tangan Uwa dan Ahmad dengan sumringah.


"Mari masuk!" Pak Subagyo mengajak Uwa dan Ahmad segera masuk ke dalam rumahnya.


Setibanya di dalam rumah, Uwa dan Ahmad dipersilahkan duduk. Tiga orang pelayan datang masing-masing dari mereka membawa nampan berisi minuman dan aneka kue. Uwa dibuat canggung sekaligus takjub karena ternyata calon besannya bukan orang sembarangan.


"Ini terlalu berlebihan, Pak," sungguh Uwa sungkan sekali. Dia ke rumah Pak Subagyo hanya membawa dua buah kue bolu beserta satu gamis yang akan diberikannya kepada Fahira.


"Ini sama sekali tidak berlebihan, saya sangat senang akhirnya Anda datang kemari. Sebentar saya panggilkan anak saya." Pak Subagyo memutuskan untuk memanggil Fahira sendiri. Karena kejadian semalam Pak Subagyo yakin akan sulit untuk membujuk anaknya itu.


Setelah kepergian Pak Subagyo, Uwa berbisik kepada Ahmad. "Mad, kue bolu kita gak ada harganya dibanding kue-kue ini. Ibu jadi malu Mad."


"Sudahlah Bu, yang penting niat kita baik. Diterima atau tidaknya itu urusan belakangan." Ahmad sedih melihat raut wajah ibunya yang mendadak berubah, padahal tadi pagi ibunya itu sangat bersemangat bahkan di jalan tadi sempat beberapa kali keluar masuk toko kue hanya untuk membawa buah tangan. Sekarang hatinya merasa teriris melihat sang ibu memandangi kue bolu di atas meja dan sesekali mengelap wadahnya agar terlihat bersih.


*


Pak Subagyo mengetuk kamar Fahira, samar terdengar suara Fahira yang mempersilahkan masuk. Pak Subagyo pun membuka pintu dan mendapati Fahira sedang berada di depan cermin dan menyisir rambut sebahu miliknya. Pak Subagyo tersenyum sambil berjalan menghampiri anaknya.


"Keluarga Farrel sudah datang, kita temui mereka Nak!"

__ADS_1


Fahira menatap ayahnya dari pantulan cermin. "Aku akan melakukan apa yang Papa mau, asal ... Papa ceritakan semuanya tentang aku kepada mereka. Beri tahu mereka tentang semua kejelekanku."


Fahira berharap dengan cara ini dapat membuat keluarga Farrel mundur dan menyerah.


Pak Subagyo tersenyum penuh haru dia mengusap kepala putrinya. Pak Subagyo merasakan betapa saat ini putrinya itu tengah berperang melawan dirinya sendiri. Pak Subagyo akan berusaha membuat Fahira bahagia. Itulah janji seorang ayah.


Pak Subagyo menuntun Fahira keluar kamar, dia sangat memimpikan untuk menggandeng anaknya dihari bahagianya. Tidak apa jika dia melakukannya sekarang itu sedikit membuat Pak Subagyo bahagia.


Saat hendak menuruni tangga, Fahira berhenti. Dia ingin ayahnya berjalan lebih dulu. Dia tidak ingin ayahnya tahu bahwa saat ini dirinya sedang merasa gugup.


Perlahan namun pasti Fahira berjalan di belakang ayahnya. Dia sedikit mengintip ke ruang tamu hanya untuk melihat berapa orang yang datang.


Uwa dan Ahmad berdiri menyambut Fahira, Uwa memeluk Fahira hangat. Itu membuat Fahira sedikit terkejut tetapi anehnya dia sangat menikmati pelukan itu. Pelukan itu mengingatkannya pada ibu yang sudah lama meninggalkan dunia ini.


Fahira tersenyum canggung ketika pelukan itu terlepas dia duduk di samping Pak Subagyo.


"Senang bisa bertemu dengan kamu, Nak. Sejak Farrel bilang ingin melamar kamu, Uwa ingin sekali bertemu denganmu dan mengucapkan terimakasih."


Eh?


Terimakasih?


Batin Fahira dibuat bertanya-tanya akan ucapan Uwa yang ambigu.


"Justru saya yang sangat sangat berterimakasih kepada Farrel karena sudah bersedia menikahi putri saya." Pak Subagyo menimpali ucapan Uwa, sementara Fahira akhirnya pasrah dan tidak ingin banyak bicara. Setelah ayahnya menceritakan semuanya dia yakin keluarga Farrel tidak akan menerimanya.


"Mungkin ini yang namanya jodoh, Pak. Oh iya, saya ini Uwanya Farrel lebih tepatnya kakak dari ibunya. Ini anak saya, sepupu Farrel. Orang tua Farrel sudah meninggal sejak Farrel masih kecil. Jadi saya 'lah yang merawat dan membesarkannya."


Pak Subagyo dan Fahira sedikit terkejut dengan kenyataan Farrel yang merupakan yatim piatu.

__ADS_1


.


.


__ADS_2