
Pagi ini Farrel sudah berada di bengkel, rencananya dia akan memantau pekerjaan di bengkel namun nyatanya saat ini badannya terasa sangat lemah. Farrel hanya bisa terduduk dimejanya yang biasa dia gunakan untuk mengecek pembukuan.
Matanya mulai berkunang-kunang, wajahnya pun mulai pucat. Farrel sadar ini saatnya dia harus memeriksakan dirinya ke klinik untuk itu Farrel segera berdiri dan berjalan terhuyung-huyung.
Para pekerja yang melihatnya jadi khawatir, akhirnya Suryo berinisiatif untuk mengantar Farrel ke klinik.
Sesampainya di klinik Farrel masih harus menunggu antrian, disaat itulah Pak Subagyo menelepon. Dia menanyakan keberadaan Farrel karena tadi pagi Farrel tidak berpamitan kepada Pak Subagyo maupun Fahira. Farrel tidak ingin membangunkan ayah dan anak itu karena tidak tega. Farrel merasa mereka pasti lelah setelah melewati beberapa kejadian yang serba mendadak.
Pak Subagyo mendesak Farrel untuk segera menyusulnya setelah tahu Farrel berada di klinik. Farrel pun memesankan taxi secara online agar Pak Subagyo dapat menyusulnya.
Padahal aku hanya lelah tapi Papa berlebihan sekali.
*
Beberapa saat berlalu akhirnya giliran Farrel masuk untuk diperiksa. Dokter Arseno mempersilahkan Farrel masuk dan berbaring.
Setelah serangkaian pemeriksaan Farrel yang masih berbaring tidak kuat hanya untuk sekedar duduk.
"Tensi darahnya rendah sekali sepertinya ini karena kelelahan dan pola makan yang tidak teratur. Kamu harus diinfus untuk memulihkan kondisi badanmu yang lemah."
"Apa maksudnya dirawat inap?"
"Jika setelah dua labu infus habis dan kondisi kamu belum membaik ya terpaksa harus rawat inap."
Ah Farrel pasrah kali ini dia sungguh lelah. Dokter Arseno segera mempersiapkan segala prosedur dan memanggil perawat untuk membawa Farrel ke ruangan perawatan.
Suryo yang setia menanti diluar ruangan sangat terkejut karena bosnya harus diinfus padahal tadi terlihat baik-baik saja. Sungguh Farrel pandai menyembunyikan kondisinya.
Farrel sudah menyuruh Suryo supaya kembali ke bengkel namun Suryo menolaknya. Dia merasa kasihan kepada Farrel dan tidak tega untuk meninggalkannya seorang diri.
Setelah dipindah ke ruang perawatan, perawat segera memasang selang infus di pergelangan tangan Farrel. Tidak lama kemudian Farrel pun tertidur. Suryo menungguinya di dalam ruangan, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Pak Subagyo dan Fahira datang ke ruangan itu setelah sebelumnya bertanya kepada perawat yang kebetulan tadi merawat Farrel.
Suryo segera menghampiri dan menilik siapa yang datang.
"Eh Hanun, ini siapa?"
Pak Subagyo dan Fahira saling tatap mereka tahu saat ini Suryo sedang salah paham.
"Dia bukan Hanun tetapi kembarannya," jelas Pak Subgyo.
__ADS_1
Suryo terkejut mendengar kenyataan itu, pantas saja tadi merasa ada yang lain dengan penampilan Hanun. Ternyata benar dia bukan Hanun.
"Oh maafkan saya, saya kira tadi Hanun. Akhir-akhir ini 'kan Pak Farrel dekatnya dengan Hanun jadi saya kira ini Hanun."
Fahira menyimpulkan bahwa Farrel dan juga Hanun memiliki hubungan khusus. Fahira jadi merasa tidak enak karena sudah hadir diantara keduanya.
Sementara Pak Subagyo tertawa kemudian berkata, "memang mereka mirip sekali ya?" Pak Subagyo bahagia karena sebentar lagi kedua putrinya kembali bersamanya.
Impian yang dulu pernah pupus itu kini kembali berkembang layaknya rumput kering yang tersiram air.
"Nah kalau Anda sendiri siapanya Farrel?" tanya Pak Subagyo.
Suryo tersenyum kemudian mengulurkan tangannya untuk berkenalan. "Saya pegawainya di bengkel."
"Bengkel?" Pak Subagyo baru mengetahui jika Farrel memiliki bengkel sendiri. Pak Subagyo hanya tahu jika Farrel ke Jogja untuk merantau.
"Iya bengkel per, tempatnya di seberang klinik ini."
Pak Subagyo menjadi tambah penasaran dia meminta Suryo untuk membawanya ke bengkel milik Farrel. Pak Subagyo ingin melihat bagaimana bengkel milik Farrel itu.
Akhirnya Pak Subagyo dan Suryo pergi ke bengkel meninggalkan Fahira seorang diri di ruangan itu.
Jika benar Hanun dan Farrel memiliki hubungan, bagaimana nanti jika Hanun mengetahui hubungannya dengan Farrel?
Ah Fahira jadi merasa bersalah, setelah puluhan tahun berlalu harusnya dia bisa membuat Hanun bahagia tetapi apa yang dilakukannya pasti akan membuat Hanun terluka.
Saat Fahira masih merenung tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka kembali. Nampak Hanun diikuti Inda masuk ke dalam ruangan itu. Inda sangat terkejut melihat Fahira yang sangat mirip dengan Hanun, dia tidak melihat wajah Fahira dengan jelas kemarin.
Fahira tersenyum melihat Hanun, sesungguhnya dia ingin memeluknya tetapi sepertinya Hanun belum siap menerimanya sebagai saudara.
Fahira mundur membiarkan Hanun dan Inda lebih dekat ke bangkar Farrel. Cukup lama mereka di sana tanpa berkata-kata.
"Sofi ... Sofia jangan pergi! Sofi ... Sof ...."
Ditengah keheningan tiba-tiba Farrel mengigau dan terdengar jelas di telinga para gadis itu.
Sofia?
Ketiga gadis itu bertanya-tanya siapa Sofia yang terus disebut Farrel dalam mimpinya.
__ADS_1
Satu nama yang disebut Farrel itu membuat Inda dan Hanun patah hati. Ternyata selama ini pria yang mereka kagumi sudah memiliki seseorang dalam hatinya.
Sementara Fahira merasa heran, bukankah Farrel dan Hanun memiliki hubungan? Tetapi kenapa Farrel menyebut wanita lain dalam mimpinya. Fahira menjadi geram mungkin saja Farrel itu tipe-tipe pecinta.
Dasar sok kegantengan.
Fahira pun memilih keluar dari ruangan itu sebelum dia gelap mata dan membekap Farrel dengan bantal karena kesal.
Ternyata semua laki-laki sama saja. Setelah apa yang diinginkan dia dapatkan, dia pergi begitu saja sama seperti bajingan itu.
Kegeraman Fahira meleber kemana-mana, sungguh saat ini dia sangat trauma dengan yang namanya laki-laki.
Fahira berjalan mengikuti langkah kakinya menyusuri klinik yang cukup luas itu. Di tengah jalan Fahira melihat seorang ibu yang baru melahirkan menjemur bayinya ditemani seorang suster. Kemudian ada seorang pria pasti ayah si bayi yang datang kemudian memangku bayinya dan menciuminya.
Fahira menundukkan kepalanya tiba-tiba saja dia merasakan pedih dalam hatinya. Bukankah bayinya juga berhak mendapat kasih sayang?
Ah kenapa Fahira jadi teringat bayi mungil miliknya? Fahira menggelengkan kepalanya kemudian memilih kembali berjalan.
Tiba-tiba saja Fahira menabrak seseorang dan hampir terjatuh, namun untungnya dia masih bisa menyeimbangkan tubuhnya.
"Nona Hanun?" tanya seseorang yang menabrak Fahira.
Fahira pun mengangkat kepalanya dan melihat seseorang dengan setelan dokter menyapanya.
"Kamu gak apa-apa?"
Eh?
"Tidak, saya tidak apa-apa. Maaf tadi saya tidak melihat jalan," jawab Fahira.
Fahira ingin segera berlalu dan pergi menghindari orang baru itu. Tetapi Dokter Arseno orang yang tertabrak olehnya menghalanginya.
"Jenguk Farrel ya?" tanya Dokter Arseno.
Fahira menatap Dokter Arseno, hadeuh entah harus berapa kali dia menepuk keningnya karena ternyata Hanun sangat populer di sini dan semua orang selalu menganggapnya sebagai Hanun.
.
.
__ADS_1