
Farrel dan Dokter Arseno sedang menikmati makan siang mereka. Saking asiknya menikmati makanan, mereka tidak menyadari banyak paparazi di sekitarnya.
"Oh iya, sebenarnya ada apa Dokter mencariku?" Farrel yang sedang mencubit daging ikan bertanya kepada Arsen tentang alasan dia ingin menemuinya.
"Panggil aku Arsen! Lagipula ini di luar, rasanya aneh aja dipanggil dokter," protes Arsen.
Farrel terkekeh kemudian berkata, "baiklah Arsen."
"Emm ... Gimana kabar Hanun?" tanya Arsen hati-hati.
Farrel menatap Arsen kemudian tersenyum penuh arti, sepertinya kini dia tahu alasan Arsen ingin menemuinya.
"Baik, Hanun baik-baik saja. Kalau rindu telepon aja! Hanun sudah punya ponsel sekarang."
Arsen nampak menimbang-nimbang, "ah nanti ganggu 'kan gak enak."
"Ya terserah." Farrel meminum air putih untuk menyamarkan rasa pedas karena tidak sengaja memakan sambal.
"Boleh deh, mana nomornya?"
Farrel sedikit tersedak karena terkejut akan perubahan Arsen yang mendadak. Farrel sedikit terbatuk-batuk kemudian mengeluarkan ponselnya untuk menanyakan nomor Hanun kepada Fahira. Karena Farrel pun belum menyimpan kontak atas nama Hanun.
Ketika akan mengetikkan pesan, Farrel baru sadar dia dan Fahira sedang tidak baik-baik saja. Saat hendak mengurungkan niatnya bertanya kepada Fahira tiba-tiba Farrel melihat wajah Arsen yang penuh dengan permohonan. Wajahnya mirip kucing yang meminta makan.
Haish. Sepertinya Farrel harus mengalah dan menekan egonya untuk bertanya kepada Fahira.
"Kirimkan nomor saudaramu!"
Begitu isi pesan Farrel kepada Fahira tidak ada basa basi sama sekali. Tidak butuh waktu lama, Fahira membalas pesan Farrel. Fahira mengirimkan nomor Hanun tanpa berkata apa pun.
"Nah ini dia." Farrel menunjukkan ponselnya kepada Arsen. Sesaat kemudian dokter muda berkulit putih itu tersenyum dan langsung menyimpan nomor Hanun ke dalam ponselnya.
"Terimakasih banyak ya, makanan ini biar aku yang bayar." Arsen menyimpan kembali ponselnya dan melanjutkan acara makannya. Rasa ikan bakar ini jadi lebih nikmat setelsh mendapat nomor Hanun. Arsen melahap makan siangnya sampai habis tak tersisa.
Sementara Farrel melongo dibuatnya, kecepatan makan Dokter Arseno melebihi supir truk yang biasa dia temui.
Farrel bergidik, orang-orang tidak tahu dengan gelar dokter dan ketampanan yang paripurna ternyata Arsen makannya banyak.
*
__ADS_1
Hari berganti malam, Arsen pulang ke rumahnya setelah bertugas full di klinik. Dodo yang kebetulan sedang berada di teras depan rumah bersama seorang security kompleks mengangguk memberi hormat ketika Arsen turun dari mobilnya.
"Bang, Tolong masukkan mobil saya ke garasi!" perintah Arsen.
Dodo yang sudah berdiri tadi bergegas memasukkan mobil Arsen ke dalam garasi sesuai perintah. Beberapa saat kemudian Dodo keluar dari garasi dan berniat menitipkan kunci mobil Arsen ke asisten rumah tangga di rumah itu. Tetapi ketika hendak memasuki dapur lewat pintu samping, Dodo kaget mendapati Arsen masih berada di teras depan sambil melambaikan tangannya.
Kening Dodo berkerut meski sedikit samar namun ada rasa heran yang tidak bisa dia tutupi.
Setelah sampai di hadapan Arsen, Dodo memberikan kunci mobil kepada Arsen. Bukannya langsung pergi, Arsen tiba-tiba duduk di teras. Dia membuka kancing atas kemejanya untuk sedikit melonggarkan kepenatan. Begitu pun dengan kancing kemeja di pergelangan tangannya, dia melepasnya dan menggulung kemeja berwarna abu itu hingga ke siku.
"Duduk Bang!" perintah Arsen.
Hah?
Dodo hanya diam menanggapi sikap Arsen yang tidak seperti biasanya.
"Malah diam, sini Bang!" Arsen menepuk ubin marmer teras rumahnya.
Dodo mengikuti perintah Arsen walau ragu, dia memberi jarak antara dirinya dan tuannya itu.
Arsen meletakan kedua tangannya ke belakang dan menjadikannya tumpuan, sementara matanya menatap pekatnya langit malam. Bintang-bintang bersembunyi dibalik awan-awan hitam yang menahan beban air hujan yang sepertinya akan turun sebentar lagi.
"Saya boleh tanya sesuatu?" Tiba-tiba Arsen bertanya membuat Dodo sedikit tersentak karena kaget.
"Hanun itu orangnya seperti apa?"
Hah?
Apanya?
Dodo melirik tuannya yang masih sibuk menatap langit.
"Jawab Bang!"
Eh? Dodo gelagapan dibuatnya, dia bingung harus berbicara apa. Dia juga bingung dengan sikap Dokter Arseno.
"Hanun anak yang baik dan ceria, dia juga penurut. Dulu hidup kami sangat pas-pasan makan seadanya tapi dia gak ngeluh bahkan menawarkan diri untuk ikut mencari uang. Mendengar kabar bahwa dia sudah menemukan keluarganya yang kaya raya membuat saya merasa bersalah memperkenalkan Hanun pada kerasnya kehidupan. Eh maaf Tuan."
Dodo melihat Arsen yang menatapnya dengan seius. Hal itu membuat dirinya merasa tidak enak. Dia merasa telah keceplosan berbicara kemana-mana tentang kehidupannya dan Hanun dulu.
__ADS_1
"Lanjutkan ceritanya Bang!" pinta Arsen.
"Ah tidak, Tuan. Maafkan saya telah banyak bicara." Dodo menunduk penuh rasa bersalah.
Arsen tertawa pelan kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya, tidak lama kemudian dia bangkit dari duduknya.
"Terimakasih Bang atas informasinya." Arsen pun melenggang masuk ke dalam rumah.
Rumah besar dan megah itu hanya dihuni olehnya dan kedua orang tuanya. Kadang Arsen kesepian di tempat ini. Seperti saat ini, Arsen berjalan menuju ke kamarnya. Dia menatap sekeliling rumah yang sudah sepi.
"Ah, andai Mbak Retno tinggal di sini." Arsen bergumam pelan.
Dokter Arseno memiliki seorang kakak perempuan yang bernama Retno. Namun Retno memilih untuk tinggal bersama suami dan anak-anaknya. Arsen tidak tahu tepatnya alamat Retno, yang dia tahu Retno memiliki sebuah toko buku.
Hubungan Retno dan keluarganya menjadi renggang gara-gara Retno menolak dijodohkan dan memilih takdirnya sendiri. Sejak itulah keberadaan Retno seperti hilang ditelan bumi padahal mereka masih di kota yang sama.
Arsen membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalamnya. Dia melempar tas kerjanya pelan ke atas kasur. Kemudian mengambil Handuk bersiap untuk mandi.
Tiba-tiba Arsen teringat sesuatu, dia merogoh saku celananya dan mengambil ponsel. Dia akan memulai langkah awal untuk mendekati wanita.
Ini kali pertama Arsen tertarik dengan yang namanya wanita. Arsen pernah memiliki kekasih sewaktu kuliah dulu. Namun hubungan mereka kandas tanpa kejelasan karena sang mantan berselingkuh di belakangnya.
Pertama kali melihat Hanun dengan kepolosannya, setiap detik selalu Hanun yang terlintas dibenaknya. Untuk menyelamatkan mentalnya yang terus terbayang-bayang Hanun, Arsen akan coba mendekatinya.
Bibir Arsen tersungging senyum tipis ketika dia berhasil mengirimkan sebuah pesan kepada Hanun.
Pesan itu hanya berisi kata sapaan, "Hai."
Arsen memutuskan untuk segera mandi sambil menunggu pesannya terbalas.
Sebelum berhasil masuk ke kamar mandi, terdengar ponselnya memberikan notifikasi.
Dibalas?
Arsen bersorak gembira ketika Hanun membalas pesannya dengan cepat. Hanun bertanya siapa yang mengiriminya pesan malam-malam begini.
"Ini aku, dokter dari Jogja."
Arsen meletakkan benda pipih miliknya itu di atas kasur, dia tidak sabar menunggu balasan dari Hanun.
__ADS_1
.
.