
Tidak terasa sudah satu bulan lebih Hanun menjalani kehidupan barunya. Kini dia memiliki identitas baru, surat-surat tentang data dirinya telah berada ditangan. Bahkan sertifikat mengejar pelajaran pun sudah dimilikinya. Sungguh Hanun merasakan peran uang sangat berpengaruh untuk segala urusan.
Dulu waktu masih hidup susah ingin membuat E-KTP saja harus melalui proses panjang. Ditambah petugas yang dimintai tolong itu kadang tidak ramah sama sekali bahkan terkesan cuek. Hah waktu itu ingin rasanya mencak-mencak karena tak kunjung dilayani meski antri dari pagi.
Kami si warga sipil yang kurang dana selalu diakhirkan. Ya, walaupun tidak semua petugas begitu, tetap saja 'kan karena nila setitik hancur susu sebelanga.
Hanun masuk ke kamarnya bermaksud untuk menyimpan berkas-berkas penting yang baru saja Pak Subagyo berikan. Setelah menyimpan berkas-berkas itu Hanun terduduk di pinggir kasur. Dia membuka ponsel yang sedari tadi diabaikannya.
Setiap membuka ponsel, pesan dari Arsen selalu menempati jajaran teratas karena saking banyaknya dia mengirim pesan.
Hanun mengulas senyum tipis kala membuka satu per satu pesan yang dikirim Arsen.
Ya, pria itu begitu gencar mendekati Hanun tidak ada satu hari pun dia tidak memberi pesan kepada Hanun. Kebiasaan itu akhirnya membuat mereka semakin dekat. Hanun tidak sungkan lagi untuk bercerita ataupun bercanda. Dia selalu berfikir tidak akan bertemu dengan dokter tampan itu lagi, jadi terkadang Hanun menggila lewat candaan tidak ada canggung sama sekali.
Mereka sering mengobrol via telepon sampai larut malam. Saling mengingatkan masalah-masalah sepele seperti makan dan lainnya.
Seperti sekarang, Hanun tersenyum karena Arsen memberinya pesan yang membuat hatinya tergelitik.
"Kebiasaan lama banget balas pesanku, kalau gak sayang udah aku blokir nih."
Pesan itu dibubuhi dengan emotikon teriak dan menangis menambah kesan dramatis menggambarkan perasaan sang pemberi pesan.
"Maaf dokter gantengnya aku, tadi aku dipanggil Papa ke ruang tamu."
Tiba-tiba saja layar ponsel menampilkan panggilan video masuk, Arsen langsung menelepon ketika Hanun membalas pesannya.
Hanun mendadak gugup, dia membenarkan rambutnya kemudian berdehem. Setelah itu barulah dia mengusap layar untuk menerima video call itu.
"Emang ada tamu? Siapa yang bertamu malam-malam begini?"
Tawa Hanun hampir memyembur karena melihat wajah panik Arsen yang tidak Hanun ketahui apa penyebabnya.
"Tadi ada Yunus."
"Siapa Yunus?" tanya Arsen.
Hanun tidak dapat menahan tawanya lagi kali ini, dia tertawa terbahak-bahak melihat wajah tampan Arsen yang benar-benar terlihat lucu saat di zoom.
__ADS_1
Hanun tidak mendengarkan ucapan Arsen dengan baik dia malah sibuk memperbesar layar yang menampilkan wajah Arsen saat ini. Hidung yang kembang kempis dan mata yang melotot membuat pemandangan yang terlihat indah dari jauh itu kini terlihat seperti badut dimatanya.
"Kenapa malah ketawa? Jawab!"
Hanun berusaha meredam tawanya dia karena melihat Arsen tidak merubah mimik mukanya sedikit pun.
"Yunus orang kepercayaan Papa, dia nganterin surat-surat penting."
Terlihat Arsen dengan wajah leganya di layar, Hanun naik ke atas kasur dia mengambil posisi ternyaman untuk mengobrol dengan Arsen. Hanun terlentang dan menatap layar, ah tangannya pegal. Akhirnya dia membalikkan tubuhnya, ponsel kini berada di hadapannya dengan kedua siku sebagai tumpuan.
Hanun menatap wajah Arsen dengan seksama, hei lihatlah! Mata yang sedikit sipit dan alis tebal. Kenapa semakin dipandang semakin indah.
Tanpa mereka sadari yang mereka lakukan selama beberapa detik adalah saling pandang tanpa kata-kata. Hingga akhirnya Hanun lebih dulu tersadar.
Ini tidak baik! Apalagi untuk jantungnya.
Hanun akhirnya terduduk.
Jika saja ada yang melihatnya berguling-guling seperti itu bukan tidak mungkin mereka menganggap Hanun cacing kepanasan.
"Sekarang aku punya identitas baru dong, data diriku sudah lengkap." Hanun tersenyum kala mengatakannya membuat Arsen di seberang sana ikut tersenyum.
Hanun sedikit mengerutkan keningnya kemudian tertawa yang sedikit dipaksa.
"Cepat Bang nikahin Adek, udah gak sabar." Hanun menirukan suara pengamen setengah jadi yang kerap ia temui di lampu merah.
Hening.
Arsen terdiam sambil menatapi wajah ayu Hanun yang sebulan ini mengisi hari-harinya. Apakah dia serakah bila mengharap hal yang lebih dari sekedar hubungan pertemanan?
Bukankah memang tujuannya ke sana?
Arsen tiba-tiba mempertimbangkan untuk mundur sebab diakhir jalan mereka tidak akan pernah bisa menjadi satu. Ada tembok tinggi yang sepertinya akan sulit untuk diruntuhkan.
Apa itu?
"Hai! Dokter ganteng aku kenapa melamun?"
__ADS_1
Hanun berhenti tertawa dan menatap layar melihat Dokter Arseno yang hanya diam menanggapi candaannya.
"Gak apa-apa kok, cuma lagi mandangin bidadari lagi ketawa aja."
Ish.
Hanun benci kegombalan tapi suka digombalin. Wanita sungguh rumit.
Saat ini Hanun mengerucutkan bibirnya karena kesal tetapi juga senang.
"Kok manyun sih? Jadi pengen nyubit. Eh gimana sakit kepalamu? Apa masih sering sakit?"
Dokter Arseno selalu menanyakan tentang sakit kepala yang Hanun derita.
"Kadang masih sakit, apalagi kalau lihat barang-barang di rumah ini. Beuh aku kuat 'kan bisa nahan?"
Dokter Arseno terkekeh lalu berkata, "kalau sakitnya udah gak ketahan kamu ke rumah sakit ya!"
"Siap Pak Dokter."
Obrolan pun masih berlanjut sampai tengah malam. Hanun semakin lepas kendali akan kegilaannya. Sekali lagi dia yakin tidak akan bertemu lagi dengan Arsen.
Jadi dia tidak ada segan sama sekali, dia hanya menganggap Arsen sebagai hiburan ditengah penatnya pekerjaan kantor yang sangat melelahkan. Bagaimana tidak? Setiap hari Satria sebagai atasannya selalu membuatnya kewalahan dengan tugas-tugas yang menumpuk, untung saja ada Dita yang selalu siap membantu.
Hanun yang tidak tahu apa-apa kini sedikit mengerti dengan pekerjaan barunya. Apalagi setiap ada kesempatan bertemu dengan Fahira, saudaranya itu selalu mengajarinya banyak hal berkaitan dengan pekerjaan.
Berbicara mengenai Fahira, sudah sebulan ini hidupnya dihabiskan untuk bersantai. Ada rasa lelah dan bosan tetapi mau bagaimana lagi? Apalagi kini tempatnya sudah diambil alih oleh Hanun.
Ah andai waktu bisa diputar kembali, dia ingin menjadi wanita karier yang sukses tanpa dibebani seorang anak.
Fahira menoleh ke arah bayinya yang tidur disampingnya. Malam ini dia hanya berdua saja di rumah, Sus Erni yang biasa menginap di sana selama Farrel tidak di rumah hari ini izin pulang karena suaminya sakit.
Andai Sus Erni bilang dari pagi, tentu Fahira akan langsung pergi ke rumah Pak Subagyo untuk menginap. Enggan sekali dia berduaan dengan bayi Adam.
Tiba-tiba bayi Adam bergerak, selimut yang menutupi badannya dia tendang. Fahira menyelimutinya kembali namun bayi itu kembali menendangnya.
Ish Fahira tidak mau kalah dia terus menyelimuti Adam walau bayi itu tidak mau. Hasilnya, bayi Adam menangis yang membuat Fahira panik dan kelabakan.
__ADS_1
.
.