SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~

SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~
Seberapa Kuat Mencoba


__ADS_3

Sebelum fajar muncul menampakkan cahayanya, Farrel sudah tiba di stasiun pemberhentian kereta api yang ditumpanginya. Ketika Farrel turun dari kereta api, seketika hawa dingin menelusup masuk melalui pori-porinya.


Ah, memang tempat ini sangatlah dingin.


Farrel merapikan jaket yang dipakainya kemudian berjalan mencari angkutan yang mungkin sudah beroperasi. Kadang Farrel bingung kenapa selalu kebetulan pulang atau pergi itu di malam hari. Waktunya orang-orang tidur pulas.


Hadeuh Farrel mendadak ingat pada bantalnya, terlepas dari itu Farrel kembali fokus pada kesehatan Uwa.


Tak berselang lama, Farrel menemukan tukang ojeg yang bersedia mengantarnya. Tujuan Farrel adalah rumah sakit.


*


Sesampainya di rumah sakit, Farrel bergegas mencari kamar yang ditempati Uwa. Sebelumnya Farrel telah bertanya pada Ahmad melalui sambungan telepon.


Tibalah ia di kamar Uwa, di sana ada Ahmad yang setia mendampingi ibunya. Uwa tergolek lemah dengan selang infus ditangannya.


Perlahan Farrel membuka pintu, rupanya Ahmad terusik dan mengerjapkan matanya. Senyumnya pun mengembang melihat Farrel berdiri di hadapannya.


"Kamu sudah sampai?"


Farrel mengangguk kemudian pandangannya beralih ke Uwa tersayang.


"Bagaimana kondisi Uwa sekarang?" tanya Farrel tanpa basa-basi. Oh sungguh hatinya terasa nyeri melihat Uwa terbaring lemah tak berdaya seperti itu.


"Alhamdulillah sudah stabil, Ibu kangen sama kamu katanya. Ah mungkin Ibu sakit karena nahan rindu sepertinya."


"Ngaco." Farrel menanggapi candaan sepupunya dengan dingin.


Farrel melangkah menuju sisi tempat tidur yang ditempati Uwa menggeser posisi yang tadi ditempati Ahmad. Ahmad pun rela bergeser, dari dulu dia bersedia mengalah. Ahmad selalu menjadi anak yang tersisihkan jika Farrel sudah pulang.


Tetapi hatinya lega, Ahmad tahu ibunya pasti sangat bahagia melihat Farrel. Ahmad tahu betapa sayangnya Ibu pada keponakannya itu.


Tidak ingin membangunkan sang Uwa, Farrel tidak banyak bicara dan hanya menatap wajah Uwanya lekat.


Perempuan yang telah menjadi pengganti ibunya, peran Uwa sangat sempurna. Farrel mendapat kasih sayang yang cukup dari perempuan ini.


Disaat terpuruk pun Uwa selalu menjadi orang pertama yang mengusap punggungnya. Kini yang dia lihat, perempuan yang selalu mendukungnya ini tak berdaya. Oh ingin rasanya Farrel menggantikan posisinya menjadi pesakitan.


"Ibu nanyain kamu terus, pasti beliau bahagia melihat kamu ada di sini."


Farrel menoleh sekilas pada Ahmad, sebelum kembali menatap Uwa.


"Kamu berisik Mad, keluar gih! Beliin sarapan!"

__ADS_1


Ahmad terkekeh kemudian berlalu meninggalkan Farrel bersama ibunya. Sesungguhnya dia tahu apa yang dimaksud oleh sepupunya itu.


Sepeninggal Ahmad, Farrel kembali fokus pada Uwa. Ketika itu, pandangannya beradu dengan perempuan yang baru saja terbangun dari tidurnya.


Senyum mengembang seketika, diraihnya tangan lemah itu menuntunnya hingga kening dan diusapnya dengan lembut.


"Farrel pulang Wa."


Uwa mengangguk lemah. "Maaf Uwa membuatmu jauh-jauh datang."


Suara Uwa sedikit parau.


Farrel menggelengkan kepalanya kemudian tersenyum lembut, "Farrel kangen Uwa."


Setitik cairan bening muncul di sudut mata sang Uwa. Betapa Uwa menyayangi Farrel, Uwa bangga akan pencapaian dan perubahan keponakannya itu. Namun hatinya masih belum tenang karena Farrel belum menemukan pendamping hidup pengganti Sofia.


"Kenapa Uwa diam? Apanya yang sakit Wa?"


Farrel beranjak semakin dekat dengan Uwanya karena tidak biasanya Uwa diam setelah mendengar kata rindu dari Farrel.


Tiba-tiba saja Uwa mengubah posisinya menjadi terduduk, Farrel membantunya.


"Uwa tiduran aja, jangan bangun dulu!"


"Uwa pegel baringan terus, Rel." Uwa menatap keluar jendela.


Farrel mengikuti arah pandang Uwanya dan menyetujui keinginan Uwanya.


Setelah keluar kamar, Farrel mendorong kursi roda yang diduduki Uwanya pelan.


"Gimana bengkel kamu Rel?" tanya Uwa.


"Alhamdulillah rame, Uwa cepet sembuh! Nanti ikut aku ke Jogja."


"Boleh?" tanya Uwa lagi kali ini sangat bersemangat.


Farrel tersenyum walau tidak terlihat oleh Uwanya, "Kenapa gak boleh? Ya bolehlah."


"Uwa aneh aja, sebelumnya kamu gak pernah tuh nawarin Uwa ke Jogja."


"Masa sih Wa?" Farrel menggaruk tengkuknya sembari tertawa sekilas.


"Lah iya kan? Uwa belum tahu kamu di Jogja tinggal dimana? Terus bengkelnya gimana? Karena Uwa belum pernah ke sana."

__ADS_1


Farrel berhenti mendorong Uwa, kemudian berganti posisi hingga berjongkok di depan Uwanya.


"Maafin Farrel, sekarang yang penting Uwa sembuh. Nanti kita ke Jogja bareng Ahmad, Siti juga ponakan-ponakan aku. Aku bakalan di sini sampai Uwa sembuh lepas itu kita berangkat." ucap Farrel dengan senyuman lembutnya.


Uwa mengangguk senang, setidaknya dia akan mengetahui kehidupan keponakannya di tempat lain.


Farrel kembali mendorong kursi roda itu, "eh tapi Uwa masih kaget kamu ngajakin, apa jangan-jangan ada yang mau kamu kenalin ke Uwa di sana?"


Farrel tertegun sejenak, "Ya banyak yang bakal aku kenalin, pegawaiku. Uwa kan belum kenal mereka."


"Oh iya ya." Uwa tertawa meski masih lemah. Farrel bahagia melihat Uwanya tertawa, sehingga dia pun ikut tersenyum.


"Ngomong-ngomong, pegawai kamu ada yang cewek ga? siapa tahu ada jodoh kamu nyempil di sana."


Eh.


Saat ini Farrel mendadak ingat Hanun. Tidak ... tidak .... Farrel menggelengkan kepalanya kuat, bagaimana bisa dia mengingat orang yang bahkan dia anggap tidak penting itu. Lagipula Hanun bukan pegawainya, Hanun hanya seorang pencuri yang sedang membayar kesalahannya.


Setidaknya itulah anggapan Farrel untuk si rambut indah Raihanun.


"Ada, tapi cuma magang."


Farrel dan Uwanya berjalan-jalan mengelilingi rumah sakit yang masih sepi. Mereka saling bertukar cerita dan melepas kerinduan.


"Oh iya Rel, beberapa waktu yang lalu Uwa ketemu sama Mama Haji. Beliau tanya kabar kamu, kalau sempat kamu mainlah ke pesantren. Biar Ahmad temani." Uwa sangat berhati-hati saat membahas hal-hal yang dianggapnya sensitif untuk Farrel.


Farrel tersenyum samar, "inshaalloh Wa."


Uwa nampak senang, Farrel tidak sedingin biasanya kala membahas pesantren. Farrel memang sudah banyak berubah. Uwa lega rasanya.


*


Dua minggu kemudian kondisi Uwa sudah jauh lebih baik bahkan sudah pulang ke rumah. Keluarga itu berkumpul kembali dengan suka cita.


Hari ini Farrel bersama Ahmad pergi ke pesantren. Suasana yang masih sama seperti dahulu membuat getaran aneh dalam diri Farrel kembali muncul, sakit yang menusuk perlahan terasa dalam hatinya. Farrel mengepalkan kedua telapak tangannya untuk menguatkan raga yang kini berjalan beriringan dengan Ahmad menyusuri satu persatu kobong untuk sampai di kediaman Mama Haji.


"Kamu baik-baik saja 'kan?" Ahmad menyadari ada yang salah dengan Farrel hingga dia mencoba untuk mengajaknya bicara setelah beberapa langkah mereka berjalan. Farrel membalasnya dengan anggukan.


Entah sampai kapan Farrel terus dihantui perasaan seperti ini. Seberapapun kerasnya Farrel mencoba tetap saja rasa bersalah itu sudah terlanjur mengakar dalam hatinya.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2