
Namun sorak bahagia itu tidak berlangsung lama, Fahira melihat sesuatu yang membuatnya membatu dan tidak bergerak sama sekali.
Sementara Farrel kini sibuk melihat-lihat alat-alat kecantikan yang tertata rapi di dalam etalase. Sesekali Farrel mengerutkan keningnya karena melihat banyaknya produk yang tidak dia ketahui fungsinya. Farrel tidak menyadari Fahira kini sedang menahan emosi dan berjalan menjauh darinya.
Fahira hampir saja menyalahkan matanya ketika melihat seseorang yang seharusnya bertanggung jawab atas kehamilannya. Orang itu terlihat menggandeng seorang gadis muda dengan begitu mesra. Mereka sedang memilih alat kecantikan yang diyakini Fahira untuk gadis itu.
Fahira mendengus kesal, kala teringat lelaki sialan itu lari dari tanggung jawab dan membuatnya malu sendirian.
Fahira berjalan cepat guna menghampiri mantan kekasihnya. Hatinya panas, nafasnya memburu penuh amarah.
"Ini cocok buat kamu, pasti makin cantik." Fahira muak mendengar rayuan gombal mantannya itu pada gadisnya. Betapa bodohnya dia dulu termakan rayuan receh seperti itu.
Fahira berdehem tepat ketika dirinya berada di belakang mantannya. Sontak dua orang itu menoleh ke arahnya.
Ammar terkejut melihat Fahira, dia spontan melepas genggaman tangannya pada gadis yang bersamanya.
"Hai Ammar, lama tidak berjumpa." Fahira tersenyum sinis sambil menatap lelaki yang dulu pernah mengisi hari-harinya itu.
"Fa-Fa ... ?"
"Jangan gugup begitu dong! Atau sudah lupa dengan namaku?" Fahira memotong kata-kata Ammar yang memang sulit terucap hanya untuk menyebut namanya.
Fahira menyadari saat ini mata Ammar tertuju pada perutnya yang telah rata.
"Nona ... Sebaiknya Anda berhati-hati, jangan melakukan hal bodoh karena terbutakan cinta. Apalagi cinta kepada seorang pecundang macam dia." Fahira menasihati gadis muda yang nampak polos sambil menyindir Ammar.
Ammar yang tidak terima sontak menatap Fahira dengan tatapan meledek.
"Jaga mulut kamu baik-baik ya! Setelah apa yang terjadi, lantas kamu membuat seolah-olah aku yang bersalah di sini?"
Ammar tertawa sambil menatap Fahira dari atas sampai bawah untuk menilai penampilan Fahira yang kini lebih berisi karena baru saja melahirkan.
"Kalau kamu gak bodoh, kamu gak akan seperti ini. Lihat diri kamu sekarang! Gendut, lusuh. Gak banget deh."
Satu tamparan mulus mendarat di pipi Ammar sampai berbekas. Fahira benar-benar tidak menyangka Ammar menilainya dengan kalimat menghina seperti itu.
Habis manis sepah dibuang, dulu Ammar setiap hari tidak pernah lupa untuk memuji penampilan Fahira. Setiap bertemu pastilah kata-kata romantis yang muncul. Miris.
__ADS_1
Fahira terlambat menyadari bahwa laki-laki di depannya hanyalah seekor serigala yang mencari mangsa. Fahira sangat membenci dirinya.
"Berani-beraninya kamu ...." Ammar hendak melayangkan tangannya ke arah Fahira untuk membalasnya tetapi tiba-tiba Farrel datang menghentikannya.
"Jangan pernah menyakiti istriku!"
Fahira menoleh ke belakang ternyata Farrel berjalan ke arahnya.
Farrel merangkul pinggang Fahira memastikannya baik-baik saja kemudian menatap Ammar dengan murka.
"Oh ... Oh ... Oh, ternyata kamu suaminya." Ammar tertawa sangat nyaring sehingga memancing pengunjung lain untuk melihatnya.
"Otak kita sepertinya sejalan Masbro, setelah puas morotin dia! Kita bebas pergi."
Lagi-lagi Ammar tertawa, Farrel mengepalkan tangannya menahan emosi.
"Maaf, tapi saya bukan Anda. Saya tidak akan menyia-nyiakan wanita seperti Fahira. Saya yakin dilubuk hati Anda yang paling dalam saat ini Anda sedang menyesal."
Cih.
"Itu hadiah perkenalan kita." Farrel kemudian menggenggam tangan Fahira dan menariknya pergi dari sana. Sedangkan Ammar masih terduduk karena tadi terhuyung sampai jatuh.
*
Selama di dalam mobil Fahira hanya diam, dia menyesal telah mengenal dan mempercayai setiap janji manis Ammar.
Fahira menatap spion yang ada di luar, dia melihat pantulan dirinya yang memang terlihat seperti ibu-ibu. Gendut, mata panda, tidak ada lagi Fahira yang energik dan ceria. Kini yang tersisa hanyalah seorang manusia yang serasa tak bernyawa.
Ah.
Fahira kemudian menatap jalanan menghilangkan rasa sedihnya.
Farrel juga diam, saat ini dia sedang meredam amarahnya yang tadi sempat tersulut. Harga dirinya sebagai suami serasa diinjak-injak melihat istrinya diperlakukan seperti tadi.
Farrel bisa saja membuat Ammar sampai terkapar tidak berdaya, namun untungnya Farrel cepat sadar bahwa itu akan membuatnya dalam masalah.
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di rumah. Mereka disambut dengan tangisan Adam yang terdengar sampai luar.
__ADS_1
Farrel melirik ke arah Fahira yang tidak terpengaruh sama sekali dengan suara tangisan itu, Farrel pun memilih berlari ke rumah untuk menemui Adam tanpa berbicara apa pun. Sedangkan Fahira masih betah berada di dalam mobil pertemuannya kembali dengan Ammar memupuk kembali rasa bencinya pada bayi yang kini terdengar menjerit-jerit.
Perlahan Fahira mengangkat kedua tangannya untuk menutupi telinganya, ingin sekali berteriak atau bahkan lari agar tidak mendengar tangisan itu.
Hatinya sakit sesakit-sakitnya perih walau tak tergores, luka walau tak berdarah.
*
Farrel mendapati Adam di dalam gendongan pengasuhnya, Farrel menghampiri bayi Adam dan menggendongnya.
"Kenapa sampai nangis begini, Sus?" tanya Farrel.
"Tadi saya telat nyeduh susu, Pak. Mungkin kelamaan nunggu jadinya nangis," jelas pengasuh Adam yang biasa dipanggil Sus Erni.
Farrel tersenyum dia gemas melihat Adam menangis apalagi hidungnya yang mancung kini berwarna merah seperti badut.
"Jadi anak Ayah ngambek nih ceritanya, iya? Nanti Ayah marahin Sus nya ya, Adam anak soleh pinter." Tidak disangka, hanya dengan rayuan seperti itu bayi Adam berangsur-angsur menghentikan tangisannya. Dia menyedot susu dalam botol dengan kuat membuat Farrel makin dibuat gemas.
"Adam udah ekpresif ya, Sus."
Sus Erni hanya mengangguk dia terharu melihat Farrel memperlakukan Adam seperti anaknya sendiri sedangkan Fahira yang notabene ibu kandungnya selalu mengacuhkan bayi yang tidak berdosa ini. Entahlah, Sus Erni sudah jatuh hati pada bayi kecil ini sejak dirinya dipilih sebagai pengasuhnya. Apalagi setelah tahu ibu dari bayi ini tidak menginginkannya. Jika saja boleh, Sus Erni ingin menjadikannya anak tetapi jelas itu tidak mungkin.
Fahira melenggang masuk ke kamar begitu saja tanpa menghiraukan Farrel dan Sus Erni yang berada di ruang tengah.
Farrel menatap Fahira dan buru-buru memalingkan pandangannya pada bayi Adam. Sungguh Farrel kasihan pada bayi itu.
Malangnya nasibmu, Nak. Kamu tenang saja, Ayah akan membuat ibumu mencintaimu. Ayah berjanji.
Farrel mengecup pipi bayi Adam dengan lembut lalu tersenyum. Kemudian berkata kepada Sus Erni, "sepertinya Adam mau tidur lagi. Sus Erni boleh pulang, lagipula ini sudah sore."
Sus Erni mengangguk kemudian berpamitan pulang dan kembali besok pagi. Farrel berjalsn menuju kamar untuk menidurkan bayi Adam.
Farrel mendapati Fahira sedang meringkuk di kasur sambil memejamkan matanya. Farrel tidak berkata apa pun, dia membaringkan Adam di samping Fahira yang memunggunginya.
.
.
__ADS_1