
Setelah mengantar Hanun pulang, Farrel kembali ke bengkel. Setibanya di sana, Farrel disambut oleh Kartino dan juga Suryo mereka penasaran dengan apa yang terjadi pada Hanun.
"Si Hanun sebenarnya kenapa Bos?" tanya Kartino.
"Pingsan." Farrel hendak melewati dua anak buah yang menghadangnya itu, tetapi langkahnya dihalangi.
"Tahu pingsan Bos, tapi pingsannya kenapa?" tanya Suryo.
"Daripada kalian jadi wartawan dadakan begini ngurusin orang pingsan, lebih baik kembali bekerja! Hanun yang pingsan kalian yang ribet."
"Apa? Hanun pingsan lagi?" Suara lembut tiba-tiba saja terdengar oleh telinga ketiga orang pria itu. Mereka menoleh bersamaan ke asal suara.
Inda di sana.
"Sekarang dimana Hanun?" tanya Inda.
"Dia sudah di rumahnya." Farrel menjawab sambil sesekali melirik Kartino dan Suryo yang saling senggol.
Tanpa bertanya lagi, Inda terburu-buru pergi keluar dari area bengkel. Baru beberapa langkah sebelum Farrel berteriak, " Emangnya tahu rumah baru Hanun?"
Inda pun berhenti berjalan, benar dia belum sempat mengunjungi rumah Hanun yang baru. Saking paniknya dia melupakan hal penting seperti itu.
"Sebentar saya kirim lewat whatsapp." Farrel berjalan mendekati Inda meninggalkan dua orang yang masih saling senggol di belakangnya.
"Memang benar ya, yang namanya manusia mau sesempurna apapun pasti ada kurangnya. Seperti kamu, apasih yang kurang dari kamu? Eh ternyata ceroboh." Farrel tersenyum.
Inda berbalik badan dan menatap Farrel yang juga sedang menatapnya. Oh tidak apakah ada gempa bumi sekarang? Inda tidak tahu tubuhnya tiba-tiba ingin terbang ketika melihat senyuman di bibir itu. Bibir yang dipagari sedikit bulu halus di sekitarnya itu selalu membuatnya terpana.
Sepersekian detik hanya itu yang ada di kepala Inda sebelum denting ponselnya berbunyi. Pesan whatsapp dari Farrel telah masuk, di sana dia menambahkan emoji senyum yang sama persis dengan senyumannya sekarang.
Inda tidak mampu menahan bibirnya untuk tidak menyunggingkan senyuman tipis.
"Sebelum kamu pergi ke rumah Hanun, bisa kita bicara sebentar?" Perkataan Farrel mengalihkan perhatian Inda. Inda pun mengangguk tanpa banyak bicara.
Akhirnya Farrel dan Inda duduk di bangku panjang yang terletak di depan bengkel.
"Kata dokter, teman kamu itu mengalami amnesia." Farrel memulai pembicaraan.
Inda menoleh ke arah Farrel dengan ekspresi terkejut. "Amnesia?"
__ADS_1
"Hmm begitu kata dokter, kamu tahu keluarga Hanun?
"Saya baru mengenalnya beberapa bulan ini, yang saya tahu dia punya Abang yang lagi dipenjara."
Farrel mengusap dagunya seulas kemudian berkata, "Begitu ya ... saya khawatir dengan keadaannya, walaupun diluar terlihat tidak apa-apa tapi kita tidak tahu apa yang terjadi di dalamnya."
Tiba-tiba saja potongan kaca menggores sedikit hati Inda, dia tidak menyangka kalau Farrel sangat peduli pada Hanun.
"Iya benar, akan saya coba bantu dia." Inda menyembunyikan rasa perihnya.
Farrel mengangguk dia yakin Inda teman yang baik untuk Hanun.
"Oh iya, kenapa kamu gak pindah dekat rumah Hanun yang sekarang? Di sana sepertinya jauh lebih baik dari tempat tinggalmu yang sekarang."
Inda hanya tersenyum ketika mendengar saran dari Farrel. Dia mendadak bahagia karena Farrel mengkhwatirkannya.
Apakah Farrel seperti ini pada semua orang? Inda takut terjerumus terlalu jauh dihanyutkan perasaan yang tidak tahu kapan akan bertepi.
Sementara Farrel tidak sadar bahwa sikapnya telah membuat dua orang gadis salah sangka. Farrel hanya ingin merubah sikap arogannya menjadi lebih baik.
*
Setelah tadi sempat mengobrol dengan Farrel kini Inda tiba di alamat yang ditunjukan Farrel lewat pesan whatsapp. Dia bertanya pada salah seorang pejalan kaki yang kemudian menuntunnya menuju ke rumah Hanun. Dari kejauhan Inda sudah bisa menebak rumah Hanun karena ternyata Hanun sedang terduduk lemas di teras depan rumahnya.
"Assalamualaikum." Inda berjalan menghampiri Hanun.
Hanun langsung menoleh dan menjawab salam. Inda tersenyum lalu duduk bersimpuh di depan Hanun yang sedang bersandar pada pintu rumahnya.
"Tadi aku ke toko buku, kata Mbak Retno kamu mungkin nganterin uang kembalian ke bengkel Mas Farrel. Jadi aku nyusul ke bengkel, di bengkel aku dengar kabar kamu pingsan lagi. Kamu baik-baik aja 'kan Nun?"
"In ... tadi Bang Dodo datang." Suara Hanun sangat pelan membuat Inda mendekatkan dirinya agar dapat mendengar perkataan Hanun.
"Abang kamu udah bebas?"
Hanun mengangguk dan tiba-tiba air mata itu kembali menganak sungai dimatanya.
"Aku gak ngerti In, kenapa tiba-tiba Bang Dodo berubah? Dia bukan seperti Abangku In." Kali ini Hanun menangkup wajahnya dan menangis sesenggukkan dihadapan Inda.
Inda mencoba menenangkan Hanun dia mengusap punggung Hanun beberapa kali. Dari tangisannya Inda sudah dapat menebak bahwa Hanun sedang hancur saat ini.
__ADS_1
"Bang Dodo orang yang baik In, meski caranya menyampaikan kadang salah. Dulu dia yang menyelamatkan aku ketika aku hampir tertabrak truk. Dia merawat aku sampai dewasa, dia selalu memberi aku makan yang cukup walau aku tahu dia tidak makan. Kenapa sekarang dia ninggalin aku In?"
Inda kini memeluk tubuh Hanun yang bergetar karena tangis. Tangisan yang terdengar pilu membuat Inda ikut menangis.
*
Setelah beberapa saat dihabiskan untuk menangis, barulah Hanun mengajak Inda masuk ke dalam rumah.
Keadaan Hanun sudah lebih baik, dia menghapus air matanya dan memperbaiki kunciran rambutnya. Dia mengelap cairan hidungnya yang tadi sempat meleber kemana-mana.
Sementara Inda masih termenung sambil memperhatikan gerak-gerik Hanun.
"Kamu belum jawab pertanyaan aku, kamu pingsan lagi?"
Hanun menatap Inda dan mengangguk, "sakit kepala In."
"Kata Farrel kamu amnesia Nun," kata Inda.
"Apalah itu amnesia, memang benar aku gak ingat kejadian mengapa aku ada bersama dua orang itu. Aku lupa In, aku ingin tahu kenapa mereka membuangku?" Hanun terduduk di samping Inda.
"Sebelum aku pingsan, aku lihat orang itu. Orang yang memakai jas itu mirip sekali dengan orang yang tadi aku temui."
"Dimana?" tanya Inda antusias.
Hanun menoleh sekilas kemudian menepuk jidatnya sedikit keras sampai menimbulkan suara. Inda pun terlonjak kaget dibuatnya.
"Aku lupa In, uang kembalian Farrel belum aku kasih."
Inda mengusap dadanya dan menggelengkan kepalanya, ada ya orang seperti Hanun ini. Gampang sekali berubah ekspresinya.
"Aduh aku juga lupa izin Mbak Retno." Hanun kembali menepuk jidatnya untuk yang kedua kali.
"Mbak Retno pasti ngerti kok dan masalah uang 'kan masih ada besok Nun."
Hanun tersenyum lega mendengar perkataan Inda yang ada benarnya, walaupun hatinya masih terasa pedih namun dia berusaha untuk tegar. Dia harus menghadapi segala cobaan yang ada dihidupnya.
Obrolan antar gadis itu berlanjut menjadi beberapa genre dari yang sedih sampai yang tegang begitulah mereka berteman.
.
__ADS_1
.
.