
Farrel akhirnya tiba di rumah Pak Subagyo sekitar pukul sebelas siang. Tentu saja rumah sudah sepi karena tidak adanya acara resepsi. Para tamu dan kerabat yang diundang sudah membubarkan diri sejak tadi.
Sementara Uwa dan keluarganya masih berada di sana untuk memastikan Farrel tiba dengan selamat.
Farrel baru pertama kali ke rumah Pak Subagyo dan sedikit terkejut dengan penampakan rumah yang terlihat seperti istana. Setelah mobilnya berhenti tepat di pintu gerbang, seorang satpam datang menghampiri dia bertanya siapa dan ingin bertemu dengan siapa.
"Saya Farrel, Pak. Apa Pak Subagyo ada?"
"Ada urusan apa? Sebaiknya Anda pulang di sini sedang ada acara keluarga." Satpam itu berbicara tanpa membuka pintu gerbang.
"Tapi saya ada urusan di dalam."
Satpam berlalu tanpa menghiraukan Farrel dari luar sana. Farrel melihat jam yang terbelit di pergelangan tangannya. Kemudian membuang nafas kasar, dia sungguh lelah.
Farrel memutuskan untuk pergi ke mesjid yang tidak jauh dari rumah Pak Subagyo. Dia memarkirkan mobilnya di area mesjid, kemudian mengambil air wudhu. Farrel melaksanakan sholat tahiyatul masjid sembari menunggu waktunya sholat dzuhur.
Farrel baru teringat akan ponselnya yang berada di dalam mobil. Ah tapi Farrel lelah sekali untuk sekedar kembali ke mobil saja badannya tidak mau. Akhirnya Farrel memilih tetap di mesjid untuk beristirahat dan sholat setelah itu dia akan kembali ke rumah Pak Subagyo.
Beberapa saat kemudian seorang muadzin memasuki mesjid dan bersiap mengumandangkan adzan. Farrel pun bersiap seiring dengan orang-orang yang mulai berdatangan ke mesjid.
Ketika hendak melaksanakan sholat Farrel tersadar bahwa di sebelahnya ternyata Ahmad.
"Ahmad? Kamu masih di sini?"
Ahmad pun sama terkejutnya dan bernafas lega melihat Farrel kini ada di dekatnya.
"Ya ampun kamu, Rel. Bikin semua orang panik tahu gak. Pak Subagyo sepertinya masih wudhu pasti beliau sama leganya dengan aku."
Farrel hanya tersenyum sembari menggaruk tengkuknya. Sungguh drama sekali hidupnya untuk menikah saja seribet ini.
Mereka pun sholat berjamaah.
Beberapa saat setelah sholat berjamaah selesai, Ahmad dan Farrel keluar mesjid bersamaan. Mereka berpapasan dengan Pak Subagyo yang tadi tidak sempat berbincang.
__ADS_1
Pak Subagyo memeluk Farrel seraya berkata, "terimakasih Nak. Terimakasih karena kamu sudah menepati janjimu."
Farrel mengusap punggung orang yang telah menjadi mertuanya itu dan berbisik, "sama-sama."
Mereka pun berjalan beriringan menuju rumah Pak Subagyo. Farrel meninggalkan mobilnya si mesjid karena jarak ke rumah Pak Subagyo hanya terhalang dua rumah. Jadi dengan berjalan kaki mereka tidak merasa kelelahan.
Namun berbeda dengan Farrel yang sudah menempuh perjalanan cukup jauh. Badannya serasa remuk saat ini namun dia mencoba tidak menunjukkannya.
Setibanya didekat pintu pagar, sang satpam yang membuka pintu terkejut melihat majikannya kembali bersama orang yang tadi diacuhkannya.
"Cepetan buka pagar, Sep. Mantu saya sudah datang," seru Pak Subagyo.
Satpam bernama Asep itu membuka pagar dengan gemetar, dia takut Farrel mengadu akan perbuatannya tadi.
Farrel menatap Asep lalu tersenyum ramah membuat Asep benar-benar merasa malu.
Kedatangan Farrel disambut bahagia oleh Uwa betapa tidak, Uwa sangat mengkhawatirkan keselamatan Farrel sejak kemarin.
Mereka pun duduk di sofa sambil berbincang berbicara banyak hal. Tiba-tiba suara bayi terdengar sangat nyaring. Pak Subagyo sampai harus masuk ke sebuah kamar yang berada di lantai bawah untuk mengambil cucunya.
"Nak Fahiranya dimana Pak?" tanya Uwa.
"Itulah masalahnya ... Fahira tidak mau melihat anaknya, sejak lahir Fahira belum pernah melihat anaknya. Boro-boro untuk menyusui, menyentuh saja belum." Pak Subagyo menatap cucunya yang masih menjerit-jerit itu dengan iba.
Sementara Uwa dan Siti mencoba untuk menenangkan bayi itu, mereka bergantian menggendongnya tetapi bayi itu masih saja menangis.
Farrel yang melihatnya merasa tidak tega, akhirnya dia menawarkan diri untuk menggendong bayi itu. Walau tidak punya pengalaman sama sekali Farrel menguatkan dirinya dia mengambil bayi yang masih berada dalam gendongan Uwa kemudian menggendongnya perlahan.
Ada rasa takut serta ngeri dalam hatinya tetapi dia berusaha untuk tenang. Farrel kemudian berdiri dan mencoba menimang bayi itu sambil berjalan-jalan pelan.
Uwa dan Pak Subagyo tersenyum melihat Farrel. Mereka yakin Farrel akan menjadi ayah yang baik.
Perlahan namun pasti tangisan itu mulai mereda, bayi itu mulai mau menyusu dan menutup matanya dalam dekapan Farrel.
__ADS_1
Pak Subagyo sangat bahagia melihat cucunya terlelap dalam dekapan Farrel. Dia memang tidak salah menikahkan Fahira dengan Farrel.
*
Beberapa saat kemudian Uwa berpamitan meninggalkan Farrel dengan keluarga barunya. Farrel yang masih menggendong bayi pun merelakan Uwanya pulang, walau dalam hati tiba-tiba saja dia merasa gelisah harus berada di rumah asing.
Pak Subagyo membawa Farrel ke kamar untuk menidurkan cucunya. Farrel menurunkan sang bayi kecil dengan perlahan kemudian menatap wajah bayi yang rupawan itu dengan seulas senyum tulus.
Farrel kembali ke ruang tamu bersama Pak Subagyo. Mereka berbincang sebelum akhirnya kumandang adzan ashar mengharuskan mereka kembali ke mesjid.
Sepulang dari mesjid, Farrel kembali duduk di sofa. Kali ini badannya sudah tidak bisa lagi untuk diajak kompromi. Farrel kemudian tertidur.
Pak Subagyo yang baru kembali ke rumah karena harus menghadiri acara RT terkejut melihat Farrel tertidur lelap di sofa. Pak Subagyo merasa bersalah karena tidak membiarkan Farrel beristirahat tadi.
Melihat Farrel yang begitu lelap membuat Pak Subagyo tidak tega untuk membangunkannya.
Pak Subagyo berjalan menuju kamar Fahira yang sedari tadi tertutup. Dia mengetuk pintu kemudian membuka pintu kamar itu perlahan. Dia melihat Fahira yang sedang asik bermain game di ponselnya.
Pak Subagyo berjalan menghampiri Fahira yang duduk di atas karpet bulu sambil memainkan ponselnya dengan sangat serius.
"Suamimu ada di bawah, Nak."
Fahira melirik ayahnya sekilas kemudian kembali fokus pada ponselnya.
"Kasihan dia kelelahan, sekarang malah tidur di sofa."
Fahira berpura-pura tidak mendengar, dia masih dengan kegiatannya memencet-mencet layar ponsel dengan kefokusan tingkat tinggi.
"Nanti jika Farrel sudah bangun, Papa akan menyuruhnya untuk beristirahat di kamar ini."
Fahira kali ini menyimpan ponselnya dan menatap Pak Subagyo, "semua terserah Papa, aku sudak tidak punya alasan lagi untuk menolak."
Pak Subagyo tersenyum mendengar perkataan putrinya, kemudian keluar dari kamar Fahira. Sementara Fahira meremas karpet bulu yang didudukinya dis bersumpah akan membuat Farrel menyesal karena telah menikahinya.
__ADS_1
"Lihat saja nanti, aku labrak habis-habisan kamu di sini." Senyuman jahat dia tampilkan kemudian kembali mengambil ponselnya dan bermain kembali.