
Farrel menggeliat dari tidurnya, perlahan membuka mata. Seketika Farrel terbangun dan duduk, dia mengusap wajahnya. Oh bisa-bisanya dia ketiduran di sini. Farrel melihat jam dinding yang tertempel di dinding jarum jam menunjukkan angka lima lebih empat puluh lima menit. Farrel terkejut karena dia tertidur hampir tiga jam di sana.
"Sudah bangun, Nak?" Pak Subagyo yang baru turun dari lantai atas menghampiri Farrel yang masih mengembalikan kesadarannya di sofa.
"Maaf saya ketiduran," ucap Farrel.
"Tidak apa-apa, Papa mengerti kamu pasti sangat lelah. Mandilah di kamar Fahira! Sebentar lagi magrib kita harus bersiap pergi ke mesjid."
Pak Subagyo mengajak Farrel agar mengikutinya tentu saja tujuannya adalah kamar Fahira. Pak Subagyo mengetuk kamar berkali-kali namun sang pemilik kamar tidak membuka pintu itu.
"Fahira, buka pintunya! Farrel mau mandi." Pak Subagyo berteriak. Namun Fahira masih tidak membuka pintu kamarnya.
"Sudah Pak, biar saya mandi di kamar mandi yang lain."
Pak Subagyo merasa tidak enak dengan kelakuan Fahira akhirnya membiarkan Farrel mandi di kamar mandi lantai bawah. Pak Subagyo memberikan baju ganti kepada Farrel berupa kaos oblong berwarna putih dan juga celana jogger miliknya.
Farrel yang sudah segar kini diajak Pak Subagyo untuk makan terlebih dahulu sambil menunggu waktunya sholat magrib. Mereka hanya berdua di meja makan, Fahira menolak untuk turun dan memilih mengurung diri sambil menunggu waktu yang tepat untuk melabrak Farrel.
Setelah adzan magrib, Pak Subagyo bersama Farrel pergi ke mesjid. Mereka hendak melakukan sholat berjamaah.
"Oh iya, Nak. Tadi katanya akan ada kajian setelah sholat magrib di mesjid. Terserah Nak Farrel mau ikut atau tidak." Pak Subagyo berkata kepada Farrel sambil berjalan menuju mesjid.
"Oh yang tadi Bapak rapat itu? Saya ikut saja Pak."
Pak Subagyo menghentikan langkahnya, Farrel yang berjalan lebih dulu kemudian menoleh ke arah Pak Subagyo dengan heran.
"Sebaiknya kamu memanggil saya dengan sebutan Papa. Kamu sudah menjadi anak saya."
Farrel tersenyum kemudian mengangguk membuat wajah Pak Subagyo berseri-seri kembali. Sungguh Pak Subagyo sangat bahagia saat ini setidaknya anaknya kembali menjadi dua seperti dua puluh tahun yang lalu.
*
Kajian berlangsung sampai waktu isya tiba, pertemuan diakhiri dengan sholat isya berjamaah. Saat pulang dari mesjid Farrel dan Pak Subagyo banyak berpapasan dengan para tetangga. Itu menjadi kesempatan Pak Subagyo untuk memperkenalkan Farrel sebagai menantunya.
"Oh ini orangnya yang sudah menghancurkan masa depan anak Bapak, Kalau saya jadi Bapak mendingan masukin dia ke penjara dari pada menjadikannya mantu." Salah seorang dari tetangga ternyata ada yang salah mengira. Pak Subagyo berusaha menjelaskannya tetapi tetangga itu berlalu begitu saja sambil mencibir dari belakang.
Farrel yang melihat mertuanya kesal kemudian mengajaknya untuk segera pulang.
Sesampainya di rumah, Pak Subagyo kembali mengajak Farrel ke kamar Fahira. Setelah mengetuk pintu lebih dari empat kali akhirnya Fahira berteriak dari dalam.
__ADS_1
"Masuk aja tidak dikunci!"
Pak Subagyo tersenyum dan menatap Farrel, " masuklah Nak! Akan lebih baik kalian saling mengenal satu sama lain."
Kemudian Pak Subagyo berlalu meninggalkan Farrel yang masih terpaku beberapa saat di depan pintu itu.
Untuk saat ini Farrel mendadak teringat akan Sofia, meski raganya tidak ada lagi tetapi Farrel merasa telah berkhianat padanya. Farrel tidak bisa menghilangkan bayang-bayang Sofia dari benaknya.
Aku tidak punya rasa untuk mencintai seseorang selain kamu, Sof. Tapi aku akan mencoba untuk menyayanginya sebisaku.
Farrel kembali mengetuk pintu itu dan memutar knop pintu hingga terbuka sambil mengucap salam. Farrel melihat Fahira berdiri memunggunginya sambil melipat kedua tangannya di atas perut.
"Berani juga ya masuk ke sini. kamu tahu gak sih seberapa tidak tahu malunya kamu ini. Memanfaatkan kelemahan orang hanya untuk kepentingan pribadi."
"Saya hanya tidak tega melihat Papa menangis."
"Emangnya kamu siapa?" Fahira berteriak kemudian membalikkan badannya.
Seketika Farrel terkejut bukan main, dia memundurkan langkahnya ke belakang. Dia menggeleng samar kemudian tergesa-gesa membuka pintu lalu keluar meninggalkan Fahira yang saat ini melongo tidak percaya.
Hah?
*
Farrel yang masih terkejut menuruni anak tangga dengan hati gamang.
Apa dia salah lihat?
Farrel berjalan menuju pintu kaca yang mengarah langsung ke kolam renang di belakang rumah itu. Di keheningan malam Farrel berusaha menenangkan dirinya.
Dia?
Pak Subagyo?
"Hanun?"
Ketiga nama itu berputar dibenaknya, Farrel berdiri sambil berfikir apakah ini sebuah kebetulan?
Ah fikiran Farrel benar-benar kalut. Bagaimana mungkin ada dua orang yang begitu mirip di dunia ini kecuali mereka kembar.
__ADS_1
Kembar?
Tiba-tiba Farrel teringat ucapan Pak Subagyo yang mengatakan bahwa Fahira memiliki saudara kembar.
Oh mungkinkah?
Ketika Farrel masih berperang dengan fikirannya tiba-tiba saja Pak Subagyo sudah berada di belakangnya.
"Kenapa ada di sini, Nak? Apa Fahira mengusirmu?"
Farrel yang masih terkejut dibuat semakin terkejut oleh Pak Subagyo, dia menoleh ke arah lelaki yang mulai memasuki usia senja itu.
Apakah harus dia mengatakannya?
Tapi bagaimana jika bukan?
Ah Farrel bingung sekali.
"Ada apa Nak?" tanya Pak Subagyo. Dia mulai khawatir karena melihat wajah Farrel yang pucat.
"Sa-saya ... Ehm." Farrel berdehem untuk menghilangkan keterkejutannya.
"Apa Fahira berkata macam-macam? Biar saya temui dia." Pak Subagyo bersiap untuk pergi munuju kamar Fahira tetapi Farrel segera menahannya.
"Ada hal lain, Pa."
Pak Subagyo kembali menatap Farrel, Farrel mengajak Pak Subagyo untuk duduk di kursi yang ada di sana.
"Hal lain apa, Nak?" tanya Pak Subagyo penasaran.
Farrel mengatur nafasnya untuk memulai pembicaraan.
"Papa pernah bilang bahwa Fahira itu punya saudara kembar."
Pak Subagyo mengangguk dan luka lama itu kembali terbuka, betapa dia lalai menjaga anaknya waktu itu.
"Betul, Nak. Fahira dan saudaranya terpisah karena saya. Waktu itu perusahaan Papa sedang dalam masa menuju kejayaan. Papa mengadakan pesta perusahaan dan Papa membawa kedua anak Papa ke sana." Pak Subagyo menerawang jauh ke masa lalunya.
"Papa sibuk berbincang dengan kolega-kolega perusahaan. Sampai-sampai melupakan kedua anak Papa. Setelah acara usai barulah Papa menyadari bahwa mereka tidak ada. Setengah mati Papa mencari mereka sampai akhirnya Papa mendapati Fahira menangis sendirian di pinggir jalan. Hanya Fahira, sementara saudaranya menghilang sejak saat itu. Papa sangat terpukul dan hampir gila dibuatnya Papa telah mengingkari janji Papa pada mendiang ibu mereka agar menjaga Fahira dan saudaranya. Papa tidak bisa memaafkan diri Papa sampai saat ini. Papa rindu sekali dengannya."
__ADS_1
Pak Subagyo mengusap pipinya karena air mata yang meleleh begitu saja.