SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~

SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~
KEMARAHAN SEORANG AYAH


__ADS_3

Beberapa saat Hanun terdiam kemudian menatap Farrel meminta pendapatnya. Kemudian Farrel mengangguk sembari tersenyum lebar.


Mata Hanun kemudian menatap Pak Subagyo dan juga Fahira secara bergantian. Benarkah mereka keluarganya? Hanun masih ragu.


"Kembalilah bersama keluargamu." Farrel menatap lekat Hanun yang kini juga menatapnya.


Sepersekian detik Fahira melihat cinta dimata Hanun terpancar sangat nyata untuk Farrel. Ah Fahira harus bagaimana?


Fahira harus mencari tahu dulu apakah Farrel pria baik-baik atau bukan, setelah itu dia akan mempertimbangkan untuk membiarkan Hanun memiliki Farrel.


Fahira tahu diri siapalah dia? Hanya seorang pengemis yang minta dikasihani, dia sudah teronggok seperti sampah kemudian dipungut oleh Farrel.


Fahira tahu posisinya.


Pak Subagyo tiba-tiba berdehem membuat Hanun dan Farrel merasa canggung. Farrel tahu kesalahannya dan matanya kini tertuju pada Fahira yang melamun dengan tatapan kosong.


Farrel merasa bersalah seharusnya dia bisa lebih menjaga sikap karena saat ini dia sudah beristri meskipun pernikahan itu terkesan mendadak.


Pak Subagyo mengusap punggung Fahira, Fahira pun terkejut. Fahira baru menyadari dirinya sedang melamun kemudian tersenyum kikuk.


Pak Subagyo tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada hubungan Hanun dan Fahira. Pak Subagyo mencintai kedua putrinya karens sejatinya mereka adalah darah dagingnya.


"Jangan melamun Nak! Sesuatu yang menjadi milikmu tidak aksn pernsh menjadi milik orang lain."


Eh?


Fahira dan Hanun tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Pak Subagyo sementara Farrel semakin merasa bersalah terutama kepada Pak Subagyo.


Hal kecil yang menurut orang sangat remeh tetapi Farrel peka dan menyadarinya.


"Maafkan aku, Pa. Ini tidak akan terulang."


Fahira seketika tahu apa yang dimaksud ayahnya.


Idih dikira aku cemburu? Ish Papa ....

__ADS_1


Kemudian Fahira menatap ayahnya dan berkata, "jangan menganggap seolah-olah ini hal yang terjadi atas kemauanku. Ini sama sekali bukan mauku." Fahira lantas bersedekap dada dan memanyunkan bibirnya membuat Pak Subagyo terkekeh.


"Tuh lihat Jahira! Fahira kalau ngambek lagaknya begitu."


Baru kali ini hati Hanun tergelitik dan mengeluarkan senyumnya, dia merasa Fahira memang sangat dimanja oleh sang ayah pantas saja kadang sikapnya memang kekanakkan. Lantas? Bagaimana dengan dirinya?


Dua puluh tahun dia hidup sendiri tanpa kemewahan tanpa jaminan. Apakah harus dia menyalahkan keadaan? Kenapa harus dia yang terbuang?


"Jika Anda bahagia memiliki satu putri kenapa Anda ingin dua? Bukankah Anda sengaja membuangku?"


Pak Subagyo seketika menghentikan tawanya, dia baru sadar jika dia belum menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.


"Kamu salah paham, Nun. Papa tidak pernah membuangmu. Ada orang yang sengaja memisahkan kalian." Farrel menjelaskan karena Hanun terlihat masih sangat kesal.


"Kamu harus lihat ini!" Pak Subagyo mengeluarkan ponselnya dan memutar rekaman video pengakuan Ferdi. Kemarin Pak Subagyo meminta Ferdi untuk berbicara yang sebenarnya dan Pak Subagyo merekamnya sebagai bukti atas kejahatan Satria. Sebagai imbalamnya Ferdi tidak akan lagi dilibatkan dalam hal ini bila nantinya kasus ini sampai di pihak yang berwajib.


Hanun membekap mulutnya sendiri karena terkejut melihat siapa yang ada di video. "Orang itu?" Hanun menatap Farrel.


"Benar, orang itu adalah orang yang telah membawamu sewaktu kecil. Kamu juga peenah bertemu dia di bengkelku 'kan?"


Ini seperti mimpi! Hanun tidak pernah membayangkan dapat bertemu dengan keluarganya lagi.


"Kamu sudah percaya 'kan Nak? Waktu itu Papa mencarimu kemana-mana. Papa bahkan menghubungi surat kabar untuk memberitakan tentang kehilanganmu. Papa juga meminta bantuan polisi tetapi hasilnya nihil. Kamu dibawa pergi sejauh ini oleh mereka. Papa sangat merindukanmu Nak."


Entah apa yang menggerakkan kaki Hanun akhirnya berjalan mendekati Pak Subagyo. Hanun akhirnya terisak dipelukan sang ayah. Ayah yang tidak pernah dia bayangkan memilikinya. Pak Subagyo dan Hanun menangis dalam pelukan.


Fahira yang melihatnya pun ikut terisak sambil membekap mulutnya sungguh ini kejutan yang sangat membahagiakan. Akhirnya setelah puluhan tahun berlalu dia tidak akan melihat ayahnya menderita lagi ksrena merasa bersalah.


Pak Subagyo melepas pelukannya sebentar kemudian mengajak Fahira ikut bersuka cita bersamanya. Mereka bertiga akhirnya berpelukan disaksikan oleh Farrel yang tersenyum lega.


Farrel merasakan betapa Tuhan mampu membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin.


*


Sore harinya ternyata Farrel sudah diperbolehkan pulang. Dokter jaga yang menggantikan Dokter Arseno memberikan resep obat yang harus ditebus.

__ADS_1


"Dokter Arsenonya kemana Dok?" tanya Farrel.


"Beliau shif pagi dan ini jadwal saya." Farrel mengangguk tanda mengerti.


Setelah segala sesuatu selesai diurus Farrel pun keluar dari klinik bersama Pak Subagyo dan kedua putrinya.


Farrel berjalan bersisian dengan Pak Subagyo. "Seharusnya ada istri yang gandeng tangan aku ya Pa." Farrel menyindir Fahira yang berjalan di belakangnya. Sementara Hanun sudah terlebih dulu ke parkiran untuk mengambil motor.


Fahira merotasikan kedua bola matanya. Oh dia baru ingat dengan nama Sofia yang tadi terus dipanggil oleh Farrel dalam tidurnya.


"Cih pandainya bersandiwara, padahal cuma mau harta."


"Hush!" Pak Subagyo seketika menghentikan langkahnya dia berbalik badan dan menatap Fahira penuh peringatan.


"Kamu harus belajar menjaga ucapanmu Fahira! Farrel itu bukan pengemis, dia punya usaha yang menurut Papa omsetnya sangat besar untuk seorang wirausaha. Tadi Papa melihat sendiri bengkel miliknya, bengkel yang besar. Papa harap kamu harus lebih menghormatinya apalagi kamu tahu sekarang ini dia suamimu. Kamu harus tahu diri Fahira! Mana ada lelaki yang mau menikahi wanita yang baru saja melahirkan karena perzinahan. Tidak ada Fahira!"


Baru kali ini Fahira dimarahi habis-habisan oleh ayahnya. Bahkan saat Fahira dulu diketahui hamil, Pak Subagyo tidak semarah ini. Lalu sekarang hanya karena gara-gara membela Farrel, Pak Subagyo memarahinya sampai membawa-bawa kalimat yang menyakitkan.


Sore ini klinik sepi dari kegiatan oorang-orang sehingga tidak ada yang mendengarkan kemarahan Pak Subagyo.


Fahira mematung di tempatnya, dia tidak menyangka ayahnya begitu tega mengatakan hal yang menyakiti dirinya. Air mata berhamburan berebut untuk keluar dari sarangnya. Fahira berjalan menjauh dia pergi dan menyusul Hanun. Dia kecewa dengan ayahnya. Bahkan Farrel yang memanggilnya tidak dia hiraukan.


Saat Farrel akan mengejarnya, Pak Subagyo melarang. "Biarkan dia! Fahira memang terlalu saya manja hingga akhirnya melemparkan kotoran ke wajah saja."


Kemudian Pak Subagyo mendahului Farrel berjalan untuk meninggalkan klinik itu.


*


Fahira berjalan cepat menghampiri Hanun yang baru saja menyalakan mesin motornya.


"Aku ikut kamu ya?" Tanpa menunggu persetujuan Fahira naik di belakang Hanun.


Hanun pun pasrah dan membonceng Fahira pergi dari sana.


.

__ADS_1


.


__ADS_2