SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~

SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~
BERTEMU


__ADS_3

Pak Subagyo menatap Hanun heran, kemudian tertawa kecil melihat putri hilangnya itu lupa kalau sekarang adalah hari libur.


"Sini, Nak!"


Hanun yang sedang berusaha menahan malu kemudian berjalan pelan menghampiri ayahnya. Setelah Hanun lebih dekat, Pak Subagyo menepuk bagian kursi di sampingnya agar Hanun duduk di sana.


"Lelah banget ya kamu, Nak?"


Hanun memberikan seulas senyum untuk menjawab pertanyaan ayahnya.


"Biar nanti Papa tegur si Satria itu, Papa yakin dia sengaja mengerjai kamu." Pak Subagyo menyimpan koran yang dipegangnya, kemudian tanpa melepas kacamatanya dia membuka ponsel.


"Joko bilang katanya tadi malam ada Ammar?"


"Ammar?" Hanun membeo.


Pak Subagyo menghela nafas panjang guna membuang sedikit rasa sesak yang belum sepenuhnya hilang karena nasib Fahira.


"Ya, Ammar adalah ayah dari bayinya Fahira. Sebenarnya Papa bukan tidak sanggup untuk membuatnya dipenjara, tetapi ada pertimbangan lain yang membuat Papa membiarkan dia menghilang untuk setahun terakhir. Sekarang? Dia kembali. Entah apa yang sedang direncanakannya. Papa titip satu hal, jaga dirimu baik-baik. Karena saat ini hanya kamu yang Papa harapkan."


Hanun tercenung mendengarkan perkataan Pak Subagyo. Hanun merasa ayahnya itu benar-benar memendam perasaan sakit di lubuk hatinya.


Hanun pun mengangguk membalas ucapan Pak Subagyo.


*


Beberapa minggu telah berlalu, selama itu Hanun selalu bertemu dengan Ammar. Ya, Ammar selalu mengatur siasat agar dirinya bisa mendekati Hanun. Tetapi usahanya masih belum mendapatkan hasil. Satria sudah beberapa kali menanyakan misi itu padanya.


Ammar menjambak rambutnya karena kesal, kini dia berada di sebuah tempat karaoke yang ada di kota itu. Otaknya sudah buntu, dia tidak tahu lagi harus memakai cara apa supaya Hanun bisa lebih ramah padanya.


"Kenapa sih? Jangan gila dulu! Nanti siapa yang bayar sewa tempat ini." Seorang pria berjenggot duduk di sebelah Ammar sambil menyenggolnya.


"Lagi pusing banget, ada cewek yang susah banget dideketin. Padahal dia ladang duit bagiku."


Teman Ammar yang berjenggot itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Ammar.


"Sejak kapan seorang badboy berubah menjadi sadboy. Gak ada sejarahnya." Teman Ammar merangkul Ammar masih dengan tawa yang kini sedikit diredamnya.


Beberapa saat kemudian dia membisikkan sesuatu di telinga Ammar, senyum miring Ammar terbit kala mendengar bisikan temannya.

__ADS_1


"Kenapa gak kepikiran ya? Cerdas emang kamu kadang-kadang."


Temannya kembali tertawa sementara Ammar terdiam dengan fikiran mengudara. Dia akan melakukan apa yang barusan temannya itu bisikan.


*


Hari mulai senja, Hanun bersiap untuk pulang ke rumah bersama Dita. Saat itu ponselnya tiba-tiba berdering, Hanun mengerutkan kening melihat layar. Ada nama Fahira di sana.


Hanun masih bertanya-tanya, akhirnya panggilan itu berakhir sebelum Hanun menjawabnya. Saat hendak kembali menghubungi Fahira, sebuah pesan masuk.


'Datang ke rumah Farrel sekarang juga!'


Eh? Ada apa ini?


Hanun menghembuskan nafas perlahan, dia tidak ingin mati penasaran dan akhirnya dia pun melesat memasuki mobil dimana Dita setia menunggu dari tadi di dalam sana.


"Ke rumah Fahira dulu ya!"


Tanpa bertanya, Dita mengangguk dan menjalankan mobilnya sesuai tujuan dari Hanun.


Setengah jam kemudian Hanun dan Dita telah tiba di rumah Farrel. Rumah itu nampak ramai terdengar gelak tawa samar-samar dari dalam, pintu rumah pun terlihat terbuka sangat lebar. Hal itu membuat Hanun semakin penasaran.


Hanun yang akan membuka mobil, mengajak Dita untuk ikut turun.


"Hmm aku tunggu di sini deh, gak enak. Sepertinya lagi ada tamu."


Hanun yang sedang malas berdebat akhirnya memilih turun sendirian. Hanun membenarkan blazer yang membalut tubuhnya. Langkahnya terayun pelan namun pasti menuju ke arah pintu yang terbuka.


Sayup-sayup terdengar suara yang menurut Hanun sangat tidak asing. Suara yang beberapa bulan ini tidak pernah absen didengarnya setiap hari. Detak jantung Hanun kian memburu tatkala memasuki rumah itu matanya bertemu pandang dengan seseorang yang dia yakini tidak mungkin bertemu lagi.


Ah ingin sekali Hanun berbalik dan pergi atau bersembunyi dibalik batu seperti udang, namun hal itu urung dilakukan karena kini semua mata sudah tertuju padanya.


"Waalaikumsalam, ini dia yang kita tunggu-tunggu. Masuk! Masuk!" Farrel menetralisir keheningan yang saat itu terjadi dan mendekati Hanun yang kini berdiri diambang pintu seperti patung.


Hanun gelagapan dan akhirnya mengucap salam yang terlambat. Hanun salah tingkah sungguh dia sangat malu sekaligus terkejut melihat Arsen tepat berada di hadapannya dan tengah memberikannya senyuman maut yang teramat manis.


Aduh please gak kuat.


Hanun menjerit di dalam hatinya, Hanun bingunh sendiri mengapa dia menjadi sangat gugup dan berlebihan seperti ini. Hanun melirik ke arah Fahira yang kini juga menatapnya dengan seulas senyum. Kemudian mengajak Hanun untuk duduk di sampingnya.

__ADS_1


Hanun melangkah ragu-ragu, netranya mengikuti pergerakkan Farrel yang memasuki kamar. Fahira pun beranjak ke dapur untuk mengambilkan minum.


Kini, Hanun memilin ujung blazernya hingga membuatnya tergulung. Arsen yang sama gugupnya hanya mampu diam, kemudian membuka ponselnya.


'Kamu cantik hari ini.'


Sebuah pesan masuk ke ponsel Hanun, dengan segera gadis yang tengah dilanda kegugupan itu membuka tasnya dan mengambil benda pipih itu. Setidaknya Hanun memiliki kegiatan lain selain memilin blazer begitu fikirnya.


Ekspresi Hanun berubah seketika ketiks membuka pesan yang ternyata berasal dari orang yang kini ada di depannya. Hanun menatap kesal tetapi ada rasa malu yang menyeruak.


"Wajah kamu merona."


Apa?


Hanun melotot tidak percaya dengan ucapan Arsen, apa kentara sekali jika kini wajahnya memerah.


Haish Hanun semakin ingin menenggelamkan diri ke dasar lautan kalau begini.


Tanpa sadar tangan Hanun meraba pipinya yang terasa panas. Hal itu membuat Arsen tertawa gemas.


Tidak lama kemudian, Fahira datang membawa gelas berisi minuman untuk Hanun.


"Minum dulu! Pasti kamu haus." Fahira memindai wajah Hanun dengan seksama, sungguh Fahira ingin melakukan apa pun untuk saudaranya itu. Matanya kini tertuju pada Arsen yang terlihat mengelap sedikit cairan di sudut matanya. Hal sekecil ini mampu membuatnya tertawa lepas. Arsen pun memandangi wajah gugup Hanun yang tengah minum.


Fahira berdehem membuat Hanun dan Arsen menoleh ke arahnya.


"Jadi, kamu dokter yang menangani Jahira?"


Arsen tersenyum kemudian berkata, "lebih tepatnya yang pernah mengobati Hanun ketika pingsan dulu."


Fahira mengangguk-angguk.


Fahira tahu jika dokter itu memiliki perasaan lebih pada saudaranya. Fahira harus berjaga-jaga jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Fahira juga tahu jika diawal pertemuannya dengan Hanun bahwa saudaranya itu memendam rasa pada Farrel yang sialnya dia rebut secara paksa.


Belum selesai Fahira memindai situasi, Farrel keluar dari kamar sambil menggendong Adam. Dia berjalan menuju tiga orang yang tengah duduk di ruang tamu.


.


.

__ADS_1


__ADS_2