SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~

SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~
SAKIT


__ADS_3

Inda menemani Hanun di bengkel milik Farrel, sesekali Inda memberi protes kala Suryo memberi pekerjaan berat pada Hanun.


Ah Inda sudah mirip bodyguard bagi Hanun.


Beberapa jam di bengkel itu yang dilakukan Inda hanyalah duduk sambil memperhatikan Hanun yang sedang bekerja.


Kali ini Inda bersyukur memiliki kehidupan yang lebih baik daripada Hanun. Sungguh dirinya tidak bisa membayangkan seandainya dia berada di posisi Hanun.


Disisi lain Inda merasa beruntung bisa bertemu dengan Hanun. Karena Hanunlah, Inda jadi lebih banyak mawas diri.


"Kamu boleh pulang!"


Suryo nampak berbicara pada Hanun.


Hanun tersenyum bahagia dan segera menghampiri Inda. Pipi cemong dan rambut yang sudah tidak tertata bahkan setengah basah oleh keringat menjadi pemandangan yang khas bukti bahwa Hanun bekerja keras.


Inda menggandeng Hanun erat tanpa sadar jikalau mereka sedang diperhatikan oleh seseorang di balik meja kerjanya.


Ya, hari ini Farrel sedikit terbantu dengan adanya Hanun. Farrel jadi lebih leluasa mengurusi hal-hal yang bersifat pembukuan tanpa harus banyak turun tangan mengatasi masalah pada mesin truck-truck itu.


Mata Farrel entah sadar atau tidak terus mengikuti gerak-gerik dua gadis itu. Sampai akhirnya mereka keluar dari bengkel.


Farrel menyandarkan tubuhnya kemudian membuang napas pelan, diusapnya rambut ikal miliknya.


Seperti ada rasa yang kini tengah berkecambuk dalam dadanya. Tetapi apa? Pada siapa?


***


Inda pulang menaiki ojeg online yang tadi dipesannya setelah berpisah dengan Hanun, karena memang tempat tinggal mereka yang berlainan arah.


Setibanya di pintu masuk gang, Inda beserta ojegnya dihadang sekumpulan pemuda yang sedang nongkrong di pos kamling daerah itu.


Inda nampak ketakutan terlebih salah satu dari pemuda itu menarik paksa sang driver ojeg.


Inda pun terpaksa turun, ah padahal pintu masuk gang ini dengan jarak kostannya masih jauh.


"Ampun Bang ... ampun."


Pekik ketakutan pun terdengar dari sang driver.


"Di sini daerah kekuasan kita, dilarang keluar masuk lebih dari jam sembilan malam! Pergi loe!"


Ruli, salah satu pemuda yang nampak berkuasa mendorong driver hingga terjungkal ke belakang.


Inda sangat terkejut dibuatnya, hendak menolong tetapi dirinya pun ketakutan.


Sang driver menaiki motornya tergesa-gesa dan pergi meninggalkan Inda yang ketakutan.


Selagi Ruli dan kawan-kawannya sibuk menertawakan sang driver, Inda berniat untuk lari.


Namun baru beberapa langkah, kerudung panjangnya ditarik ke belakang oleh Ruli.


"Lepasin!"


Percuma Inda menyentak-nyentak kerudungnya yang terlanjur dipegang oleh Ruli.


"Hust ... sudah malam, jangan teriak-teriak!"

__ADS_1


Ruli berjalan semakin mendekat tanpa melepaskan kerudung milik Inda. Setelah berada di dekat Inda, Ruli menciumi kerudung panjang milik Inda. Hal tersebut membuat Inda ingin muntah dibuatnya.


"Wangi."


Ruli semakin berani dengan menarik kerudung itu hingga Inda jatuh dalam pelukannya.


Inda meronta, berteriak.


Namun di sekelilingnya hanya orang-orang yang sedang menertawakannya.


Inda menginjak kaki Ruli dan berusaha lari. Lagi-lagi Inda gagal, bahkan kini dia berada dalam gang yang sempit lagi gelap.


Enam orang pemuda berandalan itu sudah mengelilinginya dan bunyi tawa menggema di telinga Inda.


Ya Alloh, tolong aku.


"Kita gilir yuk!"


Sontak Inda membulatkan matanya pertanda keterkejutan dan ketakutan yang menjadi satu. Deraian air mata mulai menetes di pipi mulusnya.


"Lepaskan aku! Aku mohon ...."


Inda merekatkan kedua telapak tangannya di depan dada.


"Udu dudu ... kasihan."


Tangan Ruli semakin nakal mengusap pipi Inda. Inda mengelak namun dengan cepat Ruli menarik dagu Inda.


Ditengah kegelapan Ruli masih bisa melihat sorot mata Inda yang berkilatan. Hal itu semakin membuatnya ingin berbuat lebih.


Ruli menyeret Inda sedikit menjauh dari teman-temannya.


Tawa mengiringi kepergian Ruli yang menyeret Inda.


Sampailah di sebuah lahan kosong di belakang kompleks, Ruli menghempaskan Inda ke rerumputan yang lebat.


Inda segera bangun dan beringsut ketakutan, terlebih Inda belum pernah ke tempat seperti ini sebelumnya.


"Lepaskan ... tolong!"


Suara Inda sudah parau akibat menangis.


Ruli tertawa keras membuat Inda semakin ketakutan.


Hei dimana semua warga?


Apakah mereka terlalu pulas dalam tidur, hingga tidak tahu bahwa Inda butuh bantuan?


"Minta tolong sama gue? Warga aja gak ada yang berani keluar karena takut berurusan sama gue. Sebenernya gue pengen banget nyicipin loe malam ini juga, tapi dipikir-pikir kalau dicicil pasti lebih puas deh. Boleh kan gue nyicil?"


Dikira Inda panci kali ya.


Ruli kembali mendekati Inda, kali ini Inda masih terduduk di atas tanah berumput berusaha menyeret tubuhnya menjauh. Lemas terasa tubuhnya bahkan untuk berlari rasanya Inda tidak sanggup.


Oh tolonglah Inda!


Ruli sudah berada amat sangat dekat, jemari besarnya kini sudah mengelus pipi Inda. Sejenak Ruli berhenti sembari memperhatikan wajah Inda dengan seksama.

__ADS_1


Kenapa tiba-tiba Ruli tidak tega melihatnya?


Sorot mata ketakutan membuat tusukan tepat pada dadanya.


Ah bukankah Ruli seorang berandalan?


Lalu kenapa tiba-tiba Ruli merasa kasihan?


Ruli segera membuang jauh pikiran-pikirannya dan melancarkan aksinya.


Ruli mencengkram wajah Inda kemudian mencicipi kehangatan dari seorang gadis yang selalu menjaga tubuhnya.


Sebelum semua terlanjur jauh Ruli melepas Inda, membiarkannya tertatih pergi.


Ruli memperhatikannya hingga bayangan Inda tidak lagi terlihat.


***


Sakit.


Bukan kesakitan badan yang diderita Inda kini.


Sakit.


Inda merasa hancur walaupun kehormatannya tidak sampai ternodai.


Inda membuka gerbang pintu kostnya dengan gemetar. Menahan gejolak yang terkungkung dalam dada. Betapa lemahnya dia sebagai wanita.


Sesal.


Semua yang terjadi akan disesalinya seumur hidup.


Inda gagal menjadi wanita suci.


Ini semua karena pria yang bahkan tidak mengenal air wudhu.


Inda membuka pintu kamarnya, Inda menutup pintu itu dan menguncinya. Inda terduduk di dekat pintu, Inda menanggalkan kerudung panjangnya.


Masihkah pantas dia memakai kerudung itu?


Inda berdiri dan menuju kamar mandi. Diambilnya sikat yang biasa dipakai untuk menyikat pakaian. Inda menggosok kedua pipinya dengan keras. Inda juga menyikat bibirnya kuat-kuat. Perih yang dirasa hingga darah segar yang mengucur dari bibirnya tak dihiraukan.


Inda benci wajahnya.


Masih terus menyikat wajahnya hingga goresan luka muncul. Inda berhenti dan terengah. Kini dipandangi wajah mulus itu tak lagi semulus tadi. Kini goresan luka menghiasi wajahnya. Bahkan air tidak dapat menghentikan rembesan darah segar yang masih mengalir.


Inda berkali-kali membasuh wajahnya walau perih, tetapi baginya rasa perih itu tidak sebanding dengan perihnya hati.


Inda keluar dari kamar mandi, ditutupnya wajah itu dengan handuk. Inda duduk di tepian tempat tidur sambil menahan perih.


Inda membaringkan tubuhnya berharap malam ini hanyalah mimpi atau sebuah rekaan dari seorang penulis abal-abal. Inda berharap hari esok dia mendapati dirinya lupa akan kejadian yang membuatnya hancur ini.


.


..


...

__ADS_1


...


.


__ADS_2