
Fahira tidak tahu caranya menenangkan Adam, dia berusaha memberinya susu yang baru saja diseduhnya namun nampaknya Adam merajuk. Dia menutup mulutnya saat dot itu disodorkan kepadanya. Hari sudah sangat malam Fahira takut tetangganya bangun dan mendengar tangisan Adam.
Fahira dengan frustasi akhirnya menggendong Adam dan menimangnya. Dia melakukannya seperti apa yang pernah dilakukan Sus Erni ataupun Farrel.
Ah Fahira mendadak teringat suaminya itu, setelah sebulan yang lalu mereka bertengkar tidak pernah lagi mereka saling memberi kabar.
Meski Farrel masih memenuhi janjinya untuk mencukupi segala kebutuhannya. Tetap saja Farrel maupun Fahira hanya berkirim pesan seperlunya. Setiap minggu sejumlah uang dengan nominal cukup tinggi selalu masuk ke rekening Fahira.
Fahira tidak mau bertanya ataupun berterimakasih setiap kali notifikasi M-banking nya berbunyi. Tiap kali Farrel mengirim pesan uang sudah dikirim, Fahira selalu membalasnya dengan kata iya. Tidak ada embel-embel lain.
Saat masih berusaha menenangkan Adam, Fahira mendengar pintu gerbang terbuka. Apa ada maling? Atau ada tetangga yang protes?
Ah Fahira panik bercampur takut. Bebarapa saat kemudian pintu rumahnya diketuk dari luar. Fahira semakin bergidik saja dibuatnya apalagi Adam menangis semakin kencang membuat Fahira semakin kacau.
"Assalamualaikum, Bu Fahira ini saya Pak Somad."
Sayup terdengar seseorang dari luar memberi salam. Fahira mematung sebentar, hingga akhirnya setelah tiga kali pintu diketuk barulah Fahira sadar dan membuka pintu masih dengan Adam yang meraung di gendongannya.
Saat pintu terbuka Fahira melihat Psk Somad yang merupakan ketua RT berdiri bersama dua orang wanita.
Salah seorang wanita yang diketahui sebagai istri Pak Somad mengambil Adam dan berusaha menenangkannya. Lambat laun suara Adam memelan, Fahira yang menatapnya dengan tatapan tidak terbaca. Dia malu saat ini.
"Maaf Pak, saya sudah membuat kegaduhan." Fahira menunduk dalam setelah Adam tenang lalu kembali tidur dan mereka kini ada di ruang tamu.
"Tidak apa-apa, Bu. Tadi Pak Farrel menelepon saya katanya Bu Fahira hanya sendiri di rumah. Beliau khawatir terjadi apa-apa, untuk itu saya tadi datang kemari untuk memastikan. Tetapi diluar gerbang saya mendengar Adam menangis, untuk itu saya kembali pulang dan mengajak istri saya beserta Bi Asih."
"Jadi bukan karena Adam Pak RT kemari?"
"Iya, awalnya hanya untuk mengecek keadaan Bu Fahira saja."
Fahira bernafas lega, tadinya dis mengira Pak Rt akan menegurnya karena sudah membuat warga terganggu dengan tangisan Adam.
"Untuk malam ini biar Bi Asih menemani di sini. Kata Pak Farrel besok Uwanya akan kemari."
Pak RT melanjutkan bicaranya.
"Terimakasih banyak Pak." Fahira sudah mampu menegakkan kepalanya kembali.
"Bu Fahira ini beruntung sekali punya suami pengertian, iya 'kan Pak? Meski jauh beliau masih tetsp memperhatikan istrinya. Kita jadi iri ya Bi Asih." Bu RT ikut menimpali peecakapan antara suaminya dan Fahira.
__ADS_1
Fahira hanya tersenyum membalas perkataan Bu RT yang menurutnya berlebihan
Akhirnya Pak Somad bersama istrinya pamit pulang sementara Fahira ditemani Bi Asih yang merupakan asisten rumah tangga Pak RT.
Fahira akhirnya tidur di ruang tamu bersama Adam dan juga Bi Asih. Sejak kejadian tadi, Fahira tidak dapat tidur lagi. Akhirnya dia bangun dan mengambil ponselnya yang berada di kamar.
Fahira membuka rentetan pesan yang dikirim Farrel.
"*Kenapa gak bilang Sus Erni pulang?"
"Untung tadi aku nelepon Sus Erni, lain kali ada apa-apa bilang sama aku!"
"Pak RT mau datang ke sana, ngecek keadaan."
"Kata Pak RT Adam nangis? Kenapa gak hubungin aku*?"
Pesan-pesan itu membuat Fahira pusing kala membacanya. Tidak lama kemudian Farrel menelepon Fahira.
Fahira yang masih sendiri di kamar kemudian mengangkatnya.
"Adam udah baik-baik aja?"
"Dia udah tidur lagi."
"Alhamdulillah, kata Pak RT kamu ditemenin Bi Asih?"
"Iya." Fahira menjawab singkat, sungguh ini pertama kalinya dia merasa bersalah pada dirinya sendiri karena tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.
"Besok Uwa ke sana, mungkin menginap beberapa hari sampai Sus Erni kembali bekerja."
Lagi-lagi Fahira menjawab singkat. Dia mengakhiri teleponnya dengan alasan mengantuk tetapi sebenarnya dia menghindari perhatian-perhatian yang Farrel berikan. Menurutnya lelaki sama saja, akan baik diawal dan menghancurkan akhirnya.
Uh kali ini Fahira tidak akan membuat hatinya lengah lagi.
*
Farrel mengusap wajahnya gusar dia sangat khawatir dengan keadaan Fahira dan Adam apalagi tadi setelah Sus Erni memberi tahunya bahwa dia akan libur.
Ya, setiap hari dalam sebulan Farrel selalu menanyakan kabar Fahira dan Adam melalui Sus Erni. Farrel tidak sepenuhnya memdiamkan Fahira dia masih memantaunya dari kejauhan.
__ADS_1
Malam ini setelah mendengar kabar dari Sus Erni, Farrel bergegas menghubungi Pak Somad selaku RT. Dia ingin memastikan Fahira baik-baik saja mengingat dia belum bisa mengurus Adam sendiri.
Ternyata ketakutannya menjadi nyata.
Ah Farrel sedikit bernafas lega setelsh menghubungi Uwa. Dia meminta tolong kepada Uwa untuk menemaniya selama Sus Erni izin. Tentu Uwa langsung menyetujuinya.
Farrel masih memikirkan banyak hal ke depannya. Meski tidak ada cibta dalam ikatannya bersama Fahira setidaknya dia harus menyayanginya sebagai istrinya. Biarlah perasaannya menguap yang terpenting dia tidak akan melepas Fahira pergi seperti Sofia pergi meninggalkannya.
*
Pagi ini tumben sekali Arsen sudah mangkal di depan bengkel Farrel. Dia duduk di bangku memanjang di depan bengkel yang belum buka. Senyuman mautnya terkembang kala mengingat gadis pujaan hatinya membangunkannya pagi ini.
Ya, Hanun meneleponnya untuk pertams kalinya.
Saat sedang tersenyum dengan bayangan indah tiba-tiba seseorang datang dan mengagetkannya karena suara pintu bengkel yang terbuka, suaranya sangat keras hingga membuat Dokter Arseno terjingkat.
Arsen menatap ke belakang ternyata Rulli datang paling awal dan membuka bengkel. Huh meski kesal tetapi Dokter Arseno menahannya. Pagi ini dia ingin berbagi cerita bersama teman yang sepertinya akan menjadi sahabatnya siapa lagi kalsu bukan Farrel.
Sudah menjadi kebiasaan setiap ada kesempatan Arsen selalu menemui Farrel hanya untuk bercerita tentang Hanun atau menanyakan langkah-langkah menaklukan wanita.
Tentu saja Farrel bingung menjabarkannya karena dia belum pernah menaklukan wanita justru wanita yang menaklukan dirinya.
Dokter Arseno melihat motor Farrel datang mendekat, dia berdiri dengan senyuman untuk menyambutnya.
"Assalamualaikum."
Dokter Arseno hanya mengangguk untuk menjawabnya.
"Wah Arsen, pagi-pagi udah nangkring di sini aja. Mau ngebengkel ya?" canda Farrel.
"Iya, tolong perbaiki hatiku."
Farrel terkekeh, sejak mengenal Hanun dokter muda itu jadi banyak berubah dari sifat pendiamnya menjadi sedikit absurt seperti saat ini.
"Sebentar ya, aku ke dalam dulu. Setelah itu kita cari sarapan." Farrel melenggang masuk ke dalam bengkel setelah mendapat anggukan dari Arsen.
.
.
__ADS_1