SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~

SETELAH KAU PERGI ~Story About Farrel~
SEMUA RASA YANG BARU TUMBUH


__ADS_3

"Anda siapa?"


Farrel bertanya tetapi matanya berpaling. Farrel sungguh tidak sanggup melihat Inda yang kini tepat berada di hadapannya.


Semakin sering bertemu Farrel tidak bisa mengelakkan kemiripan antara Inda dan mendiang istrinya.


Bukankah waktu itu Farrel sudah membuat Inda ketakutan?


Ya, momentum terakhir mereka bertemu adalah ketika Inda menyangka Farrel adalah seorang penjahat.


"Anda yang siapa? Tiba-tiba menuduh teman saya pencuri. Bukankah Anda yang sebenarnya pencuri?"


Ha?


Suryo nampak membuka mulutnya tanda terkejut atas ucapan Inda terhadap bosnya.


Ternyata aku salah, rupa boleh sama tetapi perangai jauh berbeda.


"Kenapa diam? Baru ingat ya siapa saya. Saya adalah orang yang Anda ikuti waktu itu."


Inda sedikit menyombongkan dirinya karena dia berpikiran bahwa Farrel sudah kalah telak oleh ucapannya.


Farrel menggeleng samar, tidak habis pikir dengan tanggapan Inda terhadapnya.


"Yo, bereskan ini!"


Kemudian tanpa berkata-kata lagi Farrel melenggang pergi meski sebelumnya mata Farrel kembali bersitatap dengan Inda.


"Ish ... dasar songong."


Rupanya Inda masih belum puas membuat Farrel kesal.


Seketika Farrel berhenti dan berbalik badan, matanya menghunus tajam menatap Inda.


Peduli amat mau mirip Sofia atau mau mirip Markonah. Kini Farrel marah.


"Bo-Bo-s ...." Suryo tergagap, baru kali ini Farrel kembali bersikap bringas setelah sekian lama.


Farrel berjalan semakin mendekati Inda, rahangnya yang mengeras menandakan saat ini Farrel memang sedang marah.


Farrel perlahan berjalan semakin mendekat, membuat Inda yang ditatap sedari tadi membusungkan dadanya pertanda menantang.


Setelah jarak semakin terkikis hanya tinggal dua langkah lagi jarak diantara mereka, Farrel berhenti.


Hanun dan Suryo kebingungan apakah yang akan terjadi?


Apakah akan terjadi pertandingan gulat?


Farrel memperhatikan wajah Inda dengan seksama.


Sadar Rel, dia bukan Sofia bukan Sofia.


Sunggingan senyum miring khas milik Farrel keluar membuat Inda sedikit merinding dibuatnya.


"Tuh belek gede bersihin dulu gih!"


Seketika itu suasana menjadi hening, Inda salah tingkah dan mengerjap tak berdaya. Sementara Hanun dan Suryo sedari tadi menjungkal karena realita tak sesuai ekspektasi.


Farrel berjalan santai melewati Inda menuju sebuah lemari di sudut ruangan itu. Farrel mengambil pakaian ganti, sarung, beserta sajadah. Setelah itu Farrel kembali pada tiga orang yang masih mematung kecuali Inda yang terlihat mencoel-coel sudut matanya.

__ADS_1


"Nanti saja ngurus merekanya Yo, kita break magriban dulu."


Farrel keluar bengkel meninggalkan Suryo yang masih kebingungan atas apa yang baru saja terjadi. Sebelum akhirnya Suryo mengerjap menyadarkan diri.


"Kalian jangan kabur ya! Tunggu sampai selesai break. Apalagi kamu!"


Suryo menunjuk Hanun yang seketika menunduk.


Setelah memberi ancaman, Suryo pun keluar bengkel menyusul Farrel yang sudah lebih dulu keluar.


Hanun menarik napas berat kemudian menoleh ke arah Inda yang masih sibuk dengan matanya.


"Udah bersih Nda."


Hanun mendekat.


"Aah ini memalukan Nun, memalukan!"


Inda menghentakkan kakinya ke lantai bentuk protes dan tidak terima atas apa yang baru saja dialaminya.


"Udahlah, jangan diladenin! Gak baik buat hati kita."


Eh?


Inda menatap Hanun.


"Hati?"


"I-itu maksudku iya nanti hati kita jadi semakin benci, kesal gitu deh."


Hanun tidak tahu mengapa disaat seperti ini dirinya malah membahas soal hati.


"Nun, sholat?"


Inda bertanya hati-hati, bagaimanapun kejadian waktu itu tidak ingin dia ulangi lagi.


Hanun menggeleng samar, sungguh Hanun ingin tetapi dirinya masih ragu.


Inda tersenyum kemudian menggandeng Hanun untuk keluar dari bengkel itu.


***


Tidak lama kumandang adzan magrib terdengar.


Inda mengajak Hanun ke mesjid terdekat dan ternyata Farrel sudah ada di sana. Hanun memilih menunggu Inda di luar mesjid. Membiarkan Inda beribadah dan duduk menyaksikan orang-orang berjamaah.


Hanun terenyuh.


Selama ini apa yang diperbuatnya di dunia ini. Hal baru semacam ini sungguh membuat Hanun merasa tertinggal.


Hanun masih memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan orang-orang dalam mesjid itu, sesekali mencoba menggerakkan anggota tubuhnya mengikuti gerakan mereka. Hanun tersenyum geli pada dirinya sendiri. Hanun memperhatikan sekeliling dan menggeleng-gelengkan kepalanya merasa lucu dengan apa yang diperbuatnya.


***


Sholat berjamaah telah usai. Orang-orang mulai keluar dari mesjid satu persatu. Hanun berdiri menunggu Inda dengan senyum mengembang.


Perlahan pandangannya menyorot pada Farrel yang baru saja keluar mesjid. Farrel nampak sedang berbincang hangat dengan seorang jamaah mesjid. Senyum Farrel tak pernah surut ketika berbicara dengan jamaah itu.


Peci yang dikenakannya membuat wajah Farrel kian terpancar mengalahkan sinar purnama malam itu. Hanun merasa ada bagian dari dirinya yang bergetar saat melihat Farrel.

__ADS_1


Oh kenapa?


Perasaan apa ini?


Karisma Farrel mampu membuat seorang Raihanun terpikat.


***


Di sisi lain Inda nampak keluar mesjid dan kini berada di teras. Tanpa sengaja Inda melihat Farrel beberapa langkah di dekatnya. Bayangannya kembali pada bagaimana Farrel memperlakukannya, mempermalukannya, tetapi mengapa Inda senang?


Inda tersenyum kala mengingat hal itu. Belum pernah ada seorang laki-laki yang berbuat apa yang Farrel perbuat terhadapnya.


Selama ini laki-laki yang ditemuinya selalu mengumbar rasa suka bahkan ada yang menggodanya. Namun Farrel?


Ah, Inda kembali tersenyum sambil memperhatikan Farrel dan senyumannya yang hangat.


Apakah dia orangnya ya Alloh? Apakah dia seseorang yang patut aku kagumi?


Nah loh, Farrel dapat dua.


***


Hanun di seberang sana pun masih berangan pada sosok Farrel sampai ada seorang anak kecil yang menabraknya sehingga buyarlah sudah angan itu. Hanun kembali membawa jiwanya pada kenyataan.


Ya, kenyataan.


Untuk apa berharap pada sesuatu yang tidak mungkin didapat.


Hanun menggelengkan kepalanya kemudian mencari sosok Inda.


Betapa terkejutnya Hanun kala melihat apa yang sedang dilakukan Inda.


Oh apakah dirinya pun tadi terlihat bodoh seperti itu?


Inda masih tersenyum-senyum sambil melihat ke arah Farrel. Seketika itu Hanun sadar seutuhnya.


Hanun tersadar siapa yang cocok berada ditakdir itu seandainya ada garis masa depan.


Hanun tersenyum getir. Jujur, Hanun melihat keserasian antara Farrel dan Inda.


Kemudian Hanun menatap dirinya sendiri pada jendela mesjid di kejauhan sana. Betapa lusuhnya dia.


Kemeja kotak-kotak berwarna pudar, rambut diikat sembarang, dan celana jeans rombeng yang dikenakannya. Ah Hanun sadar levelnya ada dimana.


Sebelum semua rasa menjadi pahit, Hanun memilih lebih dulu ke bengkel sebelum mereka terlihat semakin cocok. Hanun memilih pergi sebelum semua rasa yang baru tumbuh semakin kuat.


Hanun memilih melepas semua hayalan yang memang dia sadari tidak mungkin terjadi.


Hanun berjalan menuju bengkel dengan tersenyum. Sudah biasa, dia biasa terluka ditendang orang. Tetapi ini ....


Rasanya sakit sekali.


.


.


.


..

__ADS_1


..


__ADS_2