
Fahira menjaga jarak selama dibonceng oleh Farrel, dia melihat punggung lebar itu.
Lebar banget kayak tembok.
Fahira kemudian mengalihkan pandangannya melihat pemandangan jalan. Ah dia bahagia sekali akhirnya dia bisa kembali menghirup udara luar. Tanpa sadar dia merentangkan kedua tangannya. Motor Farrel melindas aspal yang tidak rata sehingga membuat motor itu sedikit oleng. Fahira yang kaget langsung berpegangan pada pinggang milik Farrel. Setelahnya dia langsung tersadar dan melepaskannya.
"Pegangan aja, udah sah 'kan?"
Idih.
Fahira bergidik hal itu dilihat oleh Farrel melalui kaca spion. Farrel tertawa kecil dibuatnya.
*
Setelah perjalanan yang dirasa jauh oleh Fahira akhirnya motor itu berhenti di depsn sebuah rumah.
Rumah milik Farrel yang bercat abu muda itu terlihat sederhana dimata Fahira.
"Mari masuk! Papa ada di dalam." Farrel mengajak Fahira masuk dan kembali menjinjing tas Fahira tanpa disuruh.
Setelsh masuk ke dalam rumah, Fahira mendapati ayahnya sedang berkutat dengan ponselnya. Fahira tahu pasti itu urusan pekerjaan. Setelah mengetahui kedatangan Fahira, Pak Subagyo memberikan ponselnya kepada Yunus kemudian menghampiri anaknya.
"Akhirnya kamu datang, Nak."
Pak Subagyo menggiring Fahira untuk menduduki sofa bersamanya. Sementara Yunus pergi keluar rumah untuk menyelesaikan pekerjaan Pak Subagyo di ponselnya.
"Sebenarnya ada apa Papa meminta aku datang kemari?" Fahira tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
Pak Subagyo menatap Farrel yang baru keluar dari kamarnya untuk menyimpan tas Fahira.
"Ada kejutan buat kamu."
"Kejutan apa? Jangan bilang ada acara bulan madu di sini!"
Pak Subagyo tertawa dan berkata, "Wah sepertinya ini kode Rel."
Farrel hanya tersenyum sementara Fahira gelagapan sendiri dia merasa terjebak di sini.
"Ish Papa, terus ada apa?"
Fahira mengeluarkan jurus manyunnya hal itu selalu sukses membuat Pak Subagyo luluh. "Nanti kamu akan lihat sendiri, sekarang sebaiknya kamu istirahat dulu. Kondisi kamu masih belum stabil sehabis melahirkan."
Farrel bangkit dari duduknya dan mwngajak Fahira untuk pergi ke kamarnya. Fahira yang merasa baik-baik saja terpaksa harus menahan rasa penasarannya dan mengikuti Farrel.
Farrel membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Fahira masuk.
"Ini kamar siapa?" tanya Fahira.
__ADS_1
"Kamar kita."
Fahira langsung menoleh ke arah Farrel yang saat ini keluar dari kamar dan menutup pintunya.
Fahira melihat sekeliling kamar yang lagi-lagi terlihat sederhana dimatanya. Ranjang yang cukup besar, dinding kamar yang polos tanpa hiasan hanya ada jam dinding tertempel di sana. Fahira berjalan menuju jendela kamar yang masih tertutup. Dia membukanya dan takjub ternyata di samping kamarnya adalah pesawahan. Padahal yang terlihat di depan seperti rumah diperumahan biasa.
Fahira duduk di atas kasur bersprei putih itu.
Lumayan empuk.
Fahira merebahkan tubuhnya meski tidak lelah tetapi dia merasa pegal diseluruh tubuhnya. Dia menolak saat Pak Subagyo akan memanggil tukang urut ke rumahnya karena merasa diurut sehabis melahirkan hanya tradisi belaka.
Fahira memejamkan kedua matanya. Tiba-tiba terdengar sangat jelas di telinganya suara tangisan bayi. Fahira sedikit kaget dan kembali membuka matanya.
Kenapa dia tiba-tiba teringat bayinya?
Ah tidak! Mungkin itu bayi tetangga.
*
"Bagaimana Nak? Apa Jahira ada di rumah?" Pak Subagyo bertanya pada Farrel yang baru saja menyudahi sambungan teleponnya bersama Inda. Dia menelepon Inda untuk menanyakan keberadaan Hanun.
"Sepertinya Hanun ada di rumah, karena dia tidak bekerja hari ini."
Pak Subagyo sumringah, denga penuh semangat Pak Subagyo mengajak Farrel untuk segera pergi ke rumah Hanun.
Farrel membuka pintu kamar tanpa mengetuknya dia melihat Fahira sedang duduk di atas kasur. Fahira terkejut dengan kedatangan Farrel dan langsung berdiri.
"Lain kali ketuk pintu kalau mau masuk!"
Farrel tersenyum kemudian berkata, "ayo! Papa mengajak kita ke suatu tempat."
Fahira ingin bertanya lagi tetapi Farrel sudah terlanjur pergi.
Tadi nyuruh istirahat sekarang ngajak pergi gimana sih si Papa.
Fahira keluar kamar meski rasanya malas sekali.
Akhirnya Farrel, Fahira, dan Pak Subagyo bersiap untuk berangkat ke rumah Hanun tanpa Yunus yang masih harus bekerja dari rumah.
"Kalau pesan taxi online kemungkinan nunggu lama lagi. Jadi gimana Pa?" Farrel bertanya kepada Pak Subagyo ketika mereka telah berada di luar rumah.
"Kalau ada, naik taxi biasa aja, Nak. Biar gak nunggu-nunggu lagi."
Fahira makin penasaran hal apa yang membuat ayahnya terlihat sangat tidak sabar.
"Ada, tapi di ujung jalan sana. Di depan sana jalan raya," tunjuk Farrel.
__ADS_1
"Tidak apa-apa hanya jalan kaki sedikit, iya kan Ra?"
Fahira mengangguk, mereka pun berjalan menuju ke jalan raya. Tiba-tiba saja di tengah jalan Fahira merasakan sakit di bagian bawah perutnya dia berhenti berjalan dan memegangi perutnya sambil meringis.
Pak Subagyo dan Farrel yang melihatnya menjadi khawatir.
"Kamu tidak apa-apa Nak?"
Fahira menggeleng meski sakit.
"Bagaimana? Biar saya yang cegat taxinya biar datang kemari. Kalian tunggu saja di sini." Farrel hendak pergi tetapi Fahira menahannya.
"Aku gak apa-apa, ayo jalan lagi." Fahira mendahului jalan Farrel meski sakit dan ngilu dia rasakan. Tiba-tiba saja Farrel berjalan cepat dan menghadangnya, dia berjongkok membelakangi Fahira.
"Naik!"
Apa? Fahira menolak, apalagi ini akan menjadi tontonan orang.
"Gak mau, ayo jalan aja!"
"Naik saja Nak, maafin Papa yang lupa akan kondisimu."
Melihat ayahnya yang terlihat sedih Fahira pun mengikuti keinginannya untuk naik ke punggung Farrel.
Aroma sampo menguar ketika Fahira berada di punggung Farrel. Ini romantis sekali, dulu Ammar tidak pernah menggendongnya seperti ini. Haissh Fahira menggelengkan kepalanya karena tersadar dia membandingkan Farrel dengan Ammar.
Farrel menggendong Fahira menuju ke jalan raya, lalu menurunkannya setelah sampai.
Mereka pun menghentikan taxi yang sedang melaju dan masuk ke dalamnya.
Dalam perjalanan tidak ada yang berkata-kata hening seperti sebuah radio yang tidak ada saluran hanya ada suara deru mobil dan aktivitas hiruk pikuk jalan.
Beberapa saat kemudian, taci berhenti di depan rumah Hanun. Fahira bertanya-tanya rumah siapakah itu, rumah itu bahkan jauh lebih sederhana dari rumah Farrel.
"Itu rumah siapa Pa?" tanya Fahira.
"Nanti kamu akan tahu." Pak Subagyo keluar dari taxi terlebih dahulu.
Fahira sedikit tersentak ketika pintu taxi di sisinya terbuka sendiri, ternyata Farrel yang membukanya.
Farrel berjongkok di depannya kemudian bertanya, "masih sakit?" Mata Farrel mengarah ke perut Fahira. Seketika Fahira memegangi perutnya dan merasa risih karena dipandang oleh Farrel dengan jarak yang lumayan dekat.
"Yang sopan ya kamu!" Fahira sedikit mendorong Farrel dia benar-benar tidak suka atau bahkan trauma diperhatikan seintim itu oleh seorang laki-laki.
Farrel akhirnya berdiri memberi jalan Fahira untuk keluar dari taxi.
.
__ADS_1
.