Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)

Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)
9. Leluhur dan Penyihir


__ADS_3

Aroma kopi yang sepertinya baru saja diseduh memenuhi ruangan, Lyra menghirup aromanya yang menenangkan tersebut sembari merapal kan sesuatu. Dia tahu sang ibu memerhatikan gerak mulutnya meski dia tidak membukakan mulutnya terang-terangan. Kemudian dia mengambil segelas air putih dari keran dan meneguknya habis, sekilas dia melirik sekelilingnya dan tidak mendapati keberadaan ayahnya di sekitar.


"Ayahmu di beranda, aku juga tidak menyangka pagi-pagi begini ada tamu yang datang."


Hebat, ibunya bisa mengetahui apa yang tengah dia pikirkan.


Lyra berjalan menuju beranda usai bercakap singkat dengan ibunya, lalu mendapati sang ayah duduk menghadap lawan bicaranya yang mana si lawan bicara otomatis menghadap ke arah dimana dia datang. Orang itu melihatnya dan tersenyum, kemudian sang ayah menyadarinya hingga dia berbalik dan mengajak Lyra bergabung untuk duduk bersama mereka. Sekali lagi, dia menghirup aroma kopi tersebut dan menjadikannya sebagai aroma terapi untuknya di pagi hari.


Orang itu memiliki kumis tebal dengan rambut berwarna hitam gelap, pipinya agak sedikit kempot dan dia memperkirakan kalau usianya sekitar lima puluhan tahun, lebih tua beberapa tahun dari ayahnya. Orang itu mengenakan setelan santai tetapi di tangan kanannya terdapat arloji mengkilap yang terlihat sangat mahal.


"Ini anakmu?" tanyanya, suaranya berat dan serak, khas orang tua.


Sang ayah menganggukkan kepalanya sembari menyesap kopinya yang masih panas. Kebiasaan aneh ayahnya, minum kopi di pagi hari saat musim panas.


"Lyra." ujarnya kepada orang itu.


"Dia teman ayah, dari golongan Ducis." Lyra seketika terkejut, bisa-bisanya seorang Ducis datang dengan sukarela di pagi hari seperti ini ke kediaman Civitas. "Dia hanya ingin mampir, kebetulan lewat." jelasnya.


"Ceritanya panjang." orang itu ikut dalam perbincangan. "Jangan bertanya bagaimana kami bisa bertemu, tapi ayahmu, dia adalah orang yang sangat baik."


Sang ayah tersenyum ke arahnya, "kau ingin mendengar cerita menarik, nak?" tanyanya.


Lyra menatap mereka bergantian sembari berpikir, kenapa sang ayah tiba-tiba menawarkannya sebuah cerita. Biasanya dia sulit membeberkan apa-apa kepada Lyra, tapi kali ini berbeda sekali. Apa karena sedang ada tamu? Entahlah.


"Sebelumnya, kenalkan aku," tukas teman ayah, "namaku Matvey, dari golongan Ducis dengan jabatan yang lumayan di sana. Aku punya dua anak laki-laki dan mereka sedang menggarap tugasnya untuk ikut berpolitik dengan ku. Ku rasa cukup sampai di situ saja perkenalannya, aku tahu anak muda tidak suka mendengar percakapan yang membosankan seperti itu. katanya lagi.


Lyra tertawa dan mengakuinya bahwa hal apapun sangat membosankan, baginya.


"Ayahmu mungkin belum menceritakan tentang leluhur kita yang berkerabat dengan penyihir. Sekarang aku akan menceritakannya kepada mu, kau siap Lyra?"


Lyra melihat sang ayah sekilas dengan tatapan tidak percaya yang di balas senyuman tipis oleh ayahnya sembari memiringkan kepalanya untuk menyetujui.

__ADS_1


"Ya, aku siap." balasnya.


Lalu Matvey mengisahkan perihal leluhur mereka yang lebih dulu hidup dalam dua dekade lalu. Mereka terkadang berkerja sama dengan penyihir, bahkan beberapa Lycan menikah dengan penyihir. Hubungan mereka sangat erat, sampai pada akhirnya penyihir tersebut ingin berpindah tempat tinggal dan hanya menyisakan beberapa orang penyihir saja di Polandia waktu itu. Para Leluhur berupaya sendirian dan mencoba berdamai dengan keadaan dimana mereka harus beradaptasi dengan lingkungan manusia yang hidup berdampingan bersama mereka. Namun, ada satu cerita menarik di sana, seorang penyihir belajar mantra baru untuk bisa berubah menjadi serigala juga. Dia seorang ahli ramuan pada awalnya dan dapat menyembuhkan siapa saja, termasuk manusia normal hingga pada akhirnya dia bosan karena selama hidupnya hanya bergelut dengan obat-obatan dan orang-orang yang sakit.


Dia mendatangi temannya yang punya banyak mantra sampai dia sendirian bingung bagaimana cara melupakan sebagian dari semuanya itu. Dia meminta untuk diajari beberapa mantra perubah bentuk kemudian meminta persetujuan sang leluhur agar dia bisa menjadi bagian di lingkungan Lycan pada umumnya, dia tidak tahu bahwa percobaan tersebut berhasil hingga dia ditemukan sedang menguliti dirinya sendiri. Ternyata dia frustrasi atas percobaannya yang berhasil tersebut di karenakan dia lupa untuk mencari mantra bagaimana mengembalikannya dengan wujud manusia. Hingga saat ini, dia hidup bersama Lycan lainnya, menjadi pengikut Tefra yang sampai saat ini masih menjadi leluhur yang entah kapan bisa ditemukan. Beberapa penyihir tidak dapat selamat dalam peperangan tersebut meski mereka tidak ikut serta, ada satu penyihir yang berhasil memanipulasi usai peperangan sehingga tidak menimbulkan kecurigaan. Dia membakar habis korban-korban dan lalu meninggalkan Polandia tanpa jejak, tidak ada yang melihatnya usai dia melakukan manipulasi tersebut. Namun, dari isu yang beredar bahwa penyihir tersebut ikut tinggal ditempat dimana dia seharusnya tinggal, bersama para penyihir lainnya. Leluhur sangat berterimakasih karena dia sudah mau menjaga rahasia itu dan menutup semua hal yang bisa saja menimbulkan efek yang sangat parah.


"Ayah tidak menceritakan soal penyihir, aku tak tahu kalau ada penyihir yang hidup di dunia ini." aku hampir teriak mengatakannya.


"Ya, karena ayah memang tidak suka penyihir, meski hebat, mereka mahkluk yang ceroboh." aku sang ayah. "Aku tak habis pikir bagaimana wujud serigala yang dibuat olehnya tersebut."


"Apakah ada kemungkinan mereka semua bisa ditemukan?" tanya Lyra pada Matvey.


Matvey mengangguk, "kalau soal itu, bisa. Tapi sayang sekali, leluhur kita meminta para penyihir untuk meniadakan lokasi dimana mereka tinggal."


Mungkin Lyra bisa mencari keberadaan mereka itu, lagipula dia sangat penasaran dengan Tefra, leluhur mereka yang paling tua yang sampai saat ini masih hidup. Begitu pikirnya. Dia yakin Tefra masih hidup, dia sedang berupaya bertahan hidup untuk melindungi rakyatnya yang sudah percaya padanya. Namun, mengapa dia tidak mencoba menyuruh beberapa rakyatnya untuk mencari manusia serigala yang dulu pernah hidup bersama mereka? Mengapa Tefra membiarkannya seolah mereka tidak pernah hidup sebelumnya?


Lyra merasa dia harus bertanya, tetapi sang ayah menegurnya. Dia tahu apa yang sedang Lyra pikirkan rupanya. Namun, tak lama, dia merasakan nyeri di dadanya seolah paru-parunya sedang diremas kuat oleh banyak tangan sehingga tidak membiarkan dirinya untuk bernapas dengan leluasa, semakin dia mencoba menarik napas dalam-dalam semakin dadanya terasa nyeri tak karuan. Dia bersumpah, rasanya ingin pingsan saja tetapi pertahanannya kuat sekali sampai dia tidak menyadari darimana kekuatan itu berasal.


"Ada apa denganku?" tanya Lyra pada ayah dan ibunya sembari menahan nyeri yang menghujam.


Matvey datang dari belakang mereka berdua dan melihat Lyra dengan tatapan yang penuh curiga. "Apakah hal ini tidak biasa terjadi padanya, Peal?" tanyanya pada sang ayah. "Kenapa kau tidak bawakan dia ke Feroces saja?"


"Feroces?" Lyra menggelengkan kepalanya kuat-kuat supaya mereka tidak membawanya ke sana. Lagipula untuk apa mereka membawanya ke sana? Toh dia sudab baik-baik saja, hal ini tidak sering terjadi.


"Tidak, kau tidak akan ke sana, nak, lagipula aku tahu, hal ini jarang terjadi. Karena aku dulu pernah merasakan hal serupa, sebab sesuatu yang amat sangat sulit diterima." ucap ayahnya.


Sang ibu yang tadinya terus bertanya, kini sudah sedikit lega. Lyra juga sudah mulai merasa sedikit lebih baik dan tidak terlalu nyeri, perasaan-perasaan aneh ini muncul entah darimana asalnya dan juga pertahanan yang kuat yang dia rasakan saat itu muncul dengan sendirinya juga. Dia begitu penasaran, apa yang terjadi dengannya dan mengapa baru-baru ini perasaan itu menyakitinya secara langsung tetapi perlahan-lahan. Seolah menginginkan dirinya untuk mati sembari menikmati rasa sakitnya.


"Kau tak perlu curiga, Mat, anak ku akan baik-baik saja." kata ayahnya kemudian mengajaknya untuk turun dan kembali ke beranda lagi.


Sementara itu, ibunya menemaninya di kamar dan menatapnya dengan tatapan yang tidak dia mengerti sama sekali. Yang terlihat hanyalah tatapan mata yang kosong, tetapi ketika di cermati ada hal-hal yang sepertinya ingin dia sampaikan atau hal-hal yang sedang mengganggu pikirannya.

__ADS_1


Lyra tahu, dia membuatnya khawatir dengan suara napas yang tersengal, tetapi dia tidak bisa berpura-pura bahwa dia bisa bernapas dengan baik, rasanya benar-benar aneh.


"Bu," panggilnya.


Sang ibu nampak terkejut dengan panggilan itu, ternyata ibunya sedang melamun.


"Ada apa sayang? Maaf, ibu.."


"Apa yang kau pikirkan?"


Sang ibu menoleh ke arahnya, sekali lagi, tatapan itu seolah menyimpan hal-hal yang ingin disampaikan. Sesuatu yang mungkin selama ini tidak Lyra ketahui.


"Kau akan tahu pada saatnya nanti, jaga dirimu, aku tidak mau kehilanganmu juga." sang ibu meremas tangannya dan mengecup dahinya lembut. "Berjanjilah kau tidak akan kemanapun."


Sebenarnya Lyra tidak ingin mengiyakan perkataan ibunya, alih-alih untuk membuatnya tidak khawatir lagi. Namun, sesuatu terus mengganggunya, hal apa yang mereka sembunyikan darinya sebenarnya? Tanyanya dalam hati.


Jika memang mereka menyembunyikan sesuatu darinya dan tidak kunjung membeberkannya, dia rasa dia harus mencari tahu sendiri. Atau mungkin dia tidak perlu melakukannya, cukup menunggu saat-saat itu tiba. Dan kalau dipikir-pikir, mereka memang akan kehilangan dirinya dan harus berpisah dengannya karena Tetua G akan melaksanakannya dua hari lagi, begitu tidak ironis.


Bahkan mengingat serangan yang dilakukan pasukan Exchanges, kabarnya sudah tenggelam tetapi pemisahan itu tetap akan dilaksanakan. Kenapa Tetua G semakin mengetatkan peraturan sementara bukti dan lainnya tidak sinkron dengan golongan mereka. Rasanya mereka seperti sedang dalam kekhawatiran yang mendalam sehingga pemisahan adalah satu-satunya cara agar dapat memudahkan golongan Ducis untuk menggeret dan menjerat siapa saja yang berperilaku tidak menyenangkan di ruang lingkup wilayah manusia serigala.


"Ibu akan kembali ke dapur," lamunannya terpecah burai oleh munculnya suara sang ibu yang rupanya masih di sana bersamanya. "Kau sebaiknya tidur saja, agar rasa sakitnya sedikit menghilang."


"Tapi ibu akan sendirian memasak." sahutnya lagi.


"Tak apa," sang ibu mengelus tangannya, "kau istirahat saja. Jangan terlalu dipikirkan, sayang."


Lyra membalas meremas tangannya, "maafkan aku sudah membuatmu khawatir, Bu."


Ibunya hanya tersenyum lalu meninggalkan dirinya sendirian di kamar.


Yang menarik dari sang ibu adalah matanya, setiap kali dia tersenyum, ekor matanya akan melengkung seperti bibir yang tersenyum. Meski sudah agak keriput dan kulit yang mengendur akibat usianya yang semakin tua, dia tetap terlihat cantik. Apalagi kalau sudah mencepol rambutnya, dia terlihat sangat anggun. Mungkin itu yang membuat ayahnya jatuh hati padanya, Lyra berharap dia juga bisa seperti mereka.[]

__ADS_1


__ADS_2