
Sejak berpisah dengan Chrysler di salah satu pondok tanaman, Irish mendapatkan Lyra dan dia terus mengoceh dalam perjalanan kembali ke dalam tenda miliknya. Sampai saat itu, Lyra masih belum bertemu Sean dan.. Rick, apakah lelaki itu masih bersama mereka di sana?
"Dia masih di tenda milik temanku." kata Irish saat Lyra bertanya padanya yang tengah membuka perban di lengan Lyra kemudian lanjut mengoceh lagi.
"Apakah nanti aku bisa bertemu mereka?"
"Lyra, mereka baik-baik saja, oke, kau pikirkan saja dirimu dulu. Lagipula kau tidak mungkin dengan penampilan yang begini menemui mereka, kan." ketus Irish, dia mulai lagi.
Semakin sering Lyra bertemu Irish, rasanya akan semakin mudah untuk dia mengenal perawakan perempuan itu. Dia lebih sering mengoceh dan terus berbicara tentang apa saja kepada siapapun, tidak terkecuali dengan Lyra, orang yang baru dia temui siang tadi.
Lyra memperhatikan Irish yang sedang membuka perban pada lukanya yang hampir selesai dan mengindahkan ocehan Irish yang rasanya tiada berhenti. Saat Irish menarik selembar daun yang masih utuh dari lengannya, ocehan itu berhenti tiba-tiba dari mulutnya dan Lyra hanya bisa diam terpaku. Keheningan itu menyiksanya sebenarnya karena Lyra mulai memikirkan hal-hal yang entah muncul dari mana, alih-alih menakuti dirinya dengan apa yang terjadi padanya.
Luka itu meninggalkan bekas hitam gosong yang cukup lebar seperti habis dibakar, untungnya pendarahannya sudah berhenti jadi dia tidak khawatir lagi kalau-kalau dia akan kekurangan darah tapi bukan itu permasalahan sebenarnya, tetapi kenapa bekas cakaran yang dibuat si mata merah menjadi mengerikan begitu.
"Kau tidak merasakan sakit, kan?" tanya Irish, lalu dia cepat-cepat bangkit, "kau tunggu di sini dan jangan keluyuran lagi." Irish memberinya teguran sebagai peringatan terakhir yang mau tak mau Lyra iyakan.
Irish meninggalkannya lagi, di sana, untuk kedua kalinya di tendanya, sementara Lyra yang kebingungan dengan apa yang terjadi masih melongo melihat lengan kirinya yang menghitam, itu benar-benar hitam.
Beberapa waktu setelahnya, Lyra mendengar derap langkah kaki seperti beberapa orang yang mengarah kemari dan terdengar suara percakapan. Irish muncul dan diikuti oleh dua orang di belakangnya, yang mana salah satu dari orang tersebut sangat dia kenali. Orang itu tersenyum padanya seraya menghampirinya lebih dulu dari Irish dan satu orang lagi yang tidak dia ketahui siapa. Orang itu mengenakan baju luaran berwarna hitam dengan lengan panjang, rambutnya yang hitam pendek dengan ujung yang lancip membuat wajahnya terlihat seperti laki-laki sampai Lyra tahu kalau dia seorang perempuan ketika dia berbicara sesuatu, yang mana itu mengejutkan Lyra, membuat jantung Lyra kembali tidak karuan.
"Mundur!" teriaknya kepada Sean yang hampir memegang wajah Lyra.
Dia tahu Sean begitu khawatir dengan keadaannya dan Sean pun sebaliknya, walaupun kelihatannya luka dia lebih serius dibandingkan dengan bekas cakaran yang sekarang menjadi hitam gosong di lengannya. Sean terlihat cemas dan kesal, tetapi tetap mengiyakan perkataan perempuan itu.
"Itu akan menyebar, jadi jangan disentuh!" tukasnya, matanya berkilat-kilat melihat lengan Lyra.
Perempuan itu menghampirinya sendirian, sedang Irish hanya diam saja melihat. Lyra merasa kepergiannya tadi itu memang untuk memanggil perempuan ini. Walaupun perawakannya terlihat seperti penyihir yang jahat, dia tahu bahwa perempuan itu tidak seperti dugaannya. Dia menarik lengan Lyra kemudian mengambil lampu senter, menerangi luka bekas cakarnya.
"Irish, sarung tangan." ujar nya tanpa melihat ke Irish sekalipun. "Kau, ambil pinset nya." katanya lagi kepada Sean.
__ADS_1
Lyra melihat Sean kebingungan, dia melihat kanan dan kirinya bergantian. Mencari alat yang disebut perempuan itu.
"Aku Onyx, sekarang kau menjadi pasienku.." dia melirikku.
"Lyra." katanya, Lyra tidak menyangka kalau perempuan itu akan mengajaknya berkenalan dengan cara seperti itu.
"Kulit mu gosong begini karena terkontaminasi oleh suatu obat dan bakteri yang memang sudah ada di kulit mu, kemudian dia bereaksi. Itu tidak berbaha.."
"Tapi kau bilang itu akan menular." sahut Lyra memotong pembicaraannya seraya mengerutkan dahi sebagai ekspresi tidak mengerti.
Irish memberinya sarung tangan dan disusul Sean yang membawa pinset yang entah dimana dia menemukannya, atau mungkin, tempat ini penuh dengan peralatan medis dan bahan-bahan herbal. Sebab mereka memang sudah seperti seorang dokter spesialis.
Onyx menarik napas dalam setelah memasang sarung tangannya, dia meminta Sean untuk memegang lampu senter dan Irish memegang sebuah wadah putih seperti piring datar. Onyx memegang pinset dan perlahan-lahan mencoba menarik sesuatu yang ada di luka Lyra, dia sontak berteriak karena kesakitan, rasanya seperti dagingnya ikut tertarik dibuat Onyx. Sean langsung menatap Onyx dengan tajam dan bergumam pelan di telinganya yang tidak bisa Lyra dengar meskipun jarak mereka sangatlah dekat, mungkin karena dia sudah kehilangan konsentrasi.
"Maaf, tapi sepertinya aku harus memotong kulitmu." Onyx tiba-tiba berbicara dengan tegas.
"Kau gila ya, kau mau membunuhku perlahan-lahan?"
"Tenang, Lyra, aku tidak mungkin membiarkannya melakukan itu." Sean mencoba menenangkan Lyra dengan caranya, dia mendekati Lyra perlahan-lahan.
Irish dan Onyx saling menatap bergantian, lalu Onyx menaruh pinset di atas piring yang masih di pegang Irish. "Aku akan jelaskan, tolong tenanglah, Lyra. Aku tidak mungkin melukai pasien ku sendiri, lagipula kasus ini benar-benar baru bagiku." dia menaruh kedua tangannya di dada, raut wajahnya berubah menjadi serius, Lyra bisa melihatnya. "aku penasaran, seperti apa bentuk bakteri yang mengkontaminasi kulitmu dan membunuh dengan cepat bakteri-bakteri baik yang ada di sana. Apa kau merasakan seperti di bakar oleh sesuatu?"
Sebenarnya dia sudah tidak ingin mendengar apapun lagi yang diutarakan Onyx, tapi perasaan penasarannya yang sangat besar dan semakin besar seiring waktu, mengalahkan perasaan-perasaan lainnya.
Jadi, dia menceritakan semuanya tentang apa yang terjadi dengannya kepada Irish dan Onyx. Sesekali Irish yang tidak percaya dengan apa yang Lyra ucapkan kemudian menggeleng-geleng kan kepalanya seolah kehilangan tulang leher. Lalu Irish pergi mencari obat bius atau penawar rasa sakit agar Onyx dapat menelitinya lebih dalam. Sungguh berat, tapi Lyra sudah tidak bisa berbuat apa-apa, mungkin jika dia menolak pengobatannya, dia akan segera kehilangan akal sehatnya karena melihat dirinya berubah menjadi hitam.
"Dulunya, semua penyihir mengenalku dengan panggilan Dokter Morb. Aku sering kali menangani masalah-masalah yang menimpa banyak orang saat aku sedang berpetualang. Aku mengembara hampir ke seluruh penjuru Dunia dan hanya satu tempat yang belum bisa ku gapai sampai saat ini." Onyx menyimpan kulit gosong milik Lyra yang berhasil dia dapatkan. "Tempat itu terlalu berbahaya untuk seorang penyihir pemula sepertiku yang tidak memiliki bakat bertarung walaupun terkadang dengan terpaksa aku melukai apapun yang ku rasa mengancam nyawaku."
"Tapi semua orang penasaran dengan kisah panjangnya yang sudah mengelilingi dunia di saat usianya masih muda." sambung Irish. "Kisahnya begitu panjang dan waktu tidak akan cukup untuk menceritakannya."
__ADS_1
Sean berdeham, "Sebenarnya aku tidak menyukai Onyx, dia lebih terlihat seperti seorang penjelajah waktu, gayanya terbilang modis di era Victoria." Sean bangkit dari duduknya, dia nampak lebih segar dari sebelum-sebelumnya, wajahnya bahkan tidak pucat lagi. "Tapi, setelah mendengar ceritanya yang mungkin baru kata pengantar itu, aku mengubahnya. Aku suka seorang yang pemberani, sepertimu." dia menunjuk Onyx dan Onyx hanya mengangkat ujung bibirnya sambil mendengus, dia agak kesal.
Irish ikut bangkit, "Chrysler sebentar lagi akan memulai acaranya, kau mau ikut?" tanyanya pada Lyra.
Lyra hampir lupa dengan pertunjukan itu dan dia tidak mungkin melewatkannya. Bisa jadi, dka kemari hanya sekali itu dalam seumur hidup, bahkan kesempatan seperti ini tidak mungkin datang begitu mudah kepadanya.
"Tentu saja, ak.."
"Ya, kami akan menyusul. Aku masih butuh sedikit waktu untuk berbicara dengan pasienku, jadi kalian pergilah dulu." Onyx bangkit dari duduknya dan mendorong paksa kedua orang itu dengan pelan ke luar tenda.
"Awas kau macam-macam, ya." gerutu Sean sambil melambaikan tangannya padanya, Lyra membalas senyuman dan membalas lambaiannya sekaligus.
"Jadi, darahmu mengeluarkan sebuah nada." tanya Onyx yang tidak perlu ku jawab. "Ternyata masih ada seseorang dengan hidup yang sulit ya, ku pikir hanya diriku saja. Tapi aku percaya, kau akan baik-baik saja. Lagipula, seseorang yang bisa menghipnotis itu adalah vampir, dan kemungkinan dia seorang hybrid. Oh ya, aku lupa, kau tidak tahu hybrid ya. Mereka adalah vampir dengan darah murni yang bercampur dengan darah manusia serigala juga atau seseorang itu memiliki kedua orang tua dari gen yang berbeda. Sehingga dia dapat berubah menjadi vampir dan serigala dengan kehendaknya. Aku yakin sekali, bahkan saat kau bilang dia memiliki mata yang merah. Namun, mengenai aura yang ada, itu mungkin dari dirimu sendiri, bukan dari si hybrid." jelas Onyx.
Setiap dia kembali mengingat peristiwa yang hampir membuat dirinya dan Sean mati, dadanya langsung sesak. Semacam ada peralihan dunia, dia seolah terjebak di dalamnya dan tidak bisa kemana-mana. Semua rasa yang ada bercampur menjadi satu hal yang sangat menakutkan, bahkan kata 'selamat' tidak pernah terbesit sekalipun dalam pikirannya. Sebab semuanya nampak jelas, kekacauan dan kemarahan yang tiada akhir yang di ciptakan oleh si mata merah hybrid. Mengenai alasannya menangkap Lyra, dia akan segera tahu ketika bertemu dengan Rick. Untuk saat itu, di situasi yang tidak menguntungkan baginya itu, Rick yang paling dia butuhkan—dalam artian yang berbeda.
"Aku tahu kau tidak mungkin membiarkan aku berubah menjadi hitam gosong dan aku sangat berterimakasih karena sudah mau menolongku." tukas Lyra saat sudah mencerna semua informasi yang di berikan Onyx padanya.
Dia tersenyum dan Lyra cukup terkejut menyadarinya, "Tentu saja, seorang dokter akan selalu melakukan hal-hal yang berguna dalam hidupnya."
"Tapi, aku masih mau mendengar kisah mu, kau mau berjanji untuk menceritakannya padaku? Kalau pun tidak, aku akan memaksa." Lyra memasang wajah serius.
Onyx tertawa kecil, dia membenarkan rambutnya yang menutup mata. "Selama kau masih di sini, beberapa bab buku pun akan ku bacakan untukmu."
"Aku tahu kau sulit untuk menolak." Lyra ikut tertawa.
"Oh ya, aku akan secepatnya mencari obat penawar dan bertanya kepada teman-temanku, ku rasa aku akan bergadang malam ini. Tapi tidak masalah, siapa tahu kasus ini akan terjadi lagi suatu waktu meski tidak seorang pun mau mengalami hal seperti ini." dia merenggangkan kedua tangannya dan mengangkatnya ke udara, "seperti kata pepatah kuno 'Lalai sesaat adakalanya mencucurkan air mata setahun'."
Lyra harus mengakui kalau Onyx memang orang yang cerdas, bahkan di usianya yang masih muda seperti yang Irish ucapkan, dia sudah mengelilingi dunia dengan atau tanpa orang lain bersamanya. Dia terlewat berani untuk mengambil resiko apapun dan selalu siap dengan situasi.[]
__ADS_1