
Tobias semakin meneriaki Lyra lewat pikirannya agar sedikit memperlambat langkah kakinya. Hanya karena dia melihat seseorang sedang berjalan menuju mobil Hilux miliknya yang tidak bergeser sama sekali dari tempatnya, dia meninggalkan Tobias jauh di belakang.
Lyra berhenti tiba-tiba dan menunduk, takut kalau seseorang yang sedang dia ikuti menyadari presensinya. Kemudian dia meminta Tobias untuk memelankan laju kecepatannya yang memang semakin melambat.
Haah.. rasanya tenaga ku terkuras karena mengejar mu. Keluh Tobias.
Kita harus mengambil sesuatu yang dia tinggalkan. Jangan sampai lengah, Tobias.
Lyra kembali melangkah dengan pelan alih-alih meredam suaranya. Dia sama sekali tidak salah lihat kalau memang ada sesuatu yang terjatuh atau memang orang itu sengaja menjatuhkannya. Dari jarak yang lumayan jauh, benda itu agak berkilau meski lampu remang beserta hujan deras masih mengguyur tempat itu. Perawakan seseorang itu tidak bisa dijelaskan dengan detil karena dia mengenakan baju bertudung untuk menutupi kepalanya dari kucuran hujan. Lyra mungkin tidak akan bertemu orang itu lagi atau dia memang tidak akan menyadarinya jika orang itu bertemu dengannya. Mungkin Lyra akan menandainya dengan celana jeans hitam gelap dan tubuh yang besar itu, meski kemungkinan besarnya orang itu mungkin akan menggantikan bajunya tetapi proporsi tubuh tidak berubah.
Orang itu tidak asing, maksud ku dari ukuran tubuhnya, aku pernah melihatnya. Sela Tobias ketika Lyra mencoba mengingat detil-detil yang bisa mengingatkannya akan orang itu.
Dia menghela napas panjang seraya berjalan mengendap-ngendap, kalau kau tahu orang itu, seharusnya aku mudah untuk menemuinya nanti. Namun, kita hanya akan ngambil benda itu dan masuk ke rumah Carlos.
Baiklah, kalau begitu ayo. Aku akan mengingat-ingat lagi siapa orang itu.
Kemudian mereka berdua berjalan kembali menerobos hujan deras malam itu dengan guntur yang sudah tidak lagi mengganggu. Tetesan air yang kini membuat bulu-bulu mereka basah kuyup terasa lebih barat dari sebelumnya dan meski begitu hal itu sama sekali tidak menganggu Lyra untuk tetap melanjutkan rencananya sebab dia ingin Sean dan ingatan tentang Sean kembali padanya.
Dia masih penasaran setengah mati dengan 'sesuatu' yang berhasil merasuki pikirannya, yang seolah mengambil memori tentang Sean keluar dari otaknya hingga dia tidak ingat sama sekali tentang Sean. Aneh rasanya tetapi itu masuk akal sekarang, kalau bukan karena penyihir yang disembunyikan Carlos, siapa lagi pelaku di balik itu?
Ketakutannya yang menjalari seluruh bagian tubuhnya bagai darah yang mengalir tidak meruntuhkan niatnya untuk mengambil Sean kembali dan menghajar si penyihir habis-habisan. Kalau saja Lyra salah langkah dan mengakibatkannya berada dalam masalah, Tobias akan siap menghadapinya juga. Karena Lyra memang membutuhkan Tobias alih-alih menjaganya kalau-kalau dia akan terkena sihir dan tidak dapat mengontrolnya sampai membuatnya pingsan. Lyra berharap pada Tobias dengan penuh yakin.
Bersiaplah, apabila di sana terdapat aroma sisa sihir, aku tidak yakin aku akan baik-baik saja. Lyra memperingatkan disela-sela rasa takutnya.
Tobias mengejar Lyra pelan-pelan agar dia bisa dengan leluasa melindungi kekasih temannya itu, karena bagaimana pun, Lyra sudah berbaik hati padanya dan membiarkannya ikut andil dalam urusan itu dimana Tobias memang membutuhkan Rick sebab sudah tidak tahu akan kemana dia pergi usai perpisahannya dengan Noel dan Alice.
Lyra terkejut kalau mobilnya sama sekali tidak diganggu gugat oleh siapapun, dia bersyukur karena Carlos tidak mau merepotkan dirinya atau bahkan anak buahnya sendiri untuk mencuri atau mungkin menyembunyikannya dari siapapun. Padahal, mobil yang terparkir di pinggir jalan begitu pasti akan mengundang pertanyaan banyak orang yang lalu lalang tetapi sepertinya hal itu sama sekali tidak dia khawatirkan karena lebih mementingkan kunci sihir yang akan membuatnya hidup dengan umur yang panjang alih-alih sedikit bertambah usia dari yang seharusnya. Lyra tidak mempermasalahkannya, hanya saja Carlos sudah mengacaukan kodrat alam.
__ADS_1
Tobias tidak tahan tidak meringis di kala Lyra sibuk dengan pikirannya yang mulai khawatir dengan banyak hal meskipun dia percaya pada Tobias. Namun, lagi-lagi dia tidak peduli dengan dirinya sendiri karena terpaku pada rencananya.
Jika Rick belum juga memberi tanda, kau jangan memaksa masuk. Sangat berbahaya kalau Cravene menyadari mu juga.
Lyra lagi-lagi menghembuskan napas panjang, moncongnya berkerut. Cravene juga pasti sudah mempersiapkan segalanya dengan matang, dia tahu aku tidak akan menyerah semudah itu.
Benar juga ya, suara tawa Tobias terdengar jelas sejelas suara kucuran hujan. setidaknya kita bisa mengacaukan rencana mereka sedikit saja.
Ku harap kita berhasil. Sahut Lyra cepat.
Benda itu semakin terlihat jelas, meski ukurannya hanya sebesar kacang tanah yang tidak bergerak di tempatnya meski di terpa hujan deras. Lyra sadar kalau itu sebuah ampul, sewarna tomat matang dengan botol kaca yang sudah kotor terkena tanah yang basah. Dia mencoba meraihnya dengan mulutnya perlahan-lahan tetapi sesuatu menyengat hidungnya, seperti sambaran petir lalu dia tumbang begitu saja.
Tobias refleks menahan tubuhnya agar tidak terbanting ke tanah dengan kuat.
Hampir saja. Tobias menghela napas lega, seperti sudah direncanakan. Lanjutnya.
"Permisi, Tuan." seseorang yang datang dari belakangnya mengagetkannya. "Dia tidak ingin memberikannya kepada kita begitu saja kalau anda tidak memenuhi perjanjiannya lebih dulu." tanpa diminta seseorang itu sudah menjelaskan maksud kedatangannya.
Sebuah senyuman tipis tersungging dari bibirnya yang agak pucat, lalu memain-mainkan jemarinya di atas lengan sofa lembut itu. "Kalau begitu, siapkan kunci sihir yang dia inginkan. Aku sendiri yang akan mengambil bocah sialan itu." gumamnya pelan.
Entah bagaimana Lyra merinding menyadari kenyataan itu, dia memutar otaknya untuk mengingat semua kenyataan yang diutarakan Rick dan Tobias tentang Cravene, yang mana semua persis seperti yang dia lihat saat itu juga. Itu untuk pertama kalinya dia melihat Cravene palsu dalam wujud manusia dan.. astaga! Itu dia! Dia laki-laki yang sempat dilihat Lyra waktu itu dalam mimpinya, memanggang saudara kembarnya sekaligus membunuh semua pasukan yang ikut membela kawanan mereka.
"Tuan," seseorang itu kembali lagi, "Phoebe sedang meracik resep buatanmu, apakah sekarang anda membutuhkan bantuan saya untuk rencana malam ini?" seseorang itu mengaitkan kedua tangannya di depan perutnya yang rata, dia menunggu jawaban keluar dari mulut sang Tuan.
Dia menoleh ke arah seseorang itu dan membuka matanya, yang mana hal itu berhasil membuat Lyra mundur, gemetar ketakutan di tempatnya. "Biarkan aku memikirkannya dulu."
Seseorang itu lalu mengangguk dan kembali meninggalkan laki-laki itu alih-alih Cravene palsu sendirian di tempatnya.
__ADS_1
Saat bangun, dia rupanya sudah kembali ke rupa manusianya. Wajahnya di tumpahi air hujan yang mulai mereda dengan Tobias yang memangku tubuhnya, bersandar di mobil Hilux miliknya alih-alih bersembunyi.
Tobias tiba-tiba memberikan ampul merah itu padanya tanpa bertanya apa-apa, dia menunggu sesuatu keluar dari mulut Lyra yang akan mengejutkannya.
"Cravene." gumam Lyra, dia mencoba bangkit dari tidurnya dibantu oleh Tobias, "jika kau tidak salah menduga kalau kau pernah melihat lagi-laki itu, itu Cravene palsu. Mantan tuan mu. Dia sungguh datang." napas Lyra tidak teratur.
Jantungnya berdegup kencang dia sama sekali tidak tenang. Mata yang merah menyala itu, berkilat-kilat seakan berkata 'aku akan memakanmu hidup-hidup'. Namun, apapun rencana Cravene palsu malam itu, dia sudah meninggalkan ampul merah itu alih-alih tidak sengaja menjatuhkannya. Dia membawa kunci sihir yang diminta Carlos sebagai ganti atau bayaran karena sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. Bukankah itu bisnis yang sempurna?
Sekarang Lyra yakin, dia tidak salah menduga, bisnis itu tidak selalu tentang uang. Cravene memiliki yang dibutuhkan Carlos dan Carlos selalu bekerja dengan baik agar mendapatkan imbalan yang setara. Hanya saja Lyra belum tahu alasan mengapa Cravene benar-benar yakin kalau Sean sungguh membantu dalam rencananya. Jika Sean dimanfaatkannya untuk menunjukkan tujuan Lyra dan mengantarkan Cravene dan pasukan Exchanges-nya ke tempat tinggal saudara kembarnya, Lyra bersumpah dia mau tidak mau menghabisi semuanya walau peluang untuk menang setipis helai kertas.
Bahkan soal ibunya, atau ayahnya, yang membuat Cravene melakukan hal itu. Lyra tidak segan memarahi mereka karena memancing kekacauan sampai membuat semua manusia serigala tak bersalah ikut terlibat. Jika saja pasukan Exchanges tidak datang ke Porstmouth, Lyra yakin dia tidak akan terpisah dengan Orance dan Peal seperti ini atau bahkan mengetahui kalau dia memiliki kembaran laki-laki di bagian lain di dunia. Rick tidak akan muncul dimana pun dia sudah pasti merasa nyaman bersama Sean dan teman-temannya yang lain. Menghabiskan waktu-waktu mereka seperti manusia normal dan lulus bersamaan. Semua terjadi karena sesuatu yang belum Lyra ketahui alasannya, itu menjadi rahasia sampai Cravene mengungkapkannya sendiri dari mulutnya. Pembalasan dendam macam apa yang dia harapkan terjadi dalam waktu dekat ini.
"Kau yakin tidak salah lihat?" Tobias menarik Lyra keluar dari lamunannya secara tidak langsung.
Lyra mengangguk cepat, memastikan Tobias agar percaya padanya. "Dia memiliki mata merah seperti yang sudah-sudah ku lihat."
"Bukannya aku tidak percaya kalau dia memang Cravene, tetapi sepertinya, rencana kita semakin menjadi sulit."
"Dia tidak akan bisa apa-apa tanpa ini." dia menganggkat ampul merah itu, yang berisikan cairan kental berwarna darah. "Dia membutuhkan kunci sihir ini untuk mendapatkan Sean, sementara Carlos pasti akan melepaskan Sean kepada siapapun yang akan memberikan kunci sihir ini padanya." Lyra tersenyum puas.
Tobias tidak bergerak untuk beberapa detik alih-alih mencerna pernyataan Lyra. Dia pikir, jika perempuan itu sudah mengatakan hal semacam itu tanpa rasa takut yang sudah menjelmanya sejak awal, ada kemungkinan kalau dia begitu yakin bahwa dia bisa mengontrol dirinya saat berhadapan langsung dengan Cravene dan Carlos.
"Tapi, sepertinya aku tidak akan bisa bertarung lagi, semakin aku menghirup aroma sihir yang tersisa, tenaga ku menipis. Apa mungkin ini efeknya?" tanya Lyra, dia tahu kalau dia tidak akan menemukan jawaban seperti yang dia harapkan karena lawan bicaranya adalah Tobias, bukan seseorang yang mengenal sihir.
"Kau cukup selamatkan Sean ketika punya kesempatan, aku akan melindungimu dari belakang. Rick pasti akan melakukan tugasnya dengan baik." gumam Tobias meyakikan.
"Kalau begitu, kita tunggu saja sebentar lagi." dia berdiri dengan lemas seraya menyimpan ampul merah itu ke dalam saku celananya lalu meraba ke saku celana yang lain, untuk sekedar memastikan bahwa benda miliknya juga masih di sana.[]
__ADS_1