Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)

Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)
23. Penyihir Tiga Saudara


__ADS_3

"Sepertinya sebentar lagi yang satunya akan sadar."


Mendengar suara itu Lyra langsung bangkit dari tidurnya, meski awalnya pandangannya mengabur, tetapi dia tetap mawas diri. Takut kalau-kalau mereka sudah berbuat yang tidak-tidak kepadanya. Lyra begitu terkejut ketika menyadari kalau dia sudah dalam rupa manusia, sudah mengenakan pakaian yang dia simpan di tas ranselnya. Dia curiga kalau mereka melakukannya, mereka 'kan.. Laki-laki?


"Tenang saja, aku seorang perempuan seperti mu kok." sahut salah satu dari mereka yang sedang mengamati kertas kusam dari Orance, tangannya yang satu lagi memegang kalung milik Lyra.


Syukurlah, kalung itu tidak hilang.


"Kau bisa membaca pikiranku?" ketusnya, agak sedikit kesal. "Lalu, kalung ku.."


"Panggil saja aku Peony, ini Irish," dia menunjuk ke sebelahnya, perempuan itu sedang menyetir mobil Lyra. "Dan yang di sana itu Chrysler." dia menunjuk ke bak mobil, "dia laki-laki, omong-omong." dia terkekeh.


Saat Lyra mencoba menyingkirkan selimut dari tubuhnya yang tadinya menghangatkannya, Lyra mendapati lengan kirinya tertutup kain kasa putih dengan noda agak kehijauan. Dia tidak tahu apa itu, tapi baunya cukup menyengat di hidung.


"Sebelumnya," kata Lyra, "terimakasih sudah menolong kami. Walaupun aku tidak tahu mengapa kalian melakukannya, padahal aku sempat mencurigai kalian semua."


"Tenang saja, manis, kau akan baik-baik saja." kata si perempuan yang bernama Irish. "Sebenarnya pun kami hanya ingin menumpang." dia tertawa kecil.


Menumpang? Tunggu sebentar, jadi mereka memang punya rencana? Bersikap baik kepada Lyra dan Sean lalu meminta imbalan setelahnya?


Astaga! Mereka bahkan tidak butuh bantuan tiga orang itu sama sekali.


"Ku pikir kau seorang penyihir juga." celetuk Peony, dia memutar tubuhnya ke belakang dimana dia dapat melihat Lyra dengan jelas.


"Tidak, ibuku.. Ah maksudku.." Lyra sampai terbata dibuatnya.


"Siapa?" perempuan yang bernama Peony mengerutkan alis.


"Eh.. Dia.. Orance."


Mobil berhenti mendadak dan kepala Lyra sontak membentur kepala Peony seolah mereka sengaja melakukannya. Reaksi Peony yang semakin mengerutkan dahinya berubah menjadi tertawaan yang tidak di buat-buat.


"Kau bisa pelan tidak! Tengkorak kepala cewek ini keras sekali tahu!" lalu dia tertawa kembali sambil memarahi Irish yang menyebabkan hal itu terjadi.

__ADS_1


Lyra merasa sedikit sakit di bagian kepala depannya karena benturan keras yang tidak di sengaja itu, tetapi aneh sekali, Peony masih bisa bercanda dengan situasi seperti itu. Dia tidak yakin kalau mereka hanya manusia biasa. Sejak awal kedatangan mereka, Lyra sudah berasumsi kalau mereka memang lah bukan manusia biasa, karena mengingat mereka mengetahui kalau Lyra adalah manusia serigala. Namun, kenapa si mata merah langsung melarikan diri ketika melihat mereka muncul dari balik pepohonan? Apakah mereka pernah bertemu sebelumnya? Atau bahkan mereka pernah bertarung juga sebelumnya?


"Kau tahu? Orance sangat terkenal di kalangan penyihir." ujarnya dengan mimik wajah serius.


Sementara itu Irish menatap Lyra, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja Lyra ucapkan, seolah dia adalah orang yang sering berbicara yang tidak-tidak. Sebenarnya Lyra tercengang, masih tidak percaya kalau mereka kenal Orance.


Apakah mereka penyihir seperti Orance dan itulah sebabnya dia bisa membaca pikiran Lyra? Ya ampun, itu buruk sekali.


Peony menyunggingkan senyum, "dia adalah pelatih kami. Dia benar-benar penyihir paling berbakat dari generasi sebelum-sebelumnya."


"Oh tentu saja! Orance sangat mahir dalam hal apapun, bagaimana kabarnya sekarang?" Irish ikut bicara juga.


Saat Lyra memperhatikan wajah mereka secara bergantian lalu menoleh ke bak mobil dan mendekatkan wajah ke kaca belakang, dia memperhatikan wajah Chrysler, mereka bertiga memang memiliki wajah yang mirip.


"Ya, kami bersaudara." ujar Irish yang terus menyeletuk, tangan kanannya masih memegang setir dengan mobil dalam keadaan menyala. "Dan nama kami di ambil dari nama tumbuhan yang cantik." ujarnya lagi.


Lyra merasa begitu bodoh dibuatnya, dia cepat sekali berbicara. Bahkan sebelum dia ingin bertanya, perempuan itu sudah menjawabnya lebih dulu. Mereka benar-benar penyihir yang tidak bisa Lyra deskripsikan, mereka terlalu aneh menurutnya.


Sesuatu yang ada di depan sana sedang menunggu untuk merusak kenyamanan lagi. Lyra sudah memikirkannya lebih dulu.


Bukannya tidak memikirkan tentang apa yang baru saja terjadi padanya dan Sean, tetapi Lyra merasa untuk sekarang, memikirkannya tidaklah perlu. Setidaknya dia masih bisa hidup dan melanjutkan tujuannya lagi ditemani Sean yang selalu berusaha melindunginya dari marabahaya apapun.


"Aku tahu," lirih Peony perlahan, sekarang Lyra bisa membedakan suara mereka, suara Peony agak besar seperti lelaki yang mana dia mengira awalnya Peony memang laki-laki. Dia menyembunyikan rambutnya di dalam topi rupanya. "Kau bingung akan kedatangan kami yang tiba-tiba, bahkan kami langsung tahu siapa dirimu dan yang lainnya, lalu dengan percuma membantu kalian bertiga." katanya akhirnya.


Lyra mengerutkan dahi, "lalu?" tanyanya polos.


"Aku akan menjelaskan semuanya nanti, saat kita benar-benar dalam zona aman, bahkan lelaki busuk itu tidak akan bisa mengganggumu lagi." dia menekan kata busuk dengan jelas.


Lyra menghela napas lalu tersenyum padanya, "tapi, apakah aku boleh mendengar sesuatu?"


"Tentang Orance, ya? Tentu saja." balas Peony, dia berbalik menghadap ke depan sambil menguncir rambutnya, rambutnya yang pirang keemasan seolah bercahaya. "Ayo Irish, kapan sampainya kita kalau kau terus memperhatikan cewek ini?"


Irish tertawa, memperlihatkan gigi putihnya yang rapi, bahkan gusinya sampai terlihat. "Kita lanjutkan perjalanannya." tukasnya kemudian berbalik menghadap depan, dia menginjak pedal gas, mobil kembali melaju dengan kecepatan standard.

__ADS_1


Hujan sudah berhenti sejak tadi dan perasaan-perasaan yang mengerikan sejak itu kini perlahan menghilang dari hatinya, pikiran-pikiran yang kacau akan takdirnya pun, kini sudah tidak dia pikirkan lagi. Entah bagaimana, Lyra mencoba menumbuhkan rasa percayanya kepada penyihir tiga saudara ini, mereka unik meskipun tadinya cukup aneh. Bahkan nama mereka sangat indah, seperti nama Orance yang membuatnya kalut. Lyra bertanya-tanya dengan dirinya sendiri apakah semua penyihir memiliki nama yang unik seperti ini atau hanya ada beberapa di dunia ini?


Sama sekali tidak menyangka akan bertemu dengan penyihir lain, bahkan dengan cara yang seperti itu. Dengan suka rela mereka menyelamatkan nyawanya dan temannya, Lyra benar-benar bersyukur.


Dia tidak tahu kapan tepatnya Peony berpindah duduk ke sampingnya dengan peta dan kalungnya di kedua tangannya, tetapi aroma tubuhnya membuat aku kembali mengingat Orance. Apakah Orance dan Peal baik-baik saja?


"Pegang ini." Peony memberinya kertas kusam serta kalung itu, matanya yang coklat bertemu dengan mata Lyra lantas dia tersenyum. "Kau mau pergi kemana sebenarnya?" tanyanya.


"Ke sini," Lyra langsung menunjuk kota paling ujung atas yang ada di peta—Kota Wick—ketika kertas kusam itu selesai menampilkan nama-nama Kota di sekitarnya. "Aku ingin bertemu orang tua ku dan, saudara ku." ungkapnya.


Peony mengamati peta tersebut, "Orance memang luar biasa."


Perempuan itu bicara dengan dirinya sendiri.


"Oh, kau bisa bercerita di sana tentang keluargamu ya, kami semua akan mendengar dan mencoba membantu." Irish lagi-lagi menyeletuk, dia rupanya menguping percakapan mereka.


"Aku tidak tahu harus bagaimana, tapi ku rasa, kalian bisa ku percaya untuk saat ini." ujar Lyra pelan yang mana itu terdengar jelas oleh Peony.


Peony lagi-lagi tersenyum, sekarang terlihat jelas bahwa dia memiliki wajah yang cantik. Bulu matanya yang panjang dan melengkung menambah citra wajahnya semakin sempurna. Lyra mencoba menebak bahwa dia yang paling tua dari yang lainnya, dan akan dia buktikan nanti saat sampai di tempat yang mereka tuju.


"Kau boleh percaya pada kami atau tidak, kami bukan penyihir jahat seperti yang ada di cerita dongeng anak-anak. Bahkan, kau bilang Orance adalah ibu mu?" Peony memiringkan kepalanya.


Lyra menggeleng sebagai balasan, "beberapa tahun lalu, ya, tetapi sekarang tidak lagi. Tapi walau begitu, dia tetap seperti orang tua bagiku." wajah Orance seakan-akan melintas di hadapannya sekilas lalu.


"Meski begitu, Orance tidak menyerah akan sesuatu. Dan dia memang membuktikannya kepada semua penyihir di kawasan ini. Omong-omong apakah kau sudah tahu kalau penyihir pertama kali muncul di Eropa? Ku rasa kau sedikit mengetahui hal itu ya." dia menyengir seraya membenarkan sejumput rambut yang menghalangi pandangannya. "Dia seperti seorang dewi bagi yang lainnya walaupun ada beberapa golongan yang tidak mengakui dirinya, lalu dia membuat kami dapat hidup berdampingan dengan kalian, para Lycan—manusia serigala, dan dahulu orang tua kami saling melindungi satu sama lain sampai akhirnya kini semua memutuskan untuk pergi dari Polandia. Kami para penyihir kembali ke Eropa dan tinggal di sini, hidup berdampingan bersama manusia normal."


Entah mengapa rasanya semakin kagum dengan Orance setelah mendengar cerita itu dari seseorang yang sejak dulu pernah melihatnya. Atau mungkin, mereka memang datang karena panggilan Orance agar bisa melindunginya? Pikirannya terlalu terpaku kepada kekuatan Orance.


"Aku tidak tahu bagaimana bisa Orance memilih untuk hidup sebagai serigala di abad ini, tetapi dalam rupa apapun dia, dia tetaplah penyihir terpercaya sepanjang sejarah. Mungkin dia memutuskan hal itu karena suatu alasan yang tidak dibeberkan nya kepada penyihir yang lain." Peony mengangguk sendirian di tempatnya.


Sementara Lyra yang memperhatikan Peony menjelaskan dengan semangat tidak berhenti merasa kagum, dari sana dia tahu kalau ibu memiliki rasa percaya yang kuat kepada Orance, dia tidak memilih orang yang sembarangan untuk mengurus dirinya, menghidupinya, dan melindunginya. Lyra sangat-sangat berterimakasih kepada Orance sekaligus bangga akan dirinya yang begitu hebat.


Dia sudah terlalu banyak melalui rintangan yang pastinya tidak mudah baginya.[]

__ADS_1


__ADS_2