Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)

Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)
Epilog


__ADS_3

Di depan mereka yang berjarak sekitar kurang lebih 20 mil, menampakkan seberkas cahaya Matahari yang terik, yang menyilaukan mata. Semua tahu kalau mereka tetap harus berada di dalam hutan dan menghindari manusia normal tapi saat mendengar suara ombak yang dengan kasarnya menerjang sisi daratan membuat mereka tetap melanjutkan perjalanan dengan menyusuri pinggiran pesisir dan sebisa mungkin menghindari manusia normal.


Angin laut yang membawa aroma khas pantai menusuk-nusuk ke dalam hidung Lyra yang basah. Dia tidak mengerti akan perasaannya saat itu, perasaan senang dan ketakutan menjadi satu. Siapa yang tidak merindukan suara deburan ombak yang berusaha memecahkan keheningan di tengah-tengah kesibukan orang-orang yang ada di sekitarnya? Lyra bahkan sering menghabiskan waktu hanya untuk mendengar suara angin dan ombak yang bertemu ketika masih di Porstmouth.


Lyra, perhatikan langkah mu. Rick menegurnya karena melenceng dari barisan, bahkan Rick sudah melupakan kalau Lyra masih marah padanya.


Kira-kira hampir setengah jam mereka berlari dan tidak lagi menemukan tanda-tanda dari pasukan Exchanges. Apakah mungkin mereka menyerah? Tidak, rasanya mustahil sekali, mereka pasti akan melakukan rencana selanjutnya.


Boleh kah kita istirahat sejenak? Aku tidak bisa lagi memaksa kaki ku kalau terus dilanjutkan. Sean meringkuk di bawah pohon, bersembunyi dari terik Matahari siang itu.


Memang tidak ada tanda-tanda kalau mereka masih mengikuti, tapi selama kita beristirahat, mereka melaksanakan rencana mereka selanjutnya. Tukas Rick, dia pun terdengar sangat kelelahan. Tapi bukan berarti aku tidak mengizinkan untuk beristirahat, istirahatlah selagi punya kesempatan.


Lyra ikut menjatuhkan dirinya ke rumput yang basah, dia pikir setengah jam selanjutnya mereka akan sampai di Wick dan tidak terlalu khawatir akan keberadaan Valdes yang masih mengincarnya. Namun, pikirannya tetap tidak bisa berpikir positif, dia tidak siap jika memang harus bertemu dengan keluarganya untuk pertama kali dan berpisah setelahnya karena pepatah atau ramalan kuno para penyihir itu benar.


Saat Tobias baru saja akan meringkuk di atas rumput yang tebal itu, mereka semua dikejutkan oleh suara benda yang jatuh. Mereka semua melempar pandang bergantian dan meningkatkan kewaspadaan. Lyra yang langsung bangkit kembali bergerak mundur bersamaan dengan yang lainnya, membuat pola melingkar dengan ekor yang saling menyentuh alih-alih saling menjaga satu sama lain.


Ini diluar dugaan. Gumam Rick pelan, Sean, jika itu memang salah satu atau beberapa dari mereka, berlari lah dengan tenaga mu yang tersisa bersama Lyra. Aku dan Tobias akan memperlambat mereka di sini, kau mengerti?


Sean mendesis, dia sangat marah dengan situasi itu. Aku memang tidak suka diperintah, tapi jika kau menginginkan aku untuk melindungi Lyra, aku akan menerima perintahnya.


Bagus, bersiaplah Tobias. seru Rick.


Suara tertawa yang tidak asing memenuhi kepala mereka berempat, mata mereka jeli melihat kanan kiri bergantian dan benar-benar memang telinga untuk mendengar langkah kakinya.


Cukup lelah aku menunggu kedatangan kalian, wahai anak-anak ku yang malang. Suara itu tertawa kembali.


Dan Lyra sudah dapat menebaknya, itu adalah Valdes.


Gadis ini cepat sadar dengan kehadiranku, aku salut.


Telinga mereka semua bergerak sebab mendengar suara langkah kaki yang mendekat, dedaunan dan ranting pohon yang diinjaknya semakin terdengar jelas hingga munculah sosok besar serigala berbulu hitam gelap yang lebat, dengan mata merah menyala bagai kobaran api yang tidak pernah padam.


Dada Lyra sesak seketika dan tumbang begitu saja, Rick langsung berpindah tempat ke depan Lyra dan membantu perempuan itu untuk kembali berdiri.


Bertahan, bertahan, kau bisa menepisnya. Bertahanlah. Rick terus mendorong Lyra untuk tetap bertahan agar tidak meninggalkan raganya lagi.


Rick harus berusaha lebih keras agar Lyra hanya mendengarnya saja, tidak perlu memikirkan perkataan Valdes yang tidak ada gunanya.


Gadis manis yang malang, dia harus ambruk di saat-saat aku ingin bermain dengannya.


Diam lah bedebah sialan! umpat Sean sangat kesal, dia merasa mereka selalu tidak beruntung.


Aku baik-baik saja, aku bisa menepisnya. Hanya saja dada ku sesak dibuatnya. Lirih Lyra pelan, dia terus mencoba bertahan.


Tanpa aba-aba, Tobias menyerang Valdes tepat pada lehernya tetapi cakarannya tidak menimbulkan luka yang cukup serius agar mereka bisa kabur. Namun, mereka tetap kabur saat Valdes meringis kesakitan.


Lyra dan Sean bergegas lebih dulu dan disusul oleh Tobias dan Rick, kemudian pasukan Exchanges yang sudah dipersiapkan Valdes kembali mengejar mereka dan mencoba mengepung tapi mereka tetap berhasil menerobos disela-sela pepohonan yang rasanya semakin tumbuh merapat.


Kita harus tiba di Wick. Kata Lyra dengan tegas, jangan buat mereka memisahkan kita.


Langkah mereka yang menimbulkan bekas debu di belakangnya membuat pasukan Exchanges sangat mudah mengikuti mereka. Pasukan Exchanges tidak perlu menyusul agar bisa mengepung, mereka hanya perlu berlari lebih cepat dan saat sudah di depan, mereka akan menyerang secara langsung.


Sepertinya, saat itu adalah waktu keberuntungan Lyra dan teman-temannya. Mereka berhasil menjauh dari para pasukan tersebut dan tiba di Castlehill tepat waktu dan akan melanjutkan ke Wick yang sudah tidak jauh lagi. Tempat itu berada di paling ujung peta dan menyadari pesisir semakin banyak, menambah keyakinan mereka bahwa mereka akan benar-benar tiba di sana.


Terus saja kabur, pasukan Exchanges masih mengejar. Dan Tobias, aku akan membalas mu saat kau tengah sekarat nanti. Untuk saat ini, aku tidak ingin mengotori tanganku.


Rasanya Valdes ada di mana-mana sebab menurut mereka, dia sudah cukup jauh tertinggal tapi masih saja mengirimi suaranya ke dalam kepala mereka berempat. Atau mungkin, Valdes bisa melakukan teleportasi.


Tapi kenapa dia tidak ingin menyerang lebih dulu? Atau setidaknya menghajar kita semua dengan sihirnya? Tanya Sean yang masih menggerutu karena Valdes terus menganggu pikirannya.


Jika Valdes tidak ingin turun tangan secara langsung, itu artinya dia sedang mengamati Lyra, dia ingin tahu kemana kita pergi karena dia tahu tujuan terakhir Lyra adalah bertemu keluargnya. Jika saja tadinya kita memilih jalan berbalik, aku yakin kita sudah babak belur karena ulahnya. Rick menjelaskannya secara detil sehingga membuat Lyra menyadari satu hal.


Tobias mendengus, dia tidak sering menggunakan sihirnya, tapi dia tetap menggunakannya untuk mempercepat larinya atau langkahnya. Dia tidak cukup menguasai banyak mantra sihir karena dia hanya melakoni perannya sebagai manusia serigala atau vampir di tempat berbeda.


Baginya, mengubah dirinya terlalu sering akan sangat menguras banyak tenaga dan itu adalah hal buruk jika sedang bertarung. Rick menyela, dia itu sebenarnya bukanlah apa-apa tanpa sihir dan kekuatan hipnotisnya.


Lyra mendesis, tapi aku belum mengetahui obsesinya yang terus ingin membunuh ku.


Semua terdiam, tidak bersuara dan situasi itu membuat Lyra kembali memikirkan takdirnya tapi kali ini tidak terlalu memikirkannya. Sekarang, dia hanya perlu sampai di Wick dan meminta bantuan orang-orang di sana, menyelamatkan teman-temannya dan berlindung.


Sebuah tempat baru, memiliki banyak hutan yang sangat luas menyadarkan mereka bahwa mereka sudah tiba di Wick. Tempat sunyi tetapi penuh suara ombak sangat cocok dengan deskripsi yang ada di kertas peta pemberian Orance, mereka benar-benar sudah tiba di Wick.


Rick meminta mereka untuk kembali bersembunyi di salah satu hutan yang paling dekat dengan laut sebelum pasukan Exchanges atau manusia normal menyadari kehadiran mereka di sana.


Lalu apa? Lyra membatin. Apa yang harus dia perbuat ketika sudah tiba di sana? Apakah tidak ada petunjuk? Atau sesuatu yang ditinggalkan oleh keluarganya agar menjadi sebuah petunjuk? Mengetahui tidak ada tanda-tanda yang bisa digunakannya, Lyra merasa perjalanan mereka sia-sia saja. Sebab tidak ada sambutan selamat datang, atau sekedar papan selamat datang di sana agar mereka merasa jika kedatangan mereka sudah ditunggu sejak lama. Namun, saat Lyra berpikir lagi, dia memang tidak memiliki petunjuk dan tetap memaksa untuk pergi ke sana, yang tahu kepergiannya hanya Larry, saudara kembarnya dan itu pun sulit dipastikan kalau memang dia tapi entah mengapa Lyra tetap yakin Larry tahu kalau dia akan datang.


Sebaiknya kita istirahat dulu sebelum mencari petunjuknya, jangan berputus asa begitu. Rick mengelus kan kelapanya ke kepala Lyra yang memiliki bulu lebih tebal darinya.


Saat mereka bersebelahan, rasanya timpang. Lyra dengan tubuh besar, bulu perak terang dan lebat, serta mata biru mengkilap bagai permata sedang Rick dengan bobot tubuh yang lebih kecil, dan warna bulu coklat kemerahan khas serigala Amerika serta mata kuning yang serigala mana saja miliki. Namun, Lyra tetap mencintainya.

__ADS_1


Mereka duduk di sebuah tempat yang dipilih Rick, terhindar dari manusia, juga terhindar dari terik Matahari, tapi tidak terhindar dari kejaran pasukan Exchanges dan Valdes.


Karena masih waspada, mereka berempat belum ingin merubah diri mereka kembali menjadi manusia. Sebab menjadi manusia hanya akan mempercepat proses kematian mereka, tidak ada perlawanan yang bisa melawan serigala, apalagi dengan tangan kosong. Hingga saat-saat yang sudah ditentukan, Valdes muncul tanpa memperingati mereka lagi. Beberapa pasukan Exchanges pun sudah sigap menerkam mereka satu per satu.


Tobias yang sadar lebih dulu akan presensi Valdes dan pasukan Exchanges bangkit dari baringnya, yang mana tindakannya itu membuat teman-temannya yang lain ikut berdiri, melihat ke arah yang sama. Dan sangat terkejutnya kalau mereka sudah dikepung. Mau bagaimana pun, mereka kalah jumlah dan mereka kelewat lelah untuk menghabisi mereka semua termasuk Valdes sendiri yang mungkin belum sedikit pun mengeluarkan tenaganya. Lyra tahu kalau Valdes memang menyimpan tenaganya untuk menghabisi mereka berempat ketika pasukan Exchanges sudah menguras seluruh tenaga mereka.


Dia sangat licik.


Masuk perangkap juga akhirnya kau, Tobias! Celetuk seseorang dengan nada suara mengejek yang pernah Lyra dengar.


Oh ya, Rick, kau yakin masih mau berada dipihak pacar bodoh mu? Duh, sayang sekali ya.


Rick berdecak, mau sekeras apapun, aku lebih baik mati dari pada kembali ke lubang buaya. Sergah Rick, membalas ucapan mantan teman-temannya.


Aku ingin istirahat lima menit, habisi mereka sebelum waktu istirahat ku habis. Valdes berbalik meninggalkan mereka, dia menyerahkan Lyra dan teman-temannya dihabisi pasukan Exchanges lebih dulu.


Mudah sekali dimengerti kalau begitu cara kerjanya, Lyra pun tidak akan menguras tenaganya dan akan melawan dengan biasa-biasanya. Dia akan menyimpan sisa tenaganya diakhir permainan Valdes.


Saat mereka saling menyerang dan Valdes hanya menonton dari kejauhan, dia sempat beberapa kali berubah wujud menjadi manusia, kemudian menjadi serigala, dan menjadi vampir lagi, dan tetap dalam wujud itu. Dia melakukannya untuk membuat hipnotisnya tetap bekerja, seluruh pasukan Exchanges sulit untuk disadarkan dan dia rupanya sudah menyadari hal itu karena ada Rick dan Tobias di sana yang akan terus mencoba menghasut mereka.


Sudah cukup banyak beberapa dari mereka yang tumbang termasuk Alice yang dihajar Sean dengan membabi buta, kakinya benar-benar robek dan membuat wanita itu meringis kesakitan, tidak mampu untuk bangkit lagi sebelum akhirnya dia menemui ajalnya. Lalu Noel, teman dekat Tobias, mereka bahkan sudah seperti saudara kandung. Namun, keduanya memilih jalan yang berbeda sehingga keduanya memaksa untuk saling menghabisi.


Tersisa Owen, beberapa serigala lainnya dan Valdes yang sudah kembali dalam wujud serigala dengan seringaian yang mengerikan. Wajahnya yang sudah terlalu banyak menerima serangan dan berkahir dengan luka sama sekali tidak membuat Valdes mundur. Dan walau pun Lyra dan teman-temannya masih kalah jumlah, mereka belum ingin menyerah begitu saja. Namun, taktik serangan Owen cukup lincah dan gesit, bahkan Rick kewalahan menangkapnya sampai akhirnya Sean membantu Rick melumpuhkannya dengan robekan pada bagian leher dan perutnya.


Tanpa aba-aba, Valdes bergegas menuju ke arah Lyra sementara Rick ikut di sebelahnya untuk menangkis serangan laki-laki gila itu. Dia berusaha menyentuh Lyra dengan kukunya yang sudah dipenuhi racun, seperti biasa, dia akan melukai lawannya lebih dulu agar racunnya mengalir ke dalam tubuh mereka sebelum dia akan menghabisi lawannya tanpa tersisa.


Kau salah jika ingin menyerangnya begitu, dia sudah tahu cara bertarung mu seperti itu. Rick mengejeknya, dia membiarkan beberapa serigala dihabisi oleh Sean dan Tobias.


Namun, Lyra yang tahu kalau Sean sudah terkapar lebih dulu sebelum menumbangkan lawannya keluar dari perlindungan Rick, dia berlari untuk menghajar serigala itu. Sean sudah menerima beberapa cakaran baru pada tubuhnya, membuatnya tidak mampu lagi bergerak dan akhirnya pingsan. Tobias yang dihajar beberapa serigala pun nampaknya tidak lagi mampu melawan, dia akan mati tercabik-cabik jika Lyra tidak membantunya dan Lyra datang tepat waktu sementara Valdes dan Rick masih bertarung saling menggeram satu sama lain.


Entah bagaimana Rick kehilangan Valdes yang melompat menuju Lyra tetapi Tobias dengan gesit menaruh badan sehingga dia yang menerima serangan Valdes yang sakitnya bukan main. Tobias tercakar di bagian kaki kiri bagian belakang dan Lyra sekilas melihat aura hitam keunguan muncul di sana dan dengan mudahnya dia tahu kalau itu adalah racun yang dia gunakan waktu itu, saat mereka pertama kali bertarung.


Tobias tumbang beberapa menit berikutnya karena pengaruh racun tersebut, dia sempat-sempatnya meminta maaf karena tidak lagi bisa membantu.


Untuk saat ini, Lyra dan Rick lebih unggul karena Valdes hanya tinggal sendiri. Beberapa serigala yang tersisa melarikan diri begitu saja tanpa mengikuti perintahnya lagi.


Sangat beruntung hidup mu ya, kalau saja penyihir sialan itu tidak di sana, kau pasti sudah mati bersama dengan Carlos.


Lyra mendengus, sebagai seorang hybrid, kau pengecut juga ya. suara tawa Lyra sengaja dibuat-buat untuk mengejeknya.


Rick berada di antara Lyra dan Valdes, alih-alih sebagai pelindung untuk Lyra. Dia selalu siap siaga kalau Valdes menyerang secara tiba-tiba.


Aku bukan orang yang suka basa-basi.


Ayah mu adalah saudara ku. Valdes menghiraukan ucapan Lyra, dia memang ingin menyampaikan sesuatu yang selama ini memang tidak Lyra sadari. Kau pikir bagaimana selama ini aku melacak mu jika bukan karena darah orang tuaku mengalir dalam dirimu juga. Seperti yang kau ketahui, ayah mu menghasilkan bayi kembar karena dia memiliki saudara yang kembar juga.


Entah kenapa Lyra jadi ingin mendengar kisahnya terlepas dari bohong atau tidaknya si laki-laki gila itu dan Rick juga ingin mendengar semuanya.


Layaknya yin dan yang, aku dan kembaran ku terlahir dengan sifat yang tumpang tindih. Namun, orang tua kami tetap memberikan nama yang indah. Lalu, seorang penyihir datang memberitahu orang tua ku jika salah satu dari mereka harus mati karena kalau tidak, tanah di mana mereka berpijak akan mengalami bencana, yang akan memusnahkan seluruh kawanan. Ibu ku menolak perintah itu dan mencoba menentang, tapi penyihir tersebut terlalu kuat baginya meski pun dia seorang penyihir juga.


Itu artinya, kau adalah kakak ayah ku?


Hampir tepat sekali. Dia adalah cucu orang tua ku yang artinya aku adalah paman ayah mu.


Lalu apa yang terjadi dengan kembaran mu? Tanya Lyra, dia penasaran sebab kasus itu sama halnya dengan yang dialaminya.


Para penyihir merebut kembaran ku secara paksa, karena baginya seorang perempuan tidaklah cukup berguna dalam kawanan. Mereka membunuh orang yang salah, seharusnya aku yang mati karena Alana terlalu baik untuk disakiti orang-orang macam mereka.


Rick secara sadar menjadi tahu kenapa Valdes sangat menghindari para penyihir itu karena dia memang trauma dengan keberadaan mereka, dan hanya ingin membalaskan dendam kepada ayah Lyra kemudian berharap keadilan menyertainya dengan membunuh salah satu anak kembarnya.


Reaksi Lyra yang tidak biasa membuat Rick cemas, Rick tahu Lyra pasti akan memikirkan kalau dia sebenarnya memang tidak diharapkan karena terlahir sebagai perempuan. Maka dari itu dia tidak seberuntung Larry untuk bisa menghabiskan waktunya bersama orang tua mereka, bahkan Lyra bertanya-tanya, mengapa dia tidak dibunuh saja kala itu sebelum beranjak dewasa dan mengerti keadaan menyakitkan itu.


Benar-benar tidak adil, ya? Kembaran mu hidup dengan nyaman bersama orang-orang yang menyayanginya, sementara kau dititipkan oleh penyihir gila yang bahkan tidak pernah tua meski umurnya hampir lebih tua dari orang tua ku. Valdes tertawa kecil. Itu lah alasan kenapa aku harus membunuh mu, agar semuanya berjalan dengan adil, aku kehilangan kembaran ku dan mereka kehilangan orang yang bahkan tidak dianggap.


Diam kau! Seru Lyra, motif balas dendam mu itu harusnya mengacu kepada penyihir yang sudah menghabiskan nyawa kembaran mu, dengan mendatangkan ku seperti ini kau salah, kau hanya akan mempercepat datangnya ajal mu. Lyra tidak ingin kalah, dia juga bisa menciutkan nyala lawannya hanya dengan mengatakan hal-hal yang masuk akal.


Valdes mendengus, siapa yang membunuh siapa? Perempuan seperti mu bukanlah tandingan ku.


Pengecut seperti mu juga bukan tandingan ku! Balasnya, tidak ada yang bertarung dengan menyelipkan racun di setiap kukunya untuk menumbangkan lawan meski kau bilang itu adalah strategi bertarung mu. Pecundang.


Valdes terpancing oleh perkataan Lyra dan menjadi kesal, dia tidak lagi ingin bicara lebih banyak karena sesi basa-basi nya sudah selesai. Sekarang, dia harus menghabisi kedua orang itu dan hidup dengan aman kembali.


Pertarungan berlangsung sengit, Rick terus berupaya menahan cakaran Valdes agar tidak mendarat ke tubuh Lyra sedikit pun, karena pengaruhnya akan sangat buruk sekali. Sementara Lyra membantai bagian tubuh Valdes yang lain tetapi selalu saja berhasil ditepisnya dan saat Lyra terjatuh karena tidak menerima keseimbangan, Valdes menendangnya sangat kuat hingga membuat Lyra terpental jauh menabrak pohon, punggungnya benar-benar terasa sakit.


Rick yang semakin kesal menghajar Valdes berharap dia bisa mencapai titik lemah laki-laki itu, pada leher bawahnya. Namun, Valdes menyadarinya, dia tahu Rick mengincar kelemahannya. Jadi Valdes melompat ke arah Rick yang berlari mendekat ke arah Lyra, mendapatkan serangan tepat dilehernya. Cengkeraman Valdes sangat kuat bukan main hingga membuat Rick mengiris kesakitan, benar-benar sakit yang tidak tertahankan sampai akhirnya Valdes memaksa merobek bagian leher Rick yang membuat Rick kehilangan nyawanya. Itu terjadi sangat cepat sehingga membuat Lyra membatu, matanya melihat darah segar mengucur keluar dengan derasnya dari leher Rick.


Rick masih sempat merubah dirinya menjadi manusia dan menyeret tubuhnya agar bisa menyentuh Lyra, tapi Valdes kembali mencakar bagian punggung Rick hingga laki-laki itu benar-benar mati.


Lyra kehilangan jati dirinya hingga dia bangkit, bertekad menghajar Valdes dengan membabi buta, sebab Sean dan Tobias juga tidak lagi bisa membantunya. Dia pikir, hanya dia yang bisa melakukannya.

__ADS_1


Mana mungkin dia akan diam saja melihat Rick terbunuh di depan matanya sendiri dan membiarkan orang itu juga membunuhnya? Lyra memang terlambat menyelamatkan Rick dan terus mengutuk dirinya karena tidak bisa melindungi satu-satunya orang yang sangat dia sayangi.


Mati kau, monster! Teriak Lyra dan kemudian menghantam Valdes.


Berkali-kali dia mencoba untuk menggigit leher Valdes tapi tidak sekali pun mengenai sasaran sampai dia memutuskan untuk mencakar Valdes yang mungkin sama tidak bisa bertahannya dengannya. Mereka berdua sudah kehabisan tenaga tetapi Valdes tidak ingin menyerah dan saat tahu dia punya kesempatan untuk menghajar Lyra, dia mendaratkan cakarannya ke bagian dada perempuan itu ketika Lyra ingin menghajarnya. Tubuh serigala Lyra tersungkur dan Valdes berusaha berdiri lagi, bulu keduanya dipenuhi darah dan tanah.


Lagi-lagi Lyra memaksakan dirinya untuk bangkit dan dia berhasil, rasanya benar-benar akan mati tapi dia tidak akan puas bila membiarkan Rick mati begitu saja dihadapannya. Tidak mungkin dia membiarkan si pembunuh hidup tenang sementara dia harus menanggung kepedihan yang tidak akan pernah berakhir. Tekadnya kuat untuk membunuh Valdes, dia yakin dia bisa melakukannya.


Lyra dan Valdes berdiri dengan terhuyung-huyung seolah akan tumbang kembali tapi keduanya memaksakan diri untuk tetap bangkit. Mungkin, jika di sana masih ada yang tersisa untuk menyaksikan kegilaan dua serigala itu, mereka pasti akan segera lari dari sana sebab melihat kengerian itu. Namun, sayang, tidak ada yang tersisa kecuali Sean dan Tobias yang pingsan karena kelelahan dan terpapar racun.


Berikutnya, aku akan menghajar wajah mu agar kau makin kesakitan! seru Valdes, mencoba menciutkan nyali lawannya.


Sayang itu tidak berlaku pada Lyra, dia tidak lagi ketakutan seperti awal pertemuan mereka, tidak lagi melemah di depan pembunuh yang membuat hidupnya terus menderita.


Meski cerita masa lalu mu memang lebih menyedihkan ketimbang milikku, kata Lyra disela-sela napasnya yang tersengal. Bagaimana pun kau tetap tidak seberuntung aku! Kau ingin membuat luka yang bagaimana lagi? Itu sudah tidak menyakiti ku karena kau terlalu sering melukainya!


Diam-diam Lyra menahan semua perih dari lukanya dan berusaha tidak menampakkan rasa sakitnya dihadapan musuhnya yang akan berpikir kalau dia memang sudah lemah, meski tekadnya masih kuat untuk membunuh.


Itu tidak adil! Cepatlah kemari dan biarkan aku membunuh mu, atau kau ingin membunuh dirimu sendiri? Asal kau tetap mati.


Kalau kau tidak berhasil membunuh ku, maka aku yang akan membunuh mu. Lyra tertawa dan melemparkan tatapan bengis, karena dalam peperangan, salah satu dari mereka harus tetap hidup dan itu adalah aku! Teriaknya sangat kencang seraya menggeram kesal.


Lyra mengerahkan seluruh tenaganya yang tersisa untuk menggigit bagian apa saja yang bisa digigitnya dari tubuh Valdes agar dia meringis kesakitan lagi, rupanya dia berhasil menggigit bagian wajah laki-laki gila itu dan mencakar lehernya secara brutal hingga menimbulkan beberapa robekan kasar dan darah yang mengalir hebat dari lehernya, berharap Valdes langsung sekarat.


Valdes tidak ingin kalah, dia juga berusaha menepis tubuh Lyra dan mencakar apa yang bisa dicakarnya agar Lyra kesakitan. Namun, Lyra tetap tidak meringis dan melepaskan gigitannya yang semakin dalam hingga rasanya dia ingin menarik bagian itu agar wajah Valdes robek dan Lyra berhasil menarik bagian itu lalu membuang daging yang menempel dari mulutnya. Area mulut dan hidungnya penuh dengan darah dan bau amisnya berhamburan, sementara Valdes meringis menahan sakit pada wajahnya, Lyra bahkan tidak mengira kalau dia akan benar-benar melakukannya, melakukan hal keji yang pernah dilakukan Valdes. Membunuh.


Sekarang, dia tidak ada bedanya dengan laki-laki gila itu.


Karena tidak ingin melewatkan kesempatan emas itu, Lyra kembali menerkam punggung Valdes tiada henti, dia berdiri di atas punggungnya yang mengakibatkan keduanya ambruk ke tanah. Valdes tidak bertenaga lagi tapi masih sempat melukai kaki Lyra beberapa kali dengan cakarannya hingga kakinya sobek, tapi perempuan itu tetap berusaha mencabik-cabik bagian perutnya menggunakan mulut dan cakarnya secara bergantian hingga Lyra sadar kalau dia sudah kelewatan.


Tubuh serigala Valdes masih bergerak naik turun alih-alih bernapas.


Kau memang sudah membunuh ku, tapi racun ditubuh mu akan segera menggerogoti diri mu sampai habis. Valdes menghela napas panjang dan tubuhnya langsung berhenti naik turun.


Entah mengapa Lyra memutuskan untuk merubah dirinya kembali menjadi manusia dan membiarkan dirinya terbaring di sebelah bangkai Valdes. Untuk sesaat dia menghiraukan perkataan Valdes dan hanya memegang luka cakaran parah yang ada di bagian dadanya, itu sangat dalam dan membuatnya merasa semakin perih saat bernapas.


Lyra mencoba mengatur napasnya yang tidak karuan dan detak jantungnya yang terus berdetak kencang seraya menutup mata. Air mata mengalir di kedua sudut matanya sebab teringat sudah banyak korban yang berjatuhan dan dia sudah melakukan pembunuhan. Kedua tangannya masih gemetar dan dia berharap dia ikut pingsan saja bersama yang lainnya. Toh dia tidak menemukan tanda-tanda akan adanya kehidupan di sana, padahal dia sudah sampai di Wick sejak beberapa waktu lalu.


Tidak tahu apa yang dipikirkan perempuan itu sampai dia merangkak, menyeret paksa kakinya yang berlumuran darah, mendekati mayat Rick kemudian membalikkan posisi tubuh Rick yang tadinya menghadap ke tanah, menjadi menghadap ke atas. Tangannya yang gemetar mengelus pipi Rick yang semakin pucat dan membiru. Dia merapikan rambut Rick dengan mata yang kabur karena air mata.


Sangat sesak di dalam dadanya melihat orang yang sangat dia cintai mati di depan matanya dengan kondisi yang mengenaskan, lehernya benar-benar robek hingga beberapa kulit leher serta dagingnya mencuat keluar. Lyra menangis histeris menumpahkan segala emosinya dan berteriak frustrasi, rasanya benar-benar sakit, lebih sakit daripada luka mana pun yang diterimanya. Itu mungkin karena hati dan batinnya yang terluka sehingga membuat Lyra tidak sanggup menahan sakitnya.


"Kalau pun reinkarnasi itu ada, aku tidak menginginkan Rick yang itu." dia sudah berbicara tentang hal yang tidak masuk akal sambil terisak. "Aku yakin aku tidak akan menemukan diri mu di diri siapa pun, mereka tidak memiliki detak jantung yang sama dengan mu, yang berhasil membuatku tenang." Lyra menaruh telinganya ke dada Rick yang sudah kaku, berharap masih ada suara detak jantung yang ingin didengarnya. "Kau sudah benar-benar meninggalkan ku.." lirihnya, suaranya hampir menghilang.


Tangisannya pecah kembali begitu saja di tengah-tengah hutan yang sunyi, Lyra tidak tahu apa lagi yang harus dia perbuat, semua orang mati dan Sean serta Tobias tidak sadarkan diri. Terpikirkan untuk ikut mati bersama Rick, setidaknya dia sudah membunuh Valdes untuk membalaskan dendam Rick. Namun, Lyra akhirnya sadar, dia tidak mungkin meninggalkan dua orang itu begitu saja hanya karena Rick meninggalkannya.


Dengan begitu terpuruk dan putus asanya, Lyra bangun, menggenggam kalung pemberian Orance yang terasa dingin. Kemudian menutup matanya rapat-rapat seraya bergumam pelan.


"Saat cahaya kembar melintasi langit Bumi, saat itulah takdir bisa diubah."


Tak lama, telinganya menangkap dengan jelas kalau sesuatu sedang terjadi di depannya hingga dia membuka mata perlahan-lahan.


Sebuah gerbang transparan terbuka dengan lebarnya, memperlihatkan tempat yang dipenuhi salju, sangat terbalik dengan keadaan yang ada di bagiannya. Salju-salju putih yang ada di dalam tempat itu menghampirinya karena tertiup angin, entah bagaimana rasanya tempat itu seakan memberikan kehidupan baru yang tidak dapat dimiliki banyak orang.


Sebelum Lyra memutuskan untuk masuk ke dalam, dia kembali melihat mayat Rick yang kaku disebelahnya, "aku mencintaimu, Rick, sangat mencintaimu." lalu mengecup pipi Rick untuk beberapa detik sampai air matanya ikut jatuh di pipi Rick, membuat Rick seakan menangis juga.


Dia merangkak, menyeret kakinya yang terasa panas untuk masuk ke dalam gerbang tersebut dengan sisa-sisa tenaganya, tangannya menyentuh gumpalan putih itu yang terasa sangat dingin sebelum akhirnya dia ambruk di tanah.


**


Beberapa orang berkumpul di tengah-tengah hujan salju yang terus membuat udara semakin dingin, mengelilingi sebuah nisan bernamakan Rick. Beberapa bunga yang belum mekar mirip payung tertutup itu menghiasi tanah basah yang mulai tertutup salju kembali. Tidak ada isak tangis atau bahkan suara lainnya kecuali kesunyian yang mendalam, masing-masing orang di sana sibuk dengan doa mereka di dalam hati.


Bahkan Lyra, dia tidak lagi merasakan sedih atau pilu, hatinya membeku seiring salju menutupi dataran itu. Meski dia memang tidak akan menggantikan posisi Rick dan membiarkan siapa pun menghapus Rick dari ingatannya, dia tetap harus melanjutkan hidupnya sebagaimana mestinya.


Bekas luka-luka yang ditinggalkan Valdez pada bagian tubuhnya kini hanya terbalut perban sewarna gading tetapi sangat lembut. Yang parah hanya pada bagian dadanya, luka itu terlalu dalam dan hampir membuat Lyra kehilangan nyawanya. Beruntung orang-orang di sana dengan cepat menyeretnya masuk bersama dengan Sean dan Tobias yang malah sadar diri lebih dulu darinya.


Tobias yang berada dihadapan Lyra menatap ke dalam hati perempuan itu, raut wajahnya memang berhasil menyembunyikan rasa sakit yang memang tidak bisa dihindari itu tetapi matanya seakan-akan menjelaskan semuanya secara mendetil. Tobias sangat menyesal karena tidak berhasil menyelamatkan siapa pun yang memang harus dia selamatkan. Terlalu perih rasanya untuk Lyra mengalami hal itu di depan matanya hingga air mata pun tidak lagi mampu menunjukkan dirinya pada publik.


Sementara itu, Sean hanya menggenggam tangan Lyra yang gemetaran. Entah karena menahan diri atau kedinginan, dua-duanya adalah alasan yang masuk akal. Lyra belum mengatakan apa pun kepadanya sejak Rick dimakamkan beberapa jam yang lalu, bahkan dia hanya sesekali melihat Sean tanpa menunjukkan sesuatu yang pasti. Luka yang ada di dalam hatinya memang hanya dia yang bisa merasakannya tetapi dari tatapan matanya yang tidak mampu disembunyikannya dari siapa pun itu cukup menampar wajah Sean dengan kuat. Sebab Sean tidak bisa melakukan apa-apa agar Lyra berhenti menyalahkan dirinya sendiri.


Usai berkabung, semua orang kecuali Lyra dan dua temannya masih di sana meratapi gundukan tanah yang hampir terselimuti salju. Tidak ada kebisingan bahkan suara detak jantung yang mulanya mampu terdengar, semua hanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


"Setidaknya, kepergian Rick tidak sia-sia." ujar Tobias, napasnya mengeluarkan kepulan asap sangat banyak.


Sama halnya dengan Lyra, hembusan napasnya yang panjang nampak dari kepulan asap yang timbul dari udara dingin di sekitar mereka. Dia bahkan tidak mau membuka mulutnya untuk sekedar mengucapkan selamat jalan kepada Rick atau membalas perkataan Tobias. Air matanya benar-benar sudah ikut membeku.


Lyra menarik tangannya dari genggaman Sean tanpa melihat lelaki itu, dia berbalik dan berjalan menjauh dari sana, meninggalkan kisah-kisah tragis dan menyayatkan hati di belakangnya tanpa ingin menoleh sekali lagi. Meski rasanya sakit, tidak bisa dipungkiri kalau dia membenci semua hal bahkan ingin membenci dirinya sendiri.


Jika saja dia cukup kuat dan bergerak cepat, dia mungkin tidak akan menyesali tindakannya itu seumur hidup selain berkabung dengan kepergian Valdes yang jelas tidak ada gunanya untuk ditangisi. Tapi dia senang, Valdes di bakar hingga menyisakan abu sebagai saksi hidupnya yang keji. Semua menyuarakan setuju karena Valdes memang sudah sepantasnya mati sejak lama karena kebejatannya yang tidak kenal ampun kepada musuh bahkan kerabatnya sendiri.

__ADS_1


Lyra hanya ingin bersiap untuk yang lebih buruk sekarang, bertemu saudara kembarnya..[]


__ADS_2