Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)

Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)
40. Manusia Serigala di Glencoe


__ADS_3

Sketsa tempat baru muncul seolah memberi salam selamat datang kepada dua orang itu dan tanpa keraguan Sean berhenti di gerbangnya yang terbuat dari pohon mati. Bahkan sisa-sisa tulang hewan yang kering menjadi hiasan yang menggantung di sana yang mana itu membuat kesan mewahnya berubah menjadi agak menyeramkan. Namun, Lyra tidak merasakan ada sesuatu yang ganjil di sana kala dia turun dari mobil dengan ransel di punggungnya.


"Kau berencana untuk meminta bahan makanan mereka?" tanya Sean yang baru saja turun dari mobil seraya menjinjing tasnya.


Lyra mengangguk, "tapi rasanya tidak akan berhasil. Hanya saja, aku mencium esensi kehidupan yang sebelumnya pernah kurasakan. Bahkan sisa-sisa bau sihir.. Ah, apa aku terdengar seperti bukan Lyra?" dia tertawa kecil.


Semakin hari, dia merasa dirinya semakin pintar dalam mengamati hal-hal kecil bahkan dia sudah mulai menyukai macam-macam aroma yang terus melewati hidungnya. Apa itu sebuah pertanda atas kelebihan dirinya?


"Kau memang terdengar seperti bukan Lyra," Sean ragu untuk ikut tertawa atau sekedar untuk mengejeknya, dia berubah seratus delapan puluh derajat dan melupakan sifat aslinya—itu nampak bukan seperti Sean beberapa waktu lalu. "Tapi omong-omong, peningkatan mu juga lumayan. Aku mengakui hal itu." kaya Sean lagi berbasa-basi.


"Ayo masuk," ajak Lyra lalu melangkah masuk menelusuri jalanan yang kerap kali di lewati. "Jangan berharap kita akan bertemu orang-orang baik." katanya seolah tahu apa yang akan terjadi.


Lyra benar-benar meyakini tingkat analisanya yang berkembang pesat, entah mungkin hanya kebetulan saja atau bagaimana, dia sedikit senang dengan hal itu.


Rumah-rumah yang terbuat dari kayu mahoni di lapis cat berwarna coklat, beberapa pasang mata melihat ke arah mereka dengan tatapan sinis seolah berkata 'ini mangsa'. Tapi akhirnya mereka menundukkan pandangan dan lebih memilih untuk menenggelamkan wajah mereka dalam-dalam alih-alih melanjutkan kegiatan mereka yang tadinya. Seorang pria tua datang menghampiri mereka dengan pakaian agak lusuh, topi fedora yang dia kenakan condong ke kanan. Dia berjalan agak tergopoh-gopoh, seakan bersusah payah untuk sekedar mengangkat kaki.


"Permisi." kata Sean, Lyra membiarkan anak itu bicara lebih dulu karena dia tidak terbiasa berhadapan dengan orang yang lebih tua seperti kakek-kakek atau nenek-nenek misalnya. Sebab dia pikir orang tua seperti itu sangat sensitif terhadap perkataan yang di sengaja atau pun tidak.


"Kau datang dari belahan bumi yang mana? Kau nampak seperti bukan asli Inggris." tanya pria tua itu.


"Ah, ya, kami datang dari Portsmouth.."


"Bohong." celetuk pria itu yang berdiri dengan tubuh agak gemetar. "Kemari kan tanganmu, anak muda." pria tua itu membentang kedua tangannya, menunggu Sean memberikan tangannya juga.


Mau tidak mau Sean melakukannya seraya melihat Lyra sekilas, wajahnya menampakkan keraguan tetapi dia tetap melakukannya. Dia memberikan salah satu tangannya yang kemudian dengan cepat di genggam pria itu dengan dua tangannya. Kulit jemarinya yang keriput dipenuhi urat-urat yang mencuat keluar, Sean bisa merasakan permukaan kulitnya yang kasar. Dia mengira pria itu bekerja dengan giat selama hidupnya.


"Darah ini," bibir pria itu bergetar kemudian dia menutup kedua matanya. "darah Xylia."

__ADS_1


Sean menautkan kedua alisnya, dia merasakan darahnya berdesir di bawah kulitnya alih-alih merasa takut sekaligus penasaran. Lyra yang menyadari perubahan ekspresi dari Sean langsung menatap dingin pria tua itu.


"Apa maksud mu?" tukasnya dengan nada tinggi.


Pria tua itu melepas tangan Sean perlahan, "kau seorang manusia serigala berdarah murni, tetapi dalam darahmu tercampur darah seorang manusia normal yang bukan berasal dari Eropa." kata pria itu yang masih menutup matanya seakan tengah merapal kan mantra. "Namamu Sean, yang sengaja diberikan padamu karena untuk mengingat ayahmu—manusia normal." lanjutnya.


"Lalu apa itu Xylia?" tanya Lyra.


"Bukan apa," sahut pria itu, dia sudah membuka matanya. "tapi siapa."


Lyra tidak menduga akan terjadi hal seperti itu, apakah orang yang sejak tadi menghampiri mereka ini adalah seorang penyihir atau bukan karena hidungnya menangkap bau pekat seekor serigala pada orang itu. Meskipun dia terlihat lemah dan hampir sekarat alih-alih tidak bisa berjalan dengan baik lagi, itu tidak menghalanginya untuk bisa berubah rupa menjadi seekor serigala. Ditambah, orang itu bisa melihat atau mungkin merasakan presensi lain yang ganjil pada diri Sean hanya dengan menyentuh tangannya. Lyra begitu penasaran tentang siapa seorang pria tua itu sebenarnya.


"Siapa?" Sean mengulang. "Siapa Xylia?"


"Siapa lagi, kalau bukan ibumu."


Pria itu akhirnya mengajak mereka untuk mengikutinya ke rumah kumuh dengan obor di sampingnya, kayunya bahkan sudah berlumut. Kondisi rumah itu seakan tidak terurus sama sekali, tetapi karena mengingat si pemilik rumah, jadi Lyra tidak heran dengan kenyataan itu. Kemudian pria itu meminta mereka untuk duduk di kursi reyot dari besi karat yang terus di cat ulang dan ketika Lyra melihat sekeliling rumah, sepertinya rumah itu hanya memiliki dua ruangan saja. Benar-benar sempit dan agak kotor, tapi itu tidak jadi masalah. Yang menjadi masalah adalah pria itu menatap Lyra dengan tatapan mengerikan tetapi tajam seakan mengancam akan menelan Lyra hidup-hidup secara utuh.


"Nama ku Carlos, sebagai kepala suku para manusia serigala di Glencoe. Aku sudah tidak meragukan lagi kedatangan kalian kemari atau bahkan identitas kalian berdua. Kalian membutuhkan asupan makanan untuk di perjalanan." katanya cepat, dia nampak berbeda dengan pertemuan awal. "Hal lumrah sekali, beberapa manusia serigala juga sering mampir kemari sekadar meminta bahan makanan atau mengambil sendiri di hutan belakang yang penuh sumber makanan."


"Tapi, bagaimana bisa.." Sean tidak sanggup melanjutkan perkataannya.


"Bukankah seorang manusia serigala di karuniai dengan pencium serta pendengaran yang tajam. Aku bisa mendengar mobil Hilux-mu yang terparkir dipinggir jalan dan langkah kaki dua orang yang masuk ke kawasan ku ini, aku bisa mencium aroma serigala yang begitu menyengat pada kalian berdua. Apakah penjelasan ku kurang jelas tentang ini?" pria itu menaruh kakinya di atas kaki lainnya seraya bersandar ke kursi yang akhirnya mengeluarkan bunyi cukup nyaring.


Sean mengangguk tanda setuju, tetapi bukan itu yang ingin dia tanyakan. Tapi tentang ibunya, Xylia.


"Ibu mu, ya?" dia menggerak-gerakkan salah satu kakinya dan mengaitkan jemari-jemari tangannya lalu menatap dua makhluk yang ada di hadapannya sedang menunggu. "Dia seorang gadis cantik yang tinggal di dalam hutan bersama kerabatnya yang lain, sesekali mereka mampir kemari untuk memastikan keadaan kami di sini." katanya dengan santai, Carlos seakan merasa dirinya muda kembali, benar-benar berbeda dari sebelumnya yang hampir mati.

__ADS_1


"Kau tidak membuat cerita, kan?" tanya Lyra menyelidik yang mulai mencurigai tingkah laku Carlos.


Carlos tersenyum tipis, "bagaimana bisa seorang pria tua membohongi anak muda yang bahkan lebih pandai berbohong." senyumnya melebar seolah merasa puas dengan perkataannya yang berhasil membuat Lyra membungkam mulutnya rapat-rapat.


Menyadari hal itu Sean mencoba menyudahi dan mengalihkan pembicaraan ke awal topik tentang ibunya. Carlos dengan senang hati menceritakan apapun yang terjadi pada ibunya seakan dia bisa melihat semua kejadiannya secara nyata. Xylia yang awalnya berasal dari hujan akhirnya memutuskan untuk mengembara, bertemu banyak penyihir dan akhirnya bertemu dengan manusia normal secara langsung ketika di tepian pantai yang sepi pengunjung. Meski begitu, ombak yang tinggi dan lautan yang penuh bebatuan itu tidak menghalangi beberapa manusia normal untuk melakukan aktivitas berselancar mereka. Hingga salah satu dari beberapa yang datang ke sana terluka karena terkena goresan karang yang tajam, Xylia mau tidak mau mengobati mereka dengan peralatan yang ada. Selama perkenalan dan sering bertemu, Xylia dan Sean senior—ayah Sean, mereka memutuskan untuk menikah dan tinggal bersama. Namun, karena Sean senior tidak bisa lebih lama berada di sana, dia tidak sempat bertemu lagi dengan Xylia dan dia tidak pernah kembali lagi.


Xylia yang mulanya tidak tahu kalau dia sedang mengandung malah pergi mengembara lebih jauh bersama seorang penyihir yang sudah seperti sahabatnya sendiri. Dia tidak bisa kembali karena semakin hari perutnya semakin membesar hingga akhirnya dia melahirkan Sean di suatu tempat di atas bukit. Mereka berdua kembali setelah dua bulan kelahiran Sean dan lalu menemui kerabat-kerabatnya di pedalaman hutan bersama si penyihir. Xylia yang terkadang merindukan Sean senior sering kali melakukan hal-hal diluar dugaannya seperti menggigit atau mencakar dirinya sendiri, temannya takut kalau Xylia akan melukai anaknya sendiri hingga di awal tahun usia Sean menginjak tiga tahun, hutan terbakar tanpa sebab yang pasti dan membuat rumah yang lain ikit tersulut api. Xylia meminta temannya itu, si penyihir untuk membawa Sean pergi lebih dulu dari sana karena dia ingin mengambil sesuatu yang mungkin begitu berarti untuknya. Sampai beberapa waktu dan hingga kebakaran usai di padamkan, Xylia tidak kunjung menghampiri mereka.


Menurut Carlos, insiden kebakaran yang dahsyat itu benar-benar peristiwa yang menakutkan sepanjang sejarah. Semua manusia serigala di Glencoe pada mulanya hanyalah sekumpulan orang-orang yang kehilangan kerabat mereka ketika berpindah dari Polandia. Mereka hidup rukun untuk beberapa waktu lamanya sampai akhirnya ada yang sengaja membakar hutan dan menghabiskan seluruh orang-orang yang ada di hutan, termasuk Xylia. Dia mati pada saat ingin menyelamatkan seseorang yang butuh pertolongannya. Seseorang itu adalah saudara Carlos, yang kini sudah meninggal.


"Jadi, karena itu sang penyihir membawaku untuk dititipkan di panti asuhan? Bersama orang-orang yang tidak mengerti akan kondisi satu sama lain?" sergah Sean, seakan tidak terima dengan keadaan yang ada.


Lyra ingin mengatakan kepada Sean kalau dia semestinya tidak harus mempercayai semua omongan Carlos. Namun, dia tahu, jika sudah mengenai keluarga, siapapun tidak akan mendengan apapun masukan bahkan dari seseorang yang dia cintai.


"Apa dia di makamkan di sini juga?" tanya Sean, suaranya terdengar hampir menangis.


Carlos mengangguk, keriput di dahinya seperti dibuat-buat. "Apa kau mau ku antar? Sekaligus mencari untuk bekal perjalananmu?"


Sean mengajak Lyra untuk ikut dalam ziarah, meski keraguan menguasai Lyra dia tetap melangkahkan kakinya mengikut Sean dan Carlos yang ada di depannya. Orang-orang yang tadinya melihat mereka dengan sinis kini sudah agak tersenyum dan menyapa kepala suku mereka bergantian yang hanya dibalas lambaian oleh Carlos. Jalannya yang tergopoh-gopoh tidak mempengaruhinya untuk meminta bantuan Sean, dia tetap berjalan seakan masih berusia muda walaupun kaki serta anggota tubuh lainnya gemetar tak karuan.


Dalam perjalanan menuju pedalaman hutan, mereka dikagetkan oleh kedatangan tiga orang. Mereka muncul dari semak-semak dan dengan sengaja mengejutkan kepala suku yang kapan saja akan memiliki serangan jantung akut.


Sementara berkenalan, Lyra memperhatikan mereka satu per satu. Perempuan pertama yang bernama Grace memiliki kulit putih dan frekles yang memenuhi wajahnya, tubuhnya lebih tinggi beberapa senti dari Sean. Lalu perempuan kedua yang mengaku bernama Joy, dia agak kurus dan memiliki rambut pendek seperti seorang laki-laki, kulitnya kecoklatan karena mungkin terlalu sering berjemur. Lalu yang terakhir, Peter, seorang laki-laki yang setara tingginya dengan Lyra tetapi bertubuh tegap seakan rajin berolahraga. Rambutnya coklat dengan mata hitam bulat sempurna. Mereka berpakaian sama dengan kaki berbalut sepatu kets hitam bertali putih dan celana jeans berwarna denim, ketiganya bergaya seperti anak muda pada umumnya.


"Kalau kalian punya waktu lebih lama, aku akan mengajak kalian pergi ke Glencoe Outdoor Centre. Di sana menampilkan pemandangan indah yang biasa kami lihat sepanjang tahun." kata Peter dengan semangat api yang membara di dalam dirinya.


Lyra hanya tersenyum dan bergumam terimakasih, kemudian mereka berpisah.[]

__ADS_1


__ADS_2