
Suara cabang pohon yang saling bergesekan akibat tiupan angin yang kencang membuat Lyra sadar dari lamunannya, sementara Rick dipenuhi banyak pertanyaan yang muncul dari kepalanya sendiri setelah melihat keadaan Lyra yang semakin memburuk.
Tadinya Lyra meminta Rick untuk ikut duduk bersamanya di bak mobilnya, tetapi kemudian Lyra mendiamkannya tanpa sebuah alasan.
"Aku ingin sekali memelukmu," ujar Rick pelan, "tapi aku tidak mau kau akan semakin membenciku jika aku melakukannya."
Lyra membawa wajahnya untuk melihat Rick, dia membiarkan malam itu tenggelam bersamanya dalan kegelapan yang akan dia temui sebentar lagi. Dia seakan tidak lagi punya harapan, bahkan berharap kalau dia bisa hidup lebih lama, rasanya mustahil. Dia sudah mengetahui takdir hidupnya dan akan berakhir seperti apa. Namun, dia akan melakukannya karena tidak ingin kehilangan Larry dan membuat orang tuanya bersedih seperti apa yang dirasakan Orance dan Peal kala itu.
Entah sesuatu macam apa yang mendorong Lyra agar bergeser mendekat kepada Rick. Dia kemudian menyadarkan kepalanya ke bahu Rick dan baru sekali itu mencium aroma tubuhnya.
"Lyra.." panggil Rick pelan, dia sudah seperti seseorang yang amnesia. Dia seolah bukan dirinya lagi.
Lyra tidak merespon apa-apa, tetapi Lyra bisa mendengar jantung Rick berdetak kencang. Dia mau tak mau tersenyum menyadarinya, entah kenapa rasanya dia ingin tidur di sana dan tidak akan bangun lagi sampai kapanpun. Karena dia tahu, selama apapun dia bertahan dan menghindari takdirnya, toh dia akan mati juga pada akhirnya. Namun, rasa rindu dan penasaran masih menjelma seperti hantu di alam pikirannya.
Rick tidak tahu kalau Lyra sudah terpejam, walaupun sebenarnya dia tidak tidur. Kedua tangan Lyra merangkul dirinya sendiri, dia mencoba menenangkan sekaligus menghangatkan tubuhnya. Dengan keraguan yang muncul di dalam hati, Rick memanggil Lyra kembali.
"Maafkan aku." sahut Lyra akhirnya dan menarik dirinya dari sana, dia sudah bersandar pada kabin mobil seraya mendongak ke atas untuk melihat kegelapan di atas sana meski sebagian pandangannya terhalangi oleh dedaunan yang bergerak-gerak.
"Kau mau mendengar ku? Karena aku tahu, kau tidak akan mengatakan apa-apa lagi padaku mengingat aku terus mengecewakan mu." Rick mengusap wajahnya dengan kedua tangannya kemudian menarik napas panjang. "Aku bukanlah seseorang yang seperti kau duga, ya, awalnya aku memang tidak mengutarakan banyak informasi tentangku padamu kala kita bertemu, bahkan aku sudah meninggalkan mu begitu saja."
"Sudahlah," seru Lyra dengan nada mendatar, dia meringkuk seraya memeluk kakinya dan membawa wajahnya tenggelam di tengah-tengah kakinya. "Kau boleh di sini untuk beberapa waktu, setidaknya temani aku sampai aku merasa duniaku sudah membaik." suaranya agak teredam oleh penghalang yang dibuatnya sendiri.
Rick menyunggingkan senyum melihat Lyra yang nampak seperti seseorang yang habis kehilangan uang dengan jumlah yang sangat besar, wajahnya kusut dan memerah. Rick sadar perempuan itu sempat menangis tadinya, karena dia sudah berdiri di sana cukup lama memandangi Lyra diam-diam. Rick hanya berharap, setelah apa yang di lalui Lyra, dia akan menemukan kedamaian yang dia cari selama ini.
__ADS_1
"Bagaimana kalau aku bercerita sedikit saja, lalu saat waktu ku sudah habis bersama mu di sini, kau bilang padaku dan aku akan pergi."
"Ya." balas Lyra singkat, dia masih menimbun wajahnya dalam-dalam.
Meski Rick ragu tentang Lyra yang akan mendengarnya atau tidak, tapi dia harus berkata yang sejujurnya kepada Lyra. Hanya itu kesempatannya sebelum semuanya benar-benar terlambat untuknya.
Rick mulai bercerita..
Ketika berumur empat belas tahun, Rick kehilangan keluarganya, mereka di bantai habis oleh pasukan manusia serigala yang sampai saat ini dia tidak tahu siapa pelakunya. Yang dengan senang hati masuk ke dalam wilayah mereka dan memporak-porandakan seluruhnya. Rick selamat dari peristiwa itu karena dia sedang tidak di sana, dia pergi bersama orang asing ke tempat saudaranya yang cukup jauh. Rick begitu putus asa sekembalinya dia ke wilayahnya yang tidak mudha terjangkau oleh manusia normal hingga akhirnya Rick memutuskan untuk melanjutkan hidup dengan cara nomaden. Saat usianya menginjak enam belas tahun, Rick tidak sengaja bertemu pasukan Exchanges, mereka waktu itu berbaik hati untuk memberikan Rick tempat tinggal dan hidup bersama mereka hingga di suatu malam, serigala dengan tubuh yang besar datang dan mendapatkan manusia normal di tengah-tengah puluhan serigala, Rick yang ketakutan hanya memasrahkan diri tetapi salah satu dari serigala tersebut meminta serigala yang bertubuh besar itu, yang mana mereka memanggilnya dengan Ficiens. Serigala itu akhirnya memperbolehkan Rick untuk bergabung bersama mereka.
Setelah beberapa tahun lamanya, Rick mulai mendengar tentang Cravene, yang mana dialah pendiri pertama pasukan Exchanges. Namun, orang itu tidak pernah hadir saat dia akan memberikan tugas kepada anak buahnya.
Jadi, beberapa waktu lalu, Rick sampai di Eropa bersama dua temannya, Alice dan Tobias dengan Rick sebagai Alpha mereka. Mereka bertiga diutus untuk mencari tahu keberadaan manusia serigala dan penyihir di wilayah Eropa. Tetapi ketika di perjalanan menuju ke Eropa, Rick beserta dua temannya mendengar kisah dramatis dan itu terus terngiang dipikirannya, hanya sebuah ramalan itu, tentang bulan Gemini.
Rick yang waktu itu kurang paham, akhirnya bertemu Lyra dan bersikap seolah dia diutus oleh kepala sukunya padahal dia seorang mata-mata. Lyra begitu percaya akan dirinya dan Rick pikir dia bisa memanfaatkan itu. Namun, ketika melihat mata Lyra yang tidak sengaja bertemu dengannya, bahkan Lyra juga rasanya tidak berniat untuk menjebaknya atau mungkin ingin menipunya, hati Rick yang sejak awal sedingin es menjadi luluh lantak. Rick seakan melihat ibunya di dalam diri Lyra.
Sayang sekali, ketika bertemu Cravene palsu, Rick seakan tidak bisa berbuat apa-apa tapi dia sadar akan dirinya. Dia selama ini hanya hilang kendali akan tubuhnya sendiri dan akan berucap jujur walaupun dia tidak menginginkannya ketika dia berhadapan dengan Cravene yang palsu. Hal itu membuat Rick memisahkan diri untuk sementara waktu dari teman-temannya, dia terus mencari kabar Lyra dan tidak ingin kehilangannya karena Rick tahu rencana Lyra.
Terakhir dia bertemu Lyra saat Lyra sedang berada di tebing bersama Kawanan Epile, Rick meminta Lyra untuk bersenang-senang karena dia tahu Lyra akan pergi besok dan dia juga akan meninggalkan Kota. Tidak ingin tertangkap oleh Veneris dan membuat identitasnya terbongkar.
Rick meninggalkan Kota dan berpesan kepada temannya untuk tidak muncul dan menampakkan diri sama sekali, dia bahkan tidak makan selama dua hari karena memikirkan sesuatu sehingga tenaganya berkurang dan membuatnya begitu pucat. Pagi berikutnya, Rick memang menunggu Lyra terbangun kemudian meminta mereka untuk kabur, Rick diam-diam bersyukur kalau mereka melakukannya. Setelah itu rupanya Rick kepergok sedang mengintai anggota Veneris kemudian Rick langsung menghabisi mereka semua dan menemui Sean di kafe. Itu bukanlah kemauannya sendiri, dia sudah kehilangan kendali saat itu, dia mengatakan hal yang tidak ingin dia katakan. Dia begitu merasa bersalah dan kemudian berpihak kepada Lyra dan Sean saat Cravene yang palsu sudah mendapati Lyra.
Tidak bisa dibohongi lagi, orang itu dapat mencium darah murni Lyra yang segar. Dia mengaku bisa mendengar sebuah nada yang muncul sebagai rasa takut dari dalam diri Lyra.
__ADS_1
Hingga akhirnya Cravene palsu itu mengambil alih diri Rick lagi yang membuat Lyra semakin membencinya, Rick sudah benar-benar kehilangan kesadarannya.
"Untuk apa kau membeberkan semuanya?" tanya Lyra, suara agak serak. Dia rupanya sudah mendongak ke atas lagi dengan mata yang tertutup.
Rick tersenyum, "karena aku bukan seperti yang kau pikirkan saat itu. Aku hanya tidak ingin kehilangan ibuku lagi. Maafkan soal teman-temanku yang mengganggumu malam itu, padahal mereka sudah ku peringatkan untuk tidak melakukan apa-apa kecuali mengawasi mu dan Sean."
Lyra yang masih setengah percaya dengan semua yang dikatakan Rick tidak mengindahkan permintaan maafnya.
Kalau saja Rick lebih berterus terang dan mengatakan semuanya, Lyra tidak mungkin ketakutan setengah mati begini.
"Dia seorang hybrid," sergah Lyra, tiba-tiba mengalihkan pembicaraan. "apa kau tahu siapa namanya sebenarnya?"
"Dia tidak mengatakan siapa dia sebenarnya, tapi dia bilang bahwa dia tahu tentang keluargamu, terutama ayahmu."
"Apa dia mengatakan padamu siapa Deanrys yang dia sebutkan itu?"
Rick mengangguk yang mana hal itu membuat Lyra mengubah mimik wajahnya menjadi lebih serius dari sebelumnya, dia duduk berbalik menghadap Rick seraya merangkul dirinya.
"Dia adalah.. ibumu." Rick sempat ragu, tapi dia sudah berjanji dia akan berkata terus terang kepada Lyra tentang apa saja yang dia ketahui. "Ku pikir Cravene palsu ingin mengatakan padamu tentang keluarga mu dan akan mengantarkan mu kepada mereka. Tapi rupanya aku salah berasumsi, ternyata selama ini dia hanya ingin membalaskan dendam yang tidak ku tahu alasan di baliknya."
"Ibuku?" Lyra menautkan kedua alisnya, matanya kembali berkaca-kaca. Rick sudah menduga kalau perempuan itu akan menangis, lagi.
"Kau bebas untuk marah sesuka hatimu padaku dan kembali mengacuhkan ku seperti sebelumnya. Tapi aku mohon, jangan begitu keras terhadap dirimu sendiri. Cukup sulit untukku menjaga mu dan Sean dari pasukan Cravene palsu."
__ADS_1
Wajah Lyra memerah, dia menangis tanpa suara. Rick berinisiatif untuk memeluknya, dia tidak sanggup melihat perempuan itu begitu merasa tersiksa dengan hidupnya yang rasanya begitu berat. Namun, Rick tetap menahan diri sampai dia mendengar sendiri dari mulut Lyra kalau dia butuh Rick dan menginginkannya.
Rick tidak berharap banyak, kalau saja dia berhasil melindungi Lyra sampai ke tujuannya, dia sudah merasa lega atas apapun. Meski dia meragukan pandangan Lyra yang masih belum mengakui keberadaan Rick di sekitarnya.[]