Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)

Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)
22. Itu Sudah Menjadi Takdir


__ADS_3

Seketika semua mata tertuju kepadanya, beberapa pandangannya tampak kosong tetapi berkilat-kilat seolah menginginkan sesuatu. Jantungnya terus-terusan berdegup tidak karuan menyadari atmosfer keganjilan yang menyelimuti mereka semua, terkecuali Rick yang entah bagaimana tidak merasakan apa-apa. Namun, Lyra mencoba untuk tidak memikirkan lelaki itu karena dia adalah dalang dibalik semua yang terjadi.


Hujan mulai berhenti, yang tersisa hanya langit kelabu di atas mereka tanpa sedikitpun cahaya Matahari. Udaranya masih membuat menggigil meskipun Lyra memiliki bulu yang sangat tebal, tapi bukan itu masalahnya. Lukanya yang tidak berhenti mengeluarkan darah segar yang cukup membuat noda merah di aspal yang basah semakin menarik perhatian semua serigala di sana, Lyra takut sekali kalau dia sudah meninggalkan jejak seperti itu.


Kau sudah tahu rupanya, ya? Tukas si mata merah.


Sementara Lyra yang masih berada di atasnya semakin mencengkeram dengan kuat punggungnya.


Tapi semakin kau berusaha mencerna semuanya sekaligus, kau tidak akan mengerti, Lyra. Katanya lagi.


Lyra mengindahkan semua perkataannya tanpa perlu mencerna apapun satu per satu, dia hanya ingin mereka pergi dan tidak mengganggunya lagi dalam waktu dekat atau sampai kapanpun, karena dia hanya ingin bertemu keluarganya sekaligus menuntut penjelasan tentang siapa itu 'Deanrys keturunan Adam' yang dia sebutkan.


Selain mencoba menyakiti si mata merah, Lyra juga berencana untuk membunuhnya kala itu juga. Perasaannya sudah tidak dapat dia kendalikan lagi karena semua tertutup amarah yang membara. Siapa pun akan melakukan hal yang sama ketika berada pada amarah yang membuncah.


Apapun kau memanggil ku, siapapun yang kau sebut, aku tidak akan mendengarkan apa-apa dari orang asing seperti mu. Tukas Lyra sekilas, lalu berupaya untuk menyobek punggung si mata merah itu dalam satu cakaran yang dalam.


Naas, dia terjatuh terbalik karena kuku ku yang lain masih menancap ke kulit si mata merah begitu dalam, dia lupa untuk melepaskannya lebih dulu sebelum bertindak seperti tadi. Hal itu membuatnya di serang secara bertubi-tubi oleh serigala yang lain yang tidak kalah kuat dari si mata merah. Lehernya digigit secara bergantian oleh mereka tetapi dia berusaha menepisnya dan bangkit meski dengan rasa sakit yang terus di berikan. Lyra tahu dia akan kalah telak tetapi dia tidak bisa hanya berdiam diri saja, dia terlalu cepat untuk menyerah.


Bagus, kalau begitu lakukanlah, aku suka seseorang seperti mu.


Suara-suara yang datang dari segala arah memenuhi kepalanya dalam waktu yang lama sehingga membuatnya cukup terganggu, tidak dapat memikirkan rencana selanjutnya. Lehernya benar-benar sakit dan tidak bisa di pungkiri kalau hal ini sangat mengerikan, semua menikmati penyiksaan ini, semua menikmati menyiksanya secara bersamaan.


Lyra, bertahanlah! Itu suara Sean.


Lyra hampir ingin menangis menyadari kenyataan itu, rasa sakit dari cakaran yang tadinya sedikit berkurang, kini rasanya kembali muncul dan semakin perih. Dia mungkin sudah menangis jika dalam rupa manusia, Dia tidak akan bergerak untuk waktu yang lama agar rasa perihnya menghilang. Namun, hal ini berbeda, dengan segenap tenaga, dia bisa menyingkirkan mereka langsung bersamaan dengan rasa sakit yang berusaha dia tutupi.


Beberapa serigala menggeram padanya, taring mereka yang panjang-panjang itu entah bagaimana tidak lagi membuat pertahan Lyra runtuh, dia tidak lagi takut. Kini Lyra memasang ancang-ancang untuk mengajak mereka bertarung lagi walau rasanya mustahil dia akan berdiri dengan baik nantinya. Aroma darah segar yang menetes dari lukanya seolah bisa membangun intuisi yang liar di kepalanya, dia menggeram sebagai balasan ke mereka dan berusaha menampakkan taringnya yang tidak kalah mengerikannya dengan mereka.

__ADS_1


Apakah wajahnya berubah drastis? Pikirnya.


Suara tertawa itu berasal dari arah lain yang mana itu adalah si mata merah, sedang mengibaskan ekornya yang hitam gelap di udara. Dia tidak terpincang-pincang sedikitpun, dia nampak begitu baik-baik saja tanpa luka, dia menatapnya dengan tatapan kasihan.


Luka yang kau buat kepada ku saat ini tidak menyakitkan seperti yang dulu, harusnya kau ingat itu, anak muda. Dia kembali tertawa.


Memang benar, dengan mencerna kata demi kata yang diucapkannya dalam waktu bersamaan tidak menghasilkan apa-apa kecuali kebingungan yang berkepanjangan. Namun, sejak awal Lyra berasumsi kalau si maya merah itu ingin mengingatkan dirinya akan sesuatu hal yang sempat atau pernah dia lewati tetapi dia tidak berhasil mengerti apapun selain 'Deanrys keturunan Adam'. Itu terus terngiang-ngiang dalam kepalanya, berputar-putar di situ saja mencari jalan keluar.


Itu sudah menjadi takdir, Lyra. Kau harusnya memang sudah mati, bahkan sebelum kau tumbuh dewasa, sebelum kau mengenal keluargamu sendiri, sebelum kau tahu bahwa kau memiliki kembaran yang identik. Harusnya kau sudah mati. Tapi keluargamu.. Sama sekali tidak memikirkan resikonya, dia membiarkan mu hidup sampai sebesar ini. Dia melangkah mendekat perlahan-lahan dengan santainya, dan kini, takdirmu tidak bisa dihindari lagi, takdirmu adalah mati di tangan ku. Lyra bisa melihat matanya berkilat-kilat dengan aura kehitaman yang mengelilingi seluruh tubuhnya, seperti di scene film-film horor.


Tubuh Lyra seolah sudah si setting otomatis untuk melangkah mundur ketika merasa terancam atau ketakutan, langkah demi langkah ke belakang sampai dia memijak kaki depan Rick yang sejak tadi berdiam diri saja. Tidak bergerak bahkan tidak berbicara, Lyra curiga kalau dia sejak tadi tidak bergeser barang sedikitpun.


Dengan begitu, semuanya terasa adil 'kan? Katanya dengan nada datar tetapi tetap menyeramkan. Atau kita buat tawaran dengan cara penukaran. Bagaimana?


Omong kosong macam apa itu? Seru Lyra yang merinding dibuatnya.


Tidak mungkin, aku lebih tidak membutuhkannya! Teriak Lyra seraya menggeram padanya.


Lalu, kau akan bebas, tentu saja. Namun, sayang sekali kau tidak akan bertemu dengan saudara mu. Kau sepakat?


Si mata merah mencoba menjebaknya, Lyra tahu, Lyra bisa merasakan isi hatinya yang terus ingin di keluarkan. Dia tidak akan membiarkan Rick berkeliaran begitu saja sementara Rick adalah informan yang selalu bekerja dengan baik untuknya bahkan sampai rela melakukan hal bodoh itu.


Kau boleh membunuh ku, tapi kalau kau bisa. Aku berupaya terdengar kuat, sekuat-kuatnya. Hanya saja, aku belum ingin mati di tangan mu sekarang.


Aku tidak salah mengira bahwa kau memang mirip dengan ayah mu, bahkan saat kau lahir, tatapan mu di penuhi kebencian yang terpendam di hati ayah mu. Dia tertawa puas.


"Jangan bermain di jalanan! Dasar binatang tidak beretika!" Seru seseorang yang muncul dari balik pohon, diikuti dengan dua orang di belakangnya.

__ADS_1


Si mata merah mengaum begitu keras, dia berlari begitu saja ke pepohonan yang berlawanan arah dengan orang yang muncul itu, beberapa kawanannya membuntutinya dari belakang sambil menggeram kesal. Sementara itu Sean hanya menggerakkan kepalanya dan melihat Lyra sekilas.


*I*ni takdirnya, katanya kemudian menutup matanya.


Mereka bertiga yang tadinya hanya berdiri melihat dari pepohonan menghampiri Lyra dan Rick. Mereka memiliki kulit khas orang Eropa, mereka bertiga memiliki rambut pirang keemasan serta tubuh atletis. Bahkan wajah mereka bertiga hampir sama semua layaknya orang kembar. Setiap dari mereka membawa tas punggung berwarna sama yang terlihat cukup berat sampai bahu mereka nampak lebih rendah dari manusia normal lainnya. Sepatu boot hitam beresleting di bagian samping luar yang setinggi dengkul melindungi kaki mereka dan pakaian yang dikenakan benar-benar berwarna gelap dan polos, satunya hitam, dan duanya memiliki warna abu yang sama tetapi sangat gelap. Mereka bahkan menggunakan topi berwarna hitam yang sama di atas kepala masing-masing, yang memiliki merk dengan jahitan putih di tengah-tengahnya.


"Sebaiknya kalian kembali ke dalam mobil sebelum manusia menemukan kalian." seseorang yang tadi berseru kini berkata kembali dengan tegas, bahkan dia tidak tersenyum sejak tadi.


Aku tidak ingin mengajakmu, katanya kepada Rick, entah dia mendengar Lyra atau tidak, tapi aku butuh beberapa informasi. Kemudian Lyra berjalan menghampiri Sean yang sejak tadi tergeletak tidak berdaya di aspal basah bekas hujan.


Bukannya Lyra mau mempercayai orang asing, tetapi apa yang dikatakannya memang benar. Bahkan Lyra sama sekali tidak terkejut kalau mereka—si mata merah dan kawanannya—tahu identitas Lyra dan Sean, siapa mereka berdua sebenarnya.


"Oh astaga! Anak itu." yang mengenakan baju hitam menyadari keberadaan Rick, dia melihat ke arah lelaki itu. "Chrysler, tolong kembalikan kesadarannya, kau urus dia."


Tunggu, apakah dia baru saja bilang 'kesadaran'?


Lyra belum saja merubah dirinya menjadi manusia lagi saat melihat mereka membawa Sean ke dalam mobil, karena tubuhnya sudah lemas dan tidak sanggup lagi untuk bertahan lebih lama. Dia terjatuh tidak sengaja di tempat Sean terbaring tadinya, dia mencoba mengatur napasnya begitu dia menyadari kalau dadanya kembali terasa sakit.


"Kami akan membantumu, jangan khawatir." ujar salah satu dari mereka.


Matanya menutup dengan sendirinya tetapi kesadaran Lyra belum menghilang sehingga, dia masih bisa mendengar percakapan mereka.


"Sepertinya mereka benar-benar bertarung dengan serius, lihat itu, lukanya dalam sekali."


"Bertahanlah sedikit lagi, kami akan mengobati lukamu. Percaya padaku." bisik seseorang di telinganya sangat lembut.


Kemudian Lyra merasa tubuhnya terangkat seakan-akan dia bisa melayang. Rasanya dia ingin tidur saja saat itu juga. Namun, ketakutan akan siapa mereka itu terus menghantui pikirannya. Dia tidak yakin dengan tindakan baik itu, apakah mereka memang orang yang baik atau mereka memiliki rencana lain juga?

__ADS_1


Lyra sudah tidak tahan lagi.[]


__ADS_2