Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)

Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)
34. Air Terjun Experientia Sortem


__ADS_3

Suhu semakin dingin di sekitar, atmosfer yang mencekam menyelimuti daerah coklat yang kini mulai dipenuhi salju. Hanya geraman serta auman yang terdengar di ambang, seolah tidak ada rasa iba di setiap wajah-wajah berbulu dari serigala itu. Pepohonan tua yang berdiri tegak di sekeliling mereka hanyalah bagai sketsa tanpa arti apa-apa, padahal, beberapa serigala dengan tubuh yang sama besar dengan yang lainnya masih bersembunyi dalam bayang-bayang. Mereka seakan menunggu suatu pertanda dari sang Alpha.


Meski angin dingin sudah membawa beberapa butiran salju menjauh dari wilayah tersebut, itu tidak mempengaruhi pertarungan sengit yang rasanya sebentar lagi akan terjadi. Namun, seekor serigala dengan bulu-bulunya yang lebat beserta tatapan matanya yang sangat tajam muncul, yang sepertinya tidak menggoyahkan keinginan kubu lawan untuk melakukan pertarungan.


Jauh-jauh kau datang hanya untuk mencari keponakan mu, wahai saudara ku? Tanya serigala itu. Bulu putih bersihnya yang tebal bergerak-gerak tertiup angin, dia sama sekali tidak mengindahkan butiran salju jatuh di wajahnya.


Sang Alpha dari kubu lawan membalas tatapan sinis, selama keadilan tidak pernah berdiri dengan tegak, aku akan selalu melakukan tujuanku! Serunya seraya mendesis.


Sementara pada barisan belakang, presensi Lyra yang tidak diketahui oleh siapapun, berdiri dengan gemetar meski bulu-bulu yang ada di kakinya menutup sempurna kakinya di salju, dia tetap merasa dinginnya menusuk hingga pernapasannya terganggu. Wajah sang Alpha dengan bulu hitam gelap pada seluruh bagian tubuhnya kini tidak lagi mengerikan seperti awal Lyra bertemu dengannya, tetapi matanya yang masih saja memancarkan kobaran api kebencian sekaligus amarah tidak pernah menghilang dari sana.


Aku hanya mencoba melindungi ras kita, walaupun aku tahu hampir semua hal di dunia ini tidak pernah berjalan adil sebagaimana yang kita harapkan. Serigala itu mencoba menenangkan tetapi rasanya dia gagal karena reaksi sang Alpha kubu lawan tidak semestinya.


Dia membuka lebar kedua kaki depannya seakan mengambil ancang-ancang seraya mengaum dengan keras memberi tanda. Sedetik kemudian beberapa serigala muncul dari balik bayang-bayang, menatap serigala yang lain dengan sinis seraya mendesis geram.


Aku senang bila banyak yang mati, itu untuk menemaninya di sana. Gumam sang Alpha kubu lawan, semakin banyak yang mati, maka mimpinya akan tercapai. Kemudian dia tertawa, kau sama sekali tidak peduli dengan saudara mu sendiri!


Suasana hati serigala berbulu putih yang tadinya merasa tenang, kini dipenuhi rasa bersalah, dadanya sesak seakan besi panas telah menancap menembus tubuhnya. Semua tidak seperti yang kau pikirkan.


Itu hanya alasanmu, pengecut! Karena kau selalu dibanggakan oleh ayahmu! Sementara kami, hanya mendapatkan cacian dan kemurkaan seorang ayah! Kau itu hanya beruntung dan kau tidak pernah mengenal rasa sakit! Sergah sang Alpha kubu lawan yang mulai mengeluarkan aura keunguan di seluruh tubuhnya seolah menjadi perisai.


Lyra yang melihat itu untuk kedua kalinya kini menyadari satu hal, si mata merah itu—Cravene palsu, dia bisa mengendalikan sihirnya ketika sedang dalam rupa serigala, dia bahkan menghipnotis semua serigala di sana. Pasukan serigala berbulu putih terdiam begitu saja, kemudian mereka di bantai habis oleh kubu lawan. Sementara itu, Cravene palsu, menuju ke barisan paling belakang. Lyra melemah di tempatnya..


Untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu lamanya, Lyra kembali memimpikan hal yang ganjil menurutnya. Dia tidak sedang bersama Orance, tetapi mimpi itu datang begitu saja padanya. Sesaat ketika sadar kalau dia sedang terbaring di sofa rumah kaca milik Onyx, matanya mencari-cari seseorang.


"Siapa yang kau cari?" tanya orang itu, Lyra langsung menoleh ke sumber suara.


Orang itu sedang membasuh wajahnya dengan air hangat yang ada di dalam wajah di depannya, air yang menetes dari wajahnya masuk kembali ke dalam wadah. Orang itu berbalik melihat Lyra juga tanpa menghiraukan wajahnya.

__ADS_1


"Sean." ucapnya. "Dimana Sean?"


"Baru saja keluar untuk mencarikan mu cemilan, lagipula, aku juga lapar." sahut Onyx kemudian kembali membasuh wajahnya, entah untuk apa dia melakukannya.


Lyra duduk di sofa beludru coklat dengan kedua tangan tangan yang memegang kepalanya, rambutnya yang semakin memanjang belakangan ini menutup sebagian dari wajahnya. Lyra menunduk, mencoba mengingat sesuatu yang akhirnya dia sadari.


"Kau berhalusinasi, lalu pingsan." gumam Onyx pelan. "Ku rasa, aliran air terjun itu sudah berfungsi kembali."


Lyra langsung mengangkat kepalanya untuk melihat Onyx, dia tidak mengerti dengan apa yang perempuan itu bicarakan. Lyra terpaksa bangkit dan menghampiri Onyx yang sibuk dengan kegiatannya, walaupun begitu Onyx tetap saja membaca pikiran Lyra, bahkan berulang kali.


"Kau bicara apa sih! Lagipula, kau jangan seenaknya membaca pikiranku!" seru Lyra tidak terima. "Apa maksudmu dengan 'sudah berfungsi kembali'? Memangnya itu mesin?"


Onyx tertawa dan menghentikan kegiatannya, dia bangkit dan mengambil sebuah handuk untuk mengeringkan wajahnya, dia menepuk-nepuk wajahnya pelan. "Jangan menjadi tempramental begitu, aku hanya berusaha mencari informasi untukmu. Lagipula, mimpimu itu berlangsung karena kau terlalu lama berada di dalam air."


Bahu Lyra merosot, dia ingin memarahi Onyx habis-habisan tetapi dia tidak bisa melakukannya. "Lalu kenapa kau tidak mengatakannya lebih dulu?" Lyra menghembuskan napas, "kau malah langsung berjalan menuju ke sana tanpa memberitahukan apa-apa."


"Tetapi kenapa bisa ada air terjun seperti itu di sini?"


"Rasa penasaran mu tinggi sekali ya, persis denganku." Onyx kembali duduk di samping Lyra yang sudah merebahkan dirinya di sofa seakan kehilangan seluruh tulang punggungnya. "kau tahu, Nona Yue adalah seorang penyihir sekaligus peramal terbaik. Dia memiliki kemampuan dalam mengendalikan air, sehingga dia memanipulasi air sebagai alat perantaranya untuk meramalkan sesuatu dan dia menyebutnya sebagai jam air. Namun, setelah melakukan ramalan, Nona Yue mendapati gangguan delusi tetapi dia berhasil sadar beberapa waktu setelahnya. Jam air tersebut kemudian hancur menjadi kumpulan air yang besar, yang setiap kali dia melakukan ramalan volume airnya akan semakin bertambah. Akhirnya, salah satu pelannya, memberinya saran agar air tersebut tidak membanjiri perkemahan yang mana dia kemudian memutuskan untuk membuat air terjun itu. Nona Yue memanggilnya air terjun Experientia Sortem yang artinya air terjun yang dapat memberikan delusi kepada orang yang menyentuhnya. Tetapi itu kisah lampau, kisah yang bertahun-tahun lalu." Onyx menyandarkan kepalanya ke sofa, mulutnya terbuka lebar karena mengantuk.


"Ayo lanjutkan, aku masih penasaran!" tukas Lyra yang tidak peduli dengan keadaan Onyx yang setengah mengantuk.


"Saat aku kemari," katanya, "Nona Yue sudah jarang sekali melakukan ramalan karena tidak ingin banyak penyihir lain yang berada di perkemahan mengalami halusinasi serta gangguan delusi yang berkepanjangan hingga akhirnya air terjun yang indah itu terlupakan begitu saja. Letak perkemahan di pindah agak jauh dari air terjun agar mereka tidak sering ke sana dan mandi di sana, itulah mengapa Nona Yue membuat permandian Tulipa agar menarik perhatian para penyihir." Onyx menghembuskan napasnya, dia memejamkan matanya.


Lyra tahu rasa kantuk memang tidak bisa di tahan lebih lama, apalagi dalam keadaan sudah terbaring. Tetapi Lyra ingin tahu satu hal lagi dan dia mengguncang tubuh Onyx dengan kuat agar Onyx membuka matanya kembali, Onyx bergumam pelan tidak jelas, merasa terganggu karena tingkah Lyra.


"Kau bisa melihat mimpiku, kan?" tanya Lyra tidak sabaran. "kau tahu, selama aku dalam perjalanan aku sudah tidak lagi bermimpi yang macam-macam." kata Lyra yang masih memegang lengan Onyx.

__ADS_1


"Ya, mimpimu adalah penglihatan seperti ramalan. Bukan mimpi biasa yang terjadi di manusia normal pada umumnya." gumam Onyx pelan, "tetapi mimpimu itu akan terjadi bila tersentuh dengan sihir. Hanya itu informasi yang ku dapatkan ketika tahu keadaanmu."


Lyra melepas lengan Onyx dari pegangannya sementara langkah kaki menuju kemari membuat Onyx membuka matanya lebar, aroma sedap itu datang bersamaan dengan sosok Sean. Dia membawa beberapa makanan di kedua tangannya seraya tersenyum lebar.


"Aku mendapatkan bonus dari sarapan pagi." ujar Sean seraya menaruh makanan itu di atas meja kaca berlapis tapestri rajut dua warna buatan tangan. "Kau sudah sadar." dia melirik Lyra dan duduk di hadapan dua perempuan itu.


"Aku akan sering merepotkan mu kalau kau terus-terusan bersikap seperti ini." celetuk Onyx sambil menyambar makanan yang di bawa Sean. "Tapi, terimakasih, perutku terselamatkan."


Sean tidak merespon tetapi dia mulai membuka mulutnya untuk melahap beberapa kue kering dengan gula di atasnya, dia seolah kurang dengan sarapan tadi pagi itu.


Lyra menatap curiganya ke arah Sean, "kau sungguhan mendapatkan bonus?" tanyanya. "entah kenapa aku tidak yakin." kemudian melipat kedua tangannya di depan dada tanpa memalingkan wajahnya terhadap Sean.


Sean menyengir, "sebenarnya, aku hanya datang dan mengambilnya."


Onyx yang mendengar itu langsung menyemburkan makanan keluar dari mulutnya, padahal tadinya dia lahap sekali memakan makanannya tanpa peduli dengan keadaan di sekitarnya.


Lyra dan Sean tertawa bersama karena hal itu sementara wajah Onyx semakin memerah dipenuhi amarah. "Keterlaluan sekali!" teriaknya pada akhirnya, emosinya terlepas begitu saja.


"Mereka memberikannya padamu!"


"Onyx, kami hanya bercanda!" Lyra membenarkan dan kemudian tertawa kembali.


"Aku tidak sudi memakan makanan hasil mencuri!" teriaknya lagi, sepertinya rasa kantuknya sudah terkalahkan oleh rasa lapar pada perutnya sehingga dia terus saja berteriak seenaknya. "Kau harus membayar apa yang sudah kau lakukan! Kurang ajar!" Onyx menaruh makanannya yang sudah habis sebagian lalu pergi entah kemana seraya menghentakkan kakinya kesal.


"Dia begitu sensitif denganku, jadi aku ingin menjahilinya." suara tawa kedua orang itu memenuhi ruangan tersebut tanpa peduli dengan tuan rumah yang masih kesal terhadap mereka.


Lyra tahu Onyx tidak akan melakukan apapun kepada Sean ataupun dirinya, Onyx hanya terbawa suasana karena dia tidak suka dengan Sean yang terus membuntuti Lyra kemanapun. Dia tidak suka dengan laki-laki seperti Sean walaupun dia tahu alasan mengapa Sean melakukannya sebenarnya.[]

__ADS_1


__ADS_2