
Beberapa serigala mengaum begitu keras sampai membuat telinganya sakit. Kemudian mereka semua melanjutkan lagi pertarungan yang sempat tertunda itu dengan Sean—Lyra tak habis pikir kenapa Sean mau merubah dirinya seperti itu, bukan berlindung saja di dalam mobil.
Aku mana mungkin membiarkanmu bertarung sendirian Lyra, apalagi kau sempat menyerahkan dirimu begitu saja kepada si mata merah itu!
Lyra tertawa di dalam hati yang mana bisa dipastikan Sean mendengarnya dengan jelas sekali, sebab ketika Lyra dan Sean sedang dalam rupa serigala, mereka seolah menyatu dan bisa merasakan perasaan masing-masing, ditambah lagi dia begitu percaya pada Sean sehingga dengan mudah baginya untuk mengerti perasaan Lyra.
Angin bertiup sangat kencang secara tiba-tiba membuat rintikan hujan menjadi lebih tajam saat mendarat di punggungnya. Sementara itu si mata merah melihat ke dalam mata Lyra, seakan ingin mengetahui sesuatu yang Lyra sembunyikan atau dia berusaha masuk ke dalam pikirannya.
Sean, kau masih bisa bertahan sedikit lagi? Tanyanya yang masih melihat si mata merah.
Entah kenapa dia tidak menyerang Lyra lebih dulu, dia hanya menggeram seraya meringis kesakitan dan menatap Lyra. Demi apapun, sekalipun Lyra ingin masuk ke dalam pikirannya, dia seolah memiliki sesuatu yang tidak dapat di tembus. Berbeda dengan Rick yang membiarkannya masuk ke dalam kepalanya begitu saja. Lyra benar-benar penasaran setengah mati.
Kau punya ide? Balas Sean, tapi aneh sekali aku tidak bisa membaca pikiran si mata merah. Yang lainnya malah menggangguku. Dia mengumpat setelahnya.
Dia memiliki sesuatu, seperti sihir.
Aku tidak yakin, tapi itu bisa saja terjadi. Sean menggigit balik serigala yang menggigitnya meski sempat di halangi oleh serigala yang lain.
Lyra mengakui kalau Sean memang berbakat dalam bertarung, sedangkan dirinya masih ragu dengan cakaran dan kekuatannya sendiri dalam rupa serigala begitu. Bahkan untuk saat ini, rencana yang dia pikirkan, memiliki besar sekali kemungkinan akan gagalnya. Sebab kekuatannya terlalu kecil dibandingkan dengan si mata merah meskipun tubuh mereka hampir sama besarnya.
Lalu apa rencana mu? Tanya Sean akhirnya, dia bicara lagi dan itu artinya dia masih bisa bertahan sedikit lagi.
Aku akan memancingnya menyerang ku lebih dulu, kalaupun nantinya aku terluka, itu tak apa. Lagipula aku bangga aku sudah membuatnya meringis kesakitan. Mata Lyra melirik ke arah luka yang dia buat di tubuh si mata merah.
Baiklah, kalau begitu biarkan aku mengurus yang lainnya. Dia menggeram dan tampak hilang kendali dengan dirinya sendiri tetapi itu tidak mengkhawatirkan seperti biasanya karena Lyra yakin Sean pasti bisa bertahan.
Itu adalah saat gilirannya untuk melakukan sesuatu dan dalam hitungan detik Lyra menggeram kepada si mata merah tersebut dengan kuat sekali, yang mana hal itu membuatnya sedikit mundur atau bahkan terkejut walau pada akhirnya dia kembali ke posisi awal.
Kau tak perlu bersusah payah untuk memancingku, Lyra Adamicz.
__ADS_1
Si mata merah itu membuat Lyra terkejut dan tidak mampu bergerak, seolah ke empat kakinya tertanam begitu ke dalam aspal. Dia memanggil Lyra dengan nama yang tidak dia ketahui sama sekali dan itu membuatnya sedikit penasaran.
Kau pun tak perlu terkejut begitu, lagipula aku mengenal nenek moyang mu begitu baik. Dia menyeringai, dan kalau dia sedang dalam rupa manusia, seringaian itu sama mengerikannya seperti milik Rick, atau bahkan lebih parah.
Sejujurnya Lyra tidak mengerti bagaimana si mata merah itu begitu mudah memasuki kepalanya, sementara saat dia mencoba melakukan hal yang sama, si mata merah itu seolah membuat penghalang yang mana itu bukan penghalang biasa.
Sebaiknya kau tidak bermain-main denganku. Balas Lyra defensif.
Aku sudah tua, aku tidak mau bermain-main. Tapi sepertinya aura mu yang merdu benar-benar tercium harum, apalagi itu darah murni sehingga membuatku tertarik.
Apa maksudmu! Lyra berseru seraya menggeram. Kau tak tahu apa-apa tentangku, bahkan kau salah memanggilku.
Si mata merah tertawa, jadi maksud mu, kau adalah Lyra Lauthner yang di kenal orang, bukan anak Deanrys keturunan Adam?
Entah dengan alasan apa Lyra tertawa di buatnya, bahkan dengan nama-nama yang dia sebutkan tidak mempengaruhinya sama sekali untuk percaya padanya. Tapi dia mengakui kalau memang aneh sekali jika dia menyebut nama-nama tadi dengan seenaknya bila bukan ada sesuatu yang dia sembunyikan. Dia memiliki alasan yang tidak Lyra ketahui apa itu dan mungkin itu yang di sembunyikannya dari Lyra sejak awal.
Apakah dia mengada-ngada? Lyra bertanya pada dirinya sendiri.
Aku menyesal tidak memberitahu mu sesuatu. Lyra kaget menyadari Rick muncul dari sampingnya dengan berjalan terpincang, wajahnya menunjukkan rasa benci dan kemarahan sekaligus. Kalau saja waktu mu lebih banyak untukku, kau bukan hanya mengenalku, tapi kau juga mengenal siapa dirimu.
Demi apapun, perut Lyra rasanya bergejolak hebat. Seolah ingin mengeluarkan semua makanan yang sempat dia makan beberapa waktu lalu. Sementara itu suara Sean terus menyadarkannya akan siapa dirinya sebenarnya. Namun, hanya Lyra yang mengenal dirinya sendiri dengan sangat baik, bukan orang lain yang datang dari antah berantah lalu kemudian merasa mengenalnya lebih lama. Kalau dipikir-pikir juga, dia memang tidak cukup yakin dengan 'tentang siapa dirinya sendiri' dan dia berharap perjalanan ini membuatnya tahu dan mengenal lebih siapa dirinya yang sesungguhnya.
Angin kembali bertiup kencang tetapi hujan mulai sedikit mereda sepertinya, Lyra mulai takut akan ada orang yang lewat, mendapati beberapa serigala dan mobil tanpa pemilik dengan posisi yang tidak semestinya. Mereka pasti akan mengira kalau mereka lah penyebab hal itu terjadi, lalu akan melaporkan kejadian ini ke pihak berwajib kemudian terdengar oleh pemerintahan Ducis. Atau mereka malah kabur karena ketakutan menyadari betapa banyak serigala yang ada di hadapan mereka.
Jadi, aku yakin sekali bahwa kau tidak tahu siapa dirimu ya? Si mata merah melirik Lyra dan Rick bergantian. Tadinya aku senang bekerja sama denganmu, Rick, tapi kurasa kau menyukai perempuan ini.
Jadi, kau! Aku hampir berteriak pada Rick, kau menyelamatkanku dari Veneris agar kau bisa memberiku kepada orang ini? Lyra gemetaran di tempatnya.
Tak apa, setidaknya dia sudah menyelamatkanmu dan sudah mencoba melawan meski akhirnya terluka. Ku akui bahwa siapapun dengan mudah menjadi bodoh karena mengenal cinta, ya Rick?
__ADS_1
Lyra melihat Rick yang tertunduk, menatap aspal hitam di bawah kakinya. Lyra tidak bisa merasakan perasaannya tapi dia tahu Rick begitu merasa bersalah dengan semua hal yang dilakukannya.
Maafkan aku sudah membuatmu kecewa, Lyra. Lagi-lagi aku melakukan kesalahan dan kau tidak akan memaafkan aku.
Sebetulnya Lyra memang percaya pada Rick—lagi, mengingat dia sudah menyelamatkannya dari kejaran Veneris dan melindunginya secara tidak langsung. Namun, menyadari kegilaan yang dilakukannya agar si mata merah dapat menemukannya atau mungkin menangkapnya, Lyra langsung menjauhi Rick begitu cepat sehingga dengan mudah si mata merah langsung menerkamnya tanpa keraguan. Terbentuk tiga garis yang sama di lengannya, Lyra meringis kesakitan, rasa sakit dan perihnya tidak main-main. Seperti terbakar oleh sesuatu. Bau darah segar yang keluar dari cakaran itu mengalir bersama rintik hujan, yang mana hal tersebut membuat serigala yang tadinya bertarung dengan Sean kini melihatnya serentak lalu melangkah maju, mereka semua berdiri di belakang si mata merah seraya menatap Lyra yang kesakitan di bawah kucur hujan yang semakin mereda.
Kau merasakan nadanya kan? Aroma darahnya juga sangat harum. Salah satu serigala yang berada di belakang si mata merah.
Sementara itu si mata merah menyeringai puas, dia bangga sudah membalas perbuatan Lyra. Itulah darah murni, darah pertama keturunan Lycan yang mengalir padanya. Kerja bagus Rick, akan ku bayar berapapun yang kau mau. Dia tertawa, dia sangat puas dengan apapun yang dilakukannya.
Lyra, kau.. Kau berdarah.. Sean terkulai lemas di tempatnya, aku akan membantumu. Dia mencoba bangkit untuk membantu.
Lyra masih menahan sakit yang membakar di lengan kirinya, rasanya kaki depannya sudah lumpuh, tidak dapat bergerak dan mulai terasa lemas untuk berdiri lebih lama. Dia benar-benar kecewa dengan perbuatan Rick, dia tidak akan memaafkannya bagaimanapun. Sejak awal dia menginginkan Lyra untuk mati.
Terimakasih, sekali lagi, tindakan mu benar-benar membantu. Katanya pada Rick, kalau aku punya kesempatan, aku akan menemui mu.
Rick tidak membalas apa-apa tetapi dia melihat Lyra sekilas dengan tatapan yang tidak dia pahami.
Setelah sedetik kemudian Lyra sadar, dia tidak boleh melemah. Dia harus melawan mereka semua, tidak sebagian saja, agar dia dan Sean memiliki peluang untuk kabur.
Aku akan membantumu, Lyra! Seru Sean yang sudah melompat tinggi ke arahnya, tidak, dia melompat ke arah si mata merah dan kawanannya.
Lyra menyerang beberapa serigala yang mengigit Sean, dia sadar bahwa tubuh Sean sudah penuh luka dan karena itu dia tidak bisa berdiam diri saja melihatnya mati-matian untuk melindungi Lyra. Namun, tak disangka kalau Rick juga membantu menyerang kawanannya. Dia begitu cepat berubah menjadi pengkhianat, hal itu tidak perlu dicari tahu lagi.
Larilah sejauh mungkin, tukasnya yang Lyra dengar dengan jelas. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk melindungi mu.
Lyra mencoba menghiraukan perkataannya seraya menggigit dengan sekuat tenaga leher si serigala berbulu coklat, dia langsung tumbang dan mengeluarkan suara meringis kesakitan. Memang meragukan sekali kalau dia sudah mati, tetapi setidaknya hal itu mengurangi jumlah serangan yang sebelumnya mereka terima. Kemudian dia melihat si mata merah yang ikut mengeroyoki Sean dan Lyra memutuskan untuk melompat ke atas tubuhnya, dia terkejut dan menggoyang-goyangkan tubuhnya sambil berusaha menggigit kaki Lyra. Namun, dengan mudahnya Lyra menekan setiap kuku-kuku jemarinya pada punggung si mata merah, yang mana hal itu membuatnya mengaum kesakitan, suaranya nyaring sekali.
Tidak berhenti di situ, Lyra hampir saja akan terjatuh karena salah satu serigala berbulu hitam mencoba menyerangnya dan entah bagaimana si mata merah melakukannya sehingga dia terpental cukup jauh ke dalam hutan—mungkin tidak sengaja—kemudian dia merasakan sesuatu, seperti sihir yang keluar dari tubuh si mata merah itu, aura di sekelilingnya terasa mencekam sekaligus menakutkan. Tiba-tiba hidung Lyra menangkap aroma pahit yang menusuk dan mendengar sebuah nada, seperti petikan senar permainan gitar. Namun, dia sadar bahwa itu bukan senar gitar, itu seperti petikan senar harpa.[]
__ADS_1