
Malam semakin larut, bahkan beberapa Bintang sudah berpindah tempat. Namun, mereka berdua masih di selimuti keheningan yang tanpa di ciptakan akan selalu terjadi di antara keduanya. Masing-masing sibuk bergelut dengan pikiran mereka seakan dunia tidak pernah ada.
Walau sudah berkata jujur dan berharap perlakuannya yang memang tidak mengenakan hati itu akan termaafkan, Rick berusaha untuk tetap menemani Lyra di bawah kesunyian yang seolah tiada akhir. Setiap melihat wajah perempuan itu, hatinya merasa tenang—termasuk saat wajah Lyra memerah sehabis menangis tanpa suara. Bahkan jika dia diberi kesempatan, Rick akan menghabiskan satu hari hanya untuk menatap mata Lyra yang mirip lautan lepas. Adakalanya Rick memang harus menahan diri untuk melakukan apapun terhadap Lyra, untuk memeluknya misalnya. Rick seolah bisa merasakan rasa kecewa yang penuh amarah yang saat itu menguasai Lyra, dia memang tidak ingin ikut campur tentang hidup Lyra, tapi entah bagaimana rasanya sekarang dia berada di hidup Lyra sudah sejak lama.
Gelombang pasang yang akan mengantarkan badai, seakan lenyap dalam hitungan detik saja. Kemudian Rick mendengar Lyra mengeluarkan napas panjang.
"Ku harap, waktu ku belum habis. Aku masih ingin menemani mu." lirih Rick.
"Kau harus bisa mengatur waktu jika ingin berbicara padaku untuk lain kali." tanpa melihat ke arah Rick sama sekali, Lyra tahu raut wajah Rick berubah. "Karena ini pertama kalinya aku memberitahu mu tentang hal itu, anggap saja saat ini seperti perkenalan awal. Lagipula, aku harus berterimakasih pada mu karena kau tidak pernah pergi dari sampingku, walau pada akhirnya aku tetap saja celaka."
"Ku dengar para penyihir memiliki sesuatu untuk luka semacam itu."
"Tentu, tapi mereka bahkan harus menghabiskan banyak waktu untuk mencari obat penawarnya." balas Lyra, dia melemah di tempatnya seiring waktu. "Aku memang tidak bisa berpura-pura bahwa aku mampu menjalani semua ini. Semua dari mereka pasti akan terus mengincar ku, aku sempat berpikir kenapa kau tidak membunuhku saja kala itu. Ada baiknya aku memang tidak tahu apa-apa soal hidup." tangisnya mulai mereda.
Meski begitu, menjadi sosok yang kuat untuk diri sendiri memang membutuhkan beberapa kali kegagalan serta ketakutan yang terus menjelma, Rick pikir Lyra hampir melewati fase itu. Perempuan itu akan menjadi yang terkuat dari generasi mereka sebelumnya.
Rick berdeham, "menyakiti banyak orang bukan lagi prioritas ku. Tapi untuk sekarang, aku berani berjanji kalau aku akan melindungi mu walau dalam bayang-bayang."
Lyra tidak bereaksi sama sekali, bahkan raut wajahnya tetap datar. Dia sesekali hanya membenarkan jaketnya untuk menghilangkan udara dingin yang terasa menusuk.
Rick menduga kalau pikiran perempuan itu dipenuhi sesuatu yang berusaha untuk dia cerna. Bahkan tentang informasi ibunya, Rick tidak dapat membantu banyak. Rick tahu, bagaimana rasanya kerinduan yang terus membuncah. Walaupun sebenarnya mudah bagi Lyra untuk melupakan hal itu karena dia belum pernah sama sekali melihat wajah ibunya secara langsung.
"Kalau saja aku punya informasi lebih banyak tentang keluargamu, aku tidak akan membiarkan kau terus memikirkannya." Rick bergeser sedikit, "aku mengerti perasaan rindu itu." lanjutnya.
Manik mata Lyra yang berkaca-kaca melihat jauh ke dalam kegelapan hutan. Dia bertanya-tanya apakah dia bisa menyatu dengan kegelapan yang ada di hadapannya kemudian memudar dengan sendirinya tanpa merasa pernah hidup.
__ADS_1
"Kau belum menjadi informan yang baik, tapi tetap lah berusaha seperti itu hanya demi aku. Aku tak tahu, saat ini perasaan ku campur aduk," Lyra bergumam pelan, "kesendirian adalah satu-satunya tempat yang ku butuhkan, tapi di sisi lain aku membutuhkan seseorang menjadi sandaran." dia tidak bisa lagi menahan kesedihannya lebih lama walau dia sempat menangis beberapa kali.
Tidak dapat di deskripsikan lagi kalau Lyra sudah benar-benar kacau, air matanya kembali menetes, tangisnya sudah benar-benar tidak terbendung lagi.
"Seseorang.. ingin membunuhku.." lirihnya pelan sambil sesegukan, "hanya untuk membalaskan dendamnya.." lirihnya lagi. "yang mana aku tidak tahu alasan dibaliknya."
"Lyra.." Rick mencoba menenangkannya.
"Tolong.." lirihnya pelan lagi seraya menghapuskan air mata yang terus mengalir dari kedua pipinya.
Dia menangis terisak yang mana hal itu membuat
Rick tidak sanggup melihatnya, entah bagaimana Rick seolah merasakan sakit pada bagian dadanya. Suara isak tangis itu terdengar begitu kesakitan, di dalamnya terdapat sebuah keputusasaan.
Mendengar Lyra mengungkapkannya dengan nada terisak yang menyiksa telinga, Rick langsung berangsur mendekati Lyra dan merangkumnya. Dia mendekap Lyra dengan sangat erat seakan tidak ingin melepasnya lagi alih-alih tidak mau membiarkan kesempatan itu tersia-siakan. Rambut Lyra yang berantakan tidak menghalangi Rick untuk menarik kepala Lyra berada di dadanya agar Lyra bisa mendengar detak jantung Rick yang begitu menggebu. Meski itu bukan aksi yang di sengaja, tapi Rick tahu, irama degup jantung seseorang adalah nada yang paling damai. Ibunya selalu melakukan itu padanya di kala Rick sedang dalam keterpurukkan, sampai akhirnya Rick akan tertidur dalam pelukan ibunya.
"Aku benar-benar berjanji akan terus melindungi mu, walaupun kau tetap tidak mengakui kehadiranku." Rick hampir saja mengecup pangkal kepala Lyra, tetapi dia teringat sesuatu yang membuatnya tidak berani untuk melakukannya.
Tubuh Lyra yang terguncang dalam dekapannya semakin menjadi-jadi, suara tangisnya teredam tetapi masih bisa di dengar dengan jelas, sejelas suara angin yang mendesing di sekitar mereka. Napasnya tidak lagi teratur tetapi Rick yakin, Lyra akan menyadari suatu hal.
Mencoba menenangkan seseorang yang bahkan tidak mengakui kehadiranmu di sisinya memang cukup sulit, tapi rasanya akan lebih sulit kalau kau tidak bisa melihatnya tersenyum lagi. Rick bahkan sudah lupa kapan terakhir kali Lyra tersenyum dengan hangat padanya atau bahkan kepada orang lain juga. Namun, menyadari situasi dan kondisinya kini, perempuan itu akan lebih banyak murung dari sebelum-sebelumnya atau mungkin dia akan memilih untuk mengenyampingkan hal-hal yang dia ketahui malam ini. Alih-alih tidak ingin terus-terusan menangisi takdir hidupnya.
Memikirkan hal itu memang tidak ada habisnya, apalagi menyadari kalau takdir hidupnya tidak seberuntung kebanyakan orang. Padahal, jika dilihat dari luar, Lyra nampak seperti orang yang sempurna, dia terlihat kuat saat dia berubah menjadi serigala. Hanya saja, dia belum menemukan cara yang selama ini Rick lakukan. Yaitu, tetap bertahan dan tetap melanjutkan hidup.
"Ibuku bilang, 'kalau seseorang sedang menangis di dekatmu, sebaiknya jangan mencoba memintanya untuk berhenti, tapi temani dia sampai dia merasa lega dengan semua emosi yang sudah dia keluarkan'."
__ADS_1
Lyra mendengus pelan, tangisnya mulai mereda. "Dan kau melakukannya persis seperti yang ibumu katakan." Lyra menggeser kepalanya agak ke kiri.
Rick tersenyum, sepertinya hal yang dilakukannya agar Lyra merasa tenang akan berhasil. "Aku sangat merindukannya, tapi aku tidak bisa melakukan apapun agar dia bisa kembali. Jadi aku tetap bertahan dan melanjutkan hidupku tanpa siapapun di sisiku untuk menguatkan ku lagi."
Lyra menggeliat di dalam pelukan Rick, alih-alih tidak ingin terlepas dari rangkulan Rick, Lyra malah merasa semakin nyaman berada di sana. Dia mulai memejamkan matanya, membiarkan aroma tubuh Rick masuk ke dalam hidungnya serta merasakan suhu tubuhnya yang hangat untuk di jadikan tempat dia berlindung.
"Terimakasih, Rick, kau sudah melakukan yang terbaik." ujar Lyra.
Kedua tangan Lyra kini mencoba menggapai tubuh Rick, dia kemudian memeluknya erat tanpa berpikir lagi kenapa dia harus melakukan hal itu. Kini rasanya kehadiran Rick yang paling akan dia butuhkan, bahkan begini saja dia merasa sudah terlindungi dari hal-hal yang akan menariknya kembali ke dunia yang alam bawah sadarnya ciptakan. Dia seakan tidak takut lagi dengan takdirnya.
"Tolong ingatlah janjiku, aku tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan mu kali ini dan seterusnya." sahut Rick, membiarkan Lyra berada lebih lama dalam dekapannya.
Lyra membalas dengan anggukan yang pelan, lalu dia tidak sengaja mendengar irama detak jantung Rick yang mulai teratur, itu menjadi perhatian Lyra. Dia menempelkan telinganya agar bisa mendengar irama tersebut dengan jelas, kemudian memejamkan kedua matanya kembali dan menikmati irama tersebut, yang mana hal itu benar-benar sukses membuat Lyra sangat merasa tenang. Rick menyadarinya seraya menggosok pelan punggung Lyra agar dia tidak merasa terlalu dingin di malam itu.
"Ada baiknya kau beristirahat dan tidur, kau pasti sangat lelah, kan?" tukas Rick.
Tidak ada balasan apapun dari Lyra untuknya, seperti anggukan kepala atau suara berdeham pelan. Bahkan dada Rick yang naik turun sama sekali tidak mempengaruhi Lyra. Rick bertanya-tanya dalam diam apakah secepat itu Lyra tertidur.
Sepertinya, dugaan Rick benar, Lyra sudah tertidur di sana, di dalam rangkulannya. Karena Rick tidak ingin dia akan kedinginan, jadi Rick mencoba membenarkan posisi Lyra agar dia bisa menggendong Lyra dan memindahkannya ke dalam mobil. Saat Rick mencoba turun pelan-pelan dengan Lyra yang berada dalam gendongannya menggeliat tetapi masih memejamkan matanya. Rick bersyukur akhirnya Lyra bisa tidur dengan tenang dan sangat terlelap.
Awalnya, Rick bingung bagaimana dia akan membukakan pintu mobilnya. Namun, dia tidak kehabisan akal dan pada akhirnya dia mengangkat salah satu kakinya kemudian bertumpu dengan badan mobil yang mana kakinya itu untuk menggantikan tangannya yang lain sebagai penyangga agar Lyra tidak terjatuh dan terbangun. Kemudian dia menarik pintu mobilnya keluar dan kembali membopong Lyra, Rick menempatkan Lyra di kursi panjang belakang dan menarik kain yang sejak awal memang sudah ada di sana agar bisa menghangatkan tubuh Lyra.
Rick menarik napas panjang dan menghembuskan nya seraya memejamkan matanya dan berpikir, apakah dia boleh—sekali lagi—mengambil kesempatan itu untuk mencium Lyra walau hanya sekali seumur hidupnya. Namun, keraguan memenuhi hatinya, dia tidak bisa melalukan itu tanpa permintaan dari Lyra sendiri.
Hingga akhirnya, dia memutuskan untuk mencium dahi Lyra dengan lembut seraya berbisik pelan di depan wajahnya. "Aku jatuh cinta padamu, Lyra. Dan aku berjanji akan melindungi mu."[]
__ADS_1