
Chrysler sedang duduk di sebuah bangku yang ada di bawah pohon yang memiliki daun rimbun di sebelah tendanya, dengan salah satu kaki di atas kaki lainnya saat Lyra dan Sean menghampirinya. Setengah wajahnya tertutup buku kusam bertuliskan Aliquis Amora bercetak tebal dan timbul, tetapi nama penulisnya tidak tertera di sana.
Sean memanggilnya yang mana hal tersebut membuat Chrysler menurunkan bukunya sebentar lalu mengangkatnya kembali menutupi wajahnya seolah mengacuhkan keberadaan Sean yang ada di hadapannya, tapi sedetik kemudian dia kembali menurunkan bukunya seraya melihat ke arah Lyra yang berdiri tepat di belakang Sean.
"Oh, Lyra." ujarnya pelan, "ku pikir Sean hanya menganggu waktu ku bersantai." dia melirik Sean.
"Dasar ya, laki-laki, kalau melihat perempuan memang selalu begitu." ketus Sean seraya melipat kedua tangannya di depan dada. "Tapi omong-omong, dimana saudara mu yang lain?"
Lyra yang tidak peduli dengan percakapan random yang dilakukan kedua laki-laki itu masih berdiri di belakang Sean tanpa bergeser se-inci pun untuk menyadari situasi yang terjadi. Dia hanya menunggu jawaban Chrysler dan akan langsung menemui Irish. Lyra benar-benar butuh berbicara dengan Irish dan kemudian memintanya untuk mengantar mereka keluar daei Flos Orbis. Dia tidak yakin kalau kesempatan yang seperti ini akan datang lagi padanya atau tidak, tapi dia berharap kalau suatu saat dia akan bertemu dengan siapapun yang pernah dia jumpai agar dia berkunjung ke sana lagi suatu waktu.
"Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Chrysler, dia tidak langsung menjawab.
"Aku membutuhkan Irish." tukas Lyra, memandang kosong Chrysler yang sudah berdiri di hadapannya.
Chrysler yang tadinya ingin tahu akan sesuatu yang terjadi kini dengan sengaja membaca pikiran kedua orang itu, kemudian langsung merasa bersalah. "Mari ku antar." dia kemudian melangkah lebih dulu diikuti dengan Lyra dan Sean di belakangnya.
Itu suatu tempat yang ke sekian kalinya yang membuat Lyra tidak percaya akan Flos Orbis. Hutan dengan dedaunan yang sudah berwarna kuning dan beberapa pohon sudah mengering menampakkan beberapa orang berpakaian serba hitam. Lyra tahu semua orang di sana adalah perempuan, termasuk sosok yang sedang duduk di tengah-tengah mereka. Semua orang di sana memegang lilin hitam dengan api yang bergoyang-goyang, entah apa yang sedang mereka lakukan.
"Irish." seru Chrysler memanggil saudaranya, "kemari sebentar." katanya lagi dan berhenti melangkah.
Irish yang tidak merasa terganggu sama sekali langsung permisi dengan temannya yang ada di sana dan lalu menghampiri mereka bertiga. Rupanya dia mengenakan penutup mata berwarna hitam yang diukir, bibirnya dipoles tipis dengan lipstik berwarna merah darah.
"Apa tidak sebaiknya kita menunggu?" ketus Lyra yang tidak enak hati.
Chrysler tersenyum, "tak apa, mereka hanya sedang melakukan latihan untuk pertunjukkan hari Occurrens Princeps Ariolorum. Hari pertemuan para penyihir."
Lyra hanya memperhatikan Irish yang sedang melangkah menuju ke arah mereka sambil membuka penutup matanya. Dia tersenyum ke arah Lyra.
"Flos Orbis selalu memiliki banyak kegiatan, ya?" sahut Sean tiba-tiba. "Tapi kita memang tidak bisa terlalu lama di sini." katanya pada Lyra.
Lyra mendengus, "ya, sayang sekali." balasnya.
__ADS_1
"Hei, bagaimana? Apakah kau sudah merasa baikan? Aku seharusnya ikut pergi denganmu tadinya, tapi aku harus ikut latihan ini." Irish tersenyum. "Ku rasa kau ingin menyampaikan sesuatu?" tanyanya menyelidik.
Lyra mengangguk sebagai balasan.
"Ya, tapi sebaiknya kita ke tempat yang lebih santai. Bagaimana?" ujar Sean.
"Baiklah."
Lyra, Sean, Irish, dan Chrysler pergi agak jauh dari sana. Mereka membicarakan tentang apa saja yang telah terjadi di rumah kaca Onyx ditambah dengan air terjun Experientia Sortem yang mengakibatkan Lyra memiliki mimpi aneh lagi dan berhalusinasi yang tidak-tidak. Reaksi Irish dan Chrysler benar-benar diluar dugaan, mereka tidak terkejut sama sekali atau bahkan merasa khawatir.
"Jadi kau berasumsi kalau Cravene palsu itu ada hubungannya dengan keluargamu?" gumam Irish pelan sambil menaruh tangannya di dagunya. "iya sih, Nona Yue bahkan tidak bisa melacaknya, bahkan keluargamu. Aku yakin, mereka memiliki sihir yang lebih kuat dari Nona Yue walaupun rasanya Nona Yue sudah begitu hebat."
Lyra hanya menghela napas panjang, dia tidak berkomentar apapun. Malah, dia kembali teringat semua percakapannya dengan Rick lalu semua mimpinya yang selalu merujuk kepada keluarganya. Tapi setidaknya, pertemuannya dengan Cravene palsu itu memberikannya beberapa petunjuk, dan salah satunya Lyra bisa mengetahui kalau ibunya bernama Deanrys.
"Mungkin besok kami akan berangkat," sahut Sean, "karena Lyra merasa Cravene palsu akan semakin dekat juga dengan lokasi yang kami tuju."
"Kau benar tidak butuh salah satu penyihir di sini untuk menemanimu dalam perjalanan?" tanya Irish, dia menarik kedua tangan Lyra.
"Ya, aku memang tidak bisa meminta mu lebih banyak hal lagi, besok pagi aku akan mengantarmu keluar dari Flos Orbis. Biar Chrysler yang bertugas menjaga portal di sisi yang lain." kata Irish.
"Terimakasih, Irish." kata Lyra akhirnya sebelum Irish kembali berkumpul dengan teman-temannya.
***
Pagi itu, di hari berikutnya, Lyra sudah bersiap di dalam mobilnya dengan Sean di sampingnya. Mereka dimintai Nona Yue untuk membawakan bekal dalam perjalanan sekaligus berterimakasih dan berpamitan untuk pergi. Nona Yue hanya berpesan bahwa Lyra memang lah harus berjuang demi keluarganya dan bersikap seolah dia tidak tahu dengan takdir yang sudah menunggunya di sana. Sakit atau tidak, setidaknya Lyra melakukannya karena dia memang tidak mau menyia-nyiakan waktu lebih banyak lagi.
Sementara itu, Rick yang ada di kabin belakang hanya duduk di sana sambil melihat para penyihir yang membuka portal. Selama ini, Rick hanya mencoba untuk tidak menyusahkan Lyra dengan keingintahuannya yang tinggi walaupun sebenarnya dia sudah terus mengikuti kemanapun Lyra pergi hingga akhirnya dia bertemu dengan Lyra pada malam harinya secara tidak sengaja hanya untuk memberitahunya bahwa Lyra dan Sean akan pergi melanjutkan perjalanan mereka. Mau tidak mau, mereka memang harus berpisah dengan Floa Orbis, tempat sempurna ini.
"Kau sudah yakin kalau kau ikut dengan kami dan tidak kembali dengan teman-temanmu lagi?" tanya Sean sebelum mereka benar-benar meninggalkan Flos Orbis.
Rick balas tersenyum yang mana Lyra mengintipnya dari balik kaca depan, "lagipula kehadiran manusia serigala di sini akan menjadi kecurigaan saja. Kalau aku bisa membantu Lyra, ya, apa boleh buat."
__ADS_1
"Syukurlah, kau sudah tidak seperti hantu lagi dan berpindah haluan menjadi budak Lyra." Sean tertawa dan berbalik menghadap ke arah depan.
Sesaat ketika Irish merapal kan mantra nya, Lyra juga ikut komat-kamit alih-alih berdoa kalau dia akan selamat sampai tujuan. Dia benar-benar sudah memutuskan hal itu dan percaya kalau dia bisa melakukannya. Dia juga sadar akan sesuatu kalau dia tidak sendirian, dua laki-laki yang bersamanya sangat siap membantu dan melindunginya.
Portal terbuka perlahan-lahan, yang mana memperlihatkan jalan lurus dengan pohon-pohon mati di setiap sisinya. Lampu kerlap-kerlip dari kunang-kunang dan jamur Jack O'Lantern kembali menerangi jalanan utama itu. Irish berseru memberi tanda agar Lyra menjalankan mobilnya masuk ke dalam portal tersebut. Di sisi lain dia begitu ragu untuk meninggalkan Flos Orbis tapi di sisi lainnya dia butuh mengetahui keluarganya, karena hanya itu satu-satunya harapan yang masih berkecamuk dalam dirinya selain keselamatan dirinya sendiri tetapi itu sudah tidak lagi penting menurutnya. Dia harus bertemu keluarganya untuk meminta pertolongan sekaligus menyelamatkan hidup saudaranya.
Entah bagaimana, instingnya mengatakan kalau sekarang Cravene palsu sedang mencari lokasi saudaranya juga. Tak tahu siapa yang lebih dulu tiba di sana tetapi yang pasti, Lyra berharap waktunya belum terlambat. Meski lukanya belum benar-benar bersih dan menghilang, tetapi dia merasa di sudah lebih kuat dari sebelumnya. Dia bisa melindungi dirinya sendiri bahkan dua orang yang sedang bersamanya.
"Aku bersumpah, aku benci dengan semua pilihan yang ada. Tapi aku tidak akan membiarkan Cravene palsu menemui saudaraku lebih dulu sebelum dia melangkahi mayat ku." gumamnya pelan yang menimbulkan reaksi aneh dari dua laki-laki yang mendengarnya.
Alis kedua laki-laki itu saling bertautan, mereka melirik satu sama lain sebelum akhirnya sadar kalau Lyra sudah menancapkan gas memasuki portal. Lyra mengklakson dua kali untuk mengatakan terimakasih kepada Irish dan Chrysler, mimik mukanya benar-benar berubah serius dan tegas. Sean tahu, Lyra tidak main-main dengan pilihannya yang ingin melanjutkan perjalanan.
"Irish bilang kita akan sampai di sebuah tempat seperti goa, aku yakin tempat itu tidak jauh lagi." ujar Sean.
"Kau tahu darimana?"
"Irish sudah mengatur jalan yang pendek untuk keluar dari Flos Orbis, jadi aku bisa memastikan kalau tempat itu hanya berkisar sembilan kilometer dari sini." kata Sean lagi.
Rick menghela napas, "semoga saja tidak memakan banyak waktu. Lagipula, bahan bakarnya sudah menipis."
Mata Lyra langsung melihat ke inkubator bensinnya, jarum putih dengan ukuran sedang menunjuk ke huruf E besar. Dia benar-benar tidak menyadari hal itu kalau Rick tidak menyinggung soal bahan bakar. Tapi diam-diam Lyra curiga kalau Rick tahu lebih dulu ketimbang dirinya yang notabene pemilik mobil itu. Tapi dia mulai menepiskan semua kecurigaan yang muncul dalam pikirannya karena dia tahu, Rick akan bergerak lebih dulu ketimbang mereka berdua. Dia selalu melakukan hal-hal yang sama sekali diluar dugaan tetapi semua yang dilakukannya memiliki manfaat yang nantinya akan berguna, seperti memata-matai contohnya.
"Kau memang cocok menjadi seorang detektif, atau seorang intel." celetuk Sean ketika dia melihat Rick sekilas dari ujung matanya.
Rick menyunggingkan senyum tipis pada bibirnya, "tapi sayang aku tak mau menjadi keduanya." yang aku mau menjadi bagian dari hidup Lyra. Rick ingin sekali menambahkan kata terakhir, tapi dia tidak melakukannya karena dia lebih menghindari tinjuan yang akan melayang pada wajahnya walaupun sebenarnya dia bisa menepis pukulan itu.
"Seharusnya, ini tidak sesulit waktu itu." kata Lyra pelan, dia sudah melihat kilatan ungu seperti waktu itu, yang mana itu membuka jalan untuk menghubungkan dunia nyata dan Flos Orbis. "bertahan, mobil akan terguncang!" Lyra berteriak yang mana membuat dua laki-laki itu terkejut setengah mati.
Sean berpegangan pada dashboard sedang Rick memegang kursi depan yang di duduki Sean. Lyra lalu menancap gas supaya lajunya lebih cepat untuk mendorong mereka keluar dari kilatan ungu itu dan sedetik kemudian sebuah cahaya terang tiba-tiba muncul sebesar bola voli di hadapan mereka menambah mobil terguncang hebat.
Di sana lah mereka berpisah, sepintas wajah Chrysler dan Irish muncul pada berkas cahaya yang meredup begitu saja. Memperlihatkan sebuah tempat baru dengan kondisi yang cukup lembab, mereka sudah kembali ke kenyataan dunia yang akan menerkam habis-habisan.
__ADS_1
Mereka benar-benar sudah terpisah dari dunia dongeng.[]