Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)

Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)
32. Simpan Perasaan Itu untuk Dirimu Sendiri


__ADS_3

Sebuah tempat mirip amfiteater dipenuhi kerumunan orang mengenakan pakaian dengan gradasi warna yang tidak menyakitkan mata, semuanya seolah sudah diatur sebagaimana mestinya. Sean yang berasumsi kalau dirinya akan terlihat berbeda dari yang lainnya, kini masih berjalan paling depan. Dia memaksakan kakinya untuk tetap melangkah ke meja bundar yang sudah terisi penuh dengan makanan, minuman, serta makanan pencuci mulut seperti buah-buahan.


Sementara itu Lyra yang masih mengobrol santai dengan Suisen tidak mengindahkan apapun yang ada dihadapannya, dia hanya ingin cepat sampai dan menikmati makanannya. Lengannya sedikit terasa nyeri sebab terlalu lama terkena air saat dia berendam di dalam bak mandi.


"Ini akan terus diadakan setiap tahun." gumam Suisen pelan, "tapi sayang sekali ya, kalian tidak bisa berada di sini terlalu lama."


"Ya." sahut Lyra sebagai balasan. "Mungkin, jika tiga saudara itu bertemu dengan ku lagi dan memberi izin padaku untuk kemari, aku tidak akan menolaknya." lanjutnya lagi.


"Semoga saja, karena kami akan terus mengembara. Lagipula, letak perkemahan ini bisa di bilang di 'antah-berantah' seperti sebuah pulau yang tidak ada di peta tetapi ada di suatu tempat." Suisen membuat tanda kutip dengan kedua tangannya. "Ya sudah, kalau begitu aku akan bergabung dengan kelompok ku dulu, aku tidak enak meninggalkan mereka terlalu lama. Senang berkenalan dengan mu." Suisen tersenyum dengan ciri khasnya lalu meninggalkan Lyra.


"Jadi, kita akan duduk dimana?" tanya Lyra kepada Sean yang entah sejak kapan tiba-tiba saja diam mematung.


"Sepertinya, kursinya penuh." Sean terlihat lemas, bahunya merosot kemudian dia memegang perutnya. "Kau sabar ya, sebentar lagi akan ada keajaiban."


Seseorang berdeham di samping mereka berdua, "keajaiban seperti apa yang kau harapkan?" Lyra seperti pernah mendengar suara itu, seperti suara salah satu asisten Nona Yue, ya, itu Sels, Lyra masih mengingatnya.


Sean berbalik, wajahnya semerah tomat yang baru masak, dia bertingkah aneh sekali. Lyra yang melihatnya menahan tawa, dia tidak bisa berpura-pura kalau hal itu tidak menggodanya untuk menertawai laki-laki yang menjengkelkan itu.


"Nona Yue mengundang kalian berdua untuk ikut duduk di sebelahnya." kata Sels. "Ini perintah." celetuknya lagi dan menatap sinis lelaki yang berada di sebelah Lyra.


"Terimakasih." balas Lyra lalu terbahak di depan wajah Sean, dia berjalan mengikuti Sels. "Kau idiot." tukas Lyra dan dia tertawa lagi.

__ADS_1


Seolah pembalasan, kini Sean yang tidak menunjukkan wajahnya seperti biasa. Tetapi untuk kasus ini, Lyra tidak akan merayunya seperti yang dia lakukan, Lyra hanya akan bersikap biasa saja selanjutnya dan Sean tidak akan mungkin tidak menghargai perempuan itu.


Mereka duduk bersebelahan dan Nona Yue berada di tengah-tengah, merasa seperti tamu istimewa Sean menegakkan kepalanya dengan kedua tangan yang terlipat di atas meja. Sedangkan Lyra hanya memperhatikan orang-orang yang ada di depannya, menunggu sesuatu terjadi.


"Sepertinya, semuanya sudah siap." gumam Nona Yue pelan yang terdengar jelas oleh Lyra.


Beberapa asisten dan pelayan Nona Yue berdiri di belakang mereka menunggu untuk di perintahkan, dan salah satu dari mereka mencuri-curi pandang ke arah Sean. Lyra melihat perempuan itu sekali di dalam Volant Lapis dan setelah itu dia tidak melihatnya lagi.


"Ini perjamuan terbesar yang pernah di adakan di Flos Orbis." Nona Yue bersuara kembali, suaranya terdengar bergema. "aku, sebagai pemilik serta pemimpin perkemahan ini mengundang kalian semua untuk makan bersama. Acara ini untuk memperingati hari jadinya Flos Orbis sekaligus merayakan hari ulang tahun asisten terbaik yang pernah ada di Flos Orbis, Wisteria!" Lyra sudah mengira kalau Nona Yue memang memiliki pembawaan yang tinggi, bahkan kepercayaan dirinya tidak pernah hilang. Seorang pemimpin memang wajib memilikinya.


Seorang wanita, mengenakan baju yang hampir mirip dengan milik Nona Yue berjalan menuju ke meja bundar, rambutnya tergerai panjang dengan sanggul yang bahkan hampir mirip dengan milik Nona Yue. Bibirnya di poles dengan warna salem pastel dengan bulu mata yang lentik, dia bak permaisuri dalam kerajaan, dia benar-benar tidak kalah cantik dengan Nona Yue. Lyra bertanya-tanya di dalam hatinya apakah semua asisten perempuan yang ada di sana akan di dandan sebagaimana Nona Yue memintanya atau tidak, karena mengingat siapa Nona Yue sebenarnya, dia akan selalu melakukan apapun untuk menghargai orang-orang yang sudah berjasa padanya.


Tidak disangka, beberapa waktu setelahnya mata Lyra melihat Rick yang sedang berbicara dengan tawa di sisi lain meja bersama seorang perempuan yang lebih muda beberapa tahun darinya. Entah kenapa hal itu membuat Lyra merasa sedikit sakit, dia langsung membawa matanya untuk melihat kuku jemarinya—kutek nya mulai menghilang. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba saja muncul di dalam dirinya, seperti gejolak emosi yang membuncah tetapi bukan amarah. Sedetik kemudian Lyra kehilangan nafsu makannya, bahkan untuk sekedar melihat jamuan yang ada di hadapannya dia sudah tidak selera. Rasanya, dia ingin sekali pergi dari sana dan menimbun diri dalam-dalam di antara dedaunan kering.


Ini bencana! Lyra memperingati dirinya sendiri.


Berkali-kali dia mencoba untuk mengindahkan apa yang sudah dia lihat, tetapi rupanya matanya tidak tahan untuk tidak melirik pada Rick. Raut wajah lelaki itu benar-benar bahagia, itu tidak bisa di bohongi. Sebagian diri Lyra bersyukur kalau Rick sekarang memiliki perubahan yang signifikan tetapi sebagian lagi seolah tidak terima melihat Rick merasa sebahagia itu.


Walaupun nanti Lyra mengetahui arti dari perasaan yang dia rasakan secara absurd itu, dia akan menyimpannya untuk dirinya sendiri, apalagi jika dia tahu kalau itu adalah bentuk kecemburuannya akan perilaku Rick yang tidak mengenakan untuk dilihat, dia benar-benar akan menyimpannya dalam-dalam untuk dirinya sendiri. Meski Lyra sempat mengakui kalau Rick pernah ada di dalam hatinya. Namun, Lyra menepiskan pikiran-pikiran yang mulai tidak karuan dengan cepat sebab dia tidak ingin membiarkan perasaanya jatuh kepada orang yang sulit dia percayai walau tadinya Lyra sudah menganggap Rick berubah. Semua bukti yang ada bahkan kurang cukup, Lyra butuh sesuatu yang lebih meyakinkan dirinya.


Beberapa waktu setelahnya acara di mulai, suara orang berbincang bahkan sampai tertawa memenuhi tempat itu. Sean makan dengan lahapnya sementara Lyra memaksakan makanan untuk masuk ke dalam mulutnya, dia menahan diri untuk tidak mengangkat kepalanya lagi.

__ADS_1


"Tidak ku sangka, kau sudah lebih baik." Nona Yue membuka percakapan. "Maafkan aku atas kejadian tadi malam, hingga Irish bilang kau pergi jauh ke dalam hutan."


"Tak apa, aku harusnya yang meminta maaf karena sudah bersikap kurang sopan." sahut Lyra, dia menghentikan kegiatan makannya. Rasanya dia akan muntah kalau terus dipaksakan.


"Aku senang, Onyx dengan sukarela membantu orang-orang dan ku dengar dia sudah mendapatkan obat penawar untuk luka mu. Apa kau sudah bertemu dengannya?" Nona Yue meraih secangkir minuman dingin yang ada di hadapannya.


Onyx sudah mendapatkan obat penawar untuk bekas lukanya? Apakah itu berita baik yang Sean sembunyikan darinya? Lyra merasa senang setengah mati.


Lyra menggeleng, "aku belum bertemu dengannya hari ini, tapi Sean bilang Onyx memang ingin bicara padaku. Tapi anak itu tidak langsung mengantarku, dia memilih untuk mengisi perutnya, itu yang paling utama baginya." Lyra menuding Sean seolah laki-laki itu yang bersalah karena menyembunyikan berita baik.


Nona Yue melihat Sean juga yang masih mengunyah makanan yang dia simpan di kedua pipinya, dia begitu lahap. "Dia sepertinya menyukaimu, Lyra."


Lyra tersedak oleh sesuatu yang baru saja dia telan karena mendengar ucapan Nona Yue yang dia rasa tidak rasional. Mana mungkin itu terjadi, Sean adalah temannya, Sean bahkan sudah menganggap Lyra seperti adiknya sendiri. Nona Yue hanya bicara yang tidak-tidak, lebih tepatnya, itu bukan ramalan miliknya.


"Kau baik-baik saja Lyra?" tanya Nona Yue, "aku tidak tahu kalau kau akan bereaksi begitu." Nona Yue tersenyum lebar, seakan merasa puas dengan keberhasilannya menggoda Lyra.


"Kenapa kau mengatakan itu padaku? Itu bukanlah sebuah ramalan yang kau ciptakan sendiri, kan? Aku tidak mau kehilangan seorang teman hanya untuk mengenal cinta." balas Lyra, dia berucap begitu cepat hingga membuat Nona Yue terdiam sesaat.


"Aku hanya menebak saja, tidak ada sihir di sekitar sini untuk sekarang." kemudian kedua orang itu tertawa pelan seraya menghabiskan minuman yang sudah tersaji.


Sementara di sisi lain, Rick melihat Lyra sedang bercanda dengan pemilik perkemahan, dia terlihat kehilangan beberapa beban yang dia pikul. Rick ikut senang mengetahuinya dan tidak akan melupakan janjinya begitu saja meski Sean selalu berada di samping Lyra untuk menemani serta menjaganya. Tapi Rick tahu, hal itu tidaklah cukup dan sudah jelas terbukti. Dia bahkan sudah gagal melindungi Lyra dan membuat Lyra celaka. Rick tahu, Lyra memiliki bekas luka cakaran yang membekas pada lengannya tapi Rick sama sekali tidak mengungkit pembicaraan itu saat bersama Lyra karena dia tidak ingin mengingatkan Lyra tentang takdirnya yang kurang menguntungkan.

__ADS_1


Bahkan, tentang ucapannya tadi malam, dia hanya akan menyimpan perasaan itu untuk dirinya sendiri. Meskipun dalam hati dia benar-benar berharap kalau suatu waktu Lyra menyadarinya dan membalas.[]


__ADS_2