Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)

Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)
39. Masa Lalu Sean


__ADS_3

Sean mulai merasa sedikit aman, dia bahkan baru menyadari kalau selain jahat Rick juga sudah melampaui batasnya untuk suka kepada Lyra. Hanya saja Lyra sepertinya masih menyembunyikan sesuatu walau Sean berhasil membujuknya agar Rick tidak lagi ikut dalam perjalanan mereka.


"Tapi kau keterlaluan, Sean. Kau tidak perlu memerintahkannya seperti itu kalau kau tidak mau dia ikut dalam perjalanan." entah kenapa beberapa jam lalu sampai saat itu Lyra merasa perasaannya memburuk, wajahnya seolah kaku tidak lagi bisa tersenyum walau tipis. "Setidaknya, dia sudah melindungi kita." kata Lyra lagi.


Sean menoleh padanya sekilas, tangannya terus saja menggenggam setir dengan santai. "Apa kau terpengaruh dengan wajahnya yang sok polos dan dibuat-buat itu? Aku kan sudah memperingatkan mu untuk jangan terlalu dekat dengannya!" Sean agak berteriak diakhir katanya, dia mulai terbawa oleh emosi yang sudah menguasai dirinya.


"Kau tinggal bilang padaku kalau kau tidak menyukainya dan kurasa kau malah semakin membencinya ketika kau tahu kalau dia menyukaiku!" Lyra balas berteriak, pikirannya terus bertanya-tanya bagaimana keadaan Rick dan bagaimana dia akan membuktikan janjinya.


"Aku tidak suka kau terlalu memperhatikannya!" Sean sudah benar-benar membentak Lyra, membuat Lyra membungkam mulutnya.


Jantung Lyra berpacu dengan cepat seiring melambatnya laju mobil, dia tidak pernah mengira Sean akan benar-benar melakukan hal seperti itu padanya mengingat laki-laki itu hampir tidak pernah marah dengan serius. Lyra merasa matanya memanas, lagi dan lagi, dia meneteskan air mata untuk yang ke sekian kalinya. Dia tidak akan menduga kalau dia akan lebih sering melakukan ritual itu, bahkan sama sekali tidak pernah terbesit dalam pikirannya.


"Lyra, maafkan aku." Lyra bisa mendengar suara Sean gemetar, laki-laki itu buru-buru menepikan mobilnya lalu menghadap Lyra, menarik kedua tangannya. "Maafkan aku.." lirihnya, suaranya tetap sama. "Aku tak mau kehilangan hal yang kucintai lagi."


Mendengar itu, Lyra menarik tangannya dari genggaman Sean. Kemudian menahan Sean dengan tangannya agar tidak lagi mendekat, dia hanya ingin mencerna semua perkataan Sean padanya yang mana sudah membuat Lyra menangis dan merasakan sakit secara bersamaan.


"Kehilangan orang tua dan rumah untuk berlindung, sudah membuat dunia ku terguncang dan runtuh. Kau hanya tak tahu bahwa sebenarnya aku rapuh, tak ada bedanya denganmu." Sean menunduk seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "persahabatan antara laki-laki dan perempuan tidak pernah bertahan lama, akan selalu datang cinta sebagai penghancurnya. Maafkan aku, seharusnya aku tidak membentak mu dan berteriak padamu." Sean tiba-tiba saja terisak di tempatnya, laki-laki itu menangis juga akhirnya setelah menahan diri sekian lama agar terlihat kuat di depan banyak orang.


Dengan seribu kebingungan yang melanda, Lyra tidak sanggup bicara banyak selain menyadari kenyataan bahwa persahabatannya akhirnya terpecahkan juga oleh kehadiran cinta yang bahkan dia tidak tahu arti sesungguhnya.


"Setiap aku melihatmu, aku menemukan apapun yang selama ini kucari." gumam Sean, dia menyembunyikan wajahnya yang dipenuhi air mata  itu di balik tangannya. "Aku menemukan rumah sekaligus orang yang kucintai, aku hanya menemukannya padamu, Lyra. Aku tidak bermaksud untuk menghancurkan hubungan pertemanan ini." katanya lagi dengan terisak, bahunya berguncang begitu hebat.

__ADS_1


Lyra meluruskan kakinya sambil menghadap ke depan, melihat orang-orang yang lalu lalang. Dia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kemudian memejamkan matanya. Kedua tangannya menghapuskan jejak-jejak air mata yang sempat mampir di kedua pipinya, dia melukiskan senyum tipis pada bibirnya tanpa Sean ketahui. Lyra tidak habis pikir dengan apa yang terjadi, dia memang tidak tahu bagaimana kehidupan Sean sebelum bertemu dengannya, bahkan dia teringat semua orang yang hadir dalam hidupnya—hampir semua dari mereka merasakan kehilangan yang teramat berat yang dia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya. Apakah seperti tersayat atau lebih parah, atau merasakan segala emosi yang bercampur menjadi satu. Dia tidak pernah tahu.


Hatinya bahkan sudah kembali tenang, hanya saja memikirkan dimana keberadaan Rick masih mengganggunya. Lyra tiba-tiba saja teringat dengan irama jantung Rick yang tenang kala itu saat dia mencoba menenangkan Lyra, irama jantungnya benar-benar berhasil membuat Lyra seolah berada pada bagian bumi yang tidak tersentuh oleh manusia manapun, di sanalah kesunyian dan ketenangan menjadi satu baginya.


"Apa kau tidak ingin memarahi ku? Setelah apa yang sudah kulakukan padamu?" tanya Sean.


Lyra mendengarnya, dia hanya tidak menoleh kepada Sean. Dari sudut matanya saja dia bisa tahu kalau Sean tengah kacau di tempatnya, wajahnya yang memerah benar-benar diluar dugaan.


"Kau membenciku?" tanya Sean lagi, seakan memaksa.


Menarik napas dan menghembuskan nya sudah membantu untuk menenangkan diri sebenarnya, tapi Sean tidak melakukannya untuk dirinya sendiri alih-alih meminta agar Lyra yang melakukannya. Sean benar-benar malu dan merasa begitu bersalah, dia sudah bersikap seenaknya dan tidak memikirkan perasaan orang lain seperti yang biasa dia lakukan sebelum perasaan lain menguasai dirinya. Dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa selain meminta maaf dan terus menyalahkan diri sendiri, dia melakukan sesuatu yang fatal untuknya. Hal itu sebenarnya sudah cukup membuktikan kalau dia berbeda dari sebelum-sebelumnya, tetapi Lyra tidak mau memutuskan untuk meyakini satu atau dua hal saja meskipun dia sudah tahu kebenarannya.


Sean mengangkat kepalanya lebih tinggi lagi agar bisa melihat Lyra dengan lebih jelas, jemarinya menari di pipinya alih-alih mengusap bekas-bekas air mata. Itu untuk pertama kalinya Lyra melihat Sean menangis hingga terisak, bahkan gemetar setengah mati. Selama ini dia mengenal Sean sebagai sosok kakak laki-laki yang kuat dan tegar, tetapi rupanya, dia juga menyimpan dan berpura-pura kuat agar tidak mengundang banyak pertanyaan. Atau mungkin Sean lebih menghindarinya.


Itu terdengar begitu puitis tapi Lyra tahu perasaan itu, dia juga selalu menggantungkan dirinya kepada Orance dan Peal.


Sean lagi-lagi menghembuskan napasnya, "waktu itu, aku masih sempat melihat wajahnya sebelum tangan lain merangkul ku begitu erat kemudian membawaku pergi menjauh darinya. Wajahnya yang sekarang samar-samar teringat olehku hanya muncul beberapa kali ketika aku tertidur." dia kemudian menelan saliva nya. "Orang itu entah siapa, dia membawaku ke sebuah tempat dengan banyak anak kecil di dalamnya lalu muncul seorang berpakaian lengkap layaknya biarawati, dia melihatku sekilas dengan raut wajah yang dibuat-buat seakan-akan mengasihani ku." ujar Sean.


Kemudian isi kepalanya memutar ulang kejadian beberapa tahun lalu, dimana Sean bertemu banyak orang tetapi tidak ada yang sama dengannya secara mental. Dia dikenal sebagai anak yang diam dan penurut, tetapi dia akan sangat cengeng pada jam-jam akan tidur. Dia merindukan ibunya, tetapi dia merasa ada yang aneh dengan itu. Kenapa waktu itu Sean tidak memberontak dan tidak berani memukul orang tersebut lalu pergi menghampiri ibunya lagi, bahkan kata-kata terakhir yang muncul dari ibunya hanyalah 'tetaplah kuat' dan hingga kini dia tidak mengerti apa maksudnya. Atau mungkin, Sean tidak ingin mencari tahu.


"Selama itu aku diasuh dan dididik oleh perempuan yang tidak pernah pergi dari sisiku sebelum tidur, lalu mereka—orang tua tiri ku—datang menjemput ku dan mengajakku tinggal bersama mereka di Portsmouth. Selama itu juga aku sering keluar sendirian ke dalam hutan, untuk sekedar mengubah diriku menjadi serigala seolah bisa merasakan ibu ku berjalan di sampingku. Kami bersama-sama menelusuri hutan sampai akhirnya, Alpha Pemburu Feroces menemui ku sedang tertidur pulas di bawah pohon. Dia menyadari identitas ku tetapi tidak melaporkan kejadian itu kepada siapapun karena dia tidak ingin aku terlibat oleh apapun."

__ADS_1


Lyra menutup matanya kembali, seolah bisa melihat detil kejadiannya. Mungkin seperti yang pernah dia alami kala itu. Dia bertanya-tanya bagaimana keadaan di sana saat ini, tetapi Lyra berharap Orance dan Peal beserta teman-temannya baik-baik saja. Dia sama sekali tidak peduli dengan ketidakhadirannya di sekolah yang mana akan menimbulkan pertanyaan mengenai dirinya dan Sean, juga Rick dan kedua temannya yang juga ikut menghilang. Lalu, apakah kehidupan di golongan Civitas berjalan normal seperti sedia kala atau malah menjadi semakin tidak terkendali? Dia tidak akan pernah tahu lagi bagaimana. Namun, dia akan segera kembali dan menggulingkan Pemerintahan Ducis.


"Hingga akhirnya, aku bertemu denganmu di awal masuk sekolah." Sean menyunggingkan senyum. "Kau ingat, kan? Kala itu kau begitu tidak percaya akan dirimu sendiri sampai kau tahu bahwa aku juga sama seperti mu."


Lyra ikut menyunggingkan senyum mengingat hari pertama dia bersekolah, tetapi dia belum angkat bicara satu katapun untuk membalas semua perkataan Sean. Dia belum ingin bicara.


"Kau berusaha menyembunyikan identitas mu dan menghindari semua orang, bahkan guru kita. Saat pulang sekolah kau langsung pulang dan berjalan sendirian, kau di tatap ribuan pasang mata karena memiliki keunikan pada rambut dan matamu. Orang mengira kau seorang keturunan albino bahkan aku juga." Sean terdiam cukup lama sebelum akhirnya dia bicara lagi. "Kalau saja aku tidak bertemu denganmu dan menegur mu kala itu, aku mungkin sudah pergi dari Portsmouth untuk mencari ibu ku, aku hanya ingin mengubah masa lalu ku. Aku ingin kembali ke pelukan ibu ku, bagaimana pun caranya."


Sekali lagi, Lyra menutup matanya dan menghela napas panjang. "Masa lalu adalah masa lalu. Jika kau berpikir bahwa kau bisa mengubahnya, lalu mengapa itu tidak berlaku dengan takdir?"


Seakan tertampar oleh sesuatu yang tidak nampak, Sean melihat Lyra dengan tatapan kosong. Dia sadar kalau hidupnya belum seburuk apa yang dilewati Lyra selama ini. Lyra hanya hidup dalam kebohongan yang panjang, tanpa pernah sekalipun melihat keluarganya atau bahkan sekedar merasakan kasih sayang dari mereka. Perempuan itu tumbuh dalam kebohongan yang mana untuk melindunginya juga, tetapi meski begitu, jika Sean berada di posisinya, dia akan lebih merasa sakit dan putus asa. Apalagi, Lyra sudah mengetahui akhir dari hidupnya yang selama ini rasanya berjalan cukup lurus.


Jika kau bertemu persimpangan di hadapanmu, yang mana hanya ada satu di antara begitu banyak simpang memberimu kesempatan untuk mengubah takdirmu, tetapi pada akhirnya kau tetap akan melewati takdir itu juga, mau tidak mau. Apa yang akan kau lakukan? Pikir Sean di alam bawah sadarnya.


Mungkin Sean akan begitu frustrasi, dia tidak dapat menentukan pilihannya. Dia tidak bisa memutuskan apa-apa kecuali langsung menuju takdirnya. Namun, Lyra tidak. Dia bisa mengontrol dirinya serta perasaannya untuk tidak begitu memperdulikan soal takdirnya karena itu bukanlah suatu fokus yang perlu dipikirkan terlalu lama. Setiap orang yang mengalami mimpi buruk, tidak pernah berharap memiliki mimpi seperti itu, kan? Lalu mengapa repot-repot untuk menjadikannya bahan pikiran yang akan merusak suasana?


"Seseorang bicara padaku, seakan hanya mimpi, dia memberikanku alasan untuk tetap bertahan dan terus menjalani hidup meski akhirnya akan mengalami banyak hal-hal yang akan merugikan. Tetapi, hidup itu adil, karena kita hidup bukan untuk hari itu saja, ada hari esok yang membawakan begitu banyak kejutan." akhirnya, Lyra bicara dengan santai dan lembut seperti biasa. "Kau hanya perlu mengendalikan diri dan perasaanmu, bahkan memutuskan untuk tidak memikirkan perihal masa lalu adalah salah satu cara untuk tetap bertahan. Jika mengambil keputusan saja masih menjadi tugas yang berat bagimu, kau tidak akan pernah memahami sebuah keadilan dalam hidup." Lyra menghela napas sebagai penutup perkataannya, layaknya orang yang berpidato.


Dia bahkan tidak yakin dengan apa yang barusan dia katakan, tetapi setidaknya dia berhasil melakukan hal yang dilakukan Rick agar semua orang merasa tenang dalam menghadapi apapun. Lyra percaya, dia juga akan bertahan persis seperti apa yang di katakan dan melakukan hal-hal yang baru saja dia utarakan.


Senyuman tipis muncul di sudut bibirnya yang membuat Sean keheranan, dia sudah membuat janji kepada dirinya sendiri dan mulai fokus dengan apa yang dia kejar saat ini.

__ADS_1


"Terimakasih, kau sudah mau menyadarkan ku." ujar Sean.


Lyra kemudian memintanya untuk melanjutkan perjalanan dan berharap Rick berada tepat di belakangnya karena dia sudah cukup mengulur waktu agar dia bisa mengejar ketinggalannya. Lalu dia membuka lengan bajunya untuk mengoles minyak rosehip dengan perlahan-lahan, warna hitamnya sudah hampir menghilang seluruhnya.[]


__ADS_2