Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)

Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)
42. Hanya Ada Jejak Kaki


__ADS_3

Warna jingga yang dihasilkan dari Matahari terbenam sore itu membuat langit lebih cantik dari malam-malam penuh bintang. Pantulannya yang agak redup di aliran sungai yang tenang berhasil membuat Lyra merasa betah terus berlama-lama di sana. Dia dan Peter duduk di bawah gubuk tanpa alas seraya menunggu teman yang lain kembali dari perburuan mereka.


Sementara masih bercerita tentang dirinya yang berbeda dan membuat heboh Kota nya, mereka kemudian kedatangan dua perempuan yang sejak awal bersama Sean. Mereka berlari mendekat dengan langkah kaki yang seakan dibuat tergopoh-gopoh, Lyra langsung merasakan ada sesuatu yang tidak beres karena dia juga tidak melihat Sean bersama mereka.


"Dimana Sean?" tukasnya sedikit menaikkan nada suaranya kemudian bangkit dari duduknya. "Aku tidak melihatnya bersama kalian." katanya.


Grace yang tadinya memperlihatkan wajah panik ketika tiba di sana kini merubah ekspresinya dengan datar. Entah apa yang dipikirkan perempuan itu sebenarnya, jika saja Lyra bisa membaca pikiran seperti para penyihir, mungkin sejak awal dia memutuskan untuk kembali masuk ke dalam mobil dan melupakan perihal bekal perjalanan. Dia begitu kesal tetapi setidaknya dia sudah memperingatkan Sean sebelum mereka benar-benar melangkah masuk ke dalam tempat itu.


Joy berdeham, "kami kehilangannya.." dia kemudian menyodorkan arloji hitam yang biasa di kenakan Sean. "dia hanya meninggalkan ini pada kami."


Lyra langsung menariknya dengan paksa, "untuk apa kau dikaruniai indera pencium yang luar biasa kalau ternyata mencari teman yang hilang pun kau tak bisa!" bentak Lyra pada kedua orang tersebut. "Bawa aku ke sana." katanya lagi. "Sekarang!" dia menekankan katanya.


Grace hanya membisu sementara Joy melirik Peter seakan meminta bantuan.


"Ayo, ke sana." tukas Peter dan lalu berjalan lebih dulu dari dua perempuan itu.


Lyra mengendus arloji itu dan tanpa berpikir panjang, dia memutuskan untuk mengubah dirinya menjadi serigala. Dia mengaum di tempatnya dengan kaki depan yang mengambil ancang-ancang, dia kesal dan marah karena terpisah dari Sean. Meski Sean sudah melakukan hal-hal yang tidak di setujui Lyra dan mengungkapkan perasaannya walau tidak secara langsung, tetapi dia tidak mungkin membiarkan Sean sendirian. Mereka sudah berjanji untuk saling bersama.


Grace dan Joy yang masih di belakang Peter menoleh ke arahnya dengan wajah setengah ketakutan lalu saling memandang satu sama lain sementara Peter hanya melihat Lyra dengan wajah bingung yang tidak dibuat-buat.


"Apa yang akan kau lakukan.." gumam Grace, suaranya sedikit gemetar. "Maafkan aku.. Maafkan kami.." katanya lagi.


Lyra menatap kedua perempuan itu dengan tajam seolah mengancam akan mengoyak wajah mereka bergantian. Grace yang bergidik ngeri langsung membawa wajahnya ke bawah melihat rumput tebal di kakinya sedang Joy menggigit bibir bawah bagian dalam alih-alih menahan sesuatu yang akan keluar dari dirinya.


"Lyra, aku tahu kau memang menyukai tantangan, tapi bukan berarti kau selalu bisa bertindak gegabah." Peter mencoba menenangkan tetapi rasanya tidak berhasil karena Lyra mengaum kuat kembali kemudian memperlihatkan giginya yang tajam-tajam.


Peter yang tadinya ingin maju kini memundurkan lagi langkahnya, dia sama ketakutannya dengan dua perempuan yang ada di depannya. Dia bisa saja mengubah dirinya juga menjadi serigala tetapi dia tidak ingin melukai Lyra dan tidak mau membiarkan seseorang melukai teman-temannya.


Meskipun Lyra bicara, orang-orang yang ada di depannya itu tidak bisa mendengarnya. Dia sudah menduga kalau tempat itu memang tidak aman baginya dan Sean untuk sekedar bernaung sejenak saja. Kalau begitu akhirnya, rasanya dia tidak perlu menunggu lagi untuk mengangkat kaki dari sana.


Lyra mengendus sekali lagi arloji itu kemudian menggigitnya, dia akan membawa itu bersamanya sebagai petunjuk. Dia berlari melewati orang-orang yang ada di depannya dan meninggalkan hasil buruannya yang sudah mati-matian dia kejar karena rusa itu berlari lumayan cepat. Padahal tadinya dia ingin mengatakan kalau dia berhasil menangkap targetnya hanya dalam satu kali percobaan kepada Sean, tetapi rupanya tidak, dia malah harus mengkhawatirkan Sean dan mencari keberadaannya. Dia tidak mungkin menghilang begitu saja kecuali..


Ya, kecuali dia diculik. Pikir Lyra, membuatnya semakin mempercepat larinya dan mengikuti aroma tubuh Sean dengan penciumannya yang tajam.

__ADS_1


Hal itu rasanya sudah pasti karena dia tidak mungkin meninggalkan Lyra sendirian apalagi membiarkan Lyra dalam bahaya, rasanya itu bukan Sean. Walau Sean agak berbeda dari sebelumnya ketika mereka di tempat ini, yang mana dia bahkan tidak tahu namanya, Lyra yakin Sean pasti masih memikirkannya. Lagipula, Sean sempat menitipkannya pada Peter, kan?


Aroma itu semakin jelas dan semakin merasuk ke dalam hidungnya, dia berhenti dan berputar-putar di salah satu pohon tumbang yang ada di sana. Mengendusnya berkali-kali dan akhirnya berhasil menemukan aroma khas milik Sean. Di atas tanah basah, tepat di samping pohon tumbang itu, Lyra menemukan jejak kaki serigala yang begitu dalam. Dia mengikuti jejak itu yang dia harap akan membawanya menuju Sean tetapi lama kelamaan, jejak kaki serigala itu menghilang, yang tersisa hanyalah sebuah jejak kaki manusia yang menumpuk seakan menutupi jejak kaki yang lain. Cukup banyak hingga berhasil membuat Lyra bingung melihatnya.


Dia tidak lagi meragukan analisanya kalau Sean memang diculik oleh seseorang yang entah bagaimana menginginkannya lebih dari Cravene palsu menginginkan Lyra seperti saat itu atau semua itu memang ulah Cravene palsu?


Hidung Lyra tiba-tiba mencium sisa-sisa sihir di sekitar sana dan mulai memenuhi atmosfer di sekeliling tubuhnya. Dia tidak pernah mengira akan begitu jadinya dan itu membuatnya sempoyongan, dia tidak bisa menahan lebih lama lagi, dia seperti ingin pingsan..


Lyra! dia masih mendengar teriakkan yang kuat itu, itu kau, kan? Bagaimana mungkin aku bisa mendengar isi kepalamu? Kau berubah menjadi serigala.. suara itu menghilang seiring hilangnya kesadaran Lyra.


Dia tumbang begitu saja di atas tanah lembab di sekitar pepohonan, semua pandangannya gelap dan dia berharap suara yang didengarnya adalah Rick sungguhan, bukan siapa-siapa yang mirip Rick.


Di alam bawah sadarnya, Lyra—dirinya yang lain—sedang berbincang dengan umpatan yang terus keluar dari mulutnya. Dia nampak begitu terhanyut oleh emosi yang membara, semua kobaran api kebencian yang ada di dalam dirinya seolah keluar tanpa diminta tetapi bukan hal itu yang sedang dilihatnya dengan sungguh-sungguh, Lyra melihat orang yang menjadi lawan bicaranya itu adalah sosok Carlos. Pria paruh baya yang hampir mati itu memberitahunya bahwa Sean melarikan diri karena sesuatu dan tidak ingin bertemu siapapun lagi termasuk Lyra. Namun, mana mungkin Lyra mempercayainya begitu saja?


Carlos, dengan kakinya yang gemetar hanya duduk bersantai seakan kepergian Sean atau hilangnya Sean dari sana bukanlah masalah besar. Bahkan dia sampai tertawa dengan suara yang lumayan besar seolah merasa puas.


"Akhirnya, aku bisa hidup lebih lama lagi." katanya di sela-sela suara tawanya yang terus berlanjut.


Jantung Lyra berdetak cepat, dia tidak mengira Carlos akan mengatakan hal semacam itu walaupun sejak awal dia sudah menaruh curiga dengan pria paruh baya itu. Lyra benar-benar berharap dalam hatinya bahwa Carlos segera mati, secepatnya.


Lyra kembali mendengar panggilan, entah dari mana. Lalu dia sadar, suara itu sempat muncul memanggilnya sebelum gambaran aneh yang sedang berputar di hadapannya ini muncul dalam kepalanya. Dia sadar kalau dia sedang berada pada tempat yang tidak seharusnya seolah dia bisa membagi antara jiwa dan raganya. Akhirnya Lyra memutuskan untuk kembali, ke dalam raganya.


Dia melihat manik mata Rick yang coklat itu melihatnya dengan perasaan yang penuh khawatir, Rick sudah melakukan itu sebelumnya, saat pertama mereka keluar dari Flos Orbis.


Rick yang dalam rupa serigalanya menggerak-gerakkan tubuh Lyra agar sadar dengan hidungnya yang basah. Dia mengendus aroma tubuh Lyra yang sebenarnya, untuk yang kedua kalinya lalu membantu Lyra agar bangun dari tidurnya. Rick tidak bertanya mengenai Lyra yang tiba-tiba saja ambruk di tanah tanpa sesuatu yang mencurigakan sebab dia sudah tahu kalau perempuan itu akan pingsan saat dia berhasil menghirup aroma sisa sihir yang masih melekat di antara karbon dioksida di sekelilingnya, yang dia akan tanyakan adalah..


Kau sudah merasa baik-baik saja, sekarang? Syukurlah, kukira aku sudah terlambat. Tapi..


Suara kesakitan yang dikeluarkan oleh Lyra berhasil membungkam mulut Rick, entah kenapa dia langsung saja membantu Lyra berdiri dengan bahunya seakan membopong Lyra untuk berbaring dengan pohon sebagai sandarannya.


Aku harus menemukannya. kata Lyra disela-sela suara meringis nya. Kau harus membantuku, Rick.


Sebaiknya kau berubah dulu menjadi rupa manusia, agar aku bisa membantumu.

__ADS_1


Rick kemudian mengubah dirinya menjadi manusia tanpa peduli dengan keadaannya yang berantakan di hadapan Lyra. Dia memang sudah lelah mengejar ketertinggalannya hingga memutuskan untuk mengisi tenaga dengan mencari makan di hutan, apa saja agar dia bisa mengisi perutnya yang lapar. Dan rupanya tidak jauh dari sana, dia mendengar pikiran seseorang yang seperti benang kusut, semua bercampur tanpa bisa melihat perihal nya satu per satu. Dia merasakan kalau aroma tubuh Lyra pun semakin dekat, padahal cukup jauh bermil-mil tetapi mungkin angin membawanya pergi.


"Kau harus tahu, aku tidak akan meninggalkanmu meski kau memintaku untuk berhenti melindungi mu." gumam Rick seraya membantu Lyra duduk dengan benar.


Perempuan itu sudah mengubah dirinya juga dengan tangan yang menggenggam arloji milik Sean, lalu buru-buru menarik Rick, dia merangkul laki-laki dengan sangat erat.


"Maafkan aku.." lirihnya pelan, "kalau saja aku tidak mendengarkan ocehan Sean yang seperti anak kecil karena cemburu denganmu, lalu membawa kami ke tempat yang lebih pantas disebut neraka ini, Sean mungkin tidak akan diculik oleh pria gila itu!"


"Ya, tapi mungkin Sean akan melarikan diri karena adanya aku."


Lyra terkekeh, "percayalah, dia bukan orang yang seperti itu, walau kuakui anak itu memang benar-benar cemburu padamu." lalu melonggarkan pelukannya pada Rick.


Entah kenapa Rick senang tak kepalang, dia bisa merasakan pelukan Lyra yang sesunguhnya dan merasakan seakan-akan dirinya cukup berharga bagi Lyra. Dia memang tidak akan membiarkan perempuan yang dia sukai itu merasakan hal-hal yang tidak seharusnya dia rasakan karena Rick tahu Lyra harusnya bahagia, bahkan mungkin dengan cara yang tidak Rick duga.


"Kau ingin bercerita sekarang?" tanya Rick akhirnya.


"Ya, kurasa memang sudah seharusnya aku memberitahu mu." sahut Lyra seraya melepaskan pelukannya, membiarkan Rick duduk di sebelahnya dengan bersandar di pohon yang sama.


Lyra bercerita tentang kedatangan mereka yang mana sepertinya hal itu memang sudah di nanti-nantikan karena sepanjang perjalanan Lyra tidak merasa kalau dia diincar para pasukan Cravene palsu. Karena mereka benar-benar membutuhkan bekal untuk perjalanan akhirnya dia memutuskan untuk singgah yang berniat untuk sebentar saja, tetapi Carlos, pria paruh baya yang sekarat itu mengaku kalau dirinya adalah seorang kepala suku. Lyra mengakui kepada Rick kalau dia sudah menaruh curiga sejak awal karena dia seolah bisa meramal hanya dengan menggenggam tangan Sean, lalu bercerita kalau ibu Sean, Xylia, memang berasal dari sana dan mati dalam kebakaran besar yang terjadi sudah beberapa tahun lamanya. Di tambah Carlos mengaku bahwa dia hanya membuat cerita tentang aktivitas ziarah kuburnya kepada Sean padahal dia tidak pernah sekalipun muncul di sana setelah hari pemakaman saudaranya.


"Aku tak yakin mengapa dia melakukannya," kata Lyra, "tapi aku bisa merasakan kalau kebakaran itu pernah terjadi persis di sana." dia mengakhiri.


"Kau sungguh tidak tahu peristiwa naas itu? Aku tahu mengenai itu dari Tobias, dia mendapat cerita tentang kebakaran hutan yang menghabisi tempat itu dari salah satu kerabatnya." tukas Rick, dia duduk menghadap Lyra. "Kira-kira empat belas tahun yang lalu, kepala suku serigala di Glencoe itu dengan sengaja membakar hutan tersebut dengan alasan dia tidak ingin posisinya tergantikan. Dia takut kalau keberadaannya sudah tidak di akui oleh serigala yang lain dan membuat-buat cerita kalau seseorang dengan sengaja membakar hutan tersebut."


Mata Lyra terbelalak tidak percaya dengan apa yang diceritakan Rick padanya dan itu artinya perasaannya yang sudah merasa ada sesuatu yang buruk kala itu tidak salah lagi. Dia seharusnya mengajak Sean pergi dari sana tapi lagi-lagi Lyra sadar kalau Sean tidak akan mendengarnya waktu itu, tidak akan, sampai dia melihat semuanya sendiri dengan matanya.


"Kau boleh tidak percaya padaku,"


"Apa aku terlihat begitu?"


Rick mengangguk.


"Bukan, bukan begitu, aku.. aku hanya merasa bodoh, kenapa aku tidak mengikuti instingku? Semua ini tidak akan terjadi kalau saja aku lebih mendengar apa kata perasaanku sendiri." dia kemudian menggenggam tangannya kesal. "Lalu, para manusia serigala yang lain, bagaimana mereka?"

__ADS_1


Rick menghela napas seraya mengernyitkan dahinya, "aku tidak yakin, sih, tapi rasanya manusia serigala lain yang sekarang bersamanya adalah anak buahnya sejak awal. Bahkan kata Tobias, mereka membiarkan orang-orang yang mati terbakar di sana, tidak pernah mengubur atau membuat pemakaman masal seperti yang kau lihat. Atau mungkin, bisa jadi cerita ibu Sean memang benar adanya."


"Aku masih tidak percaya, di dalam pikiranku, Carlos mengatakan sesuatu yang tidak ku duga, seolah dia memang menginginkan Sean dan menyuruh anak buahnya menculik Sean."[]


__ADS_2