Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)

Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)
45. Sisi Lain


__ADS_3

Seberkas cahaya yang muncul dari sela-sela dedaunan memperlihatkan kilau-kilau cantik pada embun yang menempel, meski tidak ada nyanyian burung yang merdu, tempat itu menjadi tempat paling mengesankan. Sinar Matahari pagi itu agak lebih panas dari biasanya hingga membuat Lyra dan Rick terbangun pagi itu dengan saling terkejut satu sama lain karena mereka masih dalam posisi tadi malam, saling berpelukan. Kemudian keduanya tersenyum seraya mengucapkan selamat pagi.


Lyra tidak menyangka kalau hal yang sama sekali tidak pernah terbesit dalam pikirannya menjadi sesuatu yang paling nyata yang pertama kali dia sadari. Rick yang masih membiarkan tangannya tertindih oleh kepala Lyra bahkan tidak meminta Lyra untuk segera bergeser dan mengangkat kepalanya, dia pikir kalau perempuan itu masih membutuhkannya.


"Kau lapar?" celetuk Lyra akhirnya. "Aku punya ide, bagaimana kalau kita bersama-sama berburu?"


Bola mata Rick tertuju ke dahan-dahan pohon yang besar itu seraya menimbang-nimbang apakah ide itu bagus. Tapi sejak semalam dia memang lapar dan terpaksa menahannya karena Lyra bersikap seakan tidak memberi Rick pergi jauh darinya. Apakah mungkin idenya itu juga karena dia tidak ingin sendirian? Itu bisa terjadi. Pikir Rick. Dia lalu mengangguk sebagai balasan.


Saat membersihkan wajahnya dan mengikat rambutnya, Lyra tidak sengaja melihat arloji Sean tergeletak di sebelahnya. Dia meraih benda itu dan otomatis membuat suasana hatinya kembali suram, dia sungguh sudah lupa dengan wajah Sean, suaranya, dan kebiasaan laki-laki itu. Dia hanya ingat namanya dan sedikit hal-hal kecil mengenai Sean. Lyra merasa frustrasi tetapi dia tahu itu tidak membantu dan bukan solusi yang selama ini dia cari, hal itu hanya akan semakin membawanya jatuh sedalam-dalamnya ke sebuah tempat yang tidak pernah di capai. Bagaimana pun, dia sidah memutuskan untuk mengutamakan pencarian Sean dan melupakan perjalanan mereka sebentar. Bahkan dia sudah tidak memikirkan tentang mobilnya, asalkan kalung itu masih ada padanya dan Rick sebagai orang yang sekarang akan berani mati untuknya, dia sudah merasa aman.


"Kau mau lihat sesuatu?" tanya Rick.


Rupanya Rick sejak tadi memperhatikannya hingga membuat Lyra terpaksa menyembunyikan wajahnya, dia tidak ingin Rick terbebani juga. Karena Rick memang tidak ada hubungannya dengan apa yang terjadi pada Sean walaupun Lyra sudah meminta bantuannya untuk mencari Sean dan mengambilnya kembali sebelum sesuatu yang buruk menimpa laki-laki itu.


"Apa?" gumam Lyra. "Kau mau menunjukkan apa?"


"Bukan, bukan menunjukkan. Tapi, aku ingin memperlihatkan mu sesuatu." jelas Rick singkat.


Lyra melirik Rick sekilas dan kembali membawa wajahnya ke ujung kakinya yang benar-benar kotor penuh noda tanah kering yang susah dibersihkan. Lyra tahu penampilannya hancur seperti tidak terurus, tetapi dia memang tidak punya waktu bahkan untuk memanjakan dirinya sendiri. Untuk makan pun, dia harus berlari dulu dan menghabiskan sisa tenaganya.


"Kemari." kata Rick, dia sudah berjalan dan berdiri dengan gagah di tempatnya.


Lyra yang masih lemas di tempatnya terpaksa berjalan dengan menggeret kakinya menghampiri Rick, lalu Rick menunjukkan sesuatu di depannya. Agak jauh dari sana mata Lyra menangkap gerak-gerik yang aneh, dia semakin penasaran karena tidak bisa melihat hal itu dengan jelas. Tak lama, sedetik kemudian, muncul sosok rusa besar dengan mata yang bulat hitam. Dia baru saja menarik dedaunan muda dari semak-semak dan menguyah dengan senang, rusa itu melihat kehadiran Rick dan Lyra di hadapannya tetapi dia tidak lari sama sekali. Dia masih mengunyah dedaunan itu tanpa peduli dengan keadaan di sekelilingnya.


"Aku yakin kau bahkan tidak sadar kalau dia sudah sejak tadi di sana." ujar Rick dengan pelan seperti hampir berbisik.


Lyra menghela napas, "ya, ku pikir aku kurang fokus."


"Karena kau memang kelaparan." celetuk Rick. "Ditambah, kau khawatir dengan keadaan Sean."


Lyra hanya diam saja karena apa yang dikatakan Rick semuanya benar, dia tidak akan menyangkalnya dan menjelaskan apapun. Karena dia sadar, Rick sebenarnya mengerti dengan apa yang dikhawatirkan dan membuat Lyra berbeda dari biasanya tanpa perlu dijelaskan.


Rick mendekati Lyra, "kita makan dulu, setidaknya kau punya tenaga untuk melawan kalau-kalau sesuatu yang tidak di inginkan terjadi." Rick tersenyum seraya mengelus tangan Lyra yang berbulu agak lebat.


"Baiklah," balas Lyra, "kalau begitu, kau akan mengejar ku karena aku yang akan mendapatkan sarapan pagi lebih dulu." dia sudah berlari meninggalkan Rick di belakangnya kemudian mengejek Rick seraya merubah dirinya menjadi serigala.


Sambil senyum-senyum karena Lyra berhasil membuat pagi itu terasa menyenangkan baginya, Rick mengikuti Lyra berlarian kecil dan mengubah dirinya menjadi serigala juga.


Lyra, panggil Rick. Kau tidak mau mengatakan padaku tentang sesuatu?

__ADS_1


Sesuatu tentang apa?


Sisi lain diri mu.


Apa kau merasakan sesuatu yang aneh pada ku? Lyra terdengar memelankan langkah kakinya meski masih mengejar si rusa yang juga berlari dengan cepat.


Tentu saja, sejak kejadian yang menimpa diri mu dan terus membuatmu pingsan. Aku bertanya-tanya, apakah sebelumnya kau pernah belajar sihir dan menjadikan itu suatu keuntungan atau kau memang terlahir dengan kepribadian ganda.


Suara Lyra seolah bergema di dalam kepala Rick ketika dia tertawa, aku bahkan tidak mengerti apa yang terjadi padaku, Rick. Tapi kau benar, dengan memanipulasi sisa sihir aku bisa melihat hal-hal yang tidak seharusnya ku lihat. Hei, kau membuatku penasaran dengan diriku sendiri.


Rick ikut tertawa, bukan karena perkataan Lyra tetapi karena dia sudah menyusul Lyra dan sudah mendekati rusa itu.


Rick! Kau rupanya mengecoh ku! Lyra berteriak di dalam kepala Rick yang berhasil membentuk cengiran yang begitu lebar di rupa serigala Rick, dia menjadi sedikit suka menjahili Lyra.


Saat akan menangkap rusa itu, Rick dengan sisa tenaganya berupaya meraih kaki kurus rusa tersebut tetapi tidak mencapainya. Dia berusaha lebih cepat lagi dan kemudian melompat menuju batang pohon yang sudah patah itu sebagai pijakan. Seolah terbang Rick membentang kedua kaki depannya bersiap menerkam mangsa yang semakin dekat dengannya. Lyra melongo melihat aksi itu sambil berlarian kecil karena dia sudah menyerah tidak bisa lagi mengejar Rick di depannya.


Kuku Rick menancap begitu dalam pada punggung si rusa hingga membuat rusa tersebut mengamuk dan meringis kesakitan, tidak memberikan kesempatan kepada rusa itu untuk kabur, Rick langsung merobek leher rusa itu dengan giginya yang tajam-tajam. Rusa tersebut ambruk begitu saja dan Rick ikut terjatuh, dia kemudian mencabut kukunya dari punggung si rusa dan berdiri sambil menggigit leher mangsanya yang sedang sekarat.


Kau hanya melihat ku menyantap sarapan ini? Tanyanya. Kalau iya, aku akan menghabiskannya langsung.


Raut wajah serigala Lyra yang datar membuat Rick ingin tertawa sekali lagi, di dalam pikirannya hanyalah dia ingin membalas perbuatan Rick di lain waktu.


Aku akan melakukan hal yang kau lakukan padaku, nanti.


Rick cekikikan lalu menghampiri Lyra yang jauh beberapa meter darinya dengan menyeret rusa itu, darah segar yang mengalir keluar membekas di atas rumput basah seperti yang ada di film-film psikopat ketika dia menyeret mayatnya untuk di fermentasi.


Apa kau tahu apa yang ku pikirkan, sekarang?


Kau seperti hidup di jaman nenek moyang, berburu untuk keluarga mu. Lyra mengejeknya karena pikiran Rick yang terlalu liar, Rick bermimpi terlalu jauh.


Aku akan mencari kayu, kau pasti tidak akan suka memakannya begini saja, kan? Lagipula, kau harus jelaskan padaku tentang hal yang masih kau pikirkan itu. Kau tahu? Aku tidak suka melihat raut wajahmu yang selalu cemas dengan sesuatu.


Tidak tahu akan membalas apa, Lyra hanya diam saja, dia menjadi takut Rick berubah menjadi orang lain yang tidak dia kenal, meninggalkannya seperti waktu itu dan membuatnya membenci Rick dengan paksa. Sebab, Lyra sudah menyukai Rick karena dia mengerti, dia tahu persis bagaimana membuat Lyra tidak merasa sendirian meskipun masalah selalu datang bertubi-tubi untuk meremukkan pertahanan hidupnya. Bagaimana dia tidak merasa bangga dengan sikap Rick yang selalu tenang dan bisa diandalkan? Memang tidak salah kalau Alice bisa sampai jatuh cinta padanya sampai tidak ingin Lyra merebutnya. Lyra tahu alasan dibalik kenapa beberapa anggota Cravene palsu menjadikannya sebagai pemimpin alih-alih seorang Alpha, dia selalu bisa bersikap tenang dan memutuskan sesuatu dengan baik dan peristiwa kala itu tidak termasuk karena Lyra tahu sendiri, Cravene palsu memang membawa pengaruh yang buruk untuknya serta teman-temannya yang lain.


Setelah merubah diri mereka menjadi manusia lagi, Rick membuat api di tengah teriknya Matahari siang itu dengan angin yang terus berhembus membawa angin dingin musim gugur. Lyra sudah tidak tahu saat itu hari apa dan bulan berapa tetapi yang pasti perubahan musim itu sungguh nampak jelas.


"Bagaimana aku bisa menjelaskannya padamu, ya?" ujar Lyra, "waktu itu aku sudah bilang padamu kan kalau aku sedikit bisa mengendalikan pikiranku itu untuk melihat sesuatu yang tidak mungkin kulihat dengan mata telanjang. Namun, rasanya memang ada yang ganjil. Selama aku hidup di bawah pengawasan Orance, aku tidak pernah begitu sensitif terhadap sihir, apalagi sampai bisa menyadarinya dengan begitu jelas begini, kecuali dalam mimpi, tetapi itu juga Orance yang melakukannya." jelas Lyra.


Rick berdeham pelan, dia baru saja selesai membalik daging setengah matang di atas api yang besar itu. "Kalau kau saja tidak bisa menyadari kapan keganjilan itu di mulai, bagaimana sekiranya kita bisa membuat suatu hipotesis yang bisa membantu membongkar rahasia dibalik sesuatu yang terjadi padamu? Tapi, aku punya beberapa opini yang mungkin bisa kita gunakan untuk menganalisanya, untuk sementara waktu."

__ADS_1


"Apa itu?"


Rick duduk di sebelah Lyra, di dekat batu yang bertumpuk. "Pertama, saat kau mulai melakukan penyambungan."


"Maksud mu?"


"Ya, kau bisa membuka map dengan hanya menyentuh kedua benda itu secara bersamaan, yang mana ku pikir itu memang hanya sihir Orance yang menghubungkan kalung itu dengan mu. Tapi setelah aku melihat kau terus saja pingsan dan mulai berkata hal-hal yang membuat teman mu bingung, aku mengubah perkiraanku dan mulai menebak siapa kau sebenarnya."


"Kau sempat berpikir begitu tentang ku?"


Rick mengangguk, "aku bahkan sudah menduga kalau kau bukan hanya seorang manusia serigala berdarah murni, tetapi kau adalah keduanya, atau mungkin kau juga seorang vampir?" tanyanya seakan menyelidik.


Lyra menautkan kedua alisnya, memandang Rick dengan tajam. "mungkin saja dugaan mu benar mengenai hal itu, tetapi itu semua cuma menurut analisamu."


"Ya sudah, lupakan saja. Dagingnya sudah matang, aromanya menggoda sekali." Rick mengambil daging itu dari atas bara api yang panas, menyisakan kepulan asap dengan aroma khas daging panggang. Rick diam-diam berharap bahwa tidak ada yang menyadari kehadiran mereka karena membuat kepulan asap di tengah hutan di siang terik kala itu.


Menyantap sarapan pagi di siang hari, sekali lagi Lyra melakukannya tetapi dengan orang yang berbeda dan karena mengingat hal itu, Lyra kembali teringat Sean. Hanya Sean, tidak tahu persis bagaimana rupa dan perawakannya.


"Kau mau memulai pencarian dari mana?" tanya Rick seraya mengunyah daging miliknya.


Lyra yang juga mengunyah santapannya melirik ke sana kemari melihat pemandangan di hadapannya yang hanya dipenuhi oleh pepohonan hijau yang di hujani cahaya Matahari siang hari itu, beberapa burung sempat melintas di atas sana dengan suara kepakan sayap mereka yang lantang. Dia tidak tahu apakah dia akan punya waktu untuk sekedar menyelam pada kedamaian yang dicipatakan alam semesta itu, karena dia tidak yakin dia bisa bertahan persis sebagaimana dia mengharapkannya.


"Bukankah kita sudah terlalu jauh dari sana?" tukas Lyra. "Sepertinya sulit kalau hanya mengandalkan aroma tubuh Sean yang semakin hilang itu, arloji itu pun sudah tidak ada gunanya." katanya lagi melihat arloji yang selalu dia bawa.


"Benar juga, tapi apakah kau harus menggunakan itu? Aku tidak punya kekuatan sihir untuk itu."


"Rasanya, kalung ini bisa." Lyra langsung memegang kalung yang menggantung di lehernya, benda itu selalu dingin saat disentuh.


Tak lama, kalung itu berkilau sekilas dan mengeluarkan semacam aura kebiruan diikuti dengan Lyra yang tumbang di tempatnya. Rick bukannya tidak menangkap Lyra, dia hanya terlambat menyadari hal itu yang rupanya berhasil.


Rick kemudian menaruh Lyra di pangkuannya, membiarkan jiwa Lyra berkeliaran di alam lain sementara dia menjaga raganya. Namun, Rick seakan mendengar langkah kaki yang persis menuju ke arah mereka berdua. Semakin dekat dan terburu-buru.


Apakah sosok itu mencium aroma kepulan asap yang dia buat? Rick membatin.


Rick mawas diri alih-alih bersiap bertarung, dia takut kalau itu adalah seseorang yang diceritakan Lyra. Mereka memang orang-orang yang tidak tahu diri, seenaknya melakukan suatu hal demi kepuasan yang sama sekali tidak bertahan lama.


"Rick." panggil orang itu, yang muncul dari balik pohon berkulit tebal itu.


Rick yang spontan menoleh, dia langsung terkejut sekaligus merasa tenang.[]

__ADS_1


__ADS_2