Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)

Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)
49. Kebencian yang Mendalam


__ADS_3

Langit cerah penuh Bintang malam itu terhapus begitu saja oleh angin yang membawa gumpalan hitam dari arah yang tidak dikenal, suhu meningkat drastis dan membuat tiga orang itu merasa agak menggigil sedikit oleh sisiran angin yang menjalari setiap inci kulit mereka. Siap tidak siap, mereka akan diterpa hujan kencang diikuti gemuruh yang menggelegar hebat, menakuti beberapa hewan-hewan liar yang bersembunyi dari terkaman para pemburunya. Tak tahu harus bernaung dimana untuk menghindari tumpahnya bulir-bulir air yang tak tahu kapan akan berakhir itu, Lyra beserta dua laki-laki yang bersamanya hanya berlarian kecil berupaya menghindari. Bukan takut dengan hujannya, tetapi petir yang berkilat-kilat di tengah-tengah hujan yang baru saja akan turun benar-benar menakuti mereka.


"Aku sudah mengira bahwa akan turun hujan." sela Tobias.


"Apa kita harus melanjutkan rencananya?" Lyra berlari mengikuti Rick yang juga berlari menuju ke bawah pohon yang agak rindang dan pendek.


Rick mengibas rambutnya yang basah dengan kedua tangannya kemudian menyisirnya ke belakang dengan jemarinya, jantung Lyra berdegup kencang saat memperhatikannya. Rick seperti bukan Rick yang sesungguhnya. Meski kulitnya terbakar Matahari dengan tidak merata, Rick tetap saja terlihat menawan di matanya. Entah kenapa setiap tatapan mata Rick yang dalam saat menatap Lyra, perempuan itu merasa begitu damai. Seakan hal-hal yang berhasil menenangkan hatinya berada di tiap ruas matanya, juga membawa banyak bayang-bayang indah.


"Kau mempunyai dua pilihan," sahut Rick yang tidak mengubah air mukanya, "tetapi karena kau begitu ingin menemukan Sean dalam waktu dekat, mau tak mau rencana tetap berjalan, meski aku takut kau nanti kelelahan dan.."


"Peluk aku, Rick." pinta Lyra, dia berdiri agak gemetar di tempatnya.


Lengan Rick yang berotot dengan kulit coklat yang mengkilap terkena air hujan merangkul Lyra tanpa keraguan. "katakan padaku bila sudah selesai." kemudian Rick memejamkan matanya seraya mengatur napas juga detak jantungnya agar memiliki irama yang biasa Lyra dengarkan.


Degupan yang tenang serta irama yang teratur itu sudah menjadi obat penawar untuk Lyra, dia dengan sekejap melupakan rasa cemas, takut dan kesal secara bersamaan. Lyra tidak tahu alasan dibaliknya, Rick bahkan tidak mengatakan apa-apa padanya, tetapi dia begitu bersyukur dia bisa menemukan hal kecil yang tidak pernah dia sadari ternyata dapat menjadi penawar untuk semua perasaan negatif. Rasanya, dia tidak ingin kehilangan itu.


"Aku mencintaimu, Rick." kemudian membenamkan wajahnya ke dada bidang Rick yang seiring waktu semakin menghangat, meski Lyra juga tidak merasa kedinginan, dia tetap butuh sesuatu yang hangat. "menjadi kuat untuk sesuatu itu rasanya impas, tetapi kau tidak bisa memaksa kehendak yang memang tidak ditakdirkan untukmu. Jadi, kembali lah padaku seutuhnya." gumam Lyra pelan tetapi Rick bisa mendengarnya dengan jelas.


Rick meraih puncak kepala Lyra dengan tangan kirinya, dia mengusap pelan rambut putih Lyra yang berantakan itu sambil berharap dalam hatinya kalau dia tetap selamat dan berhasil membantu kekasih hatinya itu. Dia begitu bersyukur bahwa ternyata dia mempunyai kesempatan untuk memiliki Lyra dalam hidupnya yang tidak sempurna, sebab jika bukan karena Lyra, dia tidak akan bertahan sampai sejauh ini.


"Terimakasih, Lyra, aku akan kembali padamu bagaimana pun, karena kau yang membuatku merasa utuh." dia mengecup lembut puncak kepala Lyra lalu menempelkan pipinya di sana.

__ADS_1


Sedang Tobias yang bersama mereka seolah tidak pernah ada di sana sebelumnya, dia hanya bersikap tidak peduli dan membiarkan dua orang itu asik dengan dunia mereka sebelum mereka terpisahkan oleh sesuatu yang tidak diketahui di depan sana. Meski Rick tidak mengatakan seluruh isi hatinya pada Tobias, tetapi laki-laki itu tahu kalau Rick memang memiliki perasaan yang berbeda dengan Lyra sejak awal melihatnya. Bahkan Rick sering kali menghilang hanya untuk sekedar memastikan Lyra baik-baik saja sekaligus mengintainya untuk mencari informasi. Tobias tidak tahu, apakah Lyra sudah mengetahui semua hal itu atau belum, tetapi dia berharap mereka berdua selalu baik-baik saja.


Akhirnya kedua orang itu kembali ke dunia nyata, kemudian Rick memanggil Tobias untuk meminta bantuannya menjaga Lyra, apapun resikonya.


"Berjanji atau pun tidak, seorang perempuan memang harus di jaga, 'kan?" sahut Tobias dengan senyuman yang tipis tertera di wajahnya.


"Baiklah, kalau begitu, aku percayakan padamu. Jika ada sesuatu, beri tanda, aku akan datang secepatnya."


Tobias mengangguk, sementara Lyra dengan berat hati berpaling dari melihat Rick yang sudah berlari lebih dulu dengan mengubah dirinya menjadi serigala. Rick memang cocok menjadi seorang Alpha yang bisa diandalkan, sebab dia selalu memutuskan hampir semuanya dengan bijak. Kalau saja Lyra sempat tidak percaya kepada Rick dan memintanya untuk pergi dari hidupnya, Lyra mungkin akan putus asa sekarang dan menyerah dengan keadaan. Dia tidak akan bertindak sejauh ini kalau bukan karena dorongan dari Rick yang selalu berhasil membuatnya ingin terus bertahan lebih lama. Apalagi, mengingat perkataannya tadi, tentang Rick yang merasa lengkap bila bersamanya, dia tidak akan membiarkan Rick pergi sendirian begitu saja dan membuat grup terpecah jadi dua yang mana Rick tidak memiliki partner apabila dia sedang di situasi sulit.


Langkah lebar Rick membawanya semakin menjauh dari Lyra dan Tobias dan berdoa diam-diam dalam hatinya kalau Tobias melakukan tugasnya dengan benar dan serius. Karena sebenarnya, Rick tidak ingin membiarkan Lyra jauh darinya karena dia sudah berjanji akan melindungi Lyra. Namun, rencana sudah didiskusikan dengan matang dan pembalasan dendamnya akan segera terlaksanakan, sebab seorang pengkhianat tidak berhak hidup lebih lama di dunia yang dipenuhi orang-orang baik ini. Sekarang, Rick hanya ingin kebenciannya yang sudah lama itu—tetapi masih mendalam, akan hilang begitu Carlos menghembuskan napas terakhirnya, tanpa peduli dengan resiko yang akan dia terima selanjutnya walaupun dia berjanji akan kembali dalam keadaan utuh kepada Lyra.


Dia hampir sampai di tempat dimana terakhir kali mereka beristirahat dan menemukan bekas daging berceceran dimana-mana. Mungkin hewan lain mengambil sisa makanan mereka siang itu dan membawanya ke dalam sarang untuk dibagi dan disantap bersama.


Sesuatu mengikuti langkahnya dengan menjaga jarak, lari mereka cepat dan teredam, tidak terdengar sama sekali. Hingga Rick tetap tidak menyadari presensi kejahatan yang sebentar lagi akan menghajarnya habis-habisan.


Bekas kawanan ku, ternyata sudah berpihak kepada musuh. Suara tawa itu seketika muncul di dalam kepala Rick.


Dia mendadak menghentikan larinya dan bersikap awas, melebarkan ke empat kakinya dan berputar-putar mencari sumber pikiran yang dia dapatkan. Instingnya mengatakan kalau dia sedang di kelilingi sekitar lima serigala dan Rick langsung menyadari kalau itu kawanan yang pernah dia temui di markas Cravene. Lima serigala itu, dengan warna bulu yang berbeda-beda, muncul dari kegelapan menerobos hujan lebat malam itu.


Mengetahui itu, rasa benci yang sebenarnya tidak pernah dia rasakan kini muncul sebagai perasaan yang ingin dilampiaskan dengan penuh amarah. Dia membenci kawanannya karena dia pikir mereka sudah melakukan suatu kesalahan dengan menghalangi jalan Rick untuk menuju tempat yang memang sudah dia incar sejak lama.

__ADS_1


Tidak perlu melakukan hal yang sia-sia begitu, teman. Bersama Tuan Cravene hidupmu terjamin, bahkan kau sudah sekuat sekarang karena didikannya. Kata salah satu dari mereka.


Rick membuat suara aneh seperti mendesis, aku kuat karena aku memang menginginkannya. Hidup dengan seorang pembohong besar malah menyia-nyiakan waktu ku. Sebaiknya minggir, aku tidak punya banyak waktu hanya untuk membahas hal itu.


Suara tawa bercampur umpatan mengalir tanpa henti dari mereka yang sedang mengelilingi Rick tanpa rasa curiga yang berlebihan.


Seorang pembohong malah menuduh orang lain sebagai pembohong besar.


Kalau dipikir-pikir, pantas saja Tuan Cravene membiarkannya berkeliaran dulu, sampai akhirnya dia datang juga persis seperti prediksi.


Omong-omong, perempuan yang kau taksir itu sedikit tidak waras, ya? Bisa-bisanya percaya dengan seorang pembohong besar seperti mu.


Sebelumnya aku minta kalian minggir, karena aku memang tidak punya waktu untuk ikut dalam lelucon murahan. Lagipula, apa enaknya hidup dengan aturan dan tidak bisa merasakan kebebasan sebagai seekor serigala. Menyedihkan. ujar Rick dengan nada merendahkan.


Rick cukup tahu bagaimana menghadapi kawanan yang dulu sering mengejek banyak rekrutan baru—yang di dapat Cravene dari antah berantah itu. Jika mereka memulai semuanya dengan merendahkan lalu mengejek tentang hal-hal yang tidak penting, sebaiknya dia membalas dengan mengejek nasib sial yang menimpa mereka. Karena hanya itulah satu-satunya jalan keluar dari masalah yang mereka timbulkan, mereka akan berpikir dua kali untuk melanjutkan perkataan-perkataan kasar yang mereka katakan.


Hiruk pikuk yang melanda isi kepala Rick lenyap begitu saja, lima serigala yang menghajarnya secara bersamaan membungkam pikiran mereka. Rick cukup puas karena idenya berhasil dan rasanya dia tidak perlu menunggu mereka menyadari sesuatu. Jadi Rick kembali berlari meski hujan mengguyur dengan lebatnya, dia melewati celah di antara serigala berbulu hitam dan coklat keemasan.


Karena Rick yakin kalau mereka itu tidak akan berhenti dan kembali mengejarnya usai mereka menyadari kalau Rick sudah tidak ada di sana, mau tidak mau dia semakin mempercepat larinya menerobos hujan dan minim cahaya karena rasanya semakin gelap. Pohon-pohon yang jaraknya semakin dekat satu sama lain sebenarnya menghalangi jalan Rick tetapi karena dia harus lebih cepat, sesekali dia terpaksa merasakan bagian-bagian tubuhnya tertabrak dengan kuat menghantam pepohonan. Rick hampir sempoyongan seolah kehilangan kesadaran tetapi karena tekadnya kuat, dia terus memaksakan ke empat kakinya untuk tetap berlari. Bulu-bulunya sudah basah kuyup dan dia merasa tidak nyaman dengan hal itu, jadi Rick mengibas ekornya lebih dulu kemudian menggerakan tubuhnya agar lebih ringan. Bulir-bulir air hujan yang jatuh dari tubuhnya berganti dengan tetesan baru yang kembali menghuni tubuhnya.


Selama hidup, Rick tidak pernah merasakan aroma hujan yang rupanya menyenangkan untuk dihirup. Apalagi malam berhujan yang jarang terjadi, Rick menikmati setiap langkah kakinya yang berlari dengan menengadah ke atas, merasakan wajahnya diterpa air hujan yang dingin.

__ADS_1


Tiba-tiba Rick rindu Lyra, apakah Lyra sudah bertemu dengan Sean atau malah sebaliknya? Rick yakin Tobias menjaganya dengan baik.[]


__ADS_2