
Rick sampai di pemakaman yang sengaja dibuat rapi alih-alih untuk menarik perhatian, padahal sebelumnya itu tidak pernah ada di sana. Namun, bukan itu yang menjadi pusat permasalahannya. Jadi Rick kembali melanjutkan rencananya, mungkin akan memulainya dengan lolongan panjang berisi pesan yang mengancam.
Alam seolah mengizinkan dan ikut andil dalam hal itu karena hujan mulai mereda dan bulan kembali mengintip dari balik dinding-dinding tebal kelabu. Bahkan hembusan angin pelan kala itu mencoba meringankan beban tubuhnya yang penuh air. Bulunya yang sewarna daun mati itu seperti pohon yang merunduk, layu dan tidak bertenaga untuk bergerak. Rick kembali mengibas seluruh tubuhnya dan tanpa sadar mengusap wajahnya dengan kaki kanan depan kemudian menjilat nya, naluri kehewanannya bekerja tanpa diminta.
Seakan terpanggil oleh sesuatu, Rick memelankan langkah kakinya. Kenangan-kenangan mengenai pertama kalinya dia datang kemari dan bekerja sama bersama Carlos dengan tujuan memiliki uang yang banyak, Rick hampir tidak ingat kalau dia sebodoh itu jika perihal uang. Padahal, dia hanya dijadikan seekor anjing pelacak yang bertugas menuruti kemauannya dengan iming-iming daging segar alih-alih uang berlimpah. Dia mulanya mengira kalau menjadi anak buah Cravene, melayani rekan bisnis adalah pekerjaan yang menyenangkan menurutnya. Namun, yang terjadi malah ketidakadilan yang sempat dia gugat untuk sekedar meminta bayarannya tetapi Cravene melarangnya alih-alih takut kehilangan rekan bisnis yang menjual apa saja yang dia butuhkan.
Rick melanjutkan lagi perjalanannya, dia tidak menyadari kalau ternyata lampu-lampu di sana lebih terang dari yang dia duga. Hamparan tanah yang becek penuh air serta jejak kaki yang penuh membuatnya mundur beberapa langkah, lalu berhenti begitu saja. Dia mencari kemana semua orang yang ada di sana, tapi nihil, dia hanya mendengar suara hembusan angin lembut yang memberinya salam selamat datang serta sisa air hujan yang masih tinggal bulir-bulir kecilnya.
Dia merasa kalau dia tidak menyita waktu yang lama untuk tiba di sana, atau bahkan lebih cepat dari yang dia duga. Namun, sesuatu yang menarik perhatian ialah beberapa orang muncul dari rumah reyot dengan lampu terang yang menyilaukan mata. Salah satunya adalah Carlos, berbincang dengan laki-laki yang pernah dia temui beberapa kali ketika masih berada di dalam pasukan Exchanges. Rick lupa siapa namanya tetapi yang pasti orang itu bisa disebut sebagai tangan kanan Cravene palsu, dia akan turun tangan lebih dulu untuk mengurusi hal-hal penting mengenai bisnis yang dilakukan Cravene dengan pebisnis lainnya, tidak hanya bersama Carlos.
Tulang pipinya yang tinggi serta sorot mata tajam dengan luka sobekan di dagunya, laki-laki itu tidak pernah Rick lupakan. Dia sejahat-jahatnya manusia serigala, apapun akan dia lakukan demi Cravene merasa puas.
"Bagaimana bisa dia melupakan hal sepenting itu?" Carlos hampir berteriak mengatakannya, wajahnya nampak memerah.
Laki-laki yang mencoba menyamai langkahnya mengangkat bahu, "mungkin terjatuh di sekitar sini. Aku akan mencarinya, tapi bagaimana mungkin kau membiarkan Tuan ku sendirian berada di rumah mu yang tidak layak itu?"
"Itu salahnya!" tukas Carlos, akhirnya dia lepas kendali. "Jika itu ditemukan oleh anak buah ku dan mereka malah memakainya, kau pikir aku akan diam saja melihatnya? Dan membiarkan semua kebijakan dan pimpinan kepadanya? Kau tahu?" Carlos menunjuk wajah laki-laki itu dengan telunjuknya, dia diselimuti amarah. "Hanya aku yang pantas berada diposisi itu!" katanya akhirnya.
"Tenang dulu, semua akan beres. Aku akan mencarinya segera." laki-laki itu meninggalkannya sendirian di luar dan berjalan menuju jalur utama.
"Sialan!" umpat Carlos hampir menjambak rambutnya sendiri. "Jika semua orang tahu kalau aku menggunakan sihir, mereka pasti akan mengusirku. Padahal penyamaran Luo Qing sudah sempurna dan mereka tidak mengetahuinya sama sekali selama bertahun-tahun. Tetapi mengapa hal yang tidak diinginkan seperti ini bisa terjadi?" dia nampak begitu marah dengan semua orang, Carlos bahkan tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.
Rick mengendap-ngendap meski awalnya dia ragu untuk langsung menyergap Carlos yang masih sibuk dengan kemarahannya, karena dia hanya akan dianggap pengecut jika menyerang Carlos dalam keadaan tidak siap bahwa bahaya sudah mengintainya sejak awal.
Saat Rick hampir maju untuk memanggil Carlos, menyapanya selayaknya orang yang sudah lama tidak bertemu, mata Rick malah mendapati Lyra dan Tobias di belakangnya. Datang menghampiri Carlos tanpa rasa takut kalau-kalau Cravene akan muncul dari rumah itu juga dan menangkapnya. Rick mau tak mau masih menahan diri, karena dia takut akan mengacaukan rencana Lyra, meskipun itu bukan rencana yang dibicarakan sebelumnya.
__ADS_1
"Apakah ini yang kau cari?" Lyra tertawa, dia memasang wajah yang saat siapapun melihatnya akan merasa jengkel dan marah, di tangannya terdapat sesuatu berukuran kecil tetapi berkilau. "atau aku akan memanggil seluruh anak buah mu beserta keluargamu untuk datang kemari, agar mereka tahu bahwa Kepala suku meraka lah pengkhianat yang selama ini mereka cari?" dia mengukir senyuman yang meremehkan.
Rick mengakuinya kalau Lyra memang perempuan kuat yang melawan rasa takutnya. Rick tahu dia tidak pandai menutupi hal-hal yang seharusnya tidak diketahui orang lain, tetapi dia berusaha agar orang-orang tetap melihatnya sebagai perempuan yang pemberani. Bagaimana mungkin Rick tidak luluh ketika melihat perempuan yang terus mencoba kuat untuk melindungi dirinya sendiri dan orang-orang yang berharga baginya? Itu adalah poin pertama yang membuat Rick betah memperhatikan Lyra.
Carlos mendengus seraya menyunggingkan senyuman sinis, "kau kembali untuk pacarmu yang bodoh itu, ya?" dia tertawa seolah ingin menghilangkan amarahnya padahal sebenarnya dia merasa terancam. "Sayang sekali, kalau ternyata mereka tidak perlu mempercayaimu. Karena aku lah Kepala suku yang mereka inginkan!"
Lyra tertawa juga agar membuat Carlos semakin jengkel dan berkata yang tidak-tidak, berusaha memancing Carlos supaya dia mengakuinya di depan semua keluarga dan anak buahnya.
Rick hanya penasaran dengan perkataan Lyra, yang sebelumnya membuat Carlos ketakutan. Padahal sepertinya Rick tidak melihat atau bahkan menyadari kehadiran mereka di sana untuk menguping Carlos. Atau mungkin, Lyra dan Tobias sudah mengetahuinya di dalam rumah Carlos.
"Apa-apaan wajahmu itu!" Tobias maju satu langkah, menyamai Lyra di sampingnya. "kalau memang kau adalah Kepala suku yang mereka inginkan, bagaimana mungkin kau menculik seorang penyihir yang sedang mengembara bersama teman-temannya? Kepala suku macam apa kau?" Tobias hampir ingin melayangkan tinjunya ke wajah Carlos tetapi Lyra menahan tangannya.
Carlos lagi-lagi mendengus, "hei! Siapa yang kau sebut penyihir?" tanyanya, jantung Carlos berdegup tidak terkendali. Rasanya dia hampir ingin meledak.
"Kemari, Luo Qing."
"Ba-bagaimana bisa?" Carlos terbata ditempatnya, dia bingung setengah mati sekaligus ketakutan. Mimpi buruknya seakan menjadi nyata dan tidak bisa dia hindari hanya dengan bangun dari tidurnya. Dia harus menghadapinya, mau tidak mau.
"Ada beberapa permintaan ku pada mu, orang tua." tukas Lyra, "aku sebenarnya tidak tega melakukan hal ini padamu, karena ku pikir kau hanyalah orang tua dengan usia senja yang mungkin hampir mati. Namun, sayang sekali kau rupanya tidak melihat rasa kasihan ku padamu." dia menggeleng pelan seakan memang tidak habis pikir. "Jadi, apa boleh buat. Kau keras, aku juga akan keras, kan? Dan, ya, tentu saja, permintaan ku ini sangat-sangat berbahaya untuk dirimu sendiri, Carlos." Lyra melirik benda yang sejak tadi dia pegang di jemarinya, mengangkatnya sedikit lebih tinggi dari sebelumnya. "Pertama, kau akan melepaskan Sean dan membiarkan Luo Qing kembali bersama teman-temannya. Kedua, minta maaf kepada orang-orang yang dengan sengaja kau bunuh itu. Ampul ini menjadi milik mu dan rahasia mu akan tetap terjaga."
"Berani sekali kau menentang orang tua! Dimana sopan santun mu?"
"Bagaimana aku menjelaskannya pada mu, ya?" Lyra mencoba bersikap tengil, sekali lagi, untuk memancing amarah Carlos yang sedikit lagi memang akan keluar.
"Itu bukan milik mu, kau harusnya tahu bahwa mengambil milik orang lain bukanlah tindakan yang dibenarkan."
__ADS_1
Lyra tertawa dengan kencangnya, membuat beberapa kawanan keluar dari rumah mereka. Menyadari keributan yang terjadi. "Lihat? Dia bahkan mencoba menceramahi ku?" Lyra berdecak, "kau menjijikan, Carlos!"
Mata Rick samar-samar menangkap sebuah siluet yang bergerak-gerak di belakang mereka, tetapi dia tidak yakin kalau bayangan itu milik seseorang. Namun, beberapa detik kemudian seseorang itu benar-benar muncul dari kegelapan seperti halnya Luo Qing, dia menangkap Lyra sekaligus mencekik lehernya. Benda itu terjatuh dari tangannya yang berhasil di rebut Carlos dan Carlos tertawa.
Sedangkan Tobias yang refleksnya terlambat beberapa detik hanya melihat Lyra dan Luo Qing bergantian, dia merasa frustrasi dan bingung sekaligus. Sesuatu berkecamuk dari dalam kepalanya lalu mengubah dirinya menjadi serigala, dia melolong begitu kuat, berharap Rick mendengarnya.
Rick yang menyadari hal itu ingin berlari dan menerkam kepala si laki-laki yang menangkap Lyra, tetapi sangat disayangkan bahwa sedari tadi dia sudah diincar oleh kawanan yang mencegatnya di jalan. Mereka berlima menahan Rick dengan menggigit kedua kaki belakangnya dan satu menerkam punggungnya, sementara duanya lagi berusaha menggigit leher serta kaki depan Rick agar dia lumpuh. Namun, Rick masih sempat melolong untuk memberikan tanda.
Dia merasa begitu berat pada tubuhnya dan rasa sakit yang mulai menjalari sekujur tubuhnya. Gigitan demi gigitan tiada henti dia rasakan yang membuatnya meringis kesakitan. Namun, dia tidak boleh menyerah hanya karena hal itu terjadi padanya. Dia harus melindungi Lyra sebelum dia mati.
"Rick!" teriak Lyra dengan amarah yang terselip di tiap suaranya ketika menyadari lolongan Rick di paling ujung bangunan, dekat dengan hutan.
Rick memberontak sekuat tenaganya, dia pikir dia harus berdiri dan menghabisi kawanan itu. Mau tidak mau. Lagipula mereka bukan lagi kawanan yang bisa dipercaya Rick, dia tidak lagi bekerja sama dengan mereka atau bahkan Cravene yang harus dia turuti. Dia sudah berada dijalan yang benar dan tidak akan menyimpang kemana pun lagi, demi Lyra, demi melihatnya terus bahagia.
Rick..
Rick mendengar suara Tobias di dalam kepalanya.
Bertahanlah, bantu aku, apa yang harus ku lakukan?
Rick tidak habis pikir kalau Tobias masih sempat-sempatnya bertanya begitu padanya, padahal Rick sudah berpesan kalau dia harus melindungi Lyra. Namun, Tobias sepertinya panik karena dua temannya sedang dalam bahaya.
Rebut Lyra kembali, jaga dia. Sahut Rick, aku akan menghabisi mereka lebih dulu.
Berjuanglah! Aku akan melindunginya semampu ku.
__ADS_1
Rick tidak tahu apakah saat dia tersenyum di dalam kepalanya, wajahnya akan menampakkan cengiran tengil atau malah cengiran menakutkan. Dia berharap, itu cukup membuat kawanan ini merasa di rendahkan.[]