
Usai Luo Qing menceritakan tentang kebakaran yang terjadi di Glencoe waktu itu, Sean merasa puas meski awalnya dia ingin sekali marah terhadap penyihir gila satu itu, tetapi dia kembali teringat kalau itu karena ulah Carlos.
"Omong-omong kita akan kemana?" tanya Sean akhirnya memecahkan keheningan yang terjadi sejak lama saat mereka menyadari kalau Lyra rupanya tertidur.
"Kau tanya orang yang ada di samping mu itu, dia bilang dia punya rencana." kata Rick dengan ketus, dia masih menyimpan dendam yang belum terbalaskan.
Meskipun awalnya Rick menolak mentah-mentah gagasan untuk meminta bantuan Bethany, tapi Tobias ada benarnya juga, siapa lagi yang bisa membantu mereka kalau bukan seorang penyihir?
"Ah! Aku tidak tahu kalau kalian akan setuju dengan ide ku ini." sahut Tobias agak gemetar.
"Memangnya apa?" imbuh Luo Qing yang penasaran.
Tobias salah tingkah di tempatnya, tetapi tetap mawas diri karena sedang menyetir. Padahal seharunya seorang supir tidak diajak mengobrol agar tidak kehilangan fokus, tapi sepertinya itu tidak berhasil di sana. "Itu, soal penyihir yang ku kenal beberapa waktu lalu,"
"Kenapa dia?" Luo Qing tidak sabaran.
"Mungkin dia bisa membantu mu untuk mencari portal agar kau bisa kembali ke tempat asal mu." sahutnya dengan cepat.
Rick melirik Luo Qing yang nampak berpikir di sampingnya sambil menyandarkan kepalanya ke kursi penumpang. "Apa yang kau pikirkan?"
"Biasanya, semua penyihir pernah masuk ke dalam Flos Orbis, setidaknya satu kali seumur hidup. Karena Nona Yue memang mengundang mereka semua agar mengenali kerabat-kerabat mereka sendiri meskipun ada beberapa kelompok yang menolaknya."
"Lalu?"
"Sepertinya ada kemungkinan penyihir yang di maksud Tobias mengenali Flos Orbis dan membantu ku agar aku bisa kembali ke sana." balas Luo Qing santai.
"Namanya Bethany, dia memang tidak terlihat seperti penyihir karena dia menolak mengenakan aksesoris seperti topi atau membawa buku, atau mungkin tabung kecil yang biasa digunakan orang-orang laboratorium." sela Tobias sekaligus menjelaskan keadaan penyihir tersebut. "Kalau memang mau, dan yang lain setuju, kita akan ke sana sekarang juga. Lagipula tempatnya memang tidak jauh lagi dari sini."
Sean mendengus, "lakukan saja. Setidaknya kita butuh kepastian karena tidak bisa membuang-buang waktu lebih lama. Hah.." dia menghela napas panjang sembari menyandarkan tubuhnya ke kursi, "kau tahu, perjalanan ini terasa sudah berbulan-bulan lamanya."
Tobias mengendarai dalam diam karena hanya Luo Qing yang masih tersadar sampai saat itu, dia tidak mengantuk dan nampak tidak terlihat kelelahan. Namun, Tobias tidak ingin mengajaknya berbincang karena Luo Qing seakan sedang berdebat dengan dirinya sendiri, mulutnya terus bergerak tapi Tobias tidak bisa mengerti. Hingga dia memutuskan untuk menaiki kecepatannya sedikit agar mereka segera tiba di kediaman Bethany. Diam-diam Tobias berharap kalau nanti Bethany tidak melakukan hal-hal gila kepada Rick lagi karena takut Lyra akan murka melihatnya.
Sepertinya aku butuh rencana cadangan untuk mengatasi kejadian itu agar tidak terjadi. Rasanya aku akan mampus dua kali. Tobias bergumul dengan pikirannya sendiri, berpikir keras tentang bagaimana mengatasi hal yang akan terjadi.
"Kalau kau melamun dan terus memikirkan hal yang tidak-tidak sambil mengemudi dengan kecepatan di atas rata-rata, kemungkinan terjadinya kematian adalah 60%."
"Aku lupa kau bisa membaca pikiran, sial!" gerutunya lagi.
Luo Qing terkekeh, "memangnya siapa sih wanita itu? Kau sampai takut Rick akan berbuat macam-macam padanya?"
"Jangan keras-keras bodoh!" ketus Tobias, "kau hanya akan membuatnya marah nanti."
__ADS_1
"Dia 'kan sedang tidur, lagipula kalau kau takut akan terjadi hal yang tidak-tidak, kenapa kau menawarkan rencana ini?" Luo Qing hampir ingin tertawa terbahak karena berhasil menggoda Tobias.
"Heh!" sergah Tobias, "aku ini membantu mu, setidaknya katakan terima kasih!"
"Aku sudah melakukannya, kok." Luo Qing lalu tertawa lagi.
Hal itu membangunkan Lyra dari tidurnya yang cukup lelap. "kalian sedang membahas apa?" celetuknya yang membuat keduanya terdiam, terutama Tobias, jantungnya mulai melakukan terapi khusus.
"Ah, tidak, kami hanya sedang bercanda. Maaf mengganggu waktu tidur mu." balas Luo Qing cepat, dia merasa tidak enak setengah mati.
"Tapi kita akan kemana? Apa kalian sudah merencanakan rencana selanjutnya?"
"Kita akan bertemu penyihir," kata Tobias buru-buru. "dia sudah seperti teman lama," katanya lagi. "Siapa yang tahu 'kan kalau dia mungkin bisa membantu?"
Lyra yang masih setengah sadar mengindahkan perkataan Tobias, karena dia sudah yakin kalau Tobias adalah seorang perencana yang baik. Dia ikut bagaimana rencananya saja tanpa berkomentar apa-apa. Namun, Tobias salah memahaminya sehingga dia membisu, tidak tahu harus bersikap bagaimana lagi.
Saat beberapa kali melewati rumah, akhirnya mobil tersebut tiba di kediaman Bethany. Masuk ke pekarangan rumahnya yang penuh dengan bunga-bunga bermekaran di sekelilingnya. Mata Lyra tidak lepas dari memandangi satu bunga yang memancarkan warna biru kehijauan. Itu adalah bunga langka dari Benua Asia yang sulit untuk ditanam, tapi meski kenyataannya begitu, bunga itu tumbuh subur di depan teras rumah penyihir tersebut, menjuntai hingga menyentuh lantainya.
"Memang seperti di Flos Orbis." tukas Luo Qing yang mengejutkan Lyra, "aku tidak yakin persis sama, tapi rasanya mirip sekali. Aku jadi rindu teman-teman ku." kemudian dia membuka pintu untuk keluar lebih dulu.
Sementara Tobias mematikan mesin mobil dan mengguncang tubuh Sean menyuruhnya bangun dan ikut keluar dari mobil untuk menghampiri Bethany di dalam rumahnya, tanpa memperdulikan dua orang yang masih tinggal di dalam mobil. Mungkin Tobias tidak ingin mengacaukannya atau lebih menghindari keributan, toh, dia juga punya rencana agar Bethany bersikap normal kepada semua orang terutama Rick.
Lyra yang masih belum ingin membangunkan Rick, alih-alih tidak mau mengganggu waktu istirahat Rick, harus terpaksa menyadarkannya. "hei, Rick," katanya lembut, "kita sudah sampai." kemudian tangannya menepuk pelan pipi Rick agar laki-laki itu bangun.
Tapi siapa sangka saat akan membuka pintu, Rick menarik tangan Lyra dan membuat Lyra spontan menoleh ke arahnya. Rick tanpa aba-aba mendaratkan bibirnya ke arah Lyra meskipun dia masih menutup matanya.
Lyra sama sekali tidak menolaknya, dia ikut membalas ciuman itu yang rasanya semakin panas. Entah bagaimana, untuk pertama kalinya dia kehilangan kendali atas dirinya sendiri dan malah melakukan hal yang tidak disangka-sangka oleh keduanya. Tanpa sadar tangannya sudah membuka beberapa kancing baju Rick dan Rick cepat-cepat menahannya.
"Kendalikan dirimu, Lyra." ujar Rick ketika menarik diri dari ciuman panas mereka. Wajah Lyra agak kecewa dibuatnya tapi dia langsung minta maaf, "tidak, aku tidak mau melakukannya sampai kita dinyatakan menikah." sambungnya.
Wajah Lyra memerah karena perkataan itu dan menempelkan kepalanya ke pipi Rick, menyembunyikan rasa malunya, "harusnya aku tetap fokus."
"Aku mencintaimu, Lyra. Sangat mencintaimu." Rick memegang wajah Lyra dan kembali menciumnya dengan lembut, mengecupnya beberapa kali di bibir sampai akhirnya dia berpindah mengecup dahi Lyra.
"Aku mencintaimu juga." balas Lyra, salah satu tangannya merangkul Rick. "Sangat mencintaimu."
Ketika mereka keluar dari mobil, rupanya mereka sudah ditunggu oleh yang lainnya di dalam rumah Bethany. Rick menggenggam erat tangan Lyra untuk menunjukkan kepada Bethany kalau dia sudah punya kekasih alih-alih menghindari kekacauan. Tobias yang sebelumnya sudah menjelaskan itu kepada Bethany dan menerima pukulan di bagian punggungnya berkali-kali nampak sedikit tegang. Dia takut setengah mati kalau Bethany bersikeras akan menarik Rick ke dalam pelukannya tanpa peduli dengan Lyra yang bersamanya.
Sedangkan Lyra yang tengah menghirup aroma bunga-bunga segar yang ada di sekelilingnya merasa tenang sekaligus senang, di dalam kepalanya tidak ada pikiran-pikiran buruk atau bahkan jauh dari kata itu. Dia hanya senang.
Tobias bersyukur kalau Bethany bersikap biasa saja kepada Rick meskipun dia nampak tidak menyukai keberadaan Lyra yang terus saja bersama Rick, seakan tidak memberinya kesempatan untuk menggoda Rick sama sekali.
__ADS_1
"Bolehkan aku berkeliling? Rumah mu cantik sekali." kata Lyra menyela tiba-tiba saat semua orang sudah memperkenalkan diri dengan baik.
Bethany juga sudah memperkenalkan beberapa kerabatnya yang berada di ruangan lain sembari membaca pikiran Lyra yang memang tidak memikirkan hal lain selain senang karena suasana rumahnya yang cantik dan indah. Bethany sedikit mengurangi rasa kesalnya, seperti 0,05% dari 100%.
"Boleh, tentu saja, kau bahkan bisa membawa bunga-bunganya kalau kau suka." balas Bethany basa-basi, kemudian memaksakan senyuman keluar dari bibirnya.
"Terimakasih!" balas Lyra dan tersenyum kepada Bethany. "Aku pergi dulu, ya." katanya sembari meremas tangan Rick lalu meninggalkan yang lainnya di sana.
Jantung Bethany berdegup bukan main, dia merasakan sesuatu yang tidak biasa. Dia benar-benar merasakan hal-hal baik akan datang begitu saja padanya ketika menerima senyuman Lyra yang memang tidak dibuat-buat. Setengah hatinya ingin membenci perempuan itu tetapi setengah lagi ingin mengetahui perempuan itu lebih dalam.
"Kau tidak seharusnya begitu dengan pacarku, kan? Kau orang yang baik, Bethany." tukas Rick saat Lyra sudah menghilang dari ruangan itu.
"Dia manusia serigala murni." celetuk Sean, "aku tidak tahu jelasnya, tapi perbedaannya membuatku yakin kalau dia masih memiliki darah leluhur yang kental dalam dirinya." kata Sean tegas, meyakinkan.
Entah sejak kapan Sean menganalisa hal tersebut, tetapi dia memang yakin, Lyra bukanlah sembarang manusia serigala dengan warna bulu yang berbeda dari yang lainnya. Bahkan isu yang beredar, warna bulu perak yang dimiliki Lyra hanya dapat dihasilkan oleh gen yang memiliki warna bulu putih keperakan, bukan putih polos seperti kelompok Ducis yang merasa memiliki derajat paling tinggi.
Bethany terdiam, dia memandangi tempat kemana Lyra menghilang. Membisu sejenak, bergumul dengan pikirannya. Mencoba menerka apa yang membuat perempuan itu agak berbeda dan membuat Bethany lebih merasa tenang daripada sebelumnya. "Mungkin karena itulah perasaanku mengatakan ada yang berbeda dari perempuan itu." ujarnya.
Rick tersenyum, dia merasa puas. "Jadi, jangan kau ganggu dia, ya."
"Tenang saja." balas Bethany ketus.
Saat itu, Lyra sudah berjalan cukup jauh dan menemukan simpang di sebuah ruangan yang sepertinya menuju ke luar. Dia memilih untuk berada di dalam tetapi aroma bunga menggodanya seolah memanggilnya untuk keluar dari ruangan. Mata Lyra tidak sengaja menemukan beberapa jajaran pot bunga bergaya vintage di pintu yang mengarah keluar, dia menemukan bunga sejenis nemophila, atau orang biasa menyebutnya Baby Blue Eyes tetapi ini dengan warna yang berbeda. Dia ingin memetiknya awalnya tetapi langsung mengurungkan niatnya karena takut merusak kecantikan bunga tersebut.
Tibanya dia di luar, dia masuk ke sebuah tempat mirip istal, tapi tidak ada kuda di dalamnya. Tempat itu bercat coklat keemasan dan dipenuhi dengan barang-barang antik, ornamen vektor bergaya vintage yang mirip berbagai jenis bunga ikut menghiasi pinggiran papan kayu yang sudah berlapiskan cat. Tidak ada sedikit pun noda kotor atau bahkan cat yang mengelupas, padahal kalau dilihat-lihat, rumah itu memiliki gaya yang sudah ketinggalan zaman. Sampai pada akhirnya, Lyra menemukan sosok lain di tempat itu, yang mana hal itu membuatnya terkejut setengah mati. Dia mundur beberapa langkah alih-alih menyembunyikan diri agar tidak ketahuan.
Namun, sangat disayangkan, orang itu lebih dulu mengetahui keberadaannya di sana, pikirannya terbaca jelas kalau dia sedang penasaran meskipun dia senang berada di tempat itu.
"Seorang tamu Bethany?" ujarnya pelan, suaranya mirip wanita cantik yang sering menjadi model film.
Orang itu mengenakan topi penyihir, berbeda dengan Bethany yang hanya mengenakan rok pendek mengembang dan baju tipis. Penyihir itu nampak anggun dengan setelan yang gelap seperti laut dalam tidak kalah cantik dengan Bethany, topinya yang berbentuk kerucut memiliki kain transparan panjang sehingga terus bergerak-gerak pelan tertiup angin, bahkan setiap dia bergerak melihat ke segala arah. Di tangannya terdapat benda bersinar berbentuk bola kristal, di sudut bibirnya terpancar lekukan yang aneh.
"Mau coba meramal?" katanya menawarkan, suaranya sangat ringan dan bersahabat.
Kemudian dia berjalan ke mejanya yang penuh dengan alat-alat yang Lyra sama sekali tidak tahu namanya satu per satu, dia menyentuh bola kristal itu dengan jemarinya yang mulanya gelap menjadi bercahaya terang layaknya Bulan.
Lyra berpikir sejenak awalnya, tetapi mungkin itu tawaran gratis seumur hidupnya. "Apa tidak apa-apa?"
Penyihir itu tersenyum hangat padanya, tidak ada jejak kejahatan sama sekali yang terpancar di sekelilingnya. "Ini memang gratis, tapi hanya sekali." balasnya.
Lyra melangkah maju dan tanpa ragu dia akhirnya mengangguk, ikut duduk dihadapan sang penyihir. Beruntung saat itu Lyra sudah bisa mengontrol emosinya sedikit lebih baik dari sebelum-sebelumnya sehingga aroma sihir yang memenuhi atmosfer dapat dia tahan beberapa waktu sebelum dia ambruk.
__ADS_1
Bola kristal mengeluarkan kilatan cahaya seperti petir tetapi berwarna ungu terang, menyentuh tiap jemari penyihir tersebut, "Kau bahkan tidak berubah." tangan sang penyihir berhenti melakukan gerakkannya di atas bola tersebut.
Tak lama bola itu menampakkan kilas balik dari masa lalu Lyra hingga beberapa waktu di masa yang akan datang. Lyra terkejut menyadari bahwa wajahnya, tidak, seluruh anggota tubuhnya tidak berubah. Dia tetap seperti sekarang saat muda, tetap dengan wajah yang sama meskipun orang-orang di sekelilingnya berjuang untuk hidup walau sudah di usia renta, termasuk kembarannya sendiri.[]