Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)

Silver Feather (Bulu Perak) : Legacies Of Lycanthrope (Keturunan Para Serigala)
56. Gelagat Baik yang Berakhir Buruk


__ADS_3

Aku ingat sekali, batin Sean.


Saat berpisah dengan Lyra di hutan untuk berburu, Sean bersama dua gadis yang tidak waras dan entah bagaimana bisa menjadi partnernya kala itu. Jadi dia merelakan Lyra bersama laki-laki yang sukar dipercayai tetapi Sean tetap melepaskan Lyra berduaan bersama laki-laki itu. Bukan karena dia tidak bisa membantah atau karena dia tidak menyukai adanya laki-laki lain selain dirinya yang bisa berduaan bersama Lyra, Sean hanya tidak ingin Lyra merasa terus diawasi alih-alih dilindungi olehnya hingga akhirnya dia memutuskan untuk mengiyakan ajakan para gadis itu dan pergi ke arah lain yang berlawanan dengan arah kemana Lyra pergi.


Sampai mereka di suatu tempat yang lumayan jauh dari pondok semula, mereka menemukan beberapa ekor kelinci hutan yang langsung mengetahui keberadaan mereka sehingga kelinci-kelinci tersebut masuk ke dalam rumah mereka di dalam tanah. Namun, dua gadis itu ingin menangkap kelinci tersebut karena menurut mereka sangat lucu. Sean memakluminya begitu saja karena dia pikir mereka hanyalah dua gadis yang tidak bisa menyembunyikan sisi lembut mereka meski salah satu dari dua orang yang ada di depannya itu sedikit agak ke laki-lakian.


Karena Sean merasa tidak puas hanya menunggu dua gadis itu selesai dengan urusan mereka, Sean berjalan ke depan dengan asal-asalan tanpa berpikir bahwa dia akan melewati jalan yang sama untuk pulang karena hutan itu sangat luas.


"Kau jangan pergi sendirian begitu, beberapa orang sering tersesat. Tapi ah, ya, kau seorang manusia serigala." kata gadis itu padanya.


Sean tidak mengindahkan sama sekali, toh dia punya indera penciuman yang tajam dan telinga yang sangat peka untuk mendengar suara-suara di kejauhan yang tidak masuk bagi manusia normal. Satu dua langkah membuatnya semakin ingin pergi ke dalam hutan yang sudah sore tapi belom gelap sepenuhnya. Entah apa yang sedang berkecamuk di dalam kepalanya tetapi seolah-olah ada sesuatu yang memanggilnya sehingga dia terus melangkahkan kakinya untuk bergegas dari sana.


"Hei!" teriak gadis yang tadi, "kau hanya akan kembali dengan tangan kosong jika pergi tanpa kami!" lanjutnya lagi sambil menggeram kesal.


"Sepertinya dia bukan tipe yang bisa kau tundukkan dengan suaramu saja." celetuk gadis yang satunya lagi.


Sean lupa nama mereka tapi itu tidaklah penting, dia hanya ingin pergi dari sana dan mengikuti suara dalam kepalanya. Sampai pada akhirnya dia merubah dirinya menjadi serigala dan dia tidak menyadari sama sekali kalau arlojinya terjatuh kala itu, Sean hanya melihat seseorang yang sedang melihatnya juga, mengenakan pakaian serba hitam.


Meskipun aku bicara padanya, kurasa dia tidak akan mendengarnya. gumamnya. Bahkan suaranya pun ikut menghilang.


"Kau mau pergi kemana? Hutan perbatasan sangat berbahaya, ayo kembali!" seru orang itu ke arahnya yang berjalan semakin dekat.


Apa? Dia baru saja menyuruhku untuk kembali? Mereka bahkan tidak mengatakan tentang hutan perbatasan. gerutu Sean yang sama sekali tidak terdengar oleh siapapun.


"Kepala suku memintaku untuk menjaga perbatasan agar tidak seorang pun yang boleh masuk atau keluar, sebab itu bukan lagi wilayah kami. Kau mengerti 'kan maksud ku?" kata orang itu lagi menerangkan, dia berhenti di sebuah pohon dan menyandarkan tubuhnya, kedua tangannya di dalam saku jaket kulit hitam miliknya yang mengkilap.


Sean dengan cepat mengubah dirinya menjadi manusia untuk sekedar berbicara pada orang itu, yang mana dia sama sekali tidak mengenal orang tersebut.

__ADS_1


"Jadi, siapa kau?" orang itu bersuara kembali, dia membenarkan topi fedora hitam berbulunya untuk memperlihatkan wajahnya, kemudian orang itu tersenyum.


"Aku, aku Sean." jawab Sean. "maafkan aku, aku tidak tahu kalau hutan memiliki perbatasan semacam ini." katanya lagi.


Orang itu tetap di tempatnya sambil memain-mainkan kakinya di tanah basah yang akhirnya membuat jejak cukup dalam di sana. "Panggil saja aku Joe. Ya, kami semua memiliki aturan di tempat ini, apalagi mengingat kejadian bertahun-tahun lalu, semua harus memiliki penjagaan yang ketat agar tidak lagi terjadi hal-hal buruk yang menimpa siapapun."


Sean menyunggingkan senyum, "terimakasih kalau begitu sudah memperingatkan ku, aku harus kembali kepada teman-teman ku." dia menunduk sebagai rasa hormat kepada orang itu lalu berbalik badan.


Joe memanggilnya lagi, "sebaiknya kita kembali bersama saja, bagaimana? Aku juga harus bertukar jam kerja dengan teman ku, dia mungkin sudah menunggu ku di jalan utama." kemudian menggerakkan kepalanya ke arah belakang untuk mengajak Sean pergi segera.


Dipikir-pikir, memang ada baiknya dia kembali bersama orang itu saja. Dia tidak akan sanggup menghadapi dua gadis itu yang akan mengoceh karena dia tidak mendengarkan mereka sama sekali. Jadi dia mengikuti Joe berjalan menelusuri perbatan hutan tersebut untuk melewati jalan utama.


Sean lupa tentang hal apa saja yang mereka perbincangkan di sepanjang perjalanan, tapi yang pasti mereka tiba di jalan utama dengan cepat seakan waktu tidak berjalan sama sekali.


"Aku akan ke depan melihat teman ku, apa kau masih mau ikut?" tanya Joe seraya melihat Sean yang bingung. "setelah bertemu dengannya aku akan langsung kembali ke rumah." jelasnya agar Sean mengikutinya lagi.


Sean hanya balas mengangguk dan mengikuti Joe kembali, dan di sanalah dia terakhir kali. Setelah itu tidak ada yang terjadi sampai pada akhirnya dia terbangun di sebuah rumah reyot dengan ikatan yang kuat pada tangan dan kakinya lalu tiba di sini dengan semua kekacauan yang entah kapan mulainya.


Apa mungkin orang itu juga yang menghilangkan aroma tubuhmu sehingga kami sangat sulit melacakmu, bahkan Lyra tidak mendapatkan banyak petunjuk untuk mencarinya. Rick membuat analisanya sendiri.


Sean mendengus, dia berlagak baik tapi ternyata kejadian buruk ini karena ulahnya. Tapi tetap saja ini salahku, harusnya aku tetap bersama Lyra.


Tak apa, ujar Rick. Kau dengar 'kan kalau dia akan baik-baik saja? Rick mencoba menenangkannya.


Meski begitu, suara Rick yang tenang, yang seakan tidak terjadi apa-apa, tidaklah membuat Sean merasa tenang dan berhenti menyalahkan dirinya sendiri.


"Sebaiknya kau bantu aku membawakan Lyra ke tempat yang lebih nyaman untuknya beristirahat," Luo Qing mengajak Rick untuk membantunya dan kemudian melihat ke arah kerumunan yang masih berkumpul, "dan teman-teman yang lain, tentang Carlos, ku serahkan sisanya pada kalian saja." lalu melihat sekilas pada sosok yang sedang meringkuk hampir mati di tengah-tengah mereka semua.

__ADS_1


Sean tahu itu Carlos, tapi mengapa dia seperti tertindas dan dibenci begitu banyak kawanannya sendiri? Padahal dia seorang kepala suku yang dipercayai kawanan yang lain. Sean tidak mengerti semua terjadi hanya dalam waktu yang sibgkat, dia tidak habis pikir dengan semua kejadian itu.


Sebaiknya kau ikut kami saja, Lyra butuh kau disampingnya saat ini, agar dia mengingat kembali memorinya yang hilang. Kau tidak ingin dia melupakan mu, kan? Lalu Tobias berjalan mengikuti Luo Qing dan Rick dengan Lyra yang terkapar berada di punggungnya. Tobias tahu kemana Luo Qing akan membawa Lyra.


Sean melangkah dengan enggan, setengah dirinya terasa mati rasa. Dia melirik ke arah Carlos yang sudah dikerumuni banyak kawanannya sendiri yang mencaci-makinya dengan begitu keji. Sean rasanya ingin menghentikan itu, tapi dia tidak mau ikut campur kembali dan menaruh dirinya ke dalam masalah lain. Jadi, dia bergerak mengikuti kemana Rick membawa Lyra pergi. Langkahnya gontai tidak bersemangat seperti awal mulanya dan itu membuatnya semakin tidak berguna sama sekali.


Setelah menelusuri jalanan yang banyak semak-semak, mereka semua sampai di sebuah bungker yang tidak layak huni. Meski begitu, bangunan itu lebih baik daripada rumah reyot mana pun di tempat itu. Rick yang sudah mengubah dirinya menjadi serigala memberikan arloji milik Sean dan Sean baru menyadari bahwa benda itu memang tidak ada di mana pun saat dia terbangun.


"Kau menjatuhkannya," kata Rick, "tetapi ini berhasil membuat Lyra bisa mengingat nama mu sepanjang hari."


"Apakah aku hilang terlalu lama?" tanyanya penasaran setelah dia mengubah dirinya menjadi manusia dan menerima arloji tersebut.


Rick mengangguk sebagai balasan.


"Aku tidak tahu tujuan mereka menculikku dan meyembunyikan ku, tapi sepertinya Carlos benar-benar orang yang buruk."


Luo Qing berdeham, "sebelumnya, aku benar-benar minta maaf karena sudah membuat ramuan untuk Lyra melupakan mu dan menghilangkan aroma tubuhmu dengan aroma tubuh Joe yang begitu menyengat, tapi sepertinya kau tidak menyadari hal itu." dia menunduk sebentar, tidak berani melihat siapa pun di ruangannya itu. "Aku bersumpah, aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi. Lagipula tidak akan ada lagi yang memerintahkan ku untuk melakukan hal-hal yang tidak seharusnya ku lakukan." lanjutnya lagi.


"Jadi maksud mu, kau diperintahkan oleh seseorang untuk membuat Lyra melupakan ku?" nada bicara Sean semakin tinggi.


"Tenanglah, dia hanya dalam pengaruh Carlos kala itu. Jika dia tahu lebih dulu kalau Lyra mengenal Nona Yue, dia tidak akan melakukan hal tersebut." sahut Tobias. "Daripada saling menyalahkan, lebih baik kita berpikir tentang bagaimana mengembalikan laki-laki sipit ini ke tempat penyihir yang sempat kalian kunjungi."


Rick masih kagum dengan Tobias yang selalu bisa bersikap tenang, persis seperti yang dia ajarkan selama ini, meskipun Tobias sempat melukai perasaan Lyra. Sayang sekali, dia harus menahan tinjunya untuk lelaki itu.


"Aku tidak tahu bagaimana caranya, tapi mungkin, sepertinya Lyra punya suatu cara yang bisa terhubung dengan Flos Orbis." celetuk Luo Qing tiba-tiba, padahal sebelumnya dia nampak seperti anak yang pendiam.


"Kau sekarang sudah lebih banyak bicara ya, bocah penyihir." goda Tobias membuat Luo Qing agak malu dihadapan yang lainnya.

__ADS_1


Kalau hanya untuk menyelematkan seseorang bermata sipit ini Lyra sampai berkorban sejauh ini, rasanya Lyra memang benar-benar melakukan hal yang baik meskipun masalah selalu membebani punggungnya yang tidak lagi sekuat waktu dulu. Kini dia terlalu banyak menanggung urusan orang lain demi melihat pencapaian yang tidak dilihat orang lain juga.


Sean yang menatap arlojinya terus membayangkan apa saja yang dilalui Lyra selama dia diculik, walaupun Sean tahu Rick tidak akan membiarkan hal-hal buruk terjadi kepada Lyra, Lyra tetap akan melakukan apapun yang dipikirnya harus dia lakukan. Dia akan bertanya tentang itu nanti setelah Lyra siuman dari pingsannya, dia akan menunggu sampai Lyra merasa lebih baik.[]


__ADS_2